JELITA DIBALUT LUKA

JELITA DIBALUT LUKA
14. Perawatan Lanjut


__ADS_3

"Maaf, sebelumnya pak. Tadi bapak berdiri di ruang ICU dan mengamati bayi prematur yang baru lahir itu, apa bapak mengira itu adalah bayi bapak?" tanya dokter pada Zain langsung to the point.


"Ya, memang itu bukan anak saya?"


Dokter tersenyum bahkan hampir tertawa mendengar jawaban polos dari Zain.


"Bukan, itu adalah anak dari salah satu pasien dengan kondisi yang sama dengan istri bapak. Kami memutuskan untuk menunda operasi pada Ibu Meli mengingat tingginya resiko yang akan di hadapi dengan kelahiran prematur, contohnya pada bayi baru lahir yang barusan kami tangani, dia mengalami lemah jantung dan mungkin itu akan sulit untuk disembuhkan kedepannya."


"Terus bagaimana dengan istri saya dok?"


"Dia masih diruang operasi dan sebentar lagi kami akan antar kembali ke ruang perawatan, kami para tim dokter memutuskan untuk melakukan observasi selama sepekan lamanya, dan kami disini meminta persetujuan dari bapak."


"Lakukan apapun itu, dan selamatkan istri dan anak saya," ucap Zain tanpa ragu, apalagi setelah menyaksikan bayi yang baru lahir dengan berbagai macam alah menempel pada tubuhnya, sangat miris untuk disaksikan.


Setelah penjelasan dapat dipahami dan mendapatkan persetujuan, obrolan mereka pun berakhir, Zain keluar dari ruang dokter dan melangkahkan kaki kembali ke ruang tunggu operasi, benar kata sang dokter, setelah menunggu tak berapa menit, terlihat perawat yang membawa Meli keluar dari ruang tersebut, Meli langsung melihat Zain dengan tatapan bingung dengan semuanya.


Zain menghampirinya "Nanti aku jelasin di ruangan perawatan," Zain cukup paham rupanya mereka belum menjelaskan hal itu pada Meli, dan mereka lebih memilih memberitahunya untuk meminta persetujuan.


sesampai di ruangan perawatan, dan Meli kini merebahkan diri kembali di kasur, namun masih dengan tatapan meminta penjelasan pada Zain.


"Mereka memutuskan untuk menunda operasi kamu, karena mereka masih ingin melanjutkan pematangan organ pada tubuhnya."


"Apa dia tak bisa dilahirkan normal, atau apa ia cacat? tolong jangan sembunyikan itu dari ku."


"Justru Karana ingin ia lahir sempurna maka mereka memutuskan menunda operasi selama keadaan kamu dan bayi kita masih menunjukkan keadaan yang baik."


"Zain....!" jawab Meli dengan air mata menggenang di pelupuk.


"Istirahat, percaya sama aku, dia akan baik-baik saja, ia kuat sama seperti ayahnya."


Meli langsung deg degan mendengar kalimat yang barusan terucap dari Zain.


"Kamu yakin mampu menerimanya, jangan memaksakan diri, aku tau itu akan menyakitkan bagi mu, dia akan selamanya menjadi tembok untuk kita, Zain. Pikirkan itu...!"


Zain terdiam dengan tanggapan Meli, sesaat terpikir olehnya akan kehadiran buah cinta lain dalam pernikahan mereka, dan Zain akui sulit memang membangun rumah tangga dengan semua itu.


"Kita sudah sampai tahap ini, kenapa kau terus meminta ku untuk mundur, seharusnya aku yang bertanya padamu, apa kau yakin tak punya rasa cinta sedikit pun untuk ku?....apa jika aku bersama wanita lain kau tak akan cemburu sedikitpun padanya?"

__ADS_1


"A_ku" Meli agak kesulitan untuk menjawab pertanyaan tersebut, pertanyaan yang barusan Zain lontarkan padanya seakan membekukan lidahnya untuk langsung menjawabnya.


Zain pun tersenyum balik padanya, "ada apa dengan lidah mu? biasanya kamu paling jago membalas ku." lanjut Zain.


"Menyesal itu lebih menyakitkan, sayangnya kamu sampai saat ini belum mengenal hati mu sendiri."


Meli hanya menatap Zain yang sedang menceramahinya.


"Semakin hari kamu semakin pandai bersilat lidah dan merayu ku, aku takut Ubay akan belajar hal yang salah dari mu kelak."


"Itu artinya tak akan ada lagi kata pisah diantara kita," ucap Zain tak mau melepaskan kesempatan itu untuk mengorek isi hati istrinya.


"Wanita manapun pasti akan runtuh pertahanan hatinya menghadapi mu, akan tetapi kenyataannya terlalu pahit untuk memulai kembali, lukanya bukan luka yang sembuh dan bekasnya dapat dihilangkan."


"Sayang, aku tak perlu kau untuk ungkapkan dan akui itu dalam hati mu, aku hanya ingin melihat mu bahagia itu lebih dari cukup untuk ku, jika kembali padanya itu hal yang membuatmu bahagia aku akan ikhlas dan siap berpisah."


"Aku lebih memilih menjadi istri dari Zain Usama dan melahirkan keturunan mu sebanyaknya hingga perut ku menjadi melar dari pada kembali pada pria brengsek itu."


"Hahaha.....apa tidak takut cintaku berkurang dengan perut melar mu itu nanti, jangan sembarang berucap itu akan menjadi sebuah do'a."


"Aamiin..."ucap Meli di sela tawa suaminya.


"Itu artinya aku sudah mampu melewati semuanya, dan berani membuka hati untuk mu."


"Aku janji tak akan pernah menyentuhmu, sebelum kau yakin akan cintamu padaku."


"Meski itu puluhan tahun lamanya?"


"Aku sudah punya Ubay, untuk apa lagi"


"Aku akan berusaha untuk terus membuka hati untukmu, tapi sekarang belum saatnya, aku harus memastikan anak ku aman bersama kita, karena mereka pasti akan melakukan segala cara untuk merebutnya nanti," guman Meli


"Rahasia apa yang sebenarnya ia sembunyikan dari ku?, semakin dekat kelahiran Ubay ia semakin khawatir," guman Zain melihat mimik wajah dari istrinya.


"Kamu makan, yah...! biar aku suapin."


Meli hanya mengangguk dan tanpa sadar terus menatap suaminya, Zain bukannya tak menyadari hal itu, tapi ia sangat senang mendapatkan perhatian itu meski hanya sebuah tatapan yang entah maksud apa yang tersirat di dalamnya.

__ADS_1


Meli berusaha mengunyah dan menelan setiap suapan yang di berikan padanya.


"Hmm...masih ada," ucapnya pada Zain yang terlalu semangat menyuapi dirinya.


"Makan yang banyak, biar tambah bulat dan Ubay tak kelaparan."


"Enak aja, klo aku bulat memang kamu masih suka...?"


"Suka donk, biar ada mainan pulang dari dinas, main bola gelinding, maksudnya...hahaha..."


Meli nampak emosi karena berat badannya bertambah drastis selama hamil.


"Melihatmu seperti ini, aku tak sabar ingin bersamamu setiap malam, semoga impian itu akan segera tercapai, aku sudah tak sanggup menahannya lebih lama lagi." Kebutuhan biologis yang tak tersalurkan akan segera menuntut Zain setelah Meli melewati persalinan dan sembuh.


"Pasti ia berpikir mesum lagi, mengelus perut dengan aneh seperti itu." cetusnya, karena sudah lama bersama Zain, ia kini sudah menghapal mati setiap sikap suaminya.


"Mas..." ucap Meli menghentikan tindakan Zain barusan.


"Aku suka panggilan itu barusan dan harus aku akui Istriku memang sangat menggoda meski bulat, masih bisa membuatku bernafsu."


"Astagfirullah, ucapan Mas semakin tak ada filternya."


"Hahaha...kalau iya kenapa?"


"Mas....ingat kata dokter, setelah operasi harus menunda kehamilan selama tiga tahun, jadi kalau keputusan Mas untuk bertahan harus lanjut puasa selama tiga tahun lagi."


"Aku janji akan membuatmu seperti kata dokter juga saat memberikan pasien obat," balas Zain gak mau kalah.


"Apa..?"


"Minum obat 3 kali sehari."


?


?


?

__ADS_1


"Dasar, Mesum"


...----------------...


__ADS_2