
Happy Reading
...----------------...
Tiga bulan sudah mereka menjalani bahtera rumah tangga semua terlihat normal dan baik seperti rumah tangga pada umumnya, hanya satu yang kurang dalam rumah tangga mereka yaitu cinta antara suami dan istri serta hadirnya sang jabang bayi yang menjadi tembok penghalang bagi hubungan mereka.
Meli duduk di ruang tengah beristirahat sejenak setelah hampir seharian membersihkan rumah, jam dinding menunjukkan pukul empat sore hari, dan tak lama lagi suaminya akan segera pulang, mengingat Zain akan segera pulang entah kenapa Meli terus memperhatikan beberapa foto di album pernikahan mereka, Zain tampak maco mengenakan pakaian adat daerah tercinta mereka, sama dengan dirinya yang tampak anggun dengan balutan pakaian adat yang sudah sedikit di modif mengikuti zaman, tapi tetap dengan ciri khasnya.
"Zain Usama, ternyata dia lebih tampan berkali-kali dibandingkan dengan Ardan dan tubuh Zain lebih atletis darinya, Sedang Ardan hanya menang di kulit putih doank." Meli tersenyum lebar, entah apa yang terjadi dalam dirinya kenapa ia sampai membandingkan ke dua pria yang sama-sama telah menemani hidupnya dengan pengalaman tersendiri yang mereka berikan, Zain sangat bijaksana dan penyayang, pantas jika ia sekarang sebagai komandan tertinggi di wilayah perbatasan tempat ia bertugas sekarang, Sedang Ardan adalah seorang pria yang kritis, cerdas, dan terkadang sering egois jika ingin mendapatkan sesuatu, namun disisi lain sejujurnya Ardan sangat mencintai Meli, sungguh karakter yang bertolak belakang satu sama lain.
Dalam lamunannya Meli tiba-tiba teringat dengan malam penyatuan mereka, Ardan yang tak lama lagi akan meninggalkan dirinya mengajak Meli dan memaksa Meli menginap di hotel, Ardan sangat takut kehilangan Meli, dan entah ada apa dengan cara berpikirnya, Ardan memaksakan kehendak pada Meli, menyuruhnya membuktikan cintanya dengan menjadi miliknya seutuhnya, Meli yang kalut dan tak sanggup berpikir panjang, terjebak dalam sebuah kata pembuktian cinta, dan terjadilah sebuah penyatuan yang belum saatnya harus terjadi, hingga sekarang hasil buah cinta mereka tumbuh dengan sehat dalam rahim Meli.
Mengingat kejadian itu rasa penyesalan telah membelenggu hati dan jiwa Meli, melihat kebaikan Zain, menerima cinta dan kasih sayang Zain, serta melihat tanggung jawab yang Zain berikan padanya, membuat Meli tersadar jika cinta yang sesungguhnya tak perlu pembuktian semacam itu, melainkan ketulusan dan keikhlasan memberi dan menerima satu sama lain, terus setia dan saling menghargai.
Meli mengelus sebuah foto dengan ukuran 40 R dan dibingkai dengan ukiran emas yang sangat indah, tak terasa air mata kini mengalir dari pelupuk mata indahnya membasahi tepat di wajah Zain yang memperlihatkan senyum yang manis, menambah kesan romantis dengan pose memeluk Meli dari arah belakang, meski itu hanya untuk sebuah karya seni, dan sama sekali tak nyata pada saat itu.
Meli sungguh tak sanggup menguatkan hati, ia lebih tersakiti melihat Zain dengan penuh keikhlasan menerima segala kekurangan dirinya dan menyayangi anak dalam rahimnya meski bukan darah dagingnya.
"Assalamu'alaikum....
Mel...kamu dimana?"
Suara Zain terdengar dari arah ruang tamu, Meli langsung menyeka Air matanya, namun terlambat sudah, Zain keburu menyaksikan dirinya, Zain mendekati Meli dan duduk di sampingnya, dan terus memperhatikan wajah sang istri.
"Udah ketauan masih berpura-pura...!"
"Gak kok"
"Aku sudah pulang, kalau rindu ya di peluk bukan menangisi fotonya." Zain menggoda Istrinya dan mengambil foto pernikahan mereka dan meletakkan kembali ke tempatnya.
Tanpa berpikir panjang Meli langsung menghamburkan pelukan setelah Zain kembali duduk disampingnya.
"Kan dah bilang, kalau cinta jangan di tahan, luapkan saja, asal jangan ditembak pake pistol beneran, itu mah minta jadi janda namanya."
__ADS_1
Meli menahan tawa dalam pelukan suaminya. Ya....harus Meli akui hatinya mulai mencair seiring berjalannya waktu, dengan kebersamaan mereka yang intens, dan perhatian Zain yang bikin hati setiap jombloyer berkecamuk dan meronta meminta dihadirkan pasangan untuk meluapkan rasa akibat baper dengan tingkah Zain.
"Gr" cetus Meli.
"Hay baby boy ku, cepatlah lahir...agar ayah dan ibu, bisa buat adik untuk mu lagi, dan kamu gak akan kesepian."
Meli langsung membulatkan mata mendengar perkataan suaminya."Dia pikir bikin anak seperti bikin kue lebaran, habis cetak lanjut buat adonan baru lagi." Meli menjadi kesal seketika dan refleks menjewer telinga Zain yang sangat senang bermain dengan perut buncitnya.
”Mas, nama Ubay yang kamu berikan pada anak ku ini, apa ada arti khususnya untukmu?" Pertanyaan Meli seketika membuat Zain mengerutkan kening.
"Gak suka?" jawab Zain yang masih bingung dengan pertanyaan istrinya.
"Bukan...!"
"Itu nama panggilan kecil kakek, dia juga seorang tentara sama sepertiku, dan satu lagi, berhenti mengatakan anak ku dihadapan ku, aku tak suka, karena dia juga anak ku."
"Maaf."
"Hari ini masak apa ?, gak aneh-aneh lagi kan?"
"Hah....!" Zain langsung terperangah dibuatnya, meski hanya bercanda tapi tetap saja mendengar kata kaki ayam, Zain langsung tak nafsu makan.
"Hahaha.....kamu pikir aku suka?, selera kita hampir sama, aku hanya bercanda"
Zain langsung membopong tubuh istrinya dan mendudukkannya di atas kursi makan.
"Mas, mau makan sekarang?, gak mandi dulu?"
"Lapar sayang, abis latihan sepanjang hari."
Mendengarnya Meli langsung berdiri dan menyiapkan menu yang ia masak hari ini, ikan bakar dengan sambal tumis dan sayur bayam campur, serta makanan pencuci mulut puding jagung favorit Zain.
Melihat puding jagung, Zain langsung mengambil sendok dan ingin melahapnya duluan, namun belum sempat tangannya menggapai puding itu keburu dihalang oleh Meli.
__ADS_1
Plak....
Sebuah pukulan kecil mendarat dipunggung tangan Zain.
"Makan dulu, baru makan itu," cetus Meli, sambil menatap tajam suaminya.
Zain dengan muka bagai anak TK hanya bisa menuruti Meli dan mulai menyantap hidangan utama, sedang perhatiannya masih tertuju pada puding favoritnya.
Meli memperhatikan suaminya yang bertingkah sangat lucu membuat Meli sedikit menahan tawa.
"Hem...katanya komandan, tapi kok cemberut gitu, macam anak TK."
Zain tak menanggapi Meli ia hanya sibuk mempercepat makannya agar ia bisa menyantap makanan kesukaannya, Meli yang semakin tak tahan dengan tingkah Zain, berpura-pura ingin menyantap duluan puding itu, tak disangka Zain langsung menepis tangan Meli dan melototi nya, dengan ancaman tatapan sinis, sedang mulutnya dipenuhi oleh makanan utama yang sedang ia santap sebagai syarat agar bisa menikmati puding itu.
"Hahahaha.....Mas, apaan sih.....! itu yang bikin aku lho, masa gak boleh aku coba juga."
Zain semakin menatap Meli dan kini tatapannya berubah melototi Meli kembali.
"Hah....secinta itukah dirimu pada puding ini, di kulkas juga masih ada sayang. Masya Allah, hahahaha.....kau ini lucu sekali."
"Ya, udah makan yang di kulkas aja, yang ini punyaku."
"Hah....sebanyak ini kamu bisa habiskan? Mas belum kenyang?, awas entar sakit perut, lho."
"Sini punyaku."
"Yang buat aku, yang ngakuin juga kamu," cetus Meli melihat tingkah menggemaskan suaminya.
Memang hanya sebuah perdebatan kecil, yang terlihat seperti anak-anak yang sedang berebut, namun tak bisa dipungkiri Meli dan Zain sangat bahagia tak peduli seberapa besar, seberapa tinggi, seberapa tangguh tembok penghalang itu, mereka tetap mampu melewatinya dengan penuh bahagia yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
"Semua yang di buat oleh mu adalah milik ku, tak ada seorang pun yang akan mengambilnya."
Pernyataan Zain yang sedikit menyinggung anak dalam rahim Meli dan membuat hati Meli sedikit tertekan, Meli tak pernah berniat melanjutkan pernikahan itu, meski jujur ia bahagia bersama Zain, Meli tatap memegang janjinya pada Zain akan pergi setelah Ubay lahir.
__ADS_1
"Maaf Zain," ucap Meli dalam hati, membayangkannya saja ia tak sanggup, namun harus ia lakukan demi kebaikan semua keluarga.
...****************...