
Happy Reading.....
Zain sungguh merasa bersalah, karena nafsu yang tak mampu ia kendalikan, ia justru membuat kesalahan fatal pada Meli. "Aku harus berusaha menghindarinya, dia adalah istri yang haram untuk disentuh saat ini. Siapa pria yang telah semena-mena terhadapnya hingga ia menjadi seperti ini?, sebaiknya aku segera menyelidiki semuanya." Gumannya dalam hati saat menenangkan hati Meli dalam pelukannya.
Zain menatap wanita yang terlelap disampingnya, Raut wajah yang ayu, menyejukkan hati jika dipandang, membangkitkan selera, dan mengusik benteng pertahanan birahi, namun sangat disayangkan ada banyak luka yang terpendam, membuatnya membendung rasa amarah, kecewa, sedih, dan merasa tak diinginkan oleh mereka yang sangat ia sayangi. Gadis yang malang dan sungguh iba rasanya mengetahui sedikit demi sedikit semua yang telah ia alami selama ini.
Zain menghela napas untuk kesekian kalinya, entah ujian seperti apa yang telah tuhan kirimkan padanya, ia mendapatkan seorang bidadari yang tak akan pernah menjadi miliknya seutuhnya, kenyataan pahit akan rahasia Meli telah ternoda dan mengandung benih pria lain, telah menjadi tembok penghalang hubungan mereka dan entah kapan tembok itu akan runtuh, atau tidak selamanya.
Zain memutar kembali angan-angan dengan beberapa gadis yang pernah menemaninya melewati kesunyian malam yang indah, jujur seandainya Ia hanya mendapati Meli tak suci lagi itu bukan masalah besar baginya, meski kecewa tentu pasti akan sangat kecewa, karena akan terlalu egois baginya mengharapkan kesucian seorang gadis dalam keadaan berlumur noda, memang benar tuhan itu adil, inilah balasan dari perbuatannya yang dulu yang sering menjalin kisah cinta satu malam dengan beberapa gadis.
Zain tak mampu memejamkan mata menikmati indahnya malam dengan mimpi indah, angan-angan kisah masa lalu entah kenapa malam ini hadir tanpa permisi, membawa pikirannya jauh ke masa lalu, dan membawa penyesalan pada saat sekarang disaat ia sudah berstatus sebagai suami, namun tak bisa menikmati nikmatnya surga dunia dalam pernikahan yang terkesan mendadak. Menyesal, mungkin ini kata yang tepat untuk disematkan pada dirinya saat ini, kehadiran bidadari yang akan mendampingi hidupnya hingga menua malah membawa luka yang menggores hati dan mungkin luka itu akan membekas untuk selamanya. Hidupnya kini Seperti kata pepatah apa yang kita tanam maka kelak itulah yang akan kita tuai.
Zain dulu sering mengelak bertemu karma, hingga hubungan terakhirnya dengan Alina seorang bunga desa ia putuskan begitu saja tanpa memikirkan perasaan gadis itu, gadis itu menangis sesegukan dalam pelukan Zain, kala kata putus terucap dari mulut Zain yang mengalir begitu saja, Zain sebenarnya sadar jika dia memang cukup kagum pada Alina, namun jujur jika dibandingkan perasaan itu dengan Meli, Zain mengakui jika hatinya pada Meli sungguh kuat entah kenapa meski ia sakit, kecewa, dan terluka, tapi dari dalam dirinya tak mampu mengelak dan tak mampu menolak kehadiran gadis itu dalam hatinya, karma yang setimpal dengan kesalahannya dulu.
Untuk kesekian kali mata miliknya tak mampu ia palingkan dari wajah ayu, cantik jelita dari seorang wanita yang kini telah sah menjadi istrinya. Perlahan wajah itu ia belai dengan lembut, dan ia tatap semakin dalam, dan tersenyum ke arahnya, dan lirih terucap, "akan kah hubungan ini bertahan?, akan kah kau menjadi milik ku kelak?, dan akan kah anak itu menjadi pemersatu hubungan kita atau justru sebaliknya?, Meli asal kau tau baru kali ini ada seorang wanita yang tanpa permisi masuk dalam hati ini, entah hati ini sudah kosong untuk berapa lama.
__ADS_1
Zain pernah jatuh cinta untuk pertama kalinya, namun ia harus menelan rasa pahit seperti yang Meli alami yakni ditinggal nikah sang kekasih karena perjodohan, Zain sungguh putus asa pada saat itu dan sejak saat itu ia memulai berpetualang menjelajahi kisah percintaan dengan istilah menikmati masa lajang. Hingga ia bertemu dengan Meli gadis yang sejak pertama ia lihat langsung menembus dinding pertahanan hatinya, dan sekaligus menorehkan luka yang sangat dalam, dengan kebohongan yang besar dan entah sampai kapan ia dan Meli mampu menutupi semuanya.
"Um...." Meli mulai menggeliat dalam pelukan Zain, namun entah kenapa dirinya begitu nyaman berada dalam pelukan suaminya, bukannya membuka mata Ia justru mengeratkan pelukannya pada Zain, ada rasa cemburu yang sesaat Zain rasakan, ketika pikirannya seolah dirasuki oleh penjahat cinta, seolah sedang berbisik (Meli memelukmu erat bisa jadi merasa sedang dalam pelukan sang mantan kekasihnya), seketika Zain langsung merasakan tidak nyaman ia perlahan mulai melepaskan diri dari pelukan Meli, namun tiba-tiba terdengar Meli mengigau "Zain jangan pergi aku mencintaimu, aku mengandung anakmu."
Terdiam untuk beberapa menit, tersenyum sumringah mendengar kalimat itu, ingin rasanya ia masuk dalam alam mimpi Meli dan berharap tak pernah keluar dari mimpi itu. Rasanya sangat senang, mendengar kata cinta saat dirinya mengigau saja seperti ini rasanya, apalagi jika ini nyata adanya.
"Ah...Meli aku bisa gila karena mu."
"Hmm.....Mas aku lapar." Zain terkejut saat ia mulai akan memejamkan mata, justru suara Meli mengusir kembali rasa kantuk yang susah payah ia dapatkan.
Dalam mata terpejam, Zain menanggapi Meli dengan balik menanyakan makan apa yang ia inginkan sekarang.
Zain seketika langsung membuka mata, "hahaha....jangan bercanda, mau keliling daerah ini sekarang tak akan ada yang jual Mel, Yang benar aja. Besok pagi aku carikan ya...!, sekarang kamu makan yang ada saja, aku temanin kamu ke dapur, kayaknya masih ada telur di kulkas.
Mendengar jawaban Zain, ia langsung tersadar dan menatap Zain penuh rasa bersalah, sepertinya Meli terbawa mimpi.
__ADS_1
"Maaf, mas. Tidurlah kembali, aku lupa jika kita bukan_.….."
Zain langsung menahan ucapan yang tentu menyakitkan jika terucap.
"Jangan katakan, meski ia bukan darah daging ku, tapi tuhan memberikan amanah itu pada ku, yang artinya saat ini dan selamanya kalian adalah tanggung jawab ku, jangan pernah sungkan, mintalah apapun itu, asal jangan nyawaku, itu hak mu Meli."
"Mas, apa kita gugurkan saja, jika ia adalah penghalang bagimu aku akan menerimanya."
"Mel, sadarlah...apa yang sedang merasuki mu?" ucap Zain hampir meninggikan nada bicaranya.
Meli memandangnya dan berkata. "Aku bermimpi anak ini adalah anak kita, darah daging mu, dan aku sangat bahagia, kebahagiaan yang aku rasakan untuk pertama kalinya meski hanya dalam mimpi."
Jadi itu mimpi yang Meli alami, sangat disayangkan kenapa hal itu bukan terjadi di dunia nyata.
Meli tertunduk setelah mengatakannya, dan terlihat menyembunyikan air mata penyesalan dirinya.
__ADS_1
"Apa jika digugurkan akan membuatmu bahagia?" Pertanyaan dari Zain seolah sedang memberikan pilihan terberat dalam hidup Meli untuk pertama kali.
...****************...