
Dua hari kemudian.....
Dokter melakukan visite di pagi hari...." bagaimana keadaan ibu meli hari ini?" tanya dokter yang merawat Meli.
"Alhamdulillah, udah membaik dok. Meski luka masih nyeri, tapi sudah bisa bangun dari tempat tidur," jawab Meli dengan senang.
"Ya, jika kamu merasa sehat maka hari ini sudah boleh pulang ke rumah dan selanjutnya rawat jalan, ibu akan kami berikan jadwal untuk kontrol ulang," jelas sang dokter pada Meli.
"Terimakasih dokter, aku senang mendengarnya, akhirnya saya bisa kembali ke rumah. Tapi bagaimana dengan bayi saya, dok?" tanya Meli mengingat bayinya masih di rawat di inkubator.
"Dia masih memerlukan perawatan sepekan penuh, untuk kebaikan berat badan menjadi normal dan memastikan semua organ pada tubuhnya berkembang dengan normal," jelas dokter pada Meli.
"Baiklah, dok. Aku titip bayi ku, semoga ia cepat pulih dan saya bisa membawanya pulang bersama."
Meli terdiam dengan raut wajah sedih, ia harus berpisah dengan bayinya.
Sementara sang dokter kembali melakukan pemeriksaan pada pasien yang lain.
Zain pun akhirnya datang, maklum ia harus melapor terlebih dahulu di kantor dan meminta izin untuk cuti hari ini karen akan mengurus semua administrasi yang dibutuhkan untuk istrinya untuk keluar dari rumah sakit tersebut.
Setelah mendapat izin barulah Zain menuju rumah sakit. " Meli....!" panggil Zain setibanya di ruangan perawatan istrinya dan ketika ia masuk dalam ruangan tak menemukan keberadaan istrinya.
"Ya, aku sedang di kamar mandi," sahut Meli dari dalam kamar mandi.
"Butuh bantuan, gak?" tanya Zain.
"Ya, aku kesulitan memakai baju, tapi sebentar aku masih mandi sekarang."
Tanpa menunggu Zain membuka kamar mandi, karena khawatir jika istrinya memaksakan diri membersihkan dirinya seorang diri.
"Aaaaaa..., kenapa masuk, aku belum selesai mandi," teriak Meli pada suaminya.
"Huft, kayak liat hantu saja."
"Mas, keluar dulu, aku malu...!" pinta Meli dengan menutup sebagian tubuhnya dengan tangannya.
"Udah, biar aku bantuin," ucap Zain tak peduli dengan penolakan Meli, ia tetap membantu istrinya meski Meli berulang kali menyuruhnya keluar dari kamar mandi.
Meli kini pasrah, karena masih lemah akhirnya ia pun mengalah dan membiarkan Zain membantu dirinya membersihkan diri.
Setelah selesai Zain membopong tubuh istrinya dan membaringkannya kembali di tempat tidur.
__ADS_1
"Mau makan?" tanya Zain.
"Mas, udah makan?" jawab Meli malah balik bertanya pada suaminya.
"Belum, aku suapi kamu dulu setelah nya baru aku makan."
"Bagaimana kalau makan bersama, Aku bisa makan sendiri, mas!" ajak Meli.
Zain pun menganggukkan kepala mengiyakan permintaan istrinya dan mereka makan bersama dengan lahap, sungguh pemandangan keluarga yang bahagia.
Zain sudah bisa menerima keadaan Meli termasuk sang bayi mungil yang sebentar lagi akan meramaikan kehidupan rumah tangga mereka.
"Ubay...masih dirawat di rumah sakit selama sepekan lagi, mas!" ucap Meli menginformasikan keadaan bayi mereka.
"Ya, biar aku yang menjenguknya tiap hari, kamu istirahat di rumah saja."
"Tapi, mas...aku juga pingin ketemu, aku yakin dalam dua hari aku pasti sudah sehat," ucap Meli tak ingin berpisah lama dengan bayinya.
"Ya, udah. Aku akan pinjam mobil dinas pada pimpinan selama satu Minggu kedepan, karena kamu pasti belum bisa naik motor."
"Apa bisa begitu, mas?" tanya Meli tak yakin.
"Hari ini juga aku sudah bisa pulang, kata dokter...!" ucap Meli.
"Ya, aku sudah tau, setelah selesai makan baru kita siap-siap dan pulang kerumah...!" balas Zain.
"Tapi mas, aku boleh ketemu sama Ubay ngak sebelum kita pulang...?" pinta Meli dengan memelas karena pasti akan berat baginya meninggalkan Ubay kecil seorang diri di rumah sakit, meski ada dokter dan perawat yang selalu siap siaga.
"Ya, aku akan mengantarkan kamu, Tapi aku mau urus administrasi kepulangan kamu dulu."
"Baik, mas..!" jawab Meli dengan hati senang.
"Makan yang banyak, biar cepat sehat."
Setelah selesai makan Zain keluar dari ruangan perawatan Meli dan mengurus administrasi rumah sakit.
"Pagi, aku Zain....bagaimana dengan administrasi perawatan istri?," tanya Zain pada petugas administrasi rumah sakit.
"Ya, ini adalah berkas yang harus bapak tanda tangani dan istri anda sudah bisa pulang hari ini."
"Baik, terimakasih."
__ADS_1
Seusai menandatangani berkas kepulanga Meli, Zain pun menepati janjinya menganntar Meli ke ruangan perawatan Ubay kecil mereka.
Sampai diruang tersebut, Meli dengan sisi keibuannya tampak meneteskan air mata, ia tak tega meninggalkan malaikat kecilnya itu.
"Mas...Apa kau yakin akan membiarkan dia di sini dan kita balik kerumah...?" ucap Meli tak Setega itu pada bayinya.
"Kamu yang tenang, liat di ruangan ini ada suster jaga dan juga dokter, mereka stay 24 jam, sayang...!" ucap Zain menenangkan hati istrinya.
"Tapi, jika ia menangis. Bagaimana?"
"Sayang....mereka itu lebih pandai merawatnya dari pada kita, aku yakin Ubay akan aman bersama mereka," ucap Zain terus berusaha meyakinkan Meli.
"Kita pulang, Ya..!" bujuk Zain lagi.
"Baiklah...!"
Akhirnya dengan berat hati, Meli meninggalkan Ubay dan kembali pulang ke rumah dinas suaminya dengan jarak sekitar dua kilo meter dari rumah sakit tempat ia melahirkan.
Tiba dirumah, Meli semakin merasa sedih. Ia pun langsung menuju kamar dan menumpahkan kesedihan yang ia tak kuasa bendung karena terpisah untuk sementara waktu dengan bayinya.
Zain hanya mampu menghela napas panjang, ia pun lebih memilih membereskan rumah, karena sudah beberapa hari tak terurus semenjak Meli dirawat di rumah sakit.
Zain sesekali melihat sang istri, memastikan jika ia masih dalam kondisi baik-baik saja, mesti Isak tangisnya belum juga kelar.
"Mau sampai kapan menangis?, kamu gak cape apa?," tanya Zain yang sudah pusing melihat tingkah istrinya.
"Mas, gak tau rasanya, makanya bilang seperti itu."
"Yang mengurusnya, setiap hari itu aku, gimana bisa ngomong seperti itu. Aku juga merindukannya, hanya saja kita belum boleh membawanya pulang hingga kondisinya lebih baik," jelas Zain pada Meli dan berharap, ia bisa mengerti dan tak menangis lagi.
"Udah, kamu istirahat dulu. Aku akan siapin makan malam, setelah selesai aku akan bangunkan kamu dan kita makan bersama."
Zain pun kembali ke dapur dan mulai memasak masakan yang dibuat khusus untuk pasien yang baru selesai melakukan operasi seperti Meli, hal itu ia pelajari selama Meli dirawat di rumah sakit.
Tak terlalu lama, Zain pun sudah melakukan tugasnya dan saatnya ia membangunkan istrinya.
Namun, karena Meli terlelap dengan tidurnya, Zain menjadi tak tega membangunkan dirinya, iapun memberikan waktu lebih pada Meli untuk beristirahat.
Hampir sejam lamanya, Meli pun bangun. Ia bingung melihat Zain malah tidur terlelap disampingnya. "Katanya mau dibangunin kalau sudah selesai masak, eh ini malah ikutan tidur, pasti ia kelelahan," guman Meli yang kini giliran dirinya menunggu suaminya bangun.
...----------------...
__ADS_1