
Selamat membaca...
Pertengkaran hebat kembali terjadi, Meli sungguh murka atas kelancangan Zain, namun Zain bersikukuh jika itu adalah haknya agar kelak ia mampu mengamankan posisi anak dalam kandungan Meli.
Meski tujuan utamanya adalah mengamankan Meli agar tak kembali pada mantan kekasihnya.
"Kamu sama sekali tak berhak untuk melakukan semua itu, saya lebih tau apa yang harus saya lakukan, dan hubungan kita hanyalah pernikahan diatas kertas dan takkan akan lebih dari itu, sudah cukup bagiku mengenal pria di bumi ini, fokus ku saat ini adalah anak dalam kandungan ini, aku memang berhutang budi pada mu dan sampai kapan pun hal itu tak akan mampu aku bayar meski dengan nyawa sekalipun, tapi bukan berarti aku akan membiarkan seseorang mencampuri kehidupan pribadi ku, dan bukan berarti pula aku akan memaafkan atau pun kembali padanya, jika itu yang kamu khawatirkan...!"
ucapan Meli cukup membuat hati Zain terluka, setelah perjuangannya selama ini, namun sama sekali tak membuahkan hasil sedikitpun, sangat sulit baginya untuk menembus hati wanita yang kini telah menemani hidupnya hampir setahun lamanya.
"Maaf tas kelancanganku kali ini, aku salah, tapi semua itu aku lakukan karena aku sangat menyayangi mu, apapun akan aku lakukan agar kamu bisa membuka hati untuk ku, aku ingin tau siapa ayah biologis dari anak kita supaya aku bisa melindunginya kelak, jangan salah paham untuk itu."
"Aku memang mencintainya, sangat mencintainya, tapi itu dulu, hingga aku tak sadarkan diri luka yang ditorehkan oleh nya, membuat hati ini tak mampu lagi menerima siapapun, bahkan ayah dari anak ku sendiri, tak akan ku biarkan hati ini terluka untuk ke dua kalinya lagi, mohon pengertiannya, dan jangan memaksakan kehendak, itu akan membuatmu terluka, Zain. Kau orang baik, pantas bagimu mendapatkan gadis yang lebih baik dan jangan siakan hidupmu dengan ku.....Maaf, sekali lagi maaf...!"
"Meli...!"
"Tolong, biarkan pernikahan ini berakhir setelah ia lahir."
"Maaf...aku bersumpah atas nama kedua orang tuaku dan keturunan ku kelak, aku tak akan pernah menalak dirimu sampai kapan pun, bahkan jika aku menemukan dirimu dalam pelukan pria lain."
"Zain....apa kau ini bodoh, bukan kah banyak gadis yang mengantri untukmu, dan kamu bisa memilih mereka, kenapa kau malah memilih menghabiskan kehidupan mu dengan gadis kotor seperti ku...?"
"Karena pernikahan itu bukan permainan yang bisa kau akhiri kapan pun kau menginginkannya, tapi itu adalah takdir dan aku menerimanya, sekalipun kau buruk rupa. Dan cinta itu murni adanya dan tak bisa engkau atur dalam hati mu, itu adalah murni datangnya dari Tuhan. Andai kau pahami itu, kau pasti akan tau dan tak berani melawan takdir, dan jangan menjadi seorang ibu yang egois, kau pikir mereka yang menjadi anak dengan orang tua tunggal hidup mereka bahagia, kau pikir kau bisa memberi kasih sayang lengkap padanya, jangan lupakan jika ia tumbuh dan berkembang sampai detik ini karena aku juga, dan aku berhak padanya, meski dalam darahnya tak mengalir darah ku."
"Huh...akhirnya aku paham tak ada yang gratis dalam hidup ini, apa yang kau inginkan dari ku?"
"Meli, sikapmu berlebihan, aku tak ada maksud seperti itu."
__ADS_1
"Apa perlu aku ungkapkan makna dari perkataan mu barusan."
"Meli, sudahlah kau sudah cukup jauh membawa perdebatan kita ini, ingat kau sedang hamil saat ini, itu tak baik untuk kehamilan kamu."
"Kamu yang cukup, Zain....! jangan melangkah terlalu jauh dalam hubungan ini, dari awal kita sudah sepakat untuk pisah, dan kenapa kau kini mengingkarinya," teriak Meli pada Zain.
"Meli...tolong tenanglah...!"
"Sakit....!"
"Meli....! kau berdarah .... aku akan segara menelpon ambulance, tolong tenanglah...!."
Zain sungguh panik saat itu, belum selesai perdebatan diantara mereka kini ia harus dihadapkan dengan kondisi istrinya yang tiba-tiba syok karena tak mampu mengontrol emosinya.
Setelah ambulance tiba, dengan bergegas mereka menuju rumah sakit. Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di rumah sakit, kondisi Meli semakin memburuk, kini ia terlihat pucat dan tak sadarkan diri.
Usia kandungan Meli yang belum cukup bulan kini menjadi persoalan serius untuk ditangani segera, dokter dengan segala cara berusaha agar janin itu masih bisa bertahan dalam kandungan hingga pematangan paru dapat dilakukan, dan meminimalkan beberapa resiko untuk kelahiran prematur.
Kini Meli terbaring dengan berbagai alat medis melekat pada tubuhnya, sangat sakit melihat itu semua, Zain sungguh sangat menyesalinya, karena keegoisan dirinya, dan tak memahami hati Meli jika ia akan sangat marah dan kecewa atas tindakannya melakukan penyelidikan terhadap mantannya.
"Apa yang sebenarnya Meli sembunyikan dari ku kenapa ia sangat marah...?"
Zain masih bertanya-tanya dengan sikap istrinya, ia curiga ada sesuatu yang tak beres dengan mantan kekasih istrinya.
Cukup lama waktu yang dibutuhkan oleh para tim medis untuk menstabilkan keadaan Meli, dan syukurnya semua berjalan sesuai dengan rencana tindakan medis. Meli menjalani pematangan paru untuk janinnya sebelum dilakukan operasi. Meli harus melalui tahap observasi dan jika kondisinya dan janin dalam kandungannya menunjukkan perkembangan yang baik maka barulah dilakukan tindakan operasi.
Karena kondisi Meli, Zain kini sangat jarang pulang dan istirahat di rumah dinasnya, ia hanya melewatkan waktunya di kantor dan setelahnya ia bergegas ke rumah sakit dan mengurus segala kebutuhan istrinya, cukup melelahkan, namun Zain tak pantang menyerah, hampir seminggu lamanya dan tibalah jadwal operasi untuk Meli, Zain ingin mengabari keluarga, namun itu adalah hal mustahil untuknya saat ini, pilihan terbaiknya adalah berjuang seorang diri untuk keluarga kecilnya.
__ADS_1
Entah kenapa dengan Meli, ada rasa iba dalam hatinya melihat perjuangan Zain untuknya, jujur saja Meli sudah membuka hati untuk Zain jauh sebelumnya, namun perasaan itu harus ia tekan karena tak ingin kejadian di masa lalu kembali terulang.
"Maafkan atas sikap ku selama ini padamu dan terima kasih untuk semuanya, mungkin ini teguran untuk ku, karena telah tak patuh padamu." Dengan bulir air mata membasahi pipinya akhirnya kalimat itu terucap untuk suaminya, sudah lama ia ingin meminta maaf untuk sikapnya sebelumnya, namun egonya meruntuhkan niatnya.
"Jangan ucapkan itu, ini adalah kesalahan ku karena terlalu memaksakan diri untukmu, aku tak tau lagi harus dengan cara apa untuk membuatmu mencintai ku."
"Zain....!"
Meli langsung memeluk Zain, pelukan yang hangat untuk suaminya, jujur saat itu jantung Meli seakan sedang bertabuh dengan kencang, namun dengan egonya lagi Meli masih berfikir jika ia gugup karena akan menghadapi operasi saat ini.
Waktu yang di tunggu akhirnya tiba, Zain dan para tenaga medis yang bertugas membawa Meli menuju ruang operasi, suasana semakin tegang saat itu, entah Meli akan selamat atau tidak, dan janin dalam kandungan Meli bisa bertahan dengan kondisinya saat ini, atau mungkin mereka akan kehilangan dia untuk selamanya.
Setelah masuk dalam ruang operasi, giliran Zain yang menunggu di luar, dengan suasana tegang, Zain tampak mondar mandir di ruangan tunggu tersebut.
Hingga pintu ruang operasi terbuka, dan salah seorang suster segera membawa seorang bayi menuju ruang ICU. Bayi yang ia gendong terlihat sangat mungil, wajar saja karena kondisinya yang terlahir prematur.
Zain tak sabar iapun memilih mengikuti suster tersebut dan melihat bayi Meli ditangani di ruang ICU dengan dinding pembatas dari kaca, hingga Zain bisa dengan leluasa menyaksikan tindakan medis yang diberikan padanya.
Salah seorang dokter keluar dari ruangan dan menghampirinya.
"Pak tolang, kita bicara sebentar di ruang dokter mengenai kondisi anak bapak."
"Baik, dok....!"
Melihat raut wajah sang dokter, Zain bisa menebak jika hal yang akan dia bahas tampaknya cukup serius.
...****************...
__ADS_1