Jodoh Pak Lurah

Jodoh Pak Lurah
Komitmen


__ADS_3

Setiap manusia memiliki goal masing-masing di dalam hidupnya. Ada yang goalnya membeli mobil, membeli pesawat pribadi, memiliki rumah bertingkat-tingkat, keliling dunia, menikah, memiliki banyak anak, dan sebagainya.


Namun menikah tidak pernah menjadi pilihan hidup Irene. Wanita itu memilih untuk tidak menikah sejak remaja, tepatnya sejak ia menyaksikan dan mendengarkan setiap pertengkaran orang tuanya.


Drama di dalam keluarga besarnya membuat wanita itu mantap dengan keputusannya untuk tidak menikah. Mantan mertua mamanya tidak pernah menghargai wanita yang telah melahirkannya itu. Ayahnya terlalu sibuk menjaga nama baiknya dan keluarga darah birunya.


Irene tersadar ketika mamanya menganggil-manggilnya dari seberang telepon. Mamanya itu menyuruhnya untuk mengunjungi keluarga dari ayahnya yang tinggal di Yogyakarta.


"Lain kali aja ya Ma ke sananya. Irene lagi males ketemu mereka. Lagian aku engga tahu kapan terakhir kali mobil Eyang di service. Engga berani ke Jogja pake mobil itu."


"Kan bisa naik kereta. Nanti minta tolong dianter ke stasiun Solo Balapan."


"Iya besok deh."


"Jangan besak-besok aja kamu itu! Udah lama kamu itu engga nengok Eyang Darmi sama Ayah kamu."


"Lagian mereka juga udah ga perduli lagi sama Irene, kenapa sih pake ke sana segala."


Irene mendumel, wanita itu tahu keluarga ayahnya memang tidak terlalu peduli kehidupannya dan mamanya. Bahkan sudah 2 bulan mereka tidak saling mengubungi.


"Irene! Mama engga suka ya kalo kamu kayak gitu. Gimanapun kamu harus tetap menghormati mereka. Kamu itu anak satu-satunya Ayah, dia sudah tua sekarang. Kamu harus sering-sering telpon dia, tanya kabarnya. Jangan jadi anak durhaka, mama engga suka ya!"


"Iya iyaa. Ya udah Irene tutup, mau mandi. Assalamualaikum."


Belum sempat mamanya menjawab salam, Irene sudah terlebih dahulu menutup sambungan mereka.


Irene tengah mengoleskan lotion ke seluruh kulit tubuhnya, kebiasaannya setelah mandi. Tanpa sengaja wanita itu melihat seekor ular yang melata di kamar mandinya.


Wanita itu mematung, tidak berani bergerak karena takut si ular menyadari keberadaannya. Ular itu melata menuju bath up yang memang jarang dipakai oleh penghuni rumah karena lebih sering menggunakan shower.


Irene berjalan perlahan keluar, menutup rapat pintu kamar mandi agar ular itu tidak kabur dan sembunyi di tempat-tempat lainnya. Sialnya saat ini Irene sedang sendirian di rumah, ia pun tidak terlalu mengenal tetangga-tetangganya. Ia bingung akan meminta bantuan pada siapa.


Mata wanita itu melebar, senang menemukan Azka yang sepertinya baru saja pulang dari Kelurahan. Pria itu masih di atas motornya, seragam kerjanya dilapisi oleh jaket kulit. Saat pria itu melepas helm full facenya, Irene memanggilnya sembari berlari tanpa menggunakan alas kaki.

__ADS_1


"Pak Lurah!"


"Kenapa Mbak?"


"Itu di rumah saya ada ular. Saya boleh minta tolong buat amanin ularnya?"


Mereka berjalan menuju rumah Eyang.


"Ularnya dimana Mbak?"


"Di kamar mandi, udah saya kunciin biar engga kemana-mana. Apa saya telpon pemadam kebakaran aja ya Pak. Takut nanti Bapak malah kenapa-napa." Irene khawatir jika Azka harus menghadapi ular itu sendirian.


"Engga usah, pemadam kebakaran jauh dari sini. Mbak engga usah khawatir." Memang desa mereka jauh dari kota, untuk mengcapai desa ini harus mendaki gunung melewati lembah.


"Tapi kalau sesuatu yang buruk terjadi, saya..." belum sempat menyelesaikan kalimatnya Irene langsung memotongnya.


"Bapak jangan ngomong gitu dong!" tanpa sadar Irene sedikit merengek karena digoda Pak Lurah yang saat ini tertawa renyah. Mungkin wanita itu akan terpesona dengan suara merdu tawa Azka jika situasinya tidak sedang khawatir seperti ini.


Dengan peralatan seadanya Azka mengamankan ular dengan panjang lebih dari dua meter itu. Pria itu segera menghubungi orang untuk membawa pergi dan melepaskannya di hutan yang jauh dari pemukiman warga.


Karena terburu-buru, ternyata Azka belum sempat melepaskan helm miliknya sedangkan Irene tadi berlari tanpa menggunakan alas kaki karena terlanjur panik. Mereka berdua tertawa menyadari kebodohan keduanya.


"Ini pak silahkan diminum." Irene membuatkan kopi hitam untuk Azka setelah ular itu sudah pergi dari rumahnya.


Saat ini mereka sedang duduk berdua di teras rumah. Sebenarnya Irene tidak mengetahui apakah Azka mengkonsumsi kopi, namun di dapurnya hanya tinggal kopi, susu, dan air putih. 


"Terima kasih Mbak, engga usah repot-repot sebenarnya."


"Engga repot kok Pak, tapi maaf kebetulan di dapur cuma ada kopi, susu, sama air putih. Tadi saya lupa nawarin dulu, atau Bapak mau susu aja?"


Ketika Irene menawarkan susu, tanpa bisa dicegah ia teringat pada bra yang tergantung di kamar mandi tadi. Azka tidak berniat cabul, tapi mata pria itu menangkap pemandangan bra maroon dengan ukuran 36 C.


Tidak, tentu saja Azka tidak mengecheck secara langsung ukuran bra yang sudah dapat ditebak milik siapa. Tidak mungkin Azkang itu milik Eyang.

__ADS_1


...o0o...


Selepas mandi Azka keluar kamar, menyapa anak-anaknya yang sedang berkumpul di ruang tamu. Si kembar tampak serius mengerjakan pekerjaan rumahnya didampingi Angga.


Azka bersyukur memiliki Angga yang dewasa dan menyayangi adik-adiknya. Remaja itu tidak pernah malu menjaga adiknya atau bahkan mengajaknya bermain bersama.


"Ayahh..." panggil Kula manja melihat Azka duduk di kursi sembari membawa Jay ke pangkuannya.


"Ayah kita mau beli es krim, boleh?" Dewa menatap Azka dengan wajah memohon.


"Dewa sama Kula udah mandi?" tanya Azka.


"Udah, tadi mandi bareng adek juga." jawab Kula, bocah itu sebelumnya tengkurap di karpet saat mengerjakan pekerjaan rumahnya kini mendekat ke ayahnya.


"PR-nya udah selesai?"


"Tinggal dikiiittttt lagi, dilanjutin nanti habis beli es krim aja Yah!"


"No. Selesaikan PR-nya dulu. Habis itu kita pergi es krim."


"Es klim yahhh!" teriak Jay mencoba berdiri, memajat tubuh Azka agar diajak pergi membeli es krim kesukaannya.


"Adik engga boleh makan es krim nanti pilek. Wleee" Goda Dewa


Paham dengan ucapan kakaknya, putra bungsu dari Azka itu mencebikkan bibirnya. Matanya berkaca-kaca, tidak lama kemudia tangisnya pecah.


"Cup... cup... cup. Iya nanti kita beli es krim. Ayah juga beli buat adik nanti, mau yang rasa apa? Strawberry atau coklat?" Azka mencoba menenangkan Jay.


"Coklat Yahhh! Adek mau empat Ayah!" Namun Jay hanya mengangkat dua jari tangannya.


"Adek itu dua bukan empat! Empat itu kayak gini jarinya!" Kula memberikan contoh kepada adiknya.


"Jangan banyak-banyak, beli satu-satu aja. Nanti pada pilek." Mendengar perkataan Azka, Jay, Dewa, dan Kula merengut. Padahal mereka sudah berencana memenuhi freezer kulkas dengan es krim.

__ADS_1


__ADS_2