Jodoh Pak Lurah

Jodoh Pak Lurah
Panggilan


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju Karanganyar, tidak banyak pembicaraan di antara Irene dan Azka. Mood Irene buruk karena sebelum pulang dirinya harus beradu mulut dengan neneknya.


Ibu dari ayahnya itu selalu menjelekkan mamanya, sehingga membuat Irene tersulut emosi. Sejak dulu mamanya tidak pernah dihargai di keluarga besar ayahnya. Dahulu pernikahan kedua orang tuanya tidak mendapatkan restu, namun mereka nekat untuk tetap melanjutkan pernikahan itu.


Sebelum melahirkan Irene, mamanya pernah dua kali mengandung bayi laki-laki namun keguguran. Mendengar kehamilan menantunya, neneknya sangat gembira, tapi semua berubah ketika bayi itu meninggal di dalam kandungan.


Yang ayah dan nenek Irene inginkan adalah penerus laki-laki, tapi dikehamilan selanjutnya bayi perempuanlah yang mereka dapatkan. Menjadi putri tunggal sama sekali tidak membuat Irene bahagia.


“Dek Irene mau mampir dulu?” tanya Azka ketika mereka sampai di sekitar Solo Square Mall.


“Hmm kalo saya engga Pak, tapi kalo Bapak mau mampir kemana dulu engga papa.”


“Jadi engga papa ini mampir makan dulu? Kebetulan saya belum makan siang.”


“Engga papa Pak.” Irene menatap Azka yang tampak rapi menggunakan kemeja Batik.


“Kalo saya boleh tau, Bapak ada keperluan apa di Jogja? Kok rapi banget.”


“Kondangan Dek Irene. Ini mau makan di dalem mall atau cari tempat makan di pinggir jalan aja?”


“Kalau pinggir jalan aja gimana Pak? Soalnya kalau harus masuk ke mall ribet.”


Mereka pun memutuskan untuk mampir makan di restoran yang mereka lewati. Azka memperhatikan wajah wanita yang sedang menikmati selat solo, ingin rasanya bertanya ada masalah apa pada Irene. Tapi terkesan lancang, apalagi mereka tidak sedekat itu.


Namun Azka merasa tidak nyaman melihat wajah murung Irene. Berbeda saat pria itu mengantarkan ke Stasiun Balapan bersama anak-anaknya, Irene nampak gembira. Wanita itu asik mengobrol dan bercanda dengan keempat anaknya.


Merasa diperhatikan Irene mengangkat wajahnya, tatapan mata keduanya bertemu. Beberapa detik mereka saling memandang dalam diam. Azka menemukan tatapan sendu Irene yang membuatnya tertegun.


“Dek Irene engga papa?”


“Hahh?” Irene baru tersadar dari adegan saling menatap itu.


“Maaf kalau saya lancang.”


“Saya engga papa kok Pak. Hmm Bapak bisa panggil saya Irene, engga usah pakai Mbak aja.”


“Kalau gitu Irene juga bisa panggil saya Azka, engga usah pakai Pak.” Wanita itu merinding ketika Azka menyebutnya namanya dengan nada lembut.

__ADS_1


“Loh engga sopan dong Pak Lurah. Lagian bapak kan Pak Lurah.” Tolak Irene.


“Ya udah kalau begitu terserah dipanggil apa aja, asal jangan Pak atau Bapak. Saya berasa tua banget.”


Lahhh kan memang udah tua. Lagian kalau bukan Pak atau Bapak, terus manggil apaaa???


“Terus saya harus manggil apa? Mas Lurah? Tapi kan warga lain pada manggil Pak Lurah, masak saya manggil Mas.” Protes Irene.


“Mas Azka aja kalau begitu.”


Rengganis terbelangak, merasa geli harus mengganti panggilan Pak Lurah dengan Mas Azka.


“Ini Bapak bercanda kan?”


“Serius lah.”


“Pak Lurah, apa kata warga lain kalau dengar saya manggil Mas Azka?”


Tanya Irene gemas. Sebenarnya ada apa dengan Pak Lurah ini, apa pria itu salah makan? Mengapa tiba-tiba bertingkah seperti ini.


Bulu kuduk Irene meremang mendengar bagaimana lembutnya Pak Lurah menyebut namanya. Waittt, memang kenapa kalau Irene dekat dengan anak-anak Pak Lurah?


o0o


Selesai makan mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah yang masih jauh. Diam-diam Azka melirik Irene, pria itu tidak bisa menahan diri untuk menyuarakan isi hatinya karena sejak sepuluh menit yang lalu Irene berusaha untuk tidak tertidur.


“Kenapa punggung joknya engga dimundurkan saja? Biar kamu bisa tidur.”


“Dan biarin hmmmm…Mas nyetir sendirian?” Irene agak kikuk ketika harus memanggil Mas.


“Saya engga masalah, kasian kayaknya kamu nahan ngantuk dari tadi.”


“Habis makan, kenyang. Jadinya malah ngantuk. Mending Mas ajak saya ngobrol biar engga ngantuk.” Mungkin karena setengah sadar Irene bisa berbicara sesantai itu dengan Pak Lurah.


“Kamu rencananya lama tinggal di Karanganyar?”


Rengganis menghadap Azka yang masih sibuk menyetir, wanita itu dapat melihat bakal janggut yang menghiasi rahang tegasnya. Wanita itu menggigit bibirnya, tangannya gatal ingin merasakan jambang itu mengenai kulitnya.

__ADS_1


Kulit tangan maksudnyaaa


“Rengganis? Kamu udah ngantuk banget ya?” Azka tertawa kecil ketika Irene sedang menghadap dirinya namun tidak menjawab pertanyaannya. Pria itu mengira Irene sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya.


“Engga kok,” Irene menggelengkan kepala agar kembali waras “Belum tau Mas, kebetulan saya udah resign dari tempat kerja. Rencananya mau buka usaha di sini.”


“Usaha apa kalau boleh tau?”


“Caffee atau rumah makan gitu, ini baru nyari lahan di daerah Kemuning.”


Azka terdiam, tampak memikirkan sesuatu. Irene menyukai raut wajah pria itu ketika sedang berpikit. Tampak sexy.


“Kebetulan teman saya punya bangunan bekas restoran di daerah Kemuning. Tempatnya strategis, bangunannya juga masih bagus. Di jual karena dia gulung tikar dan pindah ke Kalimantan. Kalau kamu tertarik nanti bisa saya beri nomornya.”


“Wah boleh Pak,” Azka langsung menatap Irene “ehh Mas maksudnya. Ohh iya, anak-anak sama siapa Mas di rumah?”


“Saya titipin ke neneknya. Kebetulan pengasuhnya juga resign. Belum sempet nyari lagi.”


“Kalo belum dapet, saya bisa bantu jagain anak-anak. Saya kan pengannguran ini.”


“Nanti ngerepotin kamu lagi.”


“Engga papa kali Mas, nanti Jay anter ke rumah aja kalau Mas kerja. Terus si kembar pulang sekolah bisa main ke rumah juga. Angga juga bisa sekalian.”


Karena sudah tidak tahan, akhirnya Irene jatuh tertidur. Ia masih menghadap Azka, melihat Irene tertidur pria itu menyampirkan jaket yang sebelumnya diletakkan di kursi belakang untuk menjadi selimut Irene.


Merasa nyaman, Irene semakin mengetatkan jaket Azka dan menghirup aroma maskulin pria itu. Azka tersenyum melihat wanita itu mengendus jaketnya.


Dua jam kemudian mereka sampai di depan rumah. Azka memperhatikan wajah Irene yang tampak damai dalam tidurnya. Beberapa helai rambut hitam itu menutupi wajah Irene yang tanpa polesan make up.


Tangan Azka gatal untuk menyibakkan rambut itu agar ia dapat leluasa memandangi alis tebal, bulu mata lentik, hidung mancung yang di ujungnya terdapat satu jerawat kecil, dan bibir merona yang sedikit terbuka.


Saat akan menyentuh wajah itu, pintu mobilnya diketuj dari luar.


Tokk…tokk…tokk


Di luar sana tampak si kembar yang meloncat-loncat girang melihat mobil Ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2