
Irene mengerang sebal ketika ponselnya berbunyi nyaring, belum ada 15 menit ia berbaring di ranjang empuk hotel. Meskipun tanggung untuk tidur siang wanita itu sudah tepar setelah check in, ingin segera membaringkan tubuh lelahnya.
"Halo Ma?"
"Assalamualaikum."
"Waalaikumusalam, kenapa Ma?"
"Udah sampai Jogja nak?"
"Baru aja sampai hotel."
"Loh kok hotel? Kan Mama bilang nginep di rumah Ayah kamu aja."
"Ini Irene bantuin Diana urus pernikahannya dulu." Irene meringis, merasa bersalah menggunakan nama Diana untuk membohongi Mamanya.
"Ya udah, tapi jangan lupa nengok nenek juga. Jangan jadi cucu durhaka kamu." Irene memutar matanya, jika saja Mama melihatnya wanita itu akan menjewernya karena tidak sopan.
"Ohh iya katanya kamu bareng Pak Lurah tadi sampe Stasiun Balapan?"
"Iya Ma."
"Pak Lurah baik ya." Irene menyerngit, kemana sebenarnya arah pembicaraan Mamanya ini.
"Iya baik. Udah yaa, Irene mau mandi dulu."
"Ehh...sebentar Mama masih mau ngobrol. Kata Eyang Pak Lurah duda ya? Ganteng engga? Kamu suka?"
"Kenapa? Mama tertarik? Irene engga keberatan kalo punya Papa tiri."
"Sembarangan kamu yaa! Bukan itu maksud Mama!"
"Udah dulu Ma, Assalamualaikum."
Irene melemparkan ponselnya sembarangan, lalu menenggelamkan kepalanya dibantal dan berteriak dengan keras. Pasti Mamanya mengetahui tentang Pak Lurah dari Eyang.
Memang Eyang akhir-akhir ini sering menyuruh cucunya itu mengantarkan makanan ke rumah Pak Lurah. Semakin lama tingkah Eyangnya semakin aneh.
Tidak lama kemudian bel kamar hotelnya berbunyi nyaring, dengan malas-malasan Irene membukakan pintu.
"Hello bestie!" Nayla sahabat Irene sejak kuliah muncul dengan koper 24 inchnya dan tas ukuran sedang.
"Buset, lo mau pindahan atau gimana? Cuma nginep 3 hari tapi bawaan segitu?"
Nayla menerobos masuk lalu melemparkan tubuhnya ke tengah ranjang. Wanita 26 tahun itu mendesah merasakan nyamannya ranjang.
"Gue resign. Rencananya habis dari sini mau ke Lombok."
"Hahhh? Ngapain lo ikutan resign segala?"
"Kantor sepi engga ada lo."
Memang mereka berdua sebelumnya bekerja di kantor yang sama sebelum Irene memutuskan resign dan tinggal di rumah eyangnya.
"Terus ngapain lo ke Lombok?"
__ADS_1
"Healing hehe. Masak bertahun-tahun kerja bagai kuda tapi jarang liburan."
...o0o...
Acara lempar bunga pengantin diikuti oleh banyak orang termasuk para bridesmaid. Irene berdiri di samping Nayla, mereka berdua sebenarnya tidak berminat untuk mengikuti acara lempar bunga ini.
"Nay, ngapain sih kita ikutan. Emang lo pengin nikah lagi?"
Nayla menggelang, "lo juga kenapa ikutan. Katanya engga minat buat nikah?"
"Ntar kalo gue yang dapet bunganya gimana dong?" Tanya Irene panik.
"Orang lain pada seneng bisa dapet. Kok lo malah takut sih!"
"Kan lo tau gue ga minat nikah!"
Irene menatap Diana sengit, pasalnya pengantin wanita itu dengan sengaja melemparkan bunga ke arahnya. Sehingga mau tidak mau Irene menangkap bunga itu.
Setelah acara lempar bunga mereka menikmati hidangan sembari mendengarkan band yang bernyanyi dengan merdu.
Irene menatap sahabatnya khawatir, mereka sedang duduk di dekat pelaminan. Mereka sudah berdandan cantik dengan gaun bridesmaid yang telah disiapkan Diana.
Tidak mereka sangka mantan suami Nayla juga hadir menjadi tamu undangan di pernikahan ini. Nayla sudah hampir dua tahun tidak bertemu mantan suaminya setelah mereka bercerai.
Pesta pernikahan bertema garden party yang dilaksanakan di samping kolam renang Royal Ambarrukmo itu tampak indah. Mantan suami Nayla yang bernama Natha, tampak mesra dengan pasangannya malam ini. Natha duduk di samping kolam renang dengan pasangan yang terus menempel padanya.
"Kita balik ke kamar aja, lagian pestanya udah selesai." Ajak Irene ketika Nayla sudah terlalu mabuk karena alkohol.
"Gue males lewat sana." Memnag jika akan kembali ke kamar mereka harus melewati Natha dan pasangannya.
"Mending lo nutupin gue aja, jangan sampai Natha liat gue."
Irene hanya mendesah pasrah. Wanita itu mengetahui kisah cinta sahabatnya itu sejak pacaran hingga bercerai dua tahun lalu. Susah payah Nayla move on, hingga menjadi gila kerja untuk melupakan mantan suaminya.
Namun ternyata rasa itu masih ada, apalagi ketika melighat sorot mata kecewa Nayla melihat Natha dengan wanita lain.
"Besok temenin ke makam anak gue ya." ajak Nayla dengan suara lirih.
Paginya Irene terkejut ketika terbangun di kamar sendirian, wanita itu tidak menemukan Nayla di dalam kamar. Karena khawatir, ia memutuskan untuk menghubungi sahabatnya itu. Namun ternyata Nayla tidak membawa ponselnya dan meninggalkannya di kamar.
Ketika keluar dari kamar, Irene menemukan Nayla yang berjalan cepat ke arahnya tanpa menggunakan alas kaki. Wanita itu menyerngit melihat penampilan sahabatnya.
"Dari mana aja lo? Gue cariin dari tadi, udah engga bawa ponsel lagi."
"Sshhtttt! Gue jelasin nanti, sekarang bantuin gua packing!"
Nayla merebut keycard yang berada di tangan Irene. Wanita itu segera masuk ke kamar dan memasukkan barang-barangnya ke dalam koper dengan sembarangan.
"Lo kenapa sih?"
"Gue semalem bareng Natha. Gue engga mau ketemu dia lagi, makannya gue mau cabut."
"Cabut kemana coba?"
"Kemana aja asal engga ketemu dia."
__ADS_1
"Mending ikut gue ke rumah Ayah."
"Ogah bokap lo serem, apalagi kalo ada nenek lo."
Irene meringis, sebenarnya wanita itu bisa menggunakan Nayla sebagai alasan agar tidak usah menginap di rumah Ayahnya.
"Lo engga jadi ke makam?"
"Lain kali aja deh. Lagian gue kan udah jadi pengangguran jadi punya banyak waktu buat ke sini lagi."
Irene membantu Nayla mengemasi barang-barangnya. Irene sebenarnya bingung dengan mantan suami istri itu. Hubungan keduanya akan semakin rumit.
Ting!
Satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya.
+6281233xxxxxx :
Selamat pagi Dek Irene, ini saya Azka
Saya dapet nomor Dek Irene dari Eyang
Kebetulan saya hari ini ke Jogja dan besok siang balik ke Karanganyar Kalau mau Dek Irene bisa pulang bareng saya.
Mata Irene membola membaca pesan dari Pak Lurah. Bagaimana bisa Eyangnya memberikan nomor teleponnya pada pria itu. Kenapa pula pria itu harus menawarkan untuk pulang ke Karanganyar bersama.
^^^Irene :^^^
^^^Selamat pagi Pak Lurah^^^
^^^Terima kasih atas tumpangannya kemarin Bapak^^^
^^^Terima kasih juga tawarannya, tapi saya nanti pulang naik kereta saja.^^^
+6281233xxxxxx :
Eyang sepertinya khawatir kalau Dek Irene naik kendaraan umum sendirian.Tadi Eyang cerita kalau tidak ada yang jemput di Stasiun juga. Tidak apa-apa Dek Irene, pulang bareng saya saja.
^^^Irene :^^^
^^^Tidak usah Pak, nanti merepotkan Bapak.^^^
+6281233xxxxxx :
Saya tidak repot kok Dek
Lagian kan searah juga.
Kalau boleh nanti Dek Irene bisa shareloc tempat Dek Irene.
Irene berteriak untuk meluapkan kekesalannya.
"Akhhhhhhhhh!!!!"
"Lo kenapa dah?" Tanya Nayla bingung karena Irene tiba-tiba berteriak kencang.
__ADS_1