
Omongan tetangga semakin hari semakin kencang terdengar di telinga, bukan lagi bisikan melainkan meningkat menjadi sindiran. Meli tak lagi sering keluar asrama seperti dulu, ia lebih sering berdiam diri di rumah dan ketika ada keperluan berkaitan dengan belanja, ia meminta suaminya membelikannya, Zain yang sangat paham dengan kondisi rumah tangga mereka dan ia juga merasa sangat resah, hingga kabar baik mereka dapatkan setelah enam bulan bertugas di perbatasan Kalimantan Barat, akhirnya Zain diberikan kesempatan untuk kembali bertugas di ibu kota Kalimantan Barat yakni kota Pontianak, Meli sangat bahagia mendengarnya, satu masalah terselesaikan, namun masalah lain siap menanti Meli.
"Lihatlah....!"
"Kertas apa ini...?" Meli mengambil kertas itu dan mulai membacanya dengan teliti, aura kebahagiaan nampak di wajah Meli setelah membaca penuh tulisan yang tertuang di dalamnya.
"Mas, terimakasih," ucapnya sambil tersenyum bahagia.
"Mulai besok kita harus berbenah untuk pindah, tapi ingat selama aku tidak ada jangan angkat yang berat, kamu cukup rapikan barang yang ringan saja dan kemas dengan rapi. Ingat jangan angkat yang berat." Mengetahui sifat Meli yang selalu berusaha sendiri Zain dengan tegas memperingatkan istrinya.
"Iya, lagian siapa juga yang mau angkat yang berat, jongkok aja susah," cetus Meli.
"Zain mendekat dan mengelus perut buncit istrinya, kelak setelah kamu lahir dan tumbuh besar kamu harus bantu ibu dan jaga dia untuk ku, " bisiknya sambil mencium tepat ditengah perut buncit Meli.
Tiga bulan lagi, setelah itu kita akan berpisah, sungguh hal seperti ini akan sangat aku rindukan dari mu, mas. Meli hampir meneteskan bulir air mata namun segera ia menyekanya agar tak terlihat oleh suaminya.
"Kenapa....?, kamu pikir aku tak tau kamu masih berfikir untuk bercerai, huft....mungkin kebaikan ku tak ada artinya untukmu, dan perasaan ini mungkin selamanya tak ada akan terbalas." Zain menatapnya dengan tatapan penuh selidik, meminta kepastian tentang arti dirinya dalam hati Meli.
Meli terdiam, hanya air mata yang kini mengalir mewakili setiap rasa dan perkataan yang ingin terucap dari bibirnya.
Zain pun hanya bisa menghela napas panjang, ia tak habis pikir ada apa dengan hati Meli sangat sulit ia taklukan, tak kuasa melihat air mata Meli, Zain mengalah dan memeluknya dengan lembut." Asal kamu tau apapun yang terjadi kelak aku takkan pernah mengucapkan kata itu untukmu, jika ingin berpisah tunggu lah aku menghembuskan napas terakhir dihadapan mu." Ucapan yang mengiyakan kehendak Meli, namun meruntuhkan benteng pertahanan Meli.
Mendengarkan ucapan itu, hatinya semakin sakit.
Zain semakin gencarnya menyelidiki siapa kekasih Meli dan hal ini secara tidak sengaja terdengar oleh Meli saat Zain sedang menerima telpon dari orang suruhannya dan mengira Meli sedang berada di luar rumah membeli persiapan bulanan keluarga kecil mereka.
__ADS_1
Zain berjalan keluar dan berlalu meninggalkan Meli di rumah seorang diri, ada rasa sesak dalam dada yang ia rasakan sudah beberapa bulan berjalan hidup bersama, namun sikap Meli masih menunjukkan kegigihan untuk berpisah dan memegang teguh ucapannya dulu, Zain cukup kecewa setelah ia memperlihatkan sikap dan ketulusannya menerimanya dengan tulus dan tak mempermasalahkan anak dalam kandungannya, akan tetapi Meli masih menampakkan benteng pembatas yang menjulang tinggi dalam hubungan mereka.
"Siapa sebenarnya pria yang begitu tega melakukan hal ini padamu, dan merenggut kebahagiaan dalam diri mu, serta membuat ku sangat sulit menembus hatimu, meski perjuangan susah payah dengan ketulusan penuh telah aku berikan padamu."
Pikiran Zain terus tertuju pada keadaan rumah tangganya yang semakin sulit ia pahami, dari luar tampak terlihat baik saja, namun sesungguhnya pernikahan itu sedang menunggu waktu hingga i menjadi retak tak berbentuk.
perjalanan menuju kantor Zain sempat menghentikan sejenak kendaraannya dan menerima sebuah panggilan misteri, rupanya Zain hampir berhasil menyelidiki tentang jati diri dari kekasih istrinya dulu yang merupakan ayah biologis dari anak yang sedang Meli kandung sekarang.
"Jadi mereka adalah teman sekampus dulu, dan pria itu pergi meninggalkan Meli setelah ia lulus. Dasar pria bajingan setelah menghancurkan kehidupan seseorang, asal main pergi saja dan tak bertanggung jawab sama sekali."
Mengetahui informasi sedikit demi sedikit tentang Meli dan kekasihnya, Zain semakin tak terkendali, ia melajukan kendaraan miliknya menuju pusat pelatihan militer di perbatasan, entah apa yang ada dipikiran Zain, hari itu ia memutuskan tak jadi ke kantor, dan ia malah pergi ke tempat latihan, sesampai di tempat yang ia tuju, Zain langsung berjalan ke arah tempat ganti kostum dan berganti pakaian.
Zain berjalan menuju pusat latihan dan mulai peregangan sebelum berlatih, sementara di kantor salah seorang teman sedang menunggu dirinya untuk membereskan berkas miliknya setelah persetujuan pengajuan pindah tempat tugas di tanda-tangani dan di setujui. Namun hari ini pikiran Zain sedang kalut ia malah lebih memilih melampiaskan pikiran kalut itu dengan latihan.
Sampai di kantor Zain langsung disambut dengan amarah rekan kerjanya, "Kau ini, serius mau pindah atau tidak?, bikin repot saja, tuh bawa kelengkapan berkas kamu ke atasan dari tadi dia sudah menunggu mu, dasar!"
Zain hanya tersenyum dengan rasa bersalah yang tinggi dengan rekannya itu, "eits...jangan marah kawan, tunggu traktiran perpisahan kita," ucap Zain menenangkan rekannya.
"Aku tunggu yah, awas batal lagi....!"
"Akhirnya satu masalah dapat ditangani dengan baik, mungkin tempat ini akan menjadi salah satu tempat bersejarah untuk ku." Mengingat masa lalunya, Zain tiba-tiba teringat dengan seorang gadis yang pernah mengisi kekosongan hatinya sebelum bertemu dengan Meli, "apa aku harus menemuinya dan mengucapkan salam perpisahan..?!, tapi jika ia melihatku mungkin ia akan merasa sakit atau mungkin akan marah pada ku, ah....entahlah, tapi aku akan mencobanya dulu."
Setelah mendapat SK pemindahan tempat tugas Zain memutuskan untuk menemui seseorang yang pernah dekat dengannya, sekitar setengah jam perjalanan menuju kediaman sang gadis dan akhirnya Zain pun tiba di kediaman yang sebelumnya sering ia kunjungi. Namun kali ini Zain sedikit dikejutkan dengan adanya tenda biru tepat didepan rumah sang gadis dan dilengkapi dengan hiasan janur denga beberapa karangan bunga yang indah.
"Hay....kakak, aku kira kamu gak datang di pernikahan Rena."
__ADS_1
"What....!, jadi ini acara pernikahannya?"
"Ups...maaf kak, aku kira kamu udah tau."
"Masuk yuk, ucapin selamat buat Rena."
Dengan berat hati Zain melangkah memasuki ruangan yang terlihat masih ramai, dan benar saja dari kejauhan Zain disambut dengan pemandangan sosok wanita cantik jelita dengan gaun pengantin membalut tubuhnya dan menjadikan dirinya semakin cantik, Zain pikir dengan melihatnya duduk dipelaminan itu akan membuatnya sedikit tak nyaman, namun nyatanya perasaannya justru baik-baik saja, Zain pun tersenyum dan melihat kearahnya dan berjalan dengan santai lengkap dengan pakaian dinasnya menuju pelaminan dimana Rena duduk dengan anggun bersama seseorang yang kini telah menggantikan posisi Zain sebelumnya.
"Rena, selamat yah...!, semoga pernikahan kamu langgeng dan bahagia selamanya, maaf aku baru menemui mu sekarang, aku turut bahagia melihatmu dipelaminan sekarang."
Rena hanya menatap Zain dengan tatapan nanar dan terlihat jelas masih ada rasa yang tersisa untuk Zain dalam hatinya, namun kisah mereka sekarang telah menjadi masa lalu dengan balutan kenangan indah sepanjang waktu.
Tanpa menjawab sepatah kata apapun Rena hanya tertunduk diam setelah menjabat tangan sang mantan, Zain pun melanjutkan mengucapkan selamat untuk seseorang yang kini telah sah menjadi imam bagi wanita yang pernah hadir dalam hatinya dulu dan menghiasi hari-harinya beberapa bulan lalu sebelum Meli hadir dalam kehidupannya sekarang.
"Selamat....dia adalah gadis yang baik anda sangat beruntung punya istri sebaik dirinya, dan jaga dia dengan baik."
Mendengar ucapan itu, wajah suami Rena langsung berubah menjadi tegang, akhirnya ia tau jika laki-laki yang tengah menjabat tangan nya dengan ucapan selamat adalah orang yang selama ini menjadi rivalnya dan membuatnya berjuang untuk mendapatkan seorang gadis yang kini telah sah menjadi istrinya.
"Terimakasih atas ucapan dan do'anya, aku dengar juga bahwa bapak telah menikah dan sebentar lagi akan punya momongan, selamat untukmu juga dan semoga selalu bahagia dalam rumah tangga kalian."
Zain menyambut ucapan itu dengan senyum indah dan berjalan meninggalkan pelaminan dan terus berjalan meninggalkan Rena dan tak berbalik lagi untuk melihat gadis itu untuk terakhir kalinya.
"Rupanya ia benar-benar menemukan gadis yang lebih baik dari ku, Kak Zain semoga kakak bahagia bersama Kak Meli," Guman Rena yang terlihat masih memberikan tatapan pada Zain hingga ia menghilang dibalik janur indah yang menghiasi gerbang masuk dalam ruangan bernuansa putih gading.
"Selamat tinggal kenangan terindah, akhirnya aku bisa mengakui jika hati ini adalah milik Meli sepenuhnya, akan kah aku menaklukkan harinya yang kokoh. Meli semoga suatu saat kau bisa mencintai ku dengan tulus dan ada kenangan masa lalu lagi," guman Zain dengan melajukan kendaraan miliknya dan pulang untuk berbenah dan bersiap untuk ke tempat tugas yang baru bersama sang istri.
__ADS_1