
Selamat membaca.
Tiga hari kemudian, saatnya Zain dan Meli berangkat ke tempat tugas Zain di daerah Kalimantan tepatnya di kabupaten Sanggau Kalimantan Barat. Dalam perjalanan karena sedang hamil muda semenjak perjalanan ke bandara Meli kerap merasakan mual, bahkan ketika pertama kali sampai di bandara Meli langsung berlari ke arah toilet karena sudah tak tahan dengan isi perut yang sejak di dalam kendaraan mulai merasakan mual. Zain hanya bisa menunggu di depan pintu masuk bandara, selang beberapa menit Meli pun kembali setelah mengeluarkan semua isi perutnya. Meli terlihat pucat, namun ketika Zain pertanyakan keadaan dirinya ia kerap kali tak menghiraukan dan sesekali hanya mampu tersenyum menahan rasa mual yang kian parah.
Zain sangat kahwatir dengan Meli, namun dirinya tampak cuek dengan kondisi tubuhnya. "Sudah, hanya mabuk perjalanan saja, aku tak apa-apa kok." Meski Meli telah mengatakan hal itu untuk kesekian kalinya, Zain tetap khawatir padanya.
"Yakin, kita akan naik pesawat lho dan sekarang sudah giliran kita."
Meli langsung berdiri dan berpura-pura kuatkan diri, dan berjalan duluan menyusuri tangga pesawat. Zain berjalan di belakang Meli dan sesekali melindungi tubuh istrinya dari desakan penumpang.
Meli mulai mencari letak kursi mereka yang tertera dalam tiket pesawat. "Kursinya dapat," Meli sangat lega akhirnya dia bisa beristirahat.
Melihat sang istri yang semakin pucat, Zain menghampiri sang pramugari tanpa sepengatahuan Meli, Zain menanyakan jika kursi kelas bisnis masih ada yang kosong, kebetulan hari itu tepat hari dimana penumpang tak seperti biasanya, tak sepadat seperti hari sebelumnya, sehingga masih terdapat beberapa kursi yang masih kosong, Zain memutuskan untuk mengambil kelas bisnis, kemudian Ia kembali dan mengambil barang tentengan milik Meli dan mengajak meli untuk pindah kelas. Meli tampak bingung.
"Kenapa?"
"Ikut saja."
Meli berjalan di belakang sang suami dan tak lama mereka sudah berada di ruangan berbeda, tampak ruangan yang lebih luas dan lebih nyaman untuknya. Meli ingin bertanya kembali, namun melihat sikap Zain yang tampak dingin padanya Meli terpaksa mengurungkan niatnya. Ia hanya mengikuti arahan dari Zain dan tak banyak berkomentar.
Rasa mual kembali dirasakan saat pesawat mulai lepas landas, "Untung bawa fresh care." Meli mulai menghirupnya demi menghilangkan rasa mual yang kerap mendera dirinya selama perjalanan.
sebenarnya Meli cukup kuat, dan tak pernah mabuk kendaraan sebelumnya, namun karena hamil muda jadi kondisinya tentu agak berbeda. Untungnya Zain tak curiga apapun melihat keadaan Meli, ia hanya mengira jika Meli tak kuat naik kendaraan.
Sekitar beberapa menit berlalu akhirnya mereka mendarat di bandara internasional Supadio Kalimantan Barat. Untuk mempersingkat waktu perjalanan karena kondisi Meli yang kian pucat, Zain menghubungi temannya dan memintanya untuk menjemput mereka dengan helikopter militer di bandara sekarang, tak butuh waktu lama akhirnya temannya pun tiba di tempat, "Antarkan kami segera ke champ perbatasan, dan minta mereka memanggil dokter, istri ku sedang tak enak badan dan dia tampak lemah selama perjalanan, tampaknya ia butuh perawatan setelah kami sampai.
"Baik Letnan. Perintah siap di laksanakan."
__ADS_1
Zain memang tergabung dalam persatuan angkatan militer udara. dan sudah bertugas selama hampir 12 tahun sekarang, dan karena prestasi gemilang ia mendapatkan promosi untuk memimpin pasukan di wilayah perbatasan Kalimantan - Malaysia.
Baru duduk di kursi helikopter, Meli sudah hampir kehilangan kesadaran dan membuat Zain panik. Hanya butuh beberapa menit mereka sudah mendarat di perbatasan, Zain segera membopong tubuh sang istri memasuki kediaman miliknya, dan segera memberikan arahan agar mereka memanggil dokter yang bertugas.
"Ada apa dengannya?, kenapa ia tampak lemah selama perjalanan?. Apa pernikahan kami ini cukup memberi tekanan pada dirinya hingga ia sampai drop seperti ini," terlintas satu pertanyaan dalam pikiran Zain melihat kondisi Meli, tanpa rasa curiga sedikitpun jika Meli tengah hamil.
Dokter yang ditunggu kehadirannya, akhirnya tiba di kediaman milik Zain. Dengan segera Zain mengajak sang dokter menemui Meli dan melakukan pemeriksaan. Melihat tanda dan gejala dalam dirinya dokter mulai menarik diagnosa sementara jika kemungkinan Meli sedang hamil muda.
Deg
Bagai disambar petir, Zain terkejut bukan main, meski hanya sebuah dugaan tapi pernyataan sang dokter tentu seketika mengguncang dirinya.
"Sebaiknya, Letnan segera membawa nyonya ke rumah sakit atau klinik terdekat dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut, untuk sementara saya hanya bisa memberikan vitamin untuknya." Setelah melakukan pemeriksaan pada Meli dokter langsung pamit dan segera meninggalkan mereka berdua.
Zain yang masih tak menyangka atas pernyataan dokter yang telah melakukan pemeriksaan pada istrinya, dalam sekejap menjadi tak sabar menunggu Meli tersadar. "Cepatlah sadar dan jelaskan semua pada ku," ucap Zain dengan menggenggam kepalan tangannya, terlihat sedang menahan emosi dengan kondisi Meli.
"Sudah sadar, berarti sudah saatnya kau menjelaskan semuanya padaku sekarang, aku berhak tau rahasia apa yang sedang kau sembunyikan dari ku."
Deg .... meski sudah menduganya, bahkan jauh sebelumnya hal ini akan terjadi, namun Meli tetap bergetar dan tak sanggup dengan semuanya, akan tetapi mau tak mau ia harus kuat dan menjelaskan dengan jujur kondisi dirinya sekarang.
"Ya, pasti dokter sudah memberikan sedikit penjelasan tentang kondisi ku sekarang, jujur aku memang bukan gadis suci dan aku sekarang sedang hamil anak mantan kekasih ku, dan kehamilan ku sekarang sudah menjelang 2 bulan, dan itulah penyebabnya kondisi ku seperti ini sekarang." Meli sangat lega setelah memberitahukan kepada Zain rahasia drinya sekarang.
Tentu berbeda dengan Meli, Zain justru merasa sedang ditipu dan dipermainkan oleh Meli dan keluarganya sekarang.
"Enteng sekali, sudah tau dirimu tak pantas, kenapa kau malah menyetujui pernikahan ini, Hah?"
"Tenang dulu, jangan marah seperti itu."
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa tenang, jika aku menikahi gadis yang sedang hamil anak dari pria lain, kau pikirkan itu dengan baik...!"
"Hah...Ya...! Kau benar dan sekali lagi maaf...!. Jika kau tak Sudi, saat ini, detik ini, aku akan pergi dan kita bisa mengurus perceraian, dan kamu juga tak perlu merasa bersalah atas semuanya. Karena ini murni adalah kesalahan ku, dan maaf jika aku tak memberi tahu sebelumnya."
"Setelah menipu ku, dengan mudahnya kau berkata seperti itu, apa kau pikir omongan orang-orang diluar sana tak akan menyudutkan diriku sebagai suami yang tak bertanggung jawab."
"Kalau begitu bertahanlah, sampai anak ini lahir, dan aku janji selama aku disini, aku tak akan membebani hidupmu."
"Apa kau nilai aku terlalu miskin hingga tak mampu memberikanmu sesuap nasi setiap hari?"
"Tolong, jangan salah paham dulu. Aku hanya tak ingin merepotkan diri mu, dan sudah seharusnya kau tak bertanggung jawab atas diri ku. Sekali lagi maaf dan tolong jangan bawa orang tuaku dalam masalah ini, mereka tak ada hubungannya dan mereka juga sama sekali tak tau semuanya."
"Lalu siapa ayah biologis dari anak mu ini?"
"Tolong jangan ikut campur terlalu jauh masalah ku, aku sangat menghargai mu, tapi tolong untuk hal ini biarlah menjadi urusan ku sendiri. Dan aku sanggup untuk menjalani hidup sebagai single parents."
"Terserah, lakukan apa yang menurutmu baik untuk mu, hubungan kita cukup sampai disini.....!"
Ucapan terakhir Zain mengakhiri perdebatan kami, namun sungguh hati ini ternyata semakin hancur mendengar kalimat itu terlontar dari mulutnya, kini tak ada lagi tempat bernaung untuk ku, dan saatnya aku berjalan seorang diri tanpa siapapun , aku hanya bisa pasrah dengan keadaan sekarang, mungkin ini adalah balasan yang setimpal atas dosa dari kesalahan yang aku perbuat dulu.
"Kuat Meli, kau harus kuat," guman Meli sambil mengelus dada dan menahan bulir air mata yang sudah sejak tadi tergenang di pelupuk mata indahnya.
~Bersambung~
Jangan lupa dukungannya.๐
โค๏ธ U All.
__ADS_1