
Operasi berjalan cukup menegangkan, namun apalah daya Zain, ia tak berani mengabari keluarga dan membantunya, ia juga khawatir jika masalah lain akan muncul jika Zain saat ini memberi kabar tentang persalinan Meli, setelah berjuang antara hidup dan mati dimeja operasi akhirnya Meli dan Putranya berhasil terselamatkan.
Jujur Zain sangat bahagia, tapi sayang sekali untuk perama kali melihat bayi mungil dengan berat hanya dua ribu gram, terbaring di incubator justru ada rasa kesal padanya mengingat anak itu bukanlah darah dagingnya.
Zain meninggalkan sejenak ruang perawatan anak dan istrinya, menuju pelatihan militer, sampai di tempat tujuan ia kembali melampiaskan kekesalan dan rasa kecewa yang ia tahan dan pendam dalam hatinya.
Zain melampiaskan rasa kecewa itu pada salah satu alat peraga yang terpampang di hadapannya, "gila, aku mencintai wanita saat ini bertahan beberapa bulan dan ia melahirkan bayi orang lain dan bayi itu kini menjadi putraku, apa aku sudah gila saa ini?, aku benar-benar tak tau harus apa?, menolak kehadiran dirinya sama saja dengan menceraikan istri ku....TUHAN UJIAN MACAN APA INI....?"
Zain terus melampiaskan rasa kecewa dan amarah membara dalam dirinya, "andai saja aku tau siapa pria itu sejauh apapun dirinya, mungkin aku akan mendatangi dirinya dan menghajarnya hingga tak sadarkan diri," guman Zain.
"Meli....ada apa dengan dirimu, aku ingin melepas mu dan membiarkan mu pergi, mengakhiri hubungan ini, tapi hati ini kenapa bisa sangat mencintai dirimu, tak perduli apa yang terjadi sebelumnya, aku tetap mencintai mu. Aku benci hati ini...!, harga diriku hilang entah kemana ketika aku berdiri dihadapan mu."
Zain mengingat wajah istrinya, perjuangannya, kesabarannya, dan tingkah polosnya.
"Zain, ayolah temui anak itu, dia tak bersalah, dia adalah malaikat untuk mu," bujuk Zain pada diri sendiri berusaha menguatkan diri menerima kenyataan di hadapannya sekarang.
Zain dengan berat terpaksa menuruti kata hatinya, iapun kembali ke rumah sakit tersebut, sekitar setengah hari lamanya ia meninggalkan istri dan anaknya, hingga ketika ia kembali, suster langsung menanyakan dirinya, kenapa ia menghilang dan tak menemui putranya.
"Dimana istri ku?" tanya Zain.
"Dia masih di ruang ICU dan sebentar lagi akan kami pindahkan ke ruang perawatan," jawab salah seorang petugas medis.
"Baik aku menunggu di ruang perawatan saja."
Zain sama sekali belum menguatkan hati untuk menemui bayi Meli, ia masih kalut dengan pikirannya.
Tak lama berselang Meli ke.bali ke ruang perawatan dirinya sebelumnya.
Zain bergegas membantu dan membaringkan Meli dengan perlahan.
"Zain, Apa kau sudah bertemu dengan bayi ku?" tanya Meli padanya.
"Belum...!"
__ADS_1
Mendengar jawaban itu, Meli langsung down, " Aku sudah bilang kamu gak akan sanggup, jangan memaksakan diri, biarkan kami pergi setelah keluar dari rumah sakit ini...!" ucap Meli yang paham betul makna raut wajah suaminya.
"Aku akan berusaha untuk menerimanya...istirahatlah...!, kamu pasti lelah."
Meli kini menatap netra dihadapannya, netra tak bahagia dan penuh rasa kecewa. "Maaf, aku juga sudah menawarkan untuk mengiklankan kita menggugurkannya!" ucap Meli dengan kaku, tak kuasa melanjutkan apa yang ingin ia ungkapkan.
" Ibu macam apa kau ini?, ia sudah lahir ke dunia ini dan kau masih berniat menghilangkan nyawanya?" tegas Zain pada istrinya.
"Kau yang seperti itu, sikap itu menunjukkan kau tak suka padanya, jadi biarkan saja ia pergi."
"Meli cukup...! istirahatlah, aku hanya butuh waktu sejenak dan aku akan mengunjunginya."
"Untuk apa?, tubuhku memang butuh istirahat tapi pikiran ini, terus bekerja jadi untuk apa?" jelas Meli yang ternyata tak kuasa melihat ekspresi suaminya yang selalu menyemangatinya tapi ujungnya ia terlihat menolak bayinya.
"Berikan ia pada ayah biologisnya..!" ucap Zain seketika membuat Meli bergetar dengan ucapan tersebut.
Zain tertunduk diam, ia kalut dan berucap sesuai kata hatinya tanpa berpikir apapun lagi.
"Ya, aku paham. Ceraikan aku dan setelah aku keluar dari rumah sakit aku akan mengambil barang milikku di rumah mu."
Zain meninggalkan Meli keluar ruangan.
Ia duduk menyendiri di sebuah bangku kosong hingga sejam lamanya.
Merasa agak tenang, ia pun memberanikan diri dan menguatkan hati " ketika aku memilih memelukmu untuk pertama kalinya itu artinya aku menerimamu dan tak akan kubiarkan ayah biologis itu merebutnya," guman Zain mencoba memantapkan hati.
Sampai di depan ruangan bayi, Zain berdiri dan menatap sejumlah bayi di depan dinding kaca.
Salah seorang petugas yang mengenali Zain langsung menghampiri dirinya, "Bapak ingin bertemu dengan anak bapak, ia belum di azani, mohon bapak segera lakukan tugas bapak," saran salah satu perawat yang sedang bertugas.
Zain pun mengikuti langkah perawat itu dan memasuki ruang yang dipenuhi dengan anak bayi terbaring mungil didalam inkubator.
"Silahkan pak, anda bisa mengambil air wudhu terlebih dahulu."
__ADS_1
Zain pun berwudhu dan mendekati inkubator tempat bayi Meli.
Lama terdiam dan hanya menatapnya, membuat perawat membantu Zain kembali, perawat itu membuka inkubator dan menggendong bayi mungil tersebut dengan berat 2,2 gr dan meletakkan di tangan kekar Zain.
"Silahkan..!" ucap suster dan meninggalkan Zain melanjutkan tugasnya.
Zain masih menatap bayi itu, hingga bayi mungil tersebut seakan sedang membalas tatapan mereka, saat itulah muncul rasa iba dan rasa sayang pada makhluk kecil mungil di pangkuannya tangannya kini.
Zain mencium keningnya dan mulai mengazani putra Meli.
"Mulai sekarang kau adalah putra Zain Osama, aku mencintai ibumu dan pasti akan mencintaimu juga, kau dan ibumu adalah satu dan aku tak peduli darah daging siapa dirimu ini, yang aku tau kau adalah putraku mulai saat ini," guman Zain yang sudah mantap menerima kehadiran Ubay kecilnya dan sebagai pelengkap hidup rumah tangganya dengan Meli mulai sekarang.
Zain kini berpamitan dengan suster yang berjaga dan menitipkan bayinya.
Dengan lega Zain kembali ke ruangan Meli. Ia tak sabar berbaikan dengan Meli setelah perdebatan mereka sebelumnya.
Tiba di ruangan, Ia mendengar Isak tangis dan tak disangka Meli sedang menangis terseduh.
"Hey....maaf...!, kenapa menangis seperti ini?, aku lama karena dari ruangan bayi kita dan aku sudah mengazani nya," ucap Zain.
"Bukan kah kau tak menerimanya lantas kenapa harus melakukannya?"
Zain tak berucap lagi, itu memang salahnya tak semestinya ia memperlihatkan rasa kecewa pada Meli sebelumnya.
"Maaf...!, kalian adalah satu paket mana bisa aku pisahkan. Kamu harus cepat pulih karena paket kita belum cukup."
"maksudnya ?" tanya Meli tak paham sama sekali.
"Mereka selalu bilang dua anak cukup, jadi kita masih butuh satu lagi," ucap Zain menggoda Istrinya.
"Mas....!"
"Maaf..!, habisnya air mata kamu gak berhenti menetes. I Love You, sayang. Hari ini terakhir kalinya aku mendengar kalimat cerai dari mu...!, jangan ucapkan kata itu lagi, pamali...!"
__ADS_1
Meli menatap wajah suaminya dan tak terasa air mata kembali berlinang, tapi kali ini adalah air mata kebahagiaan untuk keluarga kecil mereka.
...----------------...