
Selamat Membaca
Meli tak pernah menyangka akan perjodohan yang berurusan ia ketahui. Panik bukan main, pikirannya menjadi kalut seketika, ingin rasanya ia beberkan keadaannya sekarang, tapi ia terlalu mencintai kedua orang tuanya dan tak ingin mereka kecewa karenanya, Meli diam dalam jiwa yang bersalah, entah apa yang akan terjadi padanya, tentu untuk berfikir akan ada keajaiban jika ia akan diterima dengan baik, itu tentu hal yang sangat mustahil untuk ia harapkan. Belum habis meratapi kesalahannya, kini ia sudah dihadapkan dengan perkara baru dalam hidupnya.
Meli tak mampu berkomentar apapun tentang perjodohan yang terjadi di depan matanya, saat ia benar-benar dalam masalah yang berat. Ia kini hanya mampu berdo'a setidaknya kedua orang tuanya tak menanggung malu atas kesalahan yang ia telah perbuat. Tentu siapa yang tak akan malu dan kecewa mendengar satu-satunya pewaris keluarga, anak tunggal mereka kini tengah berbadan dua dan pria yang seharusnya bertanggung jawab atas semuanya kini telah melepas masa lajangnya dengan gadis lain.
Mau tidak mau jalan satu-satunya yang ia miliki sekarang adalah menerima perjodohan itu, dan mengatakan yang sesungguhnya setelah pernikahan, berharap ada sedikit rasa iba dari calon suaminya kelak. Sungguh malang nasib Meli di usia menginjak 22 tahun ia sudah merasakan pahitnya kehidupan percintaan.
Pernikahan dipercepat setelah pertemuan keluarga besar. Meli sangat syok atas semuanya, tapi entah apa yang terjadi padanya dirinya, bibirnya menjadi kaku untuk berkata jujur pada semuanya. Meli hanya mengikuti takdir hidupnya berpasrah diri pada yang maha kuasa berharap akan ada kesempatan kedua atas dirinya yang sudah bernoda dan berlumur dosa.
Pekan depan sudah ditetapkan sebagai hari pernikahan untuk Meli dan sang calon suami yang sampai sekarang Meli juga belum mengetahui bagaimana rupa sang calon suami untuknya, jujur Meli tak perduli seperti apapun orangnya, karena fokus Meli saat ini adalah masalah kehamilannya dan bagaimana nanti ia menjelaskan keadaan dirinya kelak.
Rumit memang sangatlah rumit, kisah hidup yang harus Meli jalani sekarang, membayangkannya saja Meli tak sanggup apalagi untuk menjalaninya, dalam diam hati Meli mulai bergetar dan jantung berdegub kencang semakin tak karuan memikirkan hal besar yang akan dia alami saat semuanya terkuak dihadapan sang suami, entah apa yang akan ia perbuat pada dirinya nanti.
Lelah bergelut dengan pikiran yang lalu lalang dalam otaknya, Meli akhirnya memutuskan untuk melakukan pemeriksaan secara diam-diam di klinik kebidanan, dan benar saja memeng Meli sekarang sungguh memang telah berbadan dua dan usia kandungannya sekarang sudah menjelang dua bulan. Tuhan mungkin sedang membantu Meli dengan mengirimkan jodoh disaat yang tepat, namun harga yang harus Meli bayar nanti mungkin sangatlah menyakitkan.
Meli kembali ke rumah dan langsung masuk dalam kamar miliknya, berdiam diri seharian, mengurung diri dalam kamar, berusaha mencari solusi atas masalahnya, namun tetap jalan buntu yang ia dapatkan, Meli mencoba melakukan ibadah sholat istikharah, menengadahkan tangan memohon petunjuk.
__ADS_1
Dalam derai air mata dengan lirih dalam sebuah lantunan do'a Meli mengakui semua kesalahannya dan memohon petunjuk yang terbaik untuknya.
"Ya Allah, sungguh hamba mu ini adalah makhluk yang sangat jauh dari Mu di kehidupan sebelumnya, manusia yang tak pernah bersyukur atas segala nikmat Mu, hamba telah berbuat dosa yang sangat besar pada Mu dan pada kedua orang tua hamba. Namun, engkau masih menunjukkan belas kasih Mu padaku yang hina ini, hamba sadar jika ini adalah salah satu pertolongan atas masalah yang sedang hamba hadapi, hamba mohon bimbingan dan petunjuk bagi hamba dalam setiap tindakan hamba kedepannya. Ampunilah hamba Ya Rabbi, Ampuni hamba dalam dosa yang tak terkira ini, ampuni atas khilaf ku yang mengikuti hawa nafsu, ampuni atas kesalahan ku yang akan menyakiti calon suami ku nanti."
Meli pun menutup do'anya dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti.
Ada sedikit rasa lega setelah Meli meluapkan semua isi hatinya, mengakui semua kesalahannya, dan berusaha menjadi lebih baik kedepannya.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar miliknya, Meli segera menyeka air matanya dan bergegas membuka pintu, ternyata didepan pintu kamarnya telah berdiri seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah ibunya.
"Nak, apa ibu boleh masuk?"
"Baru selesai sholat, Nak?"
"Iya, Bu. Sebentar lagi kan Meli akan menjadi seorang istri sudah seharusnya merubah diri lebih baik."
"Ada apa, Nak?, tak biasanya kamu seperti ini." Ibu Indar yang hapal betul tabiat anaknya nampak curiga dengan sikap Meli barusan.
__ADS_1
Meli tak menanggapi, ia langsung menghamburkan diri memeluk ibunya, ada dorongan yang terlalu kuat dalam dirinya untuk mengungkapkan segalanya, Namun lidahnya terlalu kaku untuk memulai, Meli sangat khawatir melukai hati lembut wanita ya g telah menemani nya selama 22 tahun, menyayanginya dan selalu berjuang untuk semua kenyamanan sang putri, namun jika Meli ingin jujur ia sama sekali tak berharap lebih akan kehidupan yang berkecukupan baginya, ia hanya membutuhkan dirinya sepanjang waktu bersamanya, Namun apa boleh buat ibunya sudah terikat kontrak selama 20 tahun dengan perusahaan milik swasta, demi sebuah posisi sang suami sebagai orang berpengaruh dalam negri.
"Nak, Ibu mengerti dengan semua kemauan kamu, tahun depan nanti ibu sudah bebas dengan kontrak tersebut, saatnya ibu untuk selalu berada disisi kamu, namun kehendak tuhan berkata lain, ternyata jodoh kamu lebih menginginkan kita berpisah, pasti setelah menikah ia akan membawa kamu kekediaman miliknya, Ayah mu memang selalu punya cara jitu untuk mengamankan posisinya, dulu Ibu yang dia korbankan sekarang anak satu-satunya tak tanggung-tanggung ia nikahkan dengan putra ketua politisi ternama dengan dunia bisnis berdiri kokoh sebagai penopang dirinya."
"Bu' kenapa Ibu masih bisa bertahan jika Ibu tersakiti atas semua keputusan Ayah yang selalu tak berpihak pada kita?"
"Karena pernikahan ini, memang tak dilandasi rasa cinta sejak awal, makanya Ibu bermasa bodoh, namun melihatmu seperti ini, mengalami nasib yang sama, Ibu sangat menyesal, jika suatu saat kamu tak sanggup, datang lah pada Ibu dan kita berjuang bersama melawan kejamnya dunia."
"Ada apa dengan Ibu?, ternyata masalah Ibu sudah sangat berat sejak dulu dan aku adalah putri yang tak tau diri aku malah menambah beban derita hidupnya. Maaf Bu' aku janji akan menjadi lebih kuat dari mu, apapun yang akan aku hadapi kedepannya, aku akan terus berjuang dan tak akan membiarkan diri ku di tindas seperti yang ibu alami," gumannya tersadar dengan kondisi Ibunya yang selalu terlihat bahagia, namun menyimpan luka yang dalam.
"Nak, kedepannya kamu harus lebih kuat dan pandailah melihat situasi jangan seperti Ibu yang selalu lemah dan terjebak oleh keadaan, dan tak mampu melawannya."
"Meli...apa kamu lupa hari ini?, kenapa kau belum bersiap untuk fitting baju pengantin?, dan malah duduk santai dengan Ibumu, kalian berdua memang selalu saja merepotkan." Tegas sang Ayah yang tiba-tiba muncul dalam kamar Meli dan membuat Meli dan Ibunya terkejut dengan kehadirannya.
"Selalu saja mendominasi...! apa itu yang dinamakan seorang Suami dan Ayah?, Persetan dengan pernikahan ini, aku janji aku akan memperlihatkan jika aku mampu membawa Ibu terbebas dari dunia tekanan mu tiap hari, Jika dirimu lebih baik sedikit saja pada keluarga, aku takkan mencari cinta yang menyesatkan di luaran sana, " guman Meli dengan tekanan batin yang bertahun-tahun Ia pendam dalam lubuk hatinya.
Sampai jumpa di kisah berikutnya....!
__ADS_1
Simbol hati selalu menanti untuk ditekan sebagai dukungan terbaik dari para pembaca yang baik hati.
❤️ U All.