
Selamat Membaca
Hari pernikahan tiba....
Dug...dug...dug....dug....dug.....
Sepanjang perjalanan menuju mesjid agung yang berada tepat di pusat kota Jogjakarta, sebagai tempat akad pernikahan dilangsungkan...jantung Meli terus memompa dengan ekstra, berdegup kencang sepanjang perjalanan, apalagi mengetahui sang mempelai pria adalah seorang perwira tinggi TNI yang sangat tersohor dengan prestasinya selama menjalankan tugas.
Tamat sudah riwayat Meli sekarang, bisa jadi calon suaminya itu lebih mendominasi dari pada Ayahnya sendiri. "Ah, sudahlah. Takdir sudah didepan mata, jika Tuhan berkehendak maka pasti akan terjadi, bukankah setiap ujian itu tak mungkin Tuhan berikan jika kita tak mampu menjalaninya, yang artinya aku pasti bisa melaluinya," begitu pemikirannya Meli saat ini, Ia berusaha untuk lebih kuat dan tak lemah apalagi ditengah kondisinya yang telah hamil muda.
Tiba di depan Mesjid Agung, ada getar yang sangat kuat pada diri Meli, Ia menengadah ke atas, seakan sedang bertanya kepada sang Khalik, apa pantas dirinya menikah di tempat yang agung ini?, apa sah pernikahan yang ia jalani ke depan?, dan kenapa mesti ditempat ini sedang dirinya sama sekali tak pantas untuk ini semua?. Air mata hampir jatuh, saat dirinya melangkahkan kaki masuk ke dalam sebuah tempat suci yang tak seperti dirinya yang hina dina, Namun Tuhan masih sangat sayang padanya menyembunyikan aibnya pada semua orang, dan mungkin Tuhan akan memberikan waktu yang tepat untuk semuanya.
Meli melangkah ditemani Ibunya dan duduk dengan manis di altar pernikahan, dimana sang calon mempelai telah mengambil posisi dan terus memandang kearah dirinya, entah ia sedang terpesona oleh kecantikan dirinya atau mungkin sedikit kecewa dengan penampilan dirinya, karena pandangan yang ia berikan pada Meli sangat datar tanpa ekspresi apapun, tentu sangat berbeda dengan para saksi yang telah menunggu lama, sejak Meli muncul bisikan terus terdengar memuji wajah cantik jelita sang mempelai wanita.
Dengan lantunan suara khas seorang perwira, kalimat sakral akad pernikahan terucap dengan lancar, dan dengan sambutan bahagia dari semua saksi serentak dengan nada yang sama dan kata yang sama.
Sah, Alhamdulillah.
__ADS_1
Sah sudah pernikahan yang mendebarkan bagi Meli. Pernikahan yang sangat dadakan, pernikahan yang tak diinginkan, namun kini terjadi sudah di depan matanya, kini dirinya telah sah menjadi Ny. Zain Usama.
Diantara pera saksi yang hadir terlihat dua orang yang sangat senang dengan pernikahan tersebut tentunya mereka adalah Ayah dan Ayah mertuanya. Mereka tak tanggung mengekspresikan rasa bahagia dihari pernikahan tersebut, sementara Meli dan Ibunya hanya terdiam entah ini adalah kebahagiaan untuk mereka atau awal dari kehancuran.
Setelah pernikahan, saatnya saling memasangkan cincin pernikahan dijari masing-masing mempelai. Dengan wajah datar yang tak menunjukkan perubahan sama sekali, dia meraih tangan Meli dan melingkarkan cincin indah dijari manis Meli, begitupun sebaliknya. Setelah itu, Ia lalu mencium kening sang istri. Gugup semakin gugup dengan perlakuan yang menurut Meli tak pantas ia dapatkan, karena sejatinya hati dan fisiknya telah menjadi milik pria lain mesti kini mereka tak disatukan dalam ikatan suci pernikahan.
Pernikahan berlangsung pada sebuah resepsi yang dirangkaikan dengan upacara pernikahan ala militer, sangat khidmat tentunya. Dalam diam Meli berkhayal sejenak membayangkan betapa bahagianya dirinya, andai pernikahan didepan mata disertai dengan cinta kasih yang tulus, alangkah bahagianya dirinya jika saja yang menggandeng tangannya saat ini adalah seorang kekasih yang sangat ia cintai. Namun sirna sudah semuanya, kini dihadapannya adalah seorang pria yang baru ia kenal, dan bahkan sama sekali Ia tak tau akankah dirinya diterima setelah rahasia besar yang ia sembunyikan saat ini terungkap nyata dihadapan seorang pria yang baru saja menjadi suaminya yang sah.
Lamunan Meli terbuyarkan saat pertama kali mereka terlibat percakapan, "Sudah, saatnya kita duduk di pelaminan," dengan mengandeng tangannya dan mengajaknya duduk, serta membenarkan posisi gaun panjang yang Meli kenakan.
"Andai....! Ah...stop Meli jangan berandai-andai lagi, fokus aku harus fokus," cetus Meli dalam pikirannya yang tengah beradu dengan angan-angan yang sangat jauh darinya saat ini.
Meli menghela napas panjang entah kapan acara ini akan selesai, sangat melelahkan buatnya apalagi kondisinya yang sedang hamil pastilah ia lebih lemah saat ini. Sesekali Meli terlihat penuh berkeringat, dan penglihatannya seakan kabur, namun dengan sekuat tenaga Meli harus bertahan dan memperlihatkan dirinya sedang baik-baik saja, jika ia pingsan maka urusannya akan lebih runyam lagi, apalagi jika harus berhubungan dengan tenaga medis, usahanya menyembunyikan aib dirinya akan sia-sia sekarang.
"Kau kenapa?, sepertinya kamu kelelahan. Jika tak sanggup lagi biar aku antar ke kamar sekarang, mereka sudah memesan kamar khusus untuk kita di hotel ini," dengan setengah berbisik menawarkan kepada Meli untuk istirahat dan tak memaksakan diri jika sudah lelah.
"Apa tak masalah, jika aku meninggalkan acara sekarang, sepertinya masih banyak tamu yang berdatangan, rasanya tak enak jika harus meninggalkan acara sekarang."
__ADS_1
"Biar aku coba ngomong sama kedua orang tua kita sekarang...!"
Zain meninggalkan pelaminan dan berjalan ke arah Ayah dan Ayah mertuanya yang sedang asik mengobrol. Zain mengutarakan niatnya menemui mereka dan menjelaskan keadaan Meli. Mereka sangat mengerti dengan situasi sekarang. Ayah Meli menganjurkan Zain untuk mengantar Meli ke kamar terlebih dahulu, dan Ia harus kembali dan duduk sendirian di pelaminan menyambut para tamu yang masih banyak berdatangan, karena memang acara baru sekitar dua jam berlangsung, tentu masih banyak tamu undangan yang berdatangan memberi selamat atas pernikahan mereka.
Zain pun menyetujuinya, jadi untuk sementara kedua orang tua mempelai lah yang menggantikan mereka, hingga Zain kembali dari kamar setelah mengantar Meli untuk istirahat duluan dan meninggalkan pelaminan.
Sampai di kamar yang megah dengan hiasan pernah pernik kamar pengantin bernuansa putih gold, dilengkapi dengan taburan mawar di ranjang pengantin, sungguh menawarkan suasana romantis bagi pasangan yang sedang di mabuk cinta, tapi tidak untuk mereka berdua, tentu hal itu sangat mustahil terjadi pada mereka berdua yang sejatinya baru pertama kali bertemu saat ini dan langsung berstatus suami istri tanpa sebuah ikatan cinta diantara keduanya.
"Istirahat lah, aku harus ke pelaminan melanjutkan acara resepsi pernikahan kita, tak enak rasanya meninggalkan pelaminan sementara tamu undangan masih banyak yang berdatangan."
"Maaf, aku seharusnya lebih kuat saat ini, dan tidak meninggalkan acara."
"Hmm...Istirahatlah. Aku tinggal sebentar, setelah acara selesai aku akan segara kembali," jawab Zain dengan nada datar dan sama sekali tak memperlihatkan sisi romantis.
"Dia dingin sekali. Tak ada ciri-ciri cinta akan tumbuh dan bersemi dalam hubungan ini."
~Bersambung~
__ADS_1
Jangan lupa tekan simbol jempol dan hati, serta hadiah, diujung kisah "Jelita Dibalut Luka"
❤️ U All.