Jodoh Pak Lurah

Jodoh Pak Lurah
Keseharian Buk lurah


__ADS_3

Azka menatap istri dan anak-anaknya yang sibuk belajar di ruang tengah. Memang minggu ini adalah minggu ujian akhir semester untuk anak-anaknya. Angga memilih untuk belajar di kamarnya sendiri. Remaja itu memang tidak bisa konsentrasi jika belajar bersama adik adiknya. Karena mereka pasti mengganggunya.


Azka baru saja pulang dari mengurus perkebunannya. Pria itu selepas pulang dari kelurahan langsung menuju perkebunannnya, karena sebentar lagi musim panen. Banyak yang harus pria itu siapkan.


“Assalamualaikum.”


“Ayah!”


Dewa dan Kula meninggalkan bukunya, memilih berlari memeluk Azka. Dengan langkah kecilnya Jay mengikuti kakak kakaknya.


“Yahhh!” panggil balita itu.


Mereka bergelayut di tubuh tinggi Azka, untung saja pria itu cukup kuat sehingga tidak tumbang.


“Ayah kotor habis dari kebun. Mau mandi dulu, sana sama Bunda, dilanjut lagi belajarnya.”


Irene berjalan mendekati suaminya, mengambil alih Jay ke gendongannya. Sedangkan Dewa dan Kula menurut untuk melanjutkan belajar. Setelah memberikan beberapa soal untuk anak kembarnya latihan dan buku mewarnai untuk Jay, Irene menyusul suaminya ke kamar.


“Mas udah ambil baju ganti?” teriak Irene dari luar kamar mandi.


“Belum!” Azka balas berteriak.


Irene berdecak tanpa sadar karena kebiasaan suaminya yang tidak berganti pakaian di kamar mandi. Pria itu keluar dari kamar mandi hanya dengan selembar anduk yang dililitkan di pinggangnya.


Wanita itu awalnya tidak menyangka jika suaminya memiliki perut kotak-kotak. Memang badan suaminya tinggi dan memiliki otot bosep yang lumayan menggoda, tapi ia tidak tahu jika perut pria itu sixpack.


Diserahkannya kaos dan training yang biasa digunakan Azka untuk tidur. Irene sudah akan meminggalkan kamar mereka, agar suaminya itu berganti pakaian terlebih dahulu.


“Mau kemana?”


“Keluar. Mau panasin sayur buat Mas makan dulu.”


“Sini dulu. Barengan aja keluarnya.”


Tanpa canggung, Azka melepas lilitan handuknya. Irene segera memalingkan wajahnya yang memerah, Azka tidak dapat menahan diri untuk tidak tertawa.


“Ihh Mas sengaja godain aku kan!?” Irene protes.


“Habis kamu lucu banget mukanya.”


“Mbok ya kalo mau ganti baju di kamar mandi. Masak engga malu diliatin.”


“Loh yang liat paling juga kamu, istri Mas sendiri. Kenapa harus malu coba.”


Irene mendengus, memilih keluar dari kamar mereka setelah Azka selesai berganti pakaian.


Wanita itu memanaskan makanan yang tadi dimasaknya. Azka tersenyum memperhatikan istrinya yang tampak cekatan di dapur.


“Kamu sama anak-anak udah makan?”


“Udah, tadi katanya kami suruh makan duluan. Irene kira pulangnya bakal malem banget, kalau tau jam segini Mas udah pulang mending tadi Irene nungguin Mas aja.”

__ADS_1


“Engga papa, kebetulan tadi cepet selesai urursannya. Itu udah dikocok?”


“Hahh apanya yang dikocok?” tanya Irene tidak paham.


Wanita itu sedang minum beberapa obat yang harus dihabiskannya. Ditangannya terdapat obat yang berbentuk sirup.


“Itu loh sirupnya udah kamu kocok dulu?”


“Ohhh kirain apa yang dikocok.” Azka melotot melihat tatapan jahil istrinya. “Udah dikocok. Mas Azka mau coba?”


“Hahh?” Azka melongo mendengar pertanyaan istrinya.


“Coba sirupnya maksudnya, bukan coba dikocokin Irene.”


Wanita itu tersenyum penuh kemenangan menyaksikan wajah Azka, memang hanya pria itu saja yang dapat membuat salah tingkah.


...o0o...


“Bun kata google pada tahun 1774 Joseph Priestley berhasil menemukan unsur oksigen. Nah kalo oksigen baru ditemukan pada tahun itu, terus dulu manusia bernapasnya pakai apa? Masak air? Apa manusia dulu engga bernapas? Terus gimana dong?” Dewa tampak bingung dengan informasi yang baru saja didapatkannya.


Sedangkan Azka dan Irene tidak bisa menahan tawanya mendengar pertanyaan polos anaknya. Kula menggelenggelengkan kepala, prihatin dengan kembarannnya itu.


Dengan sabar ia memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kembarannya itu. Irene terkejut mendengar jawaban Kula, anak 10 tahun itu ternyata mengetahui jawabannya dan dapat menjelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana agar dimengerti kembarannya.


“Kok Kula bisa pinter kayak gitu kamu kasih makan apa sih Mas?” tanya Irene heran.


“Tak kasih makan buku.”


     


“Assalamuaikum Pak Lurah!”


Keluarga Azka dikejutkan oleh pintu yang diketuk berkali-kali dan terdengar ramai di depan rumah mereka. Angga yang merasa terganggu pun sampai turun ke lantai bawah untuk melihat ada keributan apa.


 “Pake jaket dulu Bun kalo mau keluar.” Azka mengingatkan istrinya yang malam ini menggunakan baju tidur tanpa lengan.


 Irene segera mengambil jaket dan mengikuti suaminya yang lebih dulu membukakan pintu rumah. Saat sampai di depan rumah wanita itu melihat segerombolan warga yang nampak marah.


 “Bun di rumah aja sama anak-anak.”


 Azka bersama rombongan pun pergi meninggalkan rumah mereka. Irene bingung apa yang sebenarnya terjadi. Melihat masih ada dua orang yang tidak ikut pergi, wanita itu pun bertanya pada mereka.


“Ada apa Bu tadi?”


      


“Ohh itu Bu Lurah ada yang mesum di gardu pos kampling RT 06. Masih kecil, anak SMP kalo engga SMA, ehhh ternyata malah gancet. Hampir dikeroyok itu tadi, makannya panggil Pak Lurah.”


“Itu warga asli sini Bu?”


   

__ADS_1


“Cowoknya asli dusun sini, tapi kalo yang cewek kurang tau Bu. Soalnya mereka ditanyain malah nangis. Gancetnya belum bisa dipisahin. Emang dasar bocah ya Bu, mesum ga tau tempat. Katanya di sana kan banyak penunggunya juga.”


 Karena sudah malam kedua warga itu kembali ke rumahnya masing-masing. Irene pun masuk rumah, namun saat berbalik ia dikejutkan oleh si kembar dan Angga yang ternyata sejak tadi mencoba menguping. Sedangkan anak bungsunya sudah tertidur pulas di karpet ruang tamu.


“Ayah kemana bun?” dewa bertanya penasaran.


 “Keluar sebentar. Udah yuk bobo, belajarnya bisa dilanjut besok sebelum subuh atau habis subuh.”


Hampir tengah malam ketika pintu depan diketuk, Irene bergegas membukakan pintu untuk suaminya.


    


“Loh Mas tadi engga pakai jaket?”


“Lupa, engga sempet ambil juga. Mas mau bersih-bersih dulu yaa.”


 Ketika Azka bersih-bersih, Irene membuat minuman hangat untuk suaminya. Udara malam ini begitu dingin karena tadi sempat hujan, pasti pria itu kedinginan.


“Ini mas diminum.” Irene menyodorkan minuman hangat.


“Kok susu bukan kopi?”


 “Udah malem, lebih enakan nyusu kan dari pada ngopi.”


Wanita itu menata bantal dan bersiap untuk tidur. Sebenarnya wanita itu sudah sangat mengantuk sejak tadi, tapi menahan diri untuk tidak tidur karena ingat Azka tidak membawa kunci cadangan.


“Kamu jangan mancing gitu ah.” dengus Azka.


“Ckk siapa juga yang mancing. Tadi kenapa Mas? Beneran gancet ya? Kok bisa sih? Kata Ibu-ibu tadi karena di sana banyak penunggunya?”


“Udah di urus semuanya. Banyak yang mengkaitkan gancet dengan hal-hal mistis, padahal gancet itu bisa dijelaskan dalam dunia medis. Kondisi ini disebut pe**s captivus, hal ini terjadi ketika otot-otot panggul bawah wanita menegang terlalu kuat sampai pe*is. Nah akibatnya penih sulit untuk dikeluarkan. Tadi saya ke sana udah bisa dipisahin kok.”


Setelah menghabiskan susu buatan istrinya dan menyikat giginya, Azka ikut merebahkan tubuhnya di samping Irene.


“Mas,”


“Iya?” Azka berbaring menyamping menghadap istrinya.


“Emang aku sama sekali engga menarik di mata Mas?”


“Kok tanya begitu?”


“Habis udah seminggu lebih menikah, masak cuma cium kening aja.” Azka tertawa melihat wajah cemberut wanita di depannnya. Setelah reda dari tawanya pria itu menjawab, “kan awal kita menikah kamu masih berduka. Ehh malah kemarin drop masuk rumah sakit. Mas mau kamu nyaman, sayang, dan bisa percaya sama Mas.”


“Jadi Mas engga minta nges**s bukan karena engga minat sama Irene?”


“Mas lebih senang kalau kamu nyebut bercinta dari pada s***. Bercinta itu bukan hanya tentang memasukkan pe*** ke dalam v***na sayang. Namun kenyamanan dan rasa saling percaya, dan kasih sayang itu sangat penting. Kita melakukan hubungan intim bukan hanya mengejar orgasm*, tapi membangun juga sebuah koneksi.”


Irene memandang lekat Azka, lalu menelan ludah dan menjilat bibir. Tubuhnya membeku ketika Azka mengulurkan tangan untuk mengeluskan jarinya pada bibir yang basah karena ia menjilatnya tadi.


Azka menggeram ketika bibir wanita itu terbuka dan membuat ujung jarinya masuk ke dalam mulut. Lidah wanita itu membelai jari Azka dan menghisapnya pelan. Apa yang dilakukan Irene merupakan sebuat jawaban tersirat yang membuat Azka berbuka puasa setelah beberapa tahun menduda.

__ADS_1


__ADS_2