Jodoh Pak Lurah

Jodoh Pak Lurah
Kehilangan


__ADS_3

Irene terbaring di ranjang rumah sakit dengan wajah pucat. Ditangan kirinya terpasang jarum infus, gadis itu menoleh saat ada yang memasuki ruangan tempatnya dirawat. Ternyata Nayla.


“Lo yang bener aja dong, masak baru gue tinggal ke Lombok lo udah kayak gini aja. Udah nikah engga ngundang-ngundang, sekarang malah masuk rumah sakit!” Gerutu Nayla sembari meletakkan parcel buah di meja.


“Gue engga papa kali, pada lebay aja.”


“Keluarga lo khawatir malah dibilang lebay. Parah sih, ehhh jangan jangan lo gini gara-gara kecapekan digempur Pak Lurah yaa?”


Irene tersenyum kecut. Apanya yang digempur, bahkan sudah hampir seminggu menikah mereka belum berhubungan selayaknya suami istri.


“Tadi ketemu Mama engga?” Irene memilih untuk mengabaikan pertanyaan sahabatnya itu.


“Iya, mau ke kantin katanya.”


Memang dua hari di rawat di rumah sakit wanita itu ditunggui oleh mama dan suaminya secara bergantian. Suaminya akan menginap dan berangkat bekerja dari rumah sakit.


Beberapa hari ini wanita itu juga mendapat wejangan dari mamanya agar mengikhlaskan kepergian eyang. Irene terlalu larut dalam kesedihan hingga mengabaikan kesehatan bahkan keluarga barunya.


“Kok lo baru balik dari Lombok? Emang habis ini rencana mau stay dimana?”


“Di Jogja atau Bali. Enakan dimana menurut lo?”


“Ya lo nyaman tinggal dimana? Jangan Bali deh, yang ada tiap hari mabok terus!” Renganis mendengus menginat kebiasaan Nayla yang akan mabuk jika sedang stess.


“Ya kali tiap hari gue mabok! Lagian gue udah engga bisa mabok lagi.”


“Lo dah tobat?” tanya Irene takjub,


“Alhamdulillah…akhirnyaaa.”


Nayla menjitak kepala sahabatnya karena reaksinya yang berlebihan.


“Gue hamil.”


Irene berhenti mengusap kepalanya yang yang sakit karena baru saja dijitak. Wanita itu mematung, mencoba mencerna informasi yang baru saja disampaikan Nayla.


“Lo bercanda kan Nay?” Irene bertanya setelah pulih dari keterkejutannya.


“Baru beberapa minggu. Tokcer juga ****** Natha.”


“Terus gimana dong?” Irene gusar dengan keadaan sahabatnya itu, sedangkan Nayla malah dengan santai memakan jeruk yang agak asam.

__ADS_1


“Gimana apanya?” Nayla pura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan sahabatnya.


“Lo mau rujuk sama Natha? Dia udah tau? Kandungan lo baik-baik aja kan?”


“Puji Tuhan kandungan gue baik. Kayaknya gue engga akan ngasih tau Natha deh. Lagian dia udah punya cewek.”


“Tapi kann..”


Belum sempat Irene berbicara Nayla sudah menyela, “Iya gue tau ini anak dia juga. Cuma gue masih mikir-mikir. Ntar deh, gue juga bingung.”


Irene prihatin dengan keadaan sahabatnya ini. Hubungannya dengan mantan suaminya memang agak rumit, ditambah dengan mertuanya yang selalu ikut campur dalam pernikahan mereka sejak dulu.


“Udah engga usah mikirin gue. Yang penting lo cepet sehat. Itu kasian anak-anak sama suami lo. Btw gue belum ketemu langsung sama Pak Lurah nih, ganteng engga? Kok lo mau nikah sama Om-Om?”


Irene tertawa, memang yang dinikahinya pria berumur 38 tahun tapi Nayla pasti akan terkejut melihat rupa suaminya.


“Kayak lo engga nikah sama Om-Om aja!”


“Natha 35 tahun kali, belum terlalu Om-Om.”


“Hehh suami gue 38, cuma beda 3 tahun sama Natha.”


“Terus mana suami lo?”


“Ohh iya, pasti berat banget ya punya istri kayak lo.”


“Ih bacot.”


Nayla memeluk perutnya, “jangan dengerin omongan tante Irene ya baby. Emang mulutnya perlu dirukyah. Lagian Bu Lurah kok mulutnya kayak gitu.”


Irene mendengus, padahal mulut Nayla biasanya lebih kotor dari pada mulutnya. Wanita itu juga merutuki dirinya yang kini menjadi Bu Lurah.


o0o


Suara tangisan Jay menyambut Irene dan Azka di pintu utama. Bocah itu terduduk di samping akuarium dengan pipi basah dan wajah yang memerah.


Irene langsung menghampiri dan mengangkatnya dalam gendongan sedangkan Azka masih sibuk mengeluarkan barang-barang dari mobil. Mereka baru saja pulang dari rumah sakit pagi itu.


“Jay kenapa sayang?” Tangis Jay mereda saat berada dipelukan Irene.


“Ikan kesayangannya mati Bu. Tadi udah dikubur sama si kembar sebelum berangkat sekolah.”

__ADS_1


“Nda beli ikan hiks,” Irene menghapus sisa air mata di pipi gembul Jay.


Memang anak-anak Azka sepakat untung memanggil Irene bunda. Awalnya sangat canggung, namun lama kelamaan mereka terbiasa. Namun Angga merasa aneh karena perbedaan umur remaja itu dengan Irene hanya 10 tahun, sedikit aneh bila memanggil bunda.


“Iya nanti beli ikan, nunggu Kakak pulang sekolah.”


“Kenapa?” Azka bingung mendapati Jay yang menangis dipelukan istrinya. “Sini biar aku gendong aja.”


Azka tidak tega apabila Irene yang baru saja keluar dari rumah sakit harus menggendong putra bungsunya. Wanita masuk rumah sakit karena tiba-tiba pingsan saat Azka sedang bekerja. Saat itu hanya ada Ayah Irene dan Ira yang kebetulan berkunjung.


Mereka panik karena Renggis pingsan dan membawa wanita itu ke rumah sakit kota.


“Ikannya mati, nanti sore beli ya. Mas engga berangkat kerja?”


Azka yang sudah rapi dengan seragamnya melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya.


“Iya ini Mas langsung berangkat. Kamu istirahat, jangan lupa makan. Jangan sampe drop lagi. Mama ke Jogja tadi subuh, balik ke sini lusa katanya.”


Irene menyerngit bingung, “kok engga bilang aku? Ngapain ke Jogja? Sama Ayah?”


“Iya sama Ayah. Aku berangkat ya,” Azka mengecup pipi putranya dan kening Irene mesra sebelum berangkat bekerja.


Sembari menunggu si kembar dan Angga pulang sekolah, Irene menemani Jay mewarnai bukunya di kamar. Pengasuh yang baru saja bekerja itu bernama Nana. Usianya masih 22 tahun, wajahnya pun sangat manis.


Irene membiarkan pengasuh itu istirahat sebentar karena wanita itu ingin menghabiskan waktu berdua dengan putra sambungnya. Hari sudah semakin siang, Irene pun mulai mengantuk setelah minum obat.


“Jay, bobok yuk sama bunda. Mewarnainya dilanjut besok lagi. Sini,” Irene memeluk balita itu sembari menepuk-nepuk pelan pantatnya. Tidak perlu waktu lama, mereka pun tertidur.


o0o


Keluarga Azka sedang pergi bersama untuk membeli ikan seperti keinginan Jay. Namun Angga memilih untuk tinggal di rumah karena capek baru saja pulang sekolah.


“Mau yang mana sayang?” tanya Irene lembut.


Jay menunjuk pada ikan ****** berwarna merah. Sedangkan si kembar juga sedang sibuk memilih-milih ikan yang akan dibeli mereka.


“Yang itu cantik ekornya.” Irene terpesona dengan ikan pilihan Jay.


“Bunda mau ****** juga?” Azka berbisik di dekat telinga Irene, matanya memancarkan sorot jahil.


Memang dasar otak Irene kotor, wanita itu langsung mengerti maksud Azka yang sebenarnya.

__ADS_1



...ada yang kagen dede Jay 🥰🥰...


__ADS_2