
Selamat membaca
Zain meninggalkan Meli Seorang diri setelah perdebatan hebat
terjadi diantara mereka.
Dengan sisa tenaga Meli bangun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar, melihat ada kamar kosong di sebelah kamar utama, Meli memutuskan untuk pindah di kamar sebelah. Meli kembali dan menarik koper miliknya menuju kamar sebelah. Meli mulai membuka koper dan meletakkan beberapa pakaian miliknya di lemari, setelah selesai merapikan pakaian di lemari, ia langsung menuju kamar mandi dan membersihkan diri, kemudian seperti biasa mulai menunaikkan ibadah tepat waktu.
Hingga malam tiba, Zain belum kembali, ada rasa khawatir yang mendera dalam lubuk hatinya, takut jika Zain melampiaskan kemarahannya dengan melakukan hal di luar kendali. Namun, syukurnya Zain akhirnya kembali, yang membuat Meli bingung dia justru membawakan Meli beberapa makanan dan meletakkan di atas meja makan. Meli yang duduk di ruang tengah sambil menonton TV hanya menoleh kearah dirinya, tak berani menegur duluan.
"Makanlah, Maaf diluar ada urusan jadi aku pulang terlambat."
Meli belum beranjak dari tempat duduknya, ia masih bingung dengan sikap Zain. "Bukannya kau sedang marah pada ku, lantas kenapa masih perduli?" ucap Meli tak menyangka sikap perhatian dari Zain.
"Aku ini manusia punya hati dan perasaan, bukan seperti dirimu."
"Sudah, jangan mulai lagi. Kamu pikir aku senang membuat mu kecewa, jika bukan karena monster itu, aku juga akan menolak perjodohan ini."
"Kau ini, siapa yang sedang kau juluki monster?"
"Tentunya bukan dirimu, dia adalah orang yang berkedok sebagai seorang Ayah, namun hati dan jiwanya sama sekali tak mencerminkan sikap sebagai seorang ayah. Andai dia sedikit saja memberikan kasih sayang padaku, aku takkan terjebak dengan cinta yang pahit."
"Meli...!"
"Sudah lah, hari ini aku makan dari rezki mu dan anggap saja itu utang, kau bisa menagih ku kapan saja."
Mendengar kalimat yang Meli ucapkan, Zain terdiam sejenak, ia tampak berfikir, seperti apa karakter gadis dihadapannya sekarang, dia jelas bukan gadis yang lemah, namun menyimpan luka yang sangat dalam sejak lama dalam hidupnya.
__ADS_1
Meli yang sudah lapar, kini melahap makanan yang ada di hadapannya, kemudian ia mulai membersihkan piring bekasnya dan merapikan dapur, namun belum beberapa menit perutnya terisi, ia harus berlari ke arah kamar mandi dan memuntahkannya kembali. Cukup melelahkan, karena Meli terlihat bolak balik ke kamar mandi.
Zain yang tak tega, ia menghampiri Meli dan memberikan obat anti mual yang sempat ia beli ketika melintas di apotik, tak jauh dari tempat tinggal mereka.
"Terimakasih."
Meli kemudian meminum pil tersebut, dan kembali ke ruang TV, namun Meli tak berniat untuk menonton ia hanya duduk terdiam karena kelelahan bolak balik kamar mandi memuntahkan isi perutnya.
"Boleh aku bertanya serius padamu?"
"Ya." jawab Meli dengan nada lemas.
"Apa dia tau jika kau sedang hamil anaknya sekarang?"
"Tidak, sama sekali tidak. Sebenarnya aku hendak memberitahukan dirinya pada saat itu, namun saat yang bersamaan aku justru mendapat pesan darinya, jika dia akan segera menikah kerena perjodohan, sama dengan yang terjadi pada kita sekarang. Aku hanya bisa diam, karena tersadar ketika membaca isi pesan darinya, aku sadar jika aku bukanlah suatu perioritas utama dalam hidupnya, lalu untuk apa aku bertahan hidup dengan manusia seperti itu, cukup sekali dan hanya sekali, aku harus lebih menyayangi diri ini, dan tak boleh berharap orang lain akan memberikan kasih sayang dengan percuma."
"Lalu, tak ada niat dari mu sama sekali untuk memberitahukan dirinya?"
"Lalu kenapa kau malah terlibat perasaan dengannya?"
"Huft....apa di usiamu yang sekarang, kau belum pernah jatuh cinta?, apa cinta itu pernah berkompromi dengan hati untuk memilih?, bukan kah dia datang begitu saja, dan pergi tanpa pamit, pertanyaan mu itu, patut aku pertanyakan kembali?"
"Lalu bagaimana dengan perasaanmu sekarang?"
"Pengalaman ini, membuat ku sadar akan siapa diri ini, mungkin kedepannya cinta itu akan menjadi hal yang jauh dari kehidupan ku. Tapi cinta itu sekarang telah tumbuh kembali dalam diriku dengan wujud yang berbeda, dan aku harap itu adalah cinta terakhir dalam hidup ku."
"Apa yang dia maksud adalah cabang bayi yang sedang tumbuh dalam rahimnya sekarang," gumannya dengan menatap Meli dengan tatapan penuh rasa iba.
__ADS_1
"Nah, sekarang giliran ku mengajukan pertanyaan padamu?"
"Ehm...silahkan."
"Dari sejak bertemu denganmu, kayaknya kamu tak suka pada ku, apa ada gadis lain diantara kita saat itu?"
Mendengar pertanyaan Meli, Ia terdiam lama, hingga Meli, berdehem kembali pada Zain.
"Ehm..."
"Ya, bahkan dia tinggal di daerah ini, dia gadis yang sabar dan penyayang, dan aku sangat menyukai dirinya, hingga perjodohan dadakan itu datang dan hubungan kami menjadi kacau."
"Ah...gitu aja kok repot, jika boleh aku akan membantu menyatukan kalian kembali," sahut Meli dengan girang, akhirnya ia mengetahui penyebab dirinya dicuekin olehnya dan benar dugaannya jika itu karena ada gadis lain yang sudah ada dalam hatinya.
"Sudah lah, kalau jodoh pasti akan bersatu."
"Kau ini, orang dapat jodoh juga perlu usaha, jangan diam baek gini, dia harus tau permasalahannya siapa tau masih ada kesempatan dan semua masih bisa kita perbaiki, dengan begitu, aku juga akan hidup dengan tenang, akhirnya aku tak menghalangi kisah cinta kalian lagi."
"Gadis ini, apa ia tak sadar jika pesona dari dalam dirinya sangat mudah membuat siapapun akan mudah jatuh hati padanya, aku saja tak yakin hatiku akan baik-baik saja beberapa bulan tinggal bersama dengannya," gumannya seketika mendengar penuturan Meli padanya.
"Mungkin dia juga akan secepat ini melupakan diri ku, betapa bodohnya aku menyia-nyiakan cinta untuk orang seperti dia, sudah membuat bunga layu lantas pergi begitu saja, apa semua pria seperti itu?, bahkan kata maaf mungkin tak pantas untuknya, ingin rasanya mendo'akan hal yang buruk padanya, namun itu sama saja melukai hati perempuan lain, cukup diri ini saja. Saran ku kembali padanya dan jelaskan semuanya, jangan membuat hubungan yang menggantung seperti ini, selesaikan dengan baik."
Jadi seperti inilah dirinya yang sebenarnya, aku menyukai karakter dalam dirinya, gadis yang berprinsip dan mandiri, Ayah mu akan menyesal membuat mu seperti ini, dia tidak mengenal putrinya dengan baik, itu pasti akan membuat ia menyesal dan terpukul suatu saat nanti.
"Entah kenapa aku peduli dengan mu Meli, andai saja anak dalam kandunganmu itu adalah benih ku, aku yakin aku akan menjadi pria yang sangat beruntung," pemikiran Zain mulai terbuka ketika mengetahui siapa gadis yang sedang bersamanya.
~Bersambung~
__ADS_1
Dukung terus ya.....!
❤️ U All.