Jodoh Pak Lurah

Jodoh Pak Lurah
Hadiah ulang tahun


__ADS_3

Irene sedang asik merias wajahnya, wanita itu siang nanti harus berbelanja keperluan Restoran yang habis. Ia mengajak anak-anaknya karena mereka sedang libur sekolah.


“Yang, ambilin handuk dong. Lupa bawa,” teriak Azka dari dalam kamar mandi.


Irene pun mengambilkan handuk baru untuk suaminnya, Azka muncul dari pintu kamar mandi mengulurkan tangannya. Saat Irene memberikan handuk itu, Azka malah menarik tangan wanita itu agar ikut masuk ke kamar mandi.


Mengetahui kebiasaan mesum suaminya, Irene berpegangan pada pintu. Namun Azka menarik tangannya lebih kencang sehingga Irene ikut terseret masuk.


“Ihh engga mau Mas, aku buru-buru ke restoran.”


Azka memerangkap istrinya di dinding, wanita itu berada di kungkungannya. Irene tidak dapat bergerak, Azka mengunci pergerakannya. Tangan pria itu berada di sisi tubuhnya, sedangkan tubuh kekar itu mulai menghimpitnya.


“Ck kok dandan cantik banget sih?” Azka berdecak menatap wajah Irene yang hari ini ia poles dengan make up.


 Wanita itu menyempatkan diri untuk memakai primer, cushion, blush on coral, bedak, mascara, dan lipstick senada dengan blush on nya. Pagi ini Irene mencatok dan mengcurly ujung rambutnya, agar tampak manis.


“Nanti kan mau pergi sama anak-anak.”


Irene mencoba menghindari Azka yang mulai menyosor bibirnya. Bukannya tidak mau dicium, tapi ia tidak mengenakan lipstick yang kissproof. Pasti dandanannya akan berantakan jika suaminya sudah menciumnya. Sedangkan saat ini sudah siang, ia harus segera ke restoran. Begitu juga suaminya harus berangkat kerja.


“Mas kamu kebiasaan deh, cepet sana pakai baju. Keburu telat kerja.”


“Bentar, cium dulu.” Irene mengecup kilat bibir Azka.


“Ck yang serius dong ciumnya.”


Irene melepaskan diri ketika Azka lengah. Wanita itu segera menyambar tasnya, dan keluar dari kamarnya.


“Ayah kenapa Bun?” bisik Angga yang melihat wajah keruh Azka.


Irene yang sebelumnya sibuk menata meja makan, mengangkat kepalanya untuk melihat suaminya.


“Kurang sajen kayaknya.” Angga pun tertawa kecil mendengar jawaban Irene.


o0o


 


Irene membeli kebutuhan untuk restorannya. Azka menawarkan diri untuk mengantarnya tapi karena mendesak dan segera dibutuhkan Irene harus pergi siang itu juga. Wanita itu juga tidak tega jika Azka harus mengantarkannya selepas pulang kerja, pasti pria itu lelah.


Sena yang sejak pagi sudah berada di restorannya akhirnya memaksa untuk mengantar putrinya itu. Pria itu sudah sembuh dari sakitnya, momen ini juga ia pergunakan untuk lebih dekat dengan cucu-cucunya. Mbak Nana tetap tinggal di restoran karena Ira ikut menemani cucunya.


“Ke daerah mana dulu?”


“Ke Pasar Klewer dulu aja lah Yah.”

__ADS_1


“Nanti Ayah sama Mama mau nunggu di mobil atau ditempat makan aja ya. Engga usah ikut masuk ntar capek.”


“Mama ya ikut masuk tho, emang kamu bisa nawar sendirian.” Irene meringis, ia memang paling malas jika harus menawar harga.


“Terus nanti masak Jay ikut masuk?”


“Udah anak-anak biar sama Ayah aja nanti.”


“Emang Ayah bisa jagain si kembar sama Jay?” Irene khawatir Ayahnya yang sudah mulai berumur akan kerepotan menghadapi anak-anaknya yang terlalu aktif.


“Kan ada Angga Bun.” Irene pun mengangguk, ia lupa jika Angga sudah mahir menahlukkan adik-adiknya itu.


Irene dan Ira memasuki Pasar Klewer, mereka mencari barang-barang yang diperlukan hingga matahari perlahan mulai turun.


“Bunda kok lama banget sih?” gerutu Dewa yang sudah menghabiskan dua mangkuk sup buah.


“Coba Eyang telepon,” sedari tadi Sena asik berbincang dengan cucu-cucunya.


Belum juga sambungan teleponnya diangkat, Irene dan Ira sudah berjalan mendekati mereka.


“Anak-anak udah makan nasi Yah?”


“Udah. Itu si kecil baru aja tidur kekenyangan.”


“Kalian mau makan dulu? Mau pesan apa?”


“Bun mau ke Timezone!” Irene memang menjanjikan untuk bermain ke Timezone salah satu mall. Ia mengira belanja tidak akan membutuhkan banyak waktu. Namun ternyata perkiraannya meleset.


“Ya udah ayo. Makan di mall aja Yah, sekalian nungguin mereka maen.”


Setelah salat magrib di mushola mall, mereka memutuskan untuk kembali ke restoran. Saat mereka tiba, restoran ramai dengan pengunjung. Irene menggendong Jay keluar dari mobil, anak itu sepertinya kecapekan bermain di Timezone.


“Loh tidur?”


“Engga, kecapekan main Timezone.” Azka yang sore itu tampak segar dengan rambut yang masih basah dan kaos polo, “kok ke sini?”


“Habisnya kalian engga pulang-pulang,” pria itu mengambil alih Jay ke gendongannya.


“Mbak Irene, sore tadi ada pesanannya Pak Sena datang.”


Dahi Irene mengkerut, mengapa ayahnya mengirim pesanan ke restorannya. Wanita itu mendengar teriakan histeris putranya dari samping restoran, ternyata si kembar, Angga, dan ayahnya sedang ada di sana.


“Kenapa teriak-teriak?”


“Eyang beliin Mas Angga motor, terus beliin Dewa sana Kula sepeda Bun!” Dewa menjawab pertanyaan Irene, bocah itu mendekati sepeda dan menatapnya dengan takjub.

__ADS_1


Irene melongo melihat hadiah ayahnya untuk anak-anaknya. Ia tidak mengira ayahnya akan memberikan hadiah.


“Bilang apa sama Eyang?” Azka mengingatkan anak-anaknya, takut terlalu senang hingga lupa berterima kasih.


“Terima kasih Eyang!!!” Dewa dan Kula berteriak sembari memeluk Sena.        


Sena terkejut menerima pelukan dari cucu-cucunya. Pria itu mengelus lembut kepala mereka.


“Terima kasih Eyang hadiahnya.” Angga terlalu gengsi untuk ikut memeluk Sena seperti yang dilakukan adik-adiknya.


“Sama-sama. Belajar yang rajin yaa, semoga kuliahnya lancar.”


“Aminn…” jawab mereka semua.


“Kok kamu malah nangis Bun?” Azka bertanya ketika melihat istrinya menyeka air matanya. Mata wanita itu juga terlihat memerah menahan tangis.


“Kamu juga pengen Ayah kasih hadiah?” Sena bertanya untuk menggoda anaknya.


Irene menghapus air matanya, memberengut karena godaan ayahnya. Wanita itu merasa terharu karena ayahnya ternyata dapat menerima anak-anak Azka dan menganggap mereka cucunya sendiri.


“Udah jangan nangis kamu mau apa, nanti Ayah beliin.” ujar Sena.


“Yah, kenapa beliin Angga motor yang kayak gitu?” Irene melihat jenis motor yang dibelikan Sena. Pria itu membelikan motor trail yang memiliki tempat duduk tidak terlalu lebar.


“Kayaknya anak muda pada suka yang kayak gitu. Memang kenapa? Angga engga suka motornya?”


Angga langsung menggelengkan kepalanya, tentu saja dia menerima apa saja yang Eyangnya itu berikan. Apalagi ayahnya hingga saat ini belum mau membelikan remaja itu motor.


“Aku suka motornya kok Eyang.”


“Dewa juga suka! Nanti Dewa diboncengin ya Mas?” bocah sepuluh tahun itu memberikan tatapan polosnya sembari mengedip-ngedipkan matanya. Memang anak Azka ini pandai beracting.


“Nanti kalo Mas Angga udah punya SIM.” Azka yang menjawab pertanyaan dari Dewa.


“Loh Eyang kira udah punya SIM.”


“Baru tujuh belas tahun dua minggu lagi Yah.”


“Kok udah masuk kuliah?”


“Dulu pernah akselerasi waktu masih sekolah di Jakarta.”


Sena tersenyum, menatap cucunya kagum. Ternyata Angga memiliki otak yang cerdas, bahkan menurut pengamatannya remaja itu juga sudah dewasa dan memiliki rasa tanggung jawab. Ia dapat mengurus adik-adiknya dengan baik.


“Wah ternyata cucu Eyang pinter banget ya. Kalo gitu ini buat hadiah kelulusan dan ulang tahun sekalian yaa.” Angga pun tersipu malu mendengar pujian Eyangnya.

__ADS_1


__ADS_2