
Zain yang cukup lelah merebahkan dirinya di samping Meli setelah menyuapinya hingga kenyang sambil meledek Meli dengan kata bulat bagai bola gelinding.
Meli tak banyak protes dengan tingkah Zain yang membuat kasur pasien miliknya menjadi sesak dan sempit.
Ada rasa bahagia dalam diri Meli melihat perhatian Zain yang semakin dalam untuknya.
"Dia memang sangat lelah hanya butuh waktu sekejap dan ia sudah mendengkur halus di dekatku dan melingkarkan tangan kekarnya di perut buncit ku," guman Meli yang tiba-tiba memusatkan perhatian pada suaminya.
Melihat cara tidur Zain yang terlihat menggemaskan, Meli mulai membelai rambutnya dan mencium kening suaminya, tanpa ia sadari jika Zain masih terjaga dari tidurnya.
Zain tiba-tiba membuka mata saat Meli mendaratkan kecupan di keningnya dan sontak membuat salah tingkah dengan wajah memerah bagai tomat matang.
Namun, apesnya niat hati ingin memberikan kasih sayang diam-diam ia justru dikerjain balik oleh Zain.
Zain menarik kembali tubuh istrinya saat ia reflek menjauhkan dirinya ketika Zain iseng menangkap tingkahnya.
Tanpa ragu Zain membalas kecupan tersebut dan mendaratkan kecupan di seluruh titik di wajah Meli.
Meli yang kesal sekarang justru melayangkan protes keras padanya, tanpa ia sadari jika hatinya sungguh sudah menerima keberadaan suaminya, namun egonya terlalu dalam untuk mengakui semuanya.
"Mas, apaan sih...?, aku hanya mencium kening, namun mas membalas sampai keterlaluan seperti itu."
"Masih mau...?, masih ada titik yang terlewatkan sayang." Zain kini menunjuk bibir Meli yang sudah monyong dibuatnya, karena menahan kesal akibat ulahnya.
"Ogah...aku malah menyesal. Kirain udah tidur, taunya pura-pura doank," cetus Meli.
Cup..cup...cup.
Zain tanpa ampun mencium bibir mungil istrinya berkali-kali, yang membuat Meli semakin kesal dan mendaratkan sebuah cubitan keras dan menarik hidung Zain ke arahnya.
"Aaaaaa...."
"Seharusnya aku dari tadi melakukan itu sebagai peringatan."
Meli membulatkan mata pada suaminya seakan sedang memberi ancaman yang serius
__ADS_1
padanya.
"Ya, maaf," ucap Zain sambil tersenyum meledek Meli.
...----------------...
Dua pekan menjalani perawatan pematangan paru, akhirnya Meli menjalani operasi SC, saat itu kandungan Meli belum cukup 9 bulan.
Tindakan operasi harus segera dilakukan mengingat kondisi Meli dan janin dalam kandungannya akan semakin memburuk setelah Meli mangalami perdarahan pasca pertengkaran hebat mereka.
"Mas_aku sangat tegang, apa tidak bisa normal saja?" rengek Meli pada Zain.
"Sudah, jangan takut. Semua dokter yang menangani operasi kamu adalah dokter profesional dan sudah ahli di bidangnya masing-masing," bujuk Zain menenangkan Meli.
"Mas, aku beneran gugup, mas bisa gak sekalian masuk di ruang operasi temanin."
"Jangan seperti itu kamu sebentar lagi akan menjadi ibu, masa ka gak berani, katanya selalu ingin hidup mandiri tapi giliran mau operasi minta di temanin, gimana sih?"
Meli semakin memonyongkan bibir ke arah suaminya, sifat Meli yang seperti itu membuat Zain semakin gemas, bukannya membujuk sang istri ia malah semakin usil padanya.
Zain terpaksa mengeluarkan jurus rayuan padanya agar istrinya lebih kuat dan berani.
Setelah jurus bujuk rayu Zain mempan maka barulah Meli dengan tenang masuk ke ruang operasi.
Meli semakin tegang ketika berpisah dengan Zain dan terus memandangnya hingga pintu ruang operasi di tutup oleh salah seorang petugas di ruang tersebut.
"Permisi, sepertinya ibu nampak sangat tegang. Santai lah Bu, semua pasti berjalan lancar dan jangan khawatir," sapa seorang perawat yang sempat memperhatikan ekspresi wajah panik dari Meli.
"Iya, terimakasih tas dukungannya."
Meli langsung di bawa ke meja operasi dan para perawat yang bertugas langsung memakaikan alat-alat medis untuk memantau tanda-tanda vital sang pasien saat operasi berlangsung nanti.
Meli semakin tegang dibuatnya, hingga begitu alat terpasang dan mulai mengontrol tanda-tanda vital pada pasien langsung menunjukkan angka tidak normal.
Salah seorang dokter menghampirinya dan memberikan konseling untuk Meli serta menenangkannya sebelum operasi dimulai.
__ADS_1
"Bu...santai ya....! jangan tegang kayak gini, tekanan darah ibu semakin tidak stabil jika ibu belum rileks dengan keadaan," ujar dokter pada Meli.
Meli hanya terdiam dan berkata sepatah katapun padanya, yang Meli pikirkan saat ini adalah ruangan yang selalu ia takutkan karena di ruangan tersebut merupakan tempat pasien mendapatkan pembedahan.
"Aku harus berani dan kuat, demi buah hati ku. Zain terimakasih karena telah bersedia menemani kami sampai saat ini, aku akan berjuang demi buah hati ku dan pengorbanan mu buat kami," guman Meli dan mulai menangkan diri.
Operasi mulai berjalan, para dokter dengan terampil mulai melakukan tugasnya, lapis demi lapis perut Meli mulai di bedah, hingga memperlihatkan pasien amnion dan terlihatlah bayi mungil.
Dokter mulai mengeluarkan bayi Meli yang sudah mulai memperdengarkan suara tangisan pertamanya menyambut dunia dengan hati-hati dan memotong tali pusarnya.
Tak lama berselang proses pengeluaran bayi Meli melalui operasi kekar, kini tinggal menjahit kembali luka bedah di perut Meli.
Luka sudah dijahit rapi, Meli pun usai dengan operasinya, perawat mulai membersihkan tubuh Meli dan memakaikan baju khusus untuk pasien.
Meli kini melakukan tahap akhir operasi yaitu pemeriksaan keadaan tanda-tanda vital untuk memastikan keadaan pasien secara medis dalam batas normal seperti sebelum melakukan operasi.
Namun, ada yang salah dengan kondisi pasien. Meli tiba-tiba mengeluarkan banyak darah dan dokter langsung segera melakukan pemeriksaan akurat. Ternyata tekanan darah Meli tiba-tiba drop, Nafi melemah, wajah memucat, badan gemetar...."tolong siapkan alat pasien syok," ucap dokter dengan wajah tegang.
Semua tim dokter langsung mengambil bagian masing-masing.
Setelah di selidiki ternyata pihak laboratorium melakukan kesalahan fatal karena kurang teliti dengan data pasien sehingga hasil pemeriksaan darah Meli tertukar dengan pasien lain.
Hemoglobin darah Meli dibawah standar dan tak boleh melakukan tindakan operasi sebelum dilakukan transfusi darah dan akibatnya sekarang pasien menjadi syok....para perawat yang bertugas segera menghubungi pihak PMI dan membantu menyiapkan beberapa kantong darah, agar pasien segera di tolong.
Suasana ruang operasi saat itu sangat menegangkan, kondisi Meli semakin terpuruk dan darah terus mengalir membuat dirinya semakin pucat.
Infus yang terpasang sementara langsung dipercepat alirannya oleh dokter, sementara menunggu kantong darah diantarkan ke ruang operasi.
Alat pacu jantung mulai disiapkan kala denyut nadi semakin melemah, sedang tekanan darah juga semakin menurun.
"Dokter, ini murni kesalahan kita, bagaiman jika pasien tak terselamatkan?" tanya seorang asisten pada sang dokter senior.
"Saya siap bertanggung jawab atas kesalahan fatal ini, ini juga adalah bagian dari kelalaian kita semua, tak teliti sebelum operasi di mulai," jawab sang dokter penuh tanggung jawab.
...----------------...
__ADS_1