
Hari demi hari terus berlalu, Meli hanya memberi kabar pada sang ibunda jika dirinya masih sehat dan keadaan mereka baik-baik saja, ibu Indar sangat mengkhawatirkan putrinya tentu hal ini berbeda dengan suaminya, semenjak putri mereka menikah ia sama sekali tak pernah menanyakan keadaan sang putri ia terlihat sepertinya lupa jika dirinya memiliki seorang putri. Hanya Ibu Indar yang sangat mengkhawatirkan putrinya yang kini sudah jauh dari mereka. sesekali Meli dan Zain melakukan panggilan VC pada keluarga yang lain dan saling berbincang menanyakan kabar dan bercerita sedikit tentang kisah mereka selama berada di tempat tugas Zain.
Meski mereka tak sekamar namun pada kenyataannya mereka adalah pasangan suami istri. seiring berjalannya waktu akhirnya Meli semakin jauh dari kenangan tentang Ardan meski sampai kapanpun ia tak akan pernah lepas darinya dengan kehadiran buah hati mereka.
Zain sangat perduli dengan Meli, tak sedikitpun hari tanpa ia perhatikan dan memantau perkembangan kehamilan Meli, jika orang lain melihat semua itu mereka tak akan percaya jika dibalik semua itu anak dalam rahim Meli bukanlah darah daging Zain.
Zain berusaha menepis kenyataan itu dan melanjutkan hidup mereka meski untuk saat ini ia tak boleh menyentuh Meli dan entah kapan hal itu akan terjadi, dan entah semua akan berjalan sesuai keinginannya atau kelak nanti Meli akan berkhianat kembali pada sang kekasih. Zain hanya mampu melanjutkan takdir ia yakin jika saatnya tiba dan jika Meli sungguh istri yang ditakdirkan untuknya maka tak akan ada seorang pun yang akan merebut Meli dari hidupnya, meski setiap hari rasa khawatir terus mendera lubuk hatinya, tak bisa membayangkan jika Meli yang telah berhasil menempati posisi terbaik dalam hatinya akan pergi meninggalkannya atau tetap bertahan selamanya disisi Zain.
Rahasia besar terus Meli sembunyikan, meski Zain kerap memintanya untuk memberitahukan hal tersebut pada keluarga, namun Meli selalu menolak, menurut Meli akan ada banyak masalah baru yang muncul jika kabar itu diketahui oleh keluarga, dan Meli belum siap dengan semuanya.
Malam hari tiba, Meli melakukan aktivitas seperti biasanya, menyiapkan makan malam untuk keluarga kecilnya, Meli kini sudah sangat telaten menjadi seorang ibu rumah tangga, bahkan keahliannya memasak berbagai menu patut diacungkan jempol, Zain sering memuji masakan sang istri, meski kadang ia harus menelan pil pahit menjadi kelinci percobaan Meli, setiap kali istrinya menemukan resep baru maka Zain lah yang akan menjadi orang pertama yang harus mencicipi masakan tersebut, dan hal yang paling sulit ketika ia dihadapkan dengan fakta jika ia harus berbohong demi kenyamanan hati seorang wanita yang kini menjadi teman hidupnya dan memberi warna baru dalam hidup Zain.
"Enak gak?, awas bilang gak enak."
"Hah...!, apaan sih, pasti resep baru lagi.
puft.....!, Meli apa kau mencoba meracuni suamimu?, makanan ini terlalu asam...! Apa kamu menambahkan secangkir cuka di dalamnya?"
"Cih... ini enak kok, rasa asamnya pas, lidah mu tuh yang harus diperiksa ke dokter...!"
"Ya Allah,lindungi hidupku dari harimau betina ini."
"Ini namanya ikan tumis asam pedas, ya pasti Asam lah."
__ADS_1
"Aku makan ayam saja yah. Perut ku bisa mengamuk dengan ikan tumis asam pedas mu itu."
"Hahahaha...maaf Mas tapi aku akhir-akhir ini memang suka asam, jadi maaf level asamnya agak kuat."
"Sampai kapan aku akan jadi korban ngidam mu itu, awas saja kelak kamu lahir dan tak patuh pada perintah ayah, aku juga akan membuatkan mu masakan yang sama dengan yang dibuat oleh ibumu itu," dengan gerakan mengelus perut Meli yang sudah membuncit dan menciumnya.
Meli cukup terharu dibuatnya, hingga terucap lirih, "tapi dia bukan putramu, jangan menyayanginya berlebihan kami tak pantas untuk itu."
"Meli apa yang barusan kamu katakan?, kalian berdua adalah milik ku, anugrah yang Allah berikan padaku, aku adalah orang yang kufur akan nikmatnya jika aku tak bersyukur dengan kehadirannya."
"Zain, kau..."
Zain langsung memeluk Meli dan mencium keningnya, pelukan yang sangat hangat untuk Meli, dan kadang membuat Meli lupa jika pernikahan yang mereka jalani belum sepenuhnya adalah miliknya, dan anak dalam rahimnya bukanlah benih dari suaminya.
"Meli, apa artinya pernikahan ini buatmu?, kapan kau akan menerima ku sepenuh hati mu?."
"Zain......"
"Aku tulus mencintaimu, tak ada bedanya meski dia bukan benihku tapi dia tetap anak kita, dan selamanya akan menjadi milik kita berdua, aku janji tak akan membiarkan ayah biologisnya mengambilnya, dan dia sama sekali tak punya hak untuk itu, meski ia darah dagingnya, tapi keringatku yang menjadikan ia tumbuh dan menjadi putra kita yang sehat dan lucu nantinya, aku juga berhak untuk itu."
"Zain, maafkan aku, sampai sekarang belum bisa membalas semuanya dan mungkin tidak akan pernah mampu membalasnya."
"Meli, kau tanggung jawabku, bukan beban ku, berhenti berpikir seperti itu."
__ADS_1
"Dengan perlakuan seperti ini aku bisa runtuh dan masuk dalam dalam jebakan maut pria untuk kedua kalinya. Oh...Tuhan kuatkan hati ini, aku tak mau berada dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya." Meli berusaha untuk menjaga pertahanan hatinya agar tidak terpengaruh dengan kelembutan dan perlakuan romantis sang suami yang menyerangnya setiap hari dan bertubi-tubi hingga kadang Meli sering tak kuasa untuk membentengi hatinya, dari kata bucin.
Setelah makan malam dan mengobrol bersama Meli dan Zain, mengakhiri malam itu dengan kembali ke kamar masing-masing, namun karena hujan yang semakin deras disertai angin kencang dan petir yang menggelegar, membuat Zain cukup khawatir hingga ia memutuskan untuk ke kamar Meli dan menemaninya sepanjang malam, Meli yang tak menyadari kehadiran suaminya di dekatnya karena sudah tertidur dengan lelap, langsung berteriak histeris keesokan harinya, saat ia terbangun duluan.
"Ada apa sih, ini aku suamimu bukan hantu tak usah berteriak seperti itu, kamu tertidur lelap tadi malam dalam selimut karena ketakutan jadi aku putuskan untuk menemani mu, namun tak disangka aku malah tertidur di sini."
Meli mengelus dada, dan meliriknya penuh selidik berharap Zain tidak sedang membuat alasan terbaik untuk meloloskan diri, "Gak percaya?, ya udah aku sholat dulu...!, " cetus Zain berjalan ke arah kamar mandi membersihkan diri dan mengambil air wudhu untuk menunaikan kewajibannya tepat waktu.
"Tunggu, aku mau sholat dengan mu," ucap Meli yang baru tersadar ketika Zain hendak takbir."
"Cepat sana, sudah hampir terang."
Kini mereka menjalankan ibadah bersama dan tampak khusuk, Meli memang sering ikut menjadi makmum, karena Meli sangat senang mendengar lantunan bacaan yang fasih dan dengan suara merdu dari Zain, membuat Meli bertambah khusuk.
Assalamu'alaikum warahmatullaah
Assalamu'alaikum warahmatullaah
Zain mengakhiri ibadah mereka dengan zikir yang sangat merdu, Meli tak henti-hentinya menatap pria yang kini menjadi imamnya dari belakang, hingga saat Zain hendak mengulurkan tangan untuk bersalaman, dengan tak sengaja menangkap tatapan mata indah itu untuknya. Membuat Meli tersipu malu dengan wajah memerah.
"Kalau sudah gak sanggup bertahan, akui saja, jangan dipaksa, nanti jadi beban pikiran, yang ada Ubai kecil ku akan stres dibuat oleh ibunya."
"Apaan sih....kepedean akut kamu kambuh, bukannya sudah sholat akan sembuh ini malah semakin kronis."
__ADS_1