
Selamat Membaca
Zain menepati kata-katanya kembali setelah acara resepsi selesai.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar, Meli langsung bergegas membuka pintu kamar, ternyata Zain sudah berdiri di depan pintu kamar, Zain menepati janjinya akan segera kembali ke kamar setelah acara selesai.
Tanpa sepatah kata dari mulutnya Zain langsung mengambil baju ganti yang telah disiapkan untuknya dan berjalan ke arah kamar mandi. Meli hanya duduk terdiam dengan mata mengikuti setiap pergerakan sang suami. Sesekali Meli mengerutkan kening melihat sikap diam dan dingin dari sang suami. "Ah....bodoh amat yang jelas satu masalah selesai sekarang, tinggal menghadapi masalah lain yang sedang menunggu giliran," guman Meli dengan perasaan khawatir dengan keselamatan dirinya dari pria coolkas dihadapannya sekarang.
Tak lama berselang Zain kembali membuka pintu kamar mandi, ia terlihat segar setelah membersihkan diri, kini Meli tak perduli lagi, ia tampak cuek bebek dengan semuanya.
Zain terlihat agak bosan dengan suasana hening dalam kamar pengantin kami, aku pun juga. Ada keinginan untuk membuka obrolan, akan tetapi hatiku sudah padam dengan pesona laki-laki sekarang, aku semakin cuek dengan dirinya, tak ingin ber basa basi dengan dengannya, apalagi berniat mengenalnya lebih dalam, toh dia duluan yang memperlihatkan sikap cool nya sejak pertama masuk ke dalam kamar.
Zain mulai risih dengan tingkahku yang hanya fokus mengotak atik benda pipih ditangan ku, dan sama sekali tak perduli dengannya. "Apa kau senang dengan pernikahan kita?" Zain akhirnya mengalah dari sikap diam-diam kami seperti orang lain dan tak ada hubungan sama sekali.
Mendengarnya mempertanyakan tentang perasaan ku sekarang, aku semakin jenuh, "obrolan macam apa yang sedang ia mulai?, tak ada pertanyaan lain apa?, sudah tau aku muak dengan pernikahan ini, malah bertanya tentang hal ini padaku," guman ku sesaat mendengar ucapan nya untuk pertama kali sejak kami berada dalam satu kamar.
"Nikmati hidup selagi masih ada kesempatan, jika tak suka, kita akhiri saja, aku tak memaksa," jawab ku cetus padanya.
Ia melirik kearah ku dengan tatapan tajam, tentu tak senang dengan jawaban ku.
"Semudah itu kah hidup mu?" tanyanya kembali pada ku.
__ADS_1
"Aku ini istrimu, bukan ******* yang sedang kamu interogasi, jika ingin ngobrol carilah topik yang lebih enak, jangan tanya itu ini," jawab ku semakin jutek padanya.
"Baiklah, karena kamu sekarang adalah istri ku maka lakukan tugas mu sekarang...!"
Deg.
"Cih, Jangan mimpi....!" bentak ku padanya.
"Kau dan ucapan mu itu, memperlihatkan sifat mu yang sesungguhnya, entah ada apa dengan kedua orang tua ku hingga tertipu oleh gadis sepertimu."
Terdiam, dalam hati berkata jika bukan karena anak dalam kandungan ku sekarang, aku pasti sudah pergi jauh dan tak melanjutkan pernikahan ini. Sebuah pernikahan yang dipaksakan hanya demi jabatan dan nama baik.
Ini bukan pernikahan melainkan sebuah kesepakatan antara kedua orang tua demi ego mereka.
Entah apa yang akan aku hadapi esok, sebaiknya aku istirahat malam ini, perjalanan hidup ini mungkin masih panjang, dan masih banyak rintangan yang harus aku lalui kedepannya.
Zain melangkah mendekat ke ranjang dan memastikan keadaan ku, aku meresahkan ketika ia menarik selimut dan ikut berbaring di dekat ku, kami memang seranjang sekarang, dan malam ini adalah malam pertama dalam pernikahan kami, tapi yang terjadi sebenarnya kami hanya sedang berpura-pura dan hubungan yang kami bangun tak sedang baik-baik saja.
Meski satu tempat tidur namun posisi tidur kami cukup memberi jarak, ujung pukul ujung. Aku tak menghiraukan dia selagi ia menjaga batasan dirinya padaku. Dengan perasaan agak aman karena ia tak mengganggu ku aku pun tertidur pulas, hingga pagi menjelang.
Aku terbangun melihat jam di handphone milik ku ternyata sudah menunjukkan jam lima subuh, aku pun langsung beranjak bangun, kemudian melangkahkan kaki ke kamar mandi dan membersihkan diri tak lupa pula aku mengambil air wudhu, dan menuju keluar kamar mandi, aku mengambil mukena yang selalu aku siapkan, semenjak kehamilan ku sekarang aku mulai menyadari betapa pentingnya hidup di jalan yang benar, dan itu membuat aku lebih tenang dalam menjalani hidup ini, aku mulai melaksanakan kewajiban ku, hingga selesai dan tak lupa pula aku memanjatkan sebuah do'a agar kelak kehidupan ku dan cabang bayi dalam kandungan ku dapat lebih baik dan kami selalu dalam perlindungan Tuhan yang maha kuasa.
__ADS_1
Setelah selesai sholat aku meraih mushaf dan mulai melantunkannya meski belum lancar akan tetapi aku dulu sering ikut ibu ke majelis Taklim jika ibu dalam waktu senggang, dan di sanalah aku mulai belajar membaca Al-Qur'an, meski belum lancar tapi Alhamdulillah bacaan yang saya lantunkan sudah hampir sesuai dengan bacaan yang tepat. Meskipun hanya selembar yang aku bisa baca setiap hari, namun aku selalu mengupayakan untuk menjadikan Mushaf ini sebagai bacaan favoritku mulai sekarang.
Aku tak menyadari dengan keberadaan Zain yang ternyata sedang siap untuk melaksanakan sholat di samping ku, aku pun segera memberikan sajadah yang aku sedang pakai sekarang.
Ia mulai melantunkan bacaan sholat, dan aku akui dia memang lebih pandai dari diri ku, yang terlintas dalam benak ku sekarang, aku sangat bersyukur karena orang yang di takdirkan bersamaku Alhamdulillah adalah seorang pria yang masih memegang teguh imannya. Aku memperhatikan dirinya hingga tahiyat terakhir dan ketika selesai salam terakhir, ia juga terlihat menengadahkan tangan dan entah do'a seperti apa yang ia sedang panjatkan, ada sedikit harapan dalam diri ini ia akan menyebut diri ini sebagai seorang istri dalam hidupnya, dengan do'a yang terbaik untuk ku, semoga.
Setelah selesai ia mulai merapikan alat sholat milik kami dan menyimpannya dengan rapi. Tanpa sengaja kami bertemu pandang, aku sebenarnya mulai menerima keadaan dirinya setelah melihat sikapnya dalam beribadah, aku pun memberikan senyum meski senyum kali ini hanya setengah tulus dari dalam hati. Ia melirik ku, namun pandangannya yang ia tujukan padaku tak sedingin semalam.
"Apa rencana selanjutnya?" dengan sedikit takut namun aku memberanikan diri menanyakan hal ini padanya.
"Tiga hari ke depan aku akan kembali bertugas di daerah perbatasan di Kalimantan, jika ingin ikut bersiaplah, dan jika tak ingin ikut aku harap kamu bisa jaga diri."
"Aku ikut," jawabku dengan cepat dan yakin akan keputusan ku sekarang.
"Okey."
Setelah percakapan singkat itu, tak ada lagi lanjutan obrolan di antara kami, semua kembali hening seperti semula. Aku membuka jendela kamar dan mengarahkan pandangan ke luar kamar tepat halaman depan hotel, dan tampak gedung-gedung pencakar langit berjejer dengan rapi, suasana sangat indah karena pagi hari sepertinya akan cerah, namun tampaknya tak secerah dengan kehidupan pernikahan yang baru aku mulai.
~Bersambung~
Dukung terus yah....!
__ADS_1
❤️ U All.