JELITA DIBALUT LUKA

JELITA DIBALUT LUKA
7. Kembali Sekamar


__ADS_3

Happy Reading


Zain melangkahkan masuk ke dalam bilik kamar miliknya, kemudian menuju kamar mandi dan mulai membersihkan diri, tak berlama-lama di kamar mandi, Zain kembali keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arah lemari, pas membuka lemari miliknya ia baru menyadari jika ada sesuatu yang kurang, yaitu pakaian milik Meli tak terlihat di kamar itu bahkan kopernya pun juga tak ia lihat berada di dalam kamarnya, Zain kemudian mulai mengenakan baju. Karena rasa penasaran dalam dirinya, iapun keluar kamar hendak menemui Meli dan menanyakan kepada dirinya tentang apa yang ia lihat di dalam kamarnya.


Berjalan keluar kamar hingga menuju ruangan tempat Meli duduk sebelum ia tinggalkan seorang diri, namun tak lagi ia dapatkan Meli duduk di tempat itu. Belum terpikir olehnya jika dalam rumah tersebut masih ada kamar kosong di sebelah kamarnya, Ia pun melangkahkan kaki menuju dapur namun hal yang sama ia temukan. "Dimana dia?" tanyanya dalam hati.


Zain duduk termenung di dapur, sedang terpikir oleh jika saja Meli sedang keluar rumah, namun itu tak mungkin karena jam dinding sudah menunjukkan jam 10 malam. Sekitar 15 menit duduk termenung dengan gelas air minum yang menemaninya, ia mendengar langkah seseorang, terdengar langkah itu sedang menuju kearahnya.


"Mas....Kamu dimana?" ucapan yang sopan, namun anehnya itu terdengar seperti suara Meli.


Zain segera mengarahkan pandangan ke sumber suara dan hendak menghampirinya, namun Meli sudah duluan muncul di hadapannya.


"Mas, kebetulan belum istirahat, aku mau minta tolong, lampu dikamar sebelah mati, aku takut gelap jadi apa boleh temani aku pergi membeli balon lampu di kios yang dekat."


"Meli, kamu dikamar sebelah?"

__ADS_1


"Iya,"


Zain menepuk jidat dihadapan Meli, membuat Meli bingung melihat sikapnya. "Tau gak, aku mencari mu keliling rumah dan aku tak kepikiran kau di kamar sebelah, besok aja, kaum kembali ke kamar sekarang, aku lelah mau tidur," ucap Zain dengan santai pada Meli.


"Mas, bukannya kita tak boleh sekamar, aku ini adalah istri yang haram untuk disentuh," Meli kembali menegaskan padanya tentang siapa dirinya dan keadaannya sekarang.


"Yang mau menyentuhmu siapa, memangnya tidur sekamar itu otomatis langsung ninaninu, gitu?"


"Eh...apaan ninaninu?"


"Hah...jadi itu artinya. Hahaha.....baru tau aku ada bahasa versi kerennya, kirain MP doank."


Zain menggelengkan kepala melihat gadis polos itu dihadapannya, Zain seketika berpikir betapa bejatnya laki-laki itu yang tega memanfaatkan kepolosan dari Meli. Tak dipungkiri olehnya, Zain juga pernah melakukan hal yang sama ketika masa muda bergejolak, ia juga pernah mengambil perawan seorang gadis, tapi gadis itulah yang melemparkan dirinya padanya saat Zain sedang mabuk, kala itu usia Zain baru menginjak 25 tahun, belum sama sekali terpikirkan untuk mengakhiri masa lajangnya, ia masih ingin menikmati masa muda dengan penuh kebebasan, selain itu Zain juga pernah beberapa kali tergiur oleh pesona gadis malam, jadi jika dari pengalaman sejujurnya Zain bukanlah tipe pria yang sebaik yang orang lain nilai darinya.


Hanya saja permasalahan mereka kali ini adalah kondisi Meli yang sudah hamil hasil buah cintanya dengan kekasihnya terdahulu. Zain paham betul dengan konsep hukum karma yang berlaku hanya saja teguran yang ia dapatkan kali ini cukup membuat getar hatinya, apa setelah mengenal karakter dari Meli ada kecemburuan yang dalam dengan pria yang telah berhasil merebut hati sang istri, dan sama sekali ia tak tau dengan perasaan Meli sekarang terhadapnya, bisa jadi ketika mereka bertemu ia akan dengan mudahnya mengambil Meli dari hidupnya apalagi dengan keberadaan sang buah hati dalam rahim meli sekarang.

__ADS_1


Hal ini menjadi salah satu kekhawatiran dalam hati Zain, tampaknya Zain lah yang terlebih dahulu membuka hati untuk Meli meski sejujurnya dalam pernikahan mereka ia adalah orang yang tersakiti dan kecewa dengan keadaan sekarang.


Zain dan Meli kembali sekamar berdua, kali ini Zain lebih menghindari tidur seranjang dengan Meli, jujur saja Zain khawatir tak bisa menjaga batasan dirinya, jujur saja pesona diri Meli sekarang sangat membebani hati dan pikiran Zain, Ia lebih memilih mengambil matras satu badan dan tidur di bawah, Meli tentu tak enak hati olehnya, Meli turun dari ranjang dan dan menghampirinya, " Mas ranjangnya luas, kenapa mesti dibawah tidurnya, kita bisa membuat pembatas agar tak saling menyentuh, jika seperti ini aku lebih baik tidur di kamar sebelah.


"Kenapa harus membatasi jarak dengannya bukannya aku juga seorang pendosa, menggaulinya tentu saja tak apa, memangnya ada perbedaan dosa dirinya sekarang yang sedang hamil dari gadis lain yang dulu, sama-sama zina, kenapa dengan kali ini, aku rasa tak masalah, masa bodoh dengan anak dalam rahimnya," terlintas pikiran buruk dalam benak Zain kala melihat Meli dengan tubuh semakin seksi saat ia berbadan dua meski perut masih rata, tanpa berpikir panjang Zain pun naik di atas ranjang dan tidur bersama Meli berdua dengan pikiran buruk yang sudah menghantui pikiran dan hatinya.


Menjelang tengah malam sekitar jam dua dini hari, Zain terbangun dan Zain cukup dikejutkan dengan posisi mereka yang sudah saling berpelukan, "Pantas saja bisa tidur nyenyak ternyata aku sangat nyaman tertidur di dekatnya," Demi tuhan perasaan yang dirasakan Zain cukup bercampur aduk bagaikan makan rujak di tengah malam, ada rasa asam, pedis, dan manis.


Melihat Meli tidur dengan pulas Zain cukup tertegun, lama ia menatap gadis itu hingga Zain tak sanggup lagi, ia kini melancarkan aksinya dengan mencumbu Meli saat sedang tertidur pulas, sontak Meli langsung terbangun dari tidurnya, melihat dirinya dalam kendali Zain, Meli langsung berusaha melepasnya dengan paksa.


Napas terengah-engah, jantung berdebar kencang, rasa takut sudah tentu pasti, Meli langsung memundurkan tubuhnya bersandar di pojok tembok, Zain yang baru bisa mengontrol diri langsung berdiri dan menjauhkan dirinya.


Zain tampak mengacak kepala yang hampir plontos, pikiran sudah tentu kacau. Menenangkan diri sejenak dan akhirnya kembali dan mendekati Meli, "Maaf, ini tak akan terulang lagi." Melihatnya Meli semakin menjaga jarak bahkan sekarang ia terlihat menekuk lutut dengan mimik wajah ketakutan, sepertinya Meli agak trauma, entah apa yang ia alami sebelumnya.


Tak tahan lagi, Zain langsung memeluk gadis yang kini telah berstatus istrinya itu. "Tenang lah aku tak akan menyakitimu, mulai hari ini aku akan menjagamu dengan baik." Zain tampak curiga dengan keadaan Meli bisa jadi ia dulu dipaksa melakukan hal itu oleh kekasihnya, timbul dalam benak Zain untuk menyelidiki siapa kekasih Meli dulu dan kenapa Meli tampak ketakutan seperti orang dalam keadaan trauma.

__ADS_1


*****


__ADS_2