Jodoh Pak Lurah

Jodoh Pak Lurah
Awas ada ular


__ADS_3

Pagi itu setelah salat subuh di masjid dekat rumahnya, Azka bergegas untuk memerikasa perkebunannya. Pria itu harus pandai-pandai membagi waktu bekerja di kelurahan dan mengurus perkebunannya. Apalagi menjelang musin panen banyak yang harus dipersiapkan.


Biasanya pria itu akan menyempatkan waktu ke kebun sebelum berangkat ke Kelurahan atau setelah pulang kerja. Dia harus bekerja keras untuk menghidupi keluarganya, apalagi saat ini ia memiliki empat anak. Azka menginginkan anaknya hidup berkecukupan,dan dapat menempuh pendidikan setinggi-tingginya.


“Kayaknya rambut Ayah udah panjang deh,” tegur Irene ketika anak-anaknya sarapan sedangkan Azka baru saja pulang dari kebun.


“Rambut yang mana Bun?” tanya Azka dengan berbisik karena tidak ingin didengar anak-anaknya.


Irene melotot, tidak habis pikir dengan suaminya yang sangat mesum itu. Mimpi apa ia bisa menikahi pria itu. Wanita itu tidak menyangka Azka memiliki pikiran yang sangat mesum dan suka sekali menggoda dirinya.


“Ck…nanti deh Bunda potongin.”


“Emang Bunda bisa potong rambut?”


“Bisa, dulu sering potong rambutnya Leon.”


“Kamu emang dekat banget ya sama Leon?”


Irene yang sebelumnya sibuk memotong buah segar langsung mengangkat wajahnya untuk menatap Azka. Wanita itu terkejut ketika Azka menyebutnya dengan ‘kamu’ karena mereka sepakat akan memanggil ayah-bunda ketika sedang bersama anak-anaknya.


“Kan temen SMP, udah kenal bertahun-tahun. Kebetulan dari dulu dia sering main ke rumah juga.”


Azka menghembuskan napas, merasa tidak nyaman dengan kedekatan Irene dengan pria yang dianggap sahabat oleh istrinya itu. Pada kenyataannya Azka dapat melihat Leon memiliki perasaan untuk istrinya, ia dapat melihat dari tatapan Leon pada Irene.


“Masih di Solo dia?”


“Kemarin katanya habis muncak ke Semeru, minggu depan ke sini lagi mau muncak ke Lawu.”


Irene memberikan potongan buah pada anak-anaknya. Sebagai ibu baru, ia memiliki PR agar anak-anaknya bisa mengkonsumsi sayur. Semua dari anak pertama sampai yang bungsu tidak ada yang mau makan sayur.


Meskipun tidak menyukai sayur, untungnya mereka masih mau memakan buah-buahan.


“Bun hari ini bekalnya apa?” tanya Dewa denga antusias, anak itu memang sangat suka makan.


Semenjak memiliki ‘bunda’ si kembar sangat senang membawa bekal dari rumah. Padahal sebelumnya mereka lebih menyukai jajan dari kantin sekolah.

__ADS_1


“Ini,” Irene membawakan dua kotal bekal ke meja makan.


Irene membentuk nasi dengan cetakan lucu, lalu menghiasnya dengan brokoli tepung yang seolah-olah menjadi rambut. Wanita itu juga menggambar wajah dengan saos, selain itu ia juga memasakkan udang asam manis yang sudah dikupas kulitnya.


“Ihh lucuu!” Dewa menatap bekal itu dengan gemas, “tapi kenapa ada brokoli? Dewa kan engga suka sayur.”


“Biar sehat, harus dihabiskan yaa.”


“Engga mau brokolinya Bunda, pahit!” Dewa bergidik ngeri membayangkan harus memakan brokoli.


“Hehh kata siapa?"


“Kata Dewa, sayuran warna hijau itu pahit. Kayak sayur yang sering dibeli Mbak Nana di Bu Wit.”


Dahulu pengasuhnya itu memang sering membeli sayur dan lauk di warung Bu Wit dekat rumah mereka.


“Engga semua sayuran hijau itu pahit sayang. Yang dibeli Mbak Nana itu sayur daun pepaya makannya pahit.”


Irene mengelus kepala putranya, “Banyak sayur yang engga pahit, contohnya brokoli, kangkung, bayam, kubis, wortel, masih banyak lagi. Sayuran itu juga bikin sehat dan kuat.”


“Itu kenapa engga dimakan tomat sama timunnya? Padahal Bunda udah capek-capek ngupas dan motong, sedih Bunda kalo engga dihabisin.”


Kula langsung mengambil timun yang ada di piringnya, bocah itu mengunyahnya dengan pelan. Melihat kembarannya, Dewa pun mengikutinya. Mereka tidak ingin Irene sedih karena masakannya tidak dihabiskan.


Azka tersenyum bangga menatap istrinya yang berhasil membuat anak-anaknya memakan sayuran.


“Angga kamu juga harus makan sayuran.”


“Iya Angga makan sayur kok Bun.”


...o0o...


 Azka memasuki kantor Kelurahan dengan senyum lebar di wajahnya, pria itu menyapa beberapa pegawai yang lebih dulu tiba di kantor. Pria itu menjinjing tas bekal buatan Irene. Pagi tadi ia sedikit merengek karena hanya si kembar yang dibuatkan bekal, pria itu merasa iri.


Irene pun bersedia membuatkan bekal untuk suaminya, tapi tidak di hias seperti milik si kembar. Untuk pertama kalinya Azka membawa bekal makan siang, biasanya pria itu beli di warung dekat Kelurahan. Bahkan sering melewatkan makan siang.

__ADS_1


Pria itu senang karena saat ini ada yang memperhatikannya, apalagi Irene juga mengurus anak-anaknya dengan baik meskipun hanya anak sambungnya.


“Wah Pak Lurah sekarang tiap pagi rambutnya basah terus yaa.” goda Pak Camat yang sedang duduk di ruang tunggu.


“Iya, sekarang juga lebih sumringah, bahagia banget banget ya penganten baru.” tambah Bu Siti.


“Iya kan saya mandi, jadi rambutnya basah Pak Camat.”


Azka salah tingkah, wajahnya terlihat memerah karena malu. Memang akhir-akhir ini dirinya selalu rajin mandi besar setiap pagi. Begitu pula pagi ini, sebelum mandi  dirinya bermain bersama Irene. Anak-anak bahkan sampai mengomel karena hampir telat berangkat ke sekolah.


Saat makan siang Azka dikejutkan oleh kedatangan tamu yang tidak diundang. Mira datang membawa paperbag, wanita itu tersenyum genit membuat Azka bergidik. Ia merutuki kedatangan Mira siang itu.


“Selamat siang Pak Lurah, ini saya bawakan oleh-oleh dari Bintan. Kebetulan saya baru pulang dari sana kemarin.”


Azka tersenyum canggung, pria itu sudah kehabisan cara untuk menolak semua perhatian Mira. Apalagi saat ini ia sudah menikah.


“Pak ayo makan siang bareng. Saya masak ayam serundeng.”


“Mohon maaf Mbak Mira, kebetulan istri saya sudah membawakan bekal ini.”


Mira tercengang, “istriii?”


“Iya, saya sudah menikah kemarin.”


“Pak Lurah bohong kan? Kok saya engga tahu?”


“Memang baru akad, resepsinya satu bulan lagi.”


“Kok Pak Lurah tega sama saya! Saya kan selama ini cinta sama Pak Lurah, saya bawakan makan siap berharap Pak Lurah membalas perasaan saya.”


Mira berteriak dengan keras sehingga beberapa staf dapat mendengar pembicaraan mereka meskipun berada di dalam ruangan Azka.


“Saya minta maaf karena tidak dapat membalas perasaan Mbak Mira,” belum sempat menyelesaikan perkataannya Mira melayangkan tangannnya untuk menampar pipi Azka.


Azka tidak menyangka tamparan wanita itu ternnyata begitu kuat sehingga pipinya saat ini terasa panas dan sedikit perih. Pria itu pikir mungkin karena cincin yang memenuhi jari-jari Mira menggores kulitnya.

__ADS_1


Mira berbalik lalu meninggalkan Kelurahan dengan wajah yang berderai air mata. Azka pun meninta maaf pada staf atas keributan yang baru saja terjadi


__ADS_2