Jatuh Cinta Padamu (Lagi), Tuan!

Jatuh Cinta Padamu (Lagi), Tuan!
Si Kaku


__ADS_3

Gadis dengan hiasan scraf yang mengikat rambut panjangnya itu berjalan dengan wajah yang sedikit kesal. Berjalan menuju lift untuk mengantarkannya menuju lantai tempat ruangannya berada.


TING!


Seketika benda itu sudah sampai pada tujuannya. Masih ditemani oleh salah satu staf khususnya yang bernama Clara, gadis itu bergegas keluar.


"Simpan saja berkasnya disana. Kau boleh istirahat." Ucapnya setelah tersadar mungkin dirinya sudah membuat Clara terlambat istirahat karena harus berdiskusi tentang hasil rapat tadi.


"Baik nona, saya permisi."


Ucapnya sopan.


Langkahnya ia lanjutkan menuju ruangannya. membuka jas semi formal, meletakkan di sandaran kursi kebesarannya. Lalu mengambil laptop dan kembali berjalan keluar ruangan menuju pantry.


Anna bukanlah tipe bos yang manja atau yang menuntut untuk disediakan makanan ketika dia ingin makan di jam istirahat. Ketika dia mampu atau mau dia akan memesannya atau membuatnya sendiri, walaupun itu hanya sekedar mie instan yang selalu tersedia atas permintaannya dan tentu saja siapapun boleh memakannya.


Sementara itu disisi lain Emely baru saja keluar dari ruangan rapat tempat pertemuan besar itu berlangsung. Dia segera keluar setelah mendapatkan kode dari Arthur untuk pergi. Entah kenapa hanya dirinya yang disuruh keluar. Padahal pendamping yang lain masih berada disana. Entahlah, mungkin ada beberapa hal yang tak boleh ia ketahui.


Langkahnya dia lanjutkan menuju pantry, rasanya tenggorokannya sudah kering dari tadi. Bukan hanya bertugas untuk menyampaikan presentasi tapi juga suasana yang sepertinya ia rasakan sendiri aga sedikit panas dari dalam ruang meeting tadi. Pertanyaan yang terkadang terdengar mengintimidasi keluar dari mulut Edgar Greg. Ya, nada bicara yang sedikit mengandung dendam pribadi.


Rasanya aura Edgar masih menunjukan ketidaksukaan yang cukup mendalam padanya. Dan Emely sadar, bagaimana pun kesalahannya dimasa lalu cukup serius.


"Ekhem..." Dehemnya saat dilihatnya Anna pun sedang berada di pantry.


Sedangkan Anna, tanpa menoleh pun dia tau suara siapa itu.


"Kau disini? Tidak istirahat?" Tanya Emely sambil membuka lemari pendingin.


"Apa perlu aku pesankan makanan?" Tanyanya lagi saat dirasa orang yang diajak bicara tak menjawab. Bahkan disana malah terlihat aura permusuhan yang terlihat dari lawan bicaranya.


Sambil menunggu ada sautan, Emely meneguk minumannya. Namun sampai air itu tandas, Anna yang ditanya tetap bungkam tak bersuara.


Emely membuang napasnya kasar. Lantas mendaratkan tubuhnya di kursi disebrang Anna. Melihat Anna yang selalu acuh saat dia ajak bicara rasanya seketika membuat emosinya naik.

__ADS_1


"Telinga mu tak berfungsi? Aku sedang bicara padamu!" Kali ini nada suara gadis cantik itu terdengar dingin dan datar.


"Berhentilah berbicara seolah-olah kita ini orang yang akrab." Ucap Anna tak kalah dinginnya, dengan pandangan dan jari tangan yang masih fokus pada laptop nya.


"Pada dasarnya kita ini memang akrab, An. Kau saja yang menjaga jarak dan selalu mengabaikan ku." Ucap Emely.


"Kau masih bisa berbicara begitu setelah apa yang telah kau lakukan? Kau lupa apa yang telah kau lakukan padaku? 2 tahun lalu, kau sengaja menjebak ku." Kali ini nada bicara Anna penuh tekanan. Merasa jengah dengan sikap so akrab dari mantan sabahat nya itu.


"Menjebak apa maksud mu? Untuk apa aku menjebak mu? Kau salah paham!" Kesal Emely.


"Kenapa harus bertanya padaku? Salah paham kata mu? Setelah bertahun-tahun aku mendiamkan mu, baru sekarang kau bilang salah paham dengan begitu mudahnya?..."


"Nona Emely, sifat mu itu benar-benar susah ditebak. Kekasih mu saja tega kau jebak sampai perusahaan keluarganya hampir hancur. Kau pikir aku tak tahu tentang masalah mu dulu yang membuat onar di keluarga Greg?..."


"Kau menjebaknya! Berpura-pura mencintainya. Setelah dia memberikan hatinya padamu, percaya padamu, kau tega menyabotase data penting keluarganya. Sebenarnya siapa yang berada dibalik dirimu itu, Nona Emely?..."


"Dan sekarang kau ingin mengusik ku? Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku? Kau bahkan sudah berhasil menjatuhkan karir ku, menimbulkan rasa trauma yang aku sendiri tidak bisa mengendalikannya. Hal apa sebenarnya yang telah kau berikan pada ayahku hingga dia membiarkan pengganggu seperti mu berada terus disekitar ku?" Ucap Anna penuh dengan emosi dan sorot mata yang tajam ia tunjukan pada lawan bicaranya.


"Ada lagi yang ingin kau tanyakan? Kau pikir aku setega itu padamu, An? Jauh sebelum insiden Aiden terjadi, apa kau ingat kita ini adalah teman? Sejahat-jahatnya aku, aku tak mungkin mempunyai niat seburuk itu, An. Membiarkan seorang adik mati di tangan kakaknya sendiri." Ucap Emely dengan emosi yang sudah sampai ubun ubunnya.


"Kau harus percaya padaku, An. Ku mohon sebentar saja dengarkan apa yang akan aku jelaskan padamu. Setelahnya terserah padamu, kau akan percaya atau tidak dengan apa yang akan aku katakan."


Dalam diamnya sedikit banyak Anna membenarkan apa yang di katakan oleh mantan temannya itu. Namun, saat melihat jam yang terpampang di laptop sepertinya jam istirahat akan segera habis. Dia adalah tipe manusia penganut aturan ada karena harus dilaksanakan. Jadi dalam benaknya sekarang timbul pikiran, sepertinya obrolan ini akan berlangsung lama. Jadi, dia tidak mau jika setiap menit yang menghasilkan uang untuk perusahaan digunakan untuk obrolan diluar pekerjaan.


"Sepertinya jam istirahat akan habis. Aku tidak mau uang perusahaan terbuang percuma." Ucapnya kembali ketus.


Emely mendesah prustasi, sangat susah mengajak bicara manusia kaku macam Anna. Dengan hati dongkol, orang kepercayaan itu beranjak dari kursinya dan lantas menuju pantry untuk membuat mie instan, bersamaan dengan itu terdengar bunyi nyaring dari ponselnya.


"Ya?" ucapnya dengan kening yg berkerut pasalnya sekarang terdengar suara aneh disebrang sana. seperti ******* yang tertahan?


"Dimana nona muda sekarang?" Tanya sang penelepon.


"Di pantry, bersamaku." Jawabnya dengan tangan yang masih fokus mengaduk-aduk mie dalam panci.

__ADS_1


"Tetap diam dalam posisi mu dan jangan menimbulkan gerak yang mencurigakan." Ucap kembali lawan bicaranya.


"Kami dilantai 30." Ucap Emely ketika dia sadar mungkin bahaya sedang mengintai mereka sekarang.


"Ya. Seseorang di gedung sebrang sedang mangarahkan senjatanya. Kupikir akan lebih baik jika kau dan nona... Ah.." Seketika ucapan disebrang sana berhenti dan berganti dengan suara seperti mendesah.


"Sialan! Dalam keadaan genting begini kau masih melanjutkan maksiat mu?" Umpat Emely. Seketika mampu membuat fokus nona mudanya teralihkan sejenak.


"Aku di rooftop, Em. Sedang tanggung, sayang jika dihentikan." Balas orang itu yang diketahui bernama Lucas.


Lagi-lagi Emely mengumpat saat kembali terdengar suara laknat dari sebrang sana.


"Dari gerak-geriknya sepertinya dia hampir selesai bersiap, Em... Ah...Emmm." Ucap Lucas kembali.


"Berhenti mengeluarkan suara-suara laknat itu, Luc. Siapkan orang-orang untuk mengepung gedung itu segera. Aku tidak mau tahu, jika gagal kau akan tau akibatnya." Sentak Emely dengan amarah dan rasa malu saat suara menyebalkan itu kembali terdengar namun lebih parah.


"Ya, aku mengerti. Mereka sudah mulai menyusun formasi. Kalau begitu aku tutup, berhati-hatilah."


Emely menghembuskan nafas jengah.


"Sesuatu terjadi?" Akhirnya Anna mengeluarkan suara ketika telpon itu berakhir.


"Tetap pada posisi mu, An. Jangan menimbulkan gestur yang mencurigakan saat aku mengatakannya kepadamu." Balas Emely.


"Seseorang dari sebrang gedung sepertinya sedang menargetkan seseorang disini. Dia menodongkan senjata laras panjang ke gedung perusahaan. Dalam hitungan ketiga kau harus cepat menghindar ke sebelah kiri. Walaupun dibelakang mu adalah kaca yang sangat tebal, sepertinya dia sudah mempersiapkan aksinya dengan matang. Kau mengerti, An?" Ucap Emely kembali.


"Ya."


"Satu... Dua... Ti...


DOR DOR DOR


Seketika 3 kali suara tembakan yang nyaring terdengar bersama suara gaduh dari pecahan kaca tebal yang terpampang lebar itu.

__ADS_1


__ADS_2