Jodoh Pak Lurah

Jodoh Pak Lurah
Terpikat


__ADS_3

Irene melipat mukena yang dikenakannya, ia merapikan pashmina hitam yang tersampir di kepalanya. Wanita itu berjalan keluar dari masjid bersama eyang utinya setelah selesai salat Maghrib.


"Dibenerin itu pashminanya, mbok ya kalo pakai jilbab yang bener. Itu cuma disampirin, auratnya engga tertutup."


"Iya Eyang."


Jarak rumah dengan masjid kira-kira hanya 10 menit jika berjalan kaki, bagi eyang berjalan sejauh itu tidak lah masalah namun berbeda dengan Irene yang tidak terbiasa berjalan kaki.


"Eyang Uyut!!!"


Sepasang bocah kembar berlari menghampiri Eyangnya. Mereka mencium tangan keriput wanita tua itu dengan sopan.


"Wah cicit-cicit Eyang, Mas Angga sama Dek Jay mana?"


"Itu di belakang Eyang, ini kakak cantik siapa Eyang?"


Irene takjub melihat bocah kembar yang lucu nan tampan itu menatap dirinya dengan polosnya.


"Ini cucu Eyang, namanya tante Irene." Eyang menepuk pundak cucunya lembut, sedangkan Irene mendengus mendengar Eyangnya memperkenalkan dirinya sebagai tante.


"Ihh kok tante sih Eyang! Kenalin ini kakak Irene." Wanita itu menyodorkan tangannya sembari memberikan senyum manisnya.


"Aku Dewa ini kembaran aku Kula." Dewa menjabat tangan wanita itu, dilanjutkan dengan kembarannya.


"Wawa! Ulaa! Huaaaaa!"


Mereka semua menengok ke belakang ketika mendengar suara tangisan nyaring. Di belakang sana terlihat remaja dengan wajah cool sedang menggendong balita yang menangis.


"Lain kali jangan lari-lari, nanti kalo jatuh gimana?" Remaja cool itu memberi tatapan tajam pada Dewa dan Kula.


"Maaf Mas Angga, besok engga lagi dehh." Jawab Dewa dengan cengirannya, "ohh iya kak, ini Mas Angga sama Dek Jay kesayangan kami semua."


"Shuttt Dek Jay jangan nangis, masak cowok nangis sih." Kula mengejek adik bungsunya.


"Makannya adeknya jangan ditinggal, jadi nangis kan." Angga menimang-nimang adik bungsunya agar berhenti menangis.


Eyang tersenyum menatap mereka yang sudah ia anggap sebagai cicitnya. Rumah mereka saling berhadapan, biasanya si kembar akan bermain ke rumahnya. Ia merasa senang karena rumahnya menjadi ramai.


Selama ini Eyang memnag tinggal sebatang kara, suaminya sudah lama meninggal. Sedangkan anak bungsunya yang sebelumnya tinggal bersamanya meninggal tahun lalu. Semua anak-anaknya mengajak Eyang untuk tinggal bersama mereka, namun wanita tua itu menolak. Ia ingin tinggal sendiri di rumah penuh kenangan mendiang suami dan anaknya itu.


"Ayah mana?" tanya Eyang.

__ADS_1


"Masih di masjid Eyang, lagi ngobrol sama Pak Kades."


"Ya udah yuk pulang bareng aja, Kula sama Dewa jangan lari yaa. Nanti Eyang ditinggal lagi."


Kembar itu menurut, mereka menggandeng lengan kanan dan kiri Eyang, berlagak membantu Eyang berjalan agar tidak ketinggalan.


Irene tertawa melihat tingkah si kembar, mendengar balita dalam gendongan Angga masih menangis wanita itu menawarkan diri untuk menggendongnya.


"Utututu lucunya, Adek Jay sedih yaa ditinggal lari sama kakak? Hmmm?" Irene menghapus bekas air mata balita itu. Wanita itu gemas dengan balita gembul yang saat ini sedang menyembunyikan wajahnya di ceruk lehernya.


"Udah cocok gitu kok, mau nunggu apa lagi? Kapan kamu kasih Eyang cicit?" Sejak tiba di kampung halaman Mamanya, Irene terus ditagih cicit oleh Eyangnya. Wanita itu frustasi karena desakan menikah dari Mama dan Eyangnya, mereka pasti akan marah jika mengetahui Irene tidak berniat untuk menikah.


...oOo...


Meja makan rumah Azka tampak ramai karena Kula mengambil roti yang telah susah payah Dewa olesi dengan selai coklat kesukaannya. Dewa marah karena itu selai coklat terakhir, persediaan di rumahnya kebetulan habis.


"Ayah engga suka keributan di meja makan! Makan apa yang ada, Kula jangan usil, Dewa bisa pakai selai lain atau makan nasi goreng kayak Mas Angga."


"Dewa engga suka kalo engga selai coklat Ayah! Engga mau makan nasi goreng, masakan Ayah engga enak. Enak masakan Ibu!" Dewa berteriak dengan wajah merah menahan tangis.


Bocah dengan sergam merah putih itu berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Sedangkan Azka mengusap wajahnya kasar, dirinya sudah tidak napsu melanjutkan sarapannya.


"Biar aku aja yang bujuk Dewa Yah."


Kula menunduk merasa bersalah, padahal ia tadi hanya ingin menjahili kembarannya. Tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Bocah itu memilin dasinya, matanya sudah berkaca-kaca menahan tangis.


"Ayah, I'm sorry."


"Minta maaf sama Dewa, jangan diulangi lagi ya."


"Okey Ayah."


Azka mengelus kepala putranya, pria yang telah menduda hampr tiga tahun itu merasa gagal menjadi orang tua tunggal bagi anak-anaknya. Apalagi saat ini ia menjabat sebagai Lurah, pria itu harus pandai-pandai membagi waktu untuk anak-anaknya.


"Pak Lurah, anak-anak sudah siap berangkat sekolah?" Tanya Jati, orang kepercayaan Azka yang membantunya mengurus perkebunan dan kolam miliknya.


"Belum Jat, sini sarapan bareng." Ajak Azka, meskipun ragu dengan masakannya sendiri. Apalagi tadi Dewa mengatakan jika masakannya tidak enak.


"Saya sudah sarapan Pak Lurah." Meskipun sudah dilarang tapi Jati tetap menganggilnya Pak Lurah, Azka sudah menganggap Jati saudaranya sendiri pria itu tidak nyaman jika keluarganya memanggilnya Pak Lurah.


...o0o...

__ADS_1


Irene menggantikan Eyang yang tadi sibuk menyapu halaman rumah yang sangat luas, wanita itu tidak tega membiarkan Eyangnya yang sudah tua mengerjakan pekerjaan rumah sendiri.


Eyang yang pada dasarnya tidak bisa diam, memilih mengambil selang dan menyirami tanaman kesayangannya.


"Udah Eyang, biar nanti Irene aja yang nyiramin tanaman."


Eyang pura-pura tidak mendengar ucapan cucunya, wanita tua itu masih asik menyirami jambu air dan mangga yang sedang berbuah banyak.


"Wah Pak Lurah udah mau berangkat kerja?"


Eyang menyapa tetangga depan rumahnya, pria dengan baju batik itu berjalan menuju mobilnya.


"Iya Eyang, mau ke Kabupaten."


"Cicit-cicit Eyang kok belum kelihatan?"


"Nanti berangkat bareng Jati Eyang. Wah Eyang sekarang udah ada yang menemani ya." Azka menatap wanita dengan daster pendek yang masih sibuk menyapu halaman.


"Alhamdulillah, kebetulan cucu Eyang baru datang kemarin."


Irene yang pegal karena membungkuk saat menyapu, menegakkan tubuhnya. Matanya tanpa sengaja bertemu dengan tatapan Azka, ia mengulas senyum tipis. Pria itu beristighfar melihat penampilan wanita dengan daster pendek tanpa lengan, rambut hitam legamnya dicepol asal-asalan, beberapa anak rambutnya menjuntai tampak menempel dengan kulit putih yang sedang berkeringat itu.



...Nama Muhammad Azka...


...Umur : 38 tahun...


...status : duda bontot 4...


Eaaa…dah duda besti tapi gpp klo good looking and good rekening gini mah, namanya juga cintah…🤣



...Nama : Irene Annisa putri...


...Umur 25 tahun...


...Cantiknya bini orang kiw… Auto jadi kembang desa....


...Calon Bu lurah nih boss😂...

__ADS_1


__ADS_2