
Happy Reading
......................
Setelah makan sore, Meli langsung membersihkan peralatan makan yang mereka pakai dan menyimpan dengan baik makanan yang masih tersisa di meja makan, Zain tampak ikut membantu meski Meli sudah mengoceh di depannya memintanya untuk berhenti dan segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan istirahat, namun Zain tak berhenti hingga dapur sederhana itu terlihat rapi dan bersih.
"Nah, kan kalau sama-sama kerjaan cepat selesai dan kita bisa istirahat bersama. Ya pa ngak?"
"Ya, deh...! terserah Mas, yang jelas kamu senang."
"Huft, tukang ngomel...!, telingaku jadi berdengung dengar omelan bak petasan Imlek," Zain semakin iseng dengan Meli dan membuatnya geram seketika.
Meli mencuci tangan setelah membersihkan piring, dan malah membasuh kan tangan basah itu ke wajah Zain, membuat Zain berubah jadi cemberut kembali, dan ekspresi itu sangat lucu di lihat oleh Meli yang kini berdiri tepat di hadapan ya dan menertawakannya.
Liciknya Zain momen itu malah ia manfaatkan mengambil kesempatan dalam kesempitan, Zain menarik pinggul Meli dan merapatkan ke tubuh miliknya, namun lucunya perut buncit Meli terlihat memberi jarak diantara mereka, membuat perhatian mereka berdua sontak langsung tertuju pada perut buncitnya.
"Gak bisa di peluk, yeah....!" goda Meli yang sedari tadi merasa lucu melihat tingkah suaminya.
Niat mau mengambil kesempatan kini Zain malah bermain dengan perut Meli, dengan menggelitik pelan dan merasakan pergerakan halus dari jabang bayi mereka.
"Eh.....dia gerak sayang, kamu rasa ngak?, ucap Meli yang terlihat senang.
Zain membungkuk di hadapan istrinya dan menempelkan telinganya pada perut buncit Meli, yang yang semakin merasa geli, langsung refleks mundur dan tertawa pelan.
"Mas, ampun geli...!"
"Diam dulu...!" cetus Zain seakan mampu mendengarkan sesuatu dalam kandungan istrinya. Dan lucunya bukannya mendengarkan sesuatu yang membuatnya penasaran ia malah kena tendangan halus dari dalam perut Meli dan sontak membuat mereka kini tertawa bahagia dengan tingkah anak mereka yang masih berusia memasuk enam bulan dalam kandungan Meli.
Zain langsung membopong tubuh istrinya dan membaringkan tubuh itu di atas sofa yang terletak di dekat tv tempat mereka biasa nonton bersama, Zain masih membungkuk dengan perhatian tertuju pada bibir mungil Meli, tak tahan dengan godaan itu Zain tak menyia-nyiakan kesempatan, ia langsung menciumnya dan bermain sesat dengan bibir lembut itu, Meli tak menolah lagi, karena sudah terbiasa dengan perlakuan Zain, tubuhnya kini sudah sangat familiar dengan itu, Meli malah ikut hanyut dengan perlakuan lembut suaminya. Karena merasakan semakin sesak, Meli mendorong pelan tubuh suaminya dan berkata, "Mas, aku gak bisa ambil napas."
"Maaf, habisnya kamu sangat menggoda dan aku tak tahan dibuatnya." Perkataan lembut Zain dengan gerakan menyeka bibir Meli yang masih basah, membuat Meli semakin terhanyut dalam sentuhan suaminya.
"Gila, kalau begini terus setelah melahirkan nanti aku bisa kebobolan kembali, siapa yang tahan dengan kelakuan kamu." Meli memanyunkan bibir dihadapan Zain, dan tanpa ia sadari kata-kata itu terucap mengalir apa adanya dan membuat Zain sangat bahagia mendengar semuanya, akhirnya Meli mengungkapkan isi hatinya dan sudah menerima keberadaan dirinya.
__ADS_1
"Aku mampu kok soal biaya, kamu jangan khawatir...!" ucap Zain tak merasa jika ucapannya itu akan membuat Meli tercengang.
"Hah....Mas, kamu yang benar saja...!, mesin saja punya waktu operasional, masa aku hamilnya non stop."
"Hahaha......"
Plak, sebuah pukulan mendarat di lengan suaminya, sontak membuat Zain meringis.
"Rasain...!"
"Awas, tak cium lagi."
"Mas, sudah....pergi mandi, sana....!"
bentak Meli yang tak mau disentuh lagi olehnya.
"Bantuin...!"
"Apanya....?"
"Hah.....kamu yah....sana....cepat....!" Teriak Meli yang semakin geram.
Zain akhirnya menjauh dari harimau betina yang siap mengamuk akibat ulahnya.
Zain melangkah dengan cepat menuju kamar utama dan menghilang di balik pintu kamar, Meli yang masih mengekori dengan lirikan mata setiap langkah suaminya, terlihat menunjukkan senyum dan malah masih menatap pintu kamar tersebut meski Zain sudah menghilang dibalik pintu itu.
Tiba-tiba pintu kembali terbuka dan memunculkan kepala Zain saja, langsung membuat Meli terkejut seketika, "Ya, ampun....iseng sekali dia, aku sampai kaget dibuatnya," guman Meli dengan mengelus dada.
"Hahaha....kaget ya, makanya jangan suka main pandang diam-diam."
"Mas, Mandi....!" Meli berteriak kembali untuk sekian kalinya.
"Ampun...!" lirih Meli dengan tersenyum diam-diam.
__ADS_1
Tak lama berselang Zain keluar dari kamar dan kini wajahnya dan tubuhnya terlihat segar, Zain berjalan menuju sofa dan Meli masih duduk santai dengan mengotak atik gadget miliknya, sambil memainkan sebuah game favoritnya.
"Yah...kalah lagi, kenapa sih level ini, sangat susah di lewati," gerutu Meli dengan bibir manyun.
"Udah.....itu karena jari kamu butuh istirahat juga, lagian di suruh bantuin mandi malah asik main game disini," ucap Zain sambil mengambil remote dan mulai menyalakan televisi dan mencari siaran yang ingin ia nonton.
"Memangnya butuh bantuan seperti apa saat kamu mandi?"
"Banyak...!"
"Misalnya....?" lanjut Meli ingin memperjelas maksud dari suaminya.
"Hehehe...menggosok dengan pelan dan memberikan ciuman hangat, agar airnya gak terasa dingin, dan ahem...ahem...!" dengan tak merasa bersalah Zain berucap dengan ekspresi genit yang ia tunjukkan pada istrinya.
"Mas....nyadar...!"
"Yah...itu tugas kamu nanti setelah melahirkan dan sembuh nanti, sebagai balasan atas puasa yang saya jalani berbulan-bulan."
"Puasa...?"
"Tadi yang makan, puding sampai habis satu talang, siapa?" ucap Meli berusaha mengalihkan topik, meski ia sudah paham dengan maksud Zain.
Zain tersenyum, dan melirik istrinya, dan kini malah menarik hidung imut Meli.
"Sakit..." cetus Meli.
"Mas, kayaknya kita harus pindah, omongan tetangga sudah agak menyindir tiap hari, meski gak langsung tapi bisa jadi mereka mempertanyakan anak ini."
Meli agak khawatir dengan kondisi perutnya yang sudah membesar sedang pernikahan mereka baru menjelang empat bulan, Zain pun sangat memahami hal itu.
"Kamu yang sabar, aku sudah mengajukan untuk pindah tugas, di ibu kota, semoga aja cepat terealisasi dan kita bisa pindah secepatnya." Zain berusaha untuk mendapatkan mutasi secepatnya untuk menghindari gunjingan dari tetangga kelak. Meski belum terjadi namun hal itu perlahan sudah terendus ditelinga Zain jika Meli hamil duluan sebelum nikah dengan Zain.
"Maaf, Mas. Aku memang murahan tak mampu menjaga kehormatan dan terlalu percaya pada ucapannya dulu dan kini kita terjebak dalam situasi yang rumit."
__ADS_1
"Sudah jangan diungkit lagi, aku agak emosi mendengarkannya, dia tak pantas untuk di bahas, dan kamu mulai sekarang harus belajar lupakan dia, aku tak suka," Zain kini berusaha jujur pada istrinya dan Meli sangat paham dengan keadaan hati suaminya, sangat wajar ia bersikap demikian setiap membahas masa lalunya.