
Dari segala hal yang menjengkelkan di muka bumi ini, wanita di depan Azka merupakan salah satunya. Mira dengan riasan tebal dan lipstick merah batanya menenteng paper bag yang Azka duga berisi makanan, seperti biasanya.
“Pak Lurah, kebetulan saya tadi nganterin saudara yang mau ngurus nikah. Jadi mampir dulu ke sini, ini makan siang buat Bapak..”
Mira, wanita 32 tahun itu meletakkan paper bag di meja kerja Azka. Memang saat ini sudah waktunya istirahat makan siang, wanita itu duduk di seberangnya sembari mengeluarkan satu persatu isi yang ada di dalam paper bag.
“Sebelumnya terima kasih Mbak, sudah membawakan ini. Tapi mungkin lain kali tidak usah repot-repot begini.”
“Saya engga repot kok, malah seneng bisa masakin Bapak.” Mira menjawab dengan malu-malu.
Karena sudah lelah menolak setiap wanita itu membawakan makan siang, Azka pasrah menerima kotak makan yang sudah lengkap dengan sayur dan lauknya.
“Tapi memang saudara Mbak Mira engga nungguin ini?”
Bukannya tidak tahu terima kasih, tapi Azka harap Mira segera pulang jadi mereka tidak perlu makan bersama.
“Saudara saya sudah pulang duluan Pak, jadi kita bisa makan siang bareng.” Pupus sudah harapan Azka untuk mengusir wanita ini.
Saat ini Azka sudah sampai tahap ingin membenturkan kepalanya ke meja kerjanya yang digunakan untuk mereka makan. Mira sedari tadi tidak berhenti bicara sambil mengunyah makanannya.
Wanita matang itu bercerita banyak hal, tapi tidak ada yang masuk ke kepala Azka. Pria itu masih berusaha untuk menghormatinya, meskipun jika boleh jujur ia ingin sekali mengusir Mira dari ruangannya.
Banyak gosip yang menyebar jika mereka memiliki hubungan. Padahal Azka tidak berminat untuk menjalin hubungan dengan Mira, meskipun wanita itu cantik dan berpendidikan. Namun Azka tidak menyukai wanita yang terlalu agresif, wanita itu malah membuat Azka tidak nyaman.
Sedangkan Mira memang sudah lama menaruh hati pada Lurah di tempatnya tinggal itu.
Meskipun duda tapi pria itu tampak gagah dan menawan, Mira tidak keberatan jika harus menjadi istri sekaligus ibu dari empat orang anak.
Ia pikir tidak masalah memiliki anak banyak, ia bisa mempekerjakan banyak pengasuh. Apalagi dirinya tidak akan hisup kekurangan karena perkebunan Azka ada dimana-mana. Pria itu menjadi juragan sayuran, yang menstock sayuran dan buah yang ada di mall ataupun supermarket-supermarket besar.
...o0o...
“Kok mukamu kusut begitu?”
__ADS_1
Irene terperanjat dari lamunannya. Leon menatap wanita itu dengan mata birunya. Leon yang bersedia membantunya untuk membuka usaha rumah makan. Pria itu rela terbang dari Bali ke Solo, hanya untuk membantunya.
Wanita itu memutuskan untuk membuka rumah mkan dari pada caffee karena minat masyarakat sekitar untuk nongkrong tidak terlalu tinggi. Tidak kampus maupun sekolah yang dekat dengan lokasinya membuka usaha.
Oleh karena itu Irene membuka rumah makan “Tentang Rasa”. Dengan pemandangan hamparan kebun teh yang meanjakan mata, wanita itu berharap rumah makannya akan ramai dikunjungi masyarakat sekitar ataupun para wisatawan Kemuning.
Wisatawan yang lelah setelah berkunjung ke Candi Cetho, Candi Sukuh, air terjun bisa mampir untuk mengisi perutnya di “Tentang Rasa”.
“Aku bingung mau nyari chefnya.”
“Kenapa engga Mama aja?” Leon memang sudah bersahabat dengan Irene sejak SMP, bahkan pria itu terbiasa memanggil Mama pada ibu Irene.
“Mama kan sibuk ngurus kateringnya yang di Jakarta.”
“Iya juga ya. Tapi kan bisa minta tolong Mama buat cari chef, pasti Mama punya banyak kenalan.”
“Bener juga ya,” Irene segera menghubungi mamanya.
Leon membuka semua jendela agar udara segar dapat masuk ke dalam ruangan. Bangunan yang Irene sewa lokasinya strategis dan masih bagus. Mereka tidak perlu banyak merenovasinya.
“Mana Leon? Udah lupa sama Mama kali yaaa, sebulan lebih engga telepon.”
Mendengar namanya disebut Leon segera mendekati Irene. Pria itu dapat melihat wajah mama Irene memnuhi layar laptop.
“Mana ada Leon lupa sama Mama. Kemarin kan Aku ke Sulawesi, jalan ke hutan-hitan. Susah jaringan Ma.”
“Mama kira kamu udah ilang di hutan. Ngapain coba liburan kok ke hutan? Mama khawatir."
Wanita paruh baya itu sudah menganggap Leon putranya sendiri. Wanita itu tahu jika anak itu sejak kecil ditinggal kedua orang tuanya ke Belanda. Sedangkan Leon ditinggal di Jakarta hanya dengan kakeknya.
“Seru tau Ma! Aku berburu babi, berburu tikus hutan, terus liat upacara Rambu Solo, banyak deh.”
“Kamu kayak engga ada makanan lain aja, ngapain berburu babi sama tikus? Itu daging ayam, daging sapi, daging kambing aja banyak!”
__ADS_1
“Seru aja Ma ikutan warga lokal sana berburu. Mama apa kabar? Leon kangen loh.”
Akhirnya video call siang itu di isi oleh cerita Leon saat liburan di Sulawesi dan juga curhatan mama Irene yang tinggal sendirian di Jakarta serta harus mengurus usaha cateringnya.
Irene tersenyum menatap Leon yang sedang tertawa saat menceritakan pengalaman lucunya ketika berburu babi dan menggendong babi itu di pundaknya. Wanita itu senang melihat sahabatnya dapat menikmati hidup dan bahagia.
Langit di luar tampak indah, semburat jingga menghiasi langit sore itu. Irene takjub menatap pemandangan sunset dari rumah makannya, Leon mendekat merangkul bahu wanita itu.
Irene menyandarkan kepalanya ke bahu Leon. Mereka hanya diam menikmati saat-saat matahari kembali keperaduannya. Wanita itu menghembuskan napas, entahlah ia merasa banyak yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini.
Kesehatan eyangnya juga semakin menurun, penyakit jantung yang diderita eyangnya membuat Irene was-was. Kemarin wanita itu mengantar eyang kontrol ke rumah sakit, dan penjelasan dokter kemarin membuatnya gelisah.
Setelah matahari benar-benar tenggelam, Irene mendongak untuk melihat wajah Leon.
“Beneran engga mau nginep di rumah Eyang aja?”
“Sayang udah booking hotel seminggu. Ini aku anter kamu pulang dulu yuk, keburu malem.”
Irene pun menyerah untuk membujuk Leon menginap di rumah eyangnya. Wanita itu hanya berpikir lebih baik Leon menginap di rumahnya yang dekat dengan rumah makan, dari pada menginap di hotel Solo.
Perjalanan dari hotel ke rumah makan memakan waktu satu jam lebih. Bahkan Leon harus menyewa mobil selama di sini.
“Kalo gitu kamu pake mobil Eyang aja, jadi engga usah sewa mobil gini.”
“Engga papa, nanti kalo mobil Eyang mau dipake gimana? Udah engga papa, agian aku masih mampu kalo cuma sewa mobil.”
“Sombong amat!” Irene menabok lengan Leon karena sebal dengan wajah tengil pria itu.
Setelah menutup semua jendela dan mengunci pintu, mereka segera meninggalkan rumah makan. Perjalanan menuju rumah eyang tidak terlalu jauh, mungkin hanya sekitar lima belas menit.
Irene membuka pintu mobil untuk keluar, ketika mereka sudah sampai di halaman rumah eyang.
“Hati-hati yaa. Inget jangan ngebut, kalo udah sampe hotel kabarin aku.”
__ADS_1
“Siap nyonya. Titip salam buat Eyang, bilangin maaf engga mampir soalnya keburu malem.”
“Iya nanti aku sampein. Bye! Makasih buat hari ini." Rengganis melambaikan tangan, melepas kepergian Leon.