Jodoh Pak Lurah

Jodoh Pak Lurah
cemburu


__ADS_3

Azka heran ketika tidak menemukan istrinya di ruang depan atau pun di dapur sore itu. Biasanya Irene sepulang dari rumah makan akan bersantai bersama anak-anaknya. Di ruang tamu hanya ada si kembar yang menonton TV dan Jay yang bermain ditemani Mbak Nana.


Angga yang baru saja pulang dari sekolah pun segera naik ke kamarnya. Remaja itu pulang sore karena harus mengikuti les persiapan ujian.


“Bunda mana?” tanya Azka sembari melepas sepatu dan kaos kakinya.


“Di kamar Pak, katanya pusing tadi. Makannya istirahat habis pulang dari rumah makan.”


Mendengar jawaban pengasuh anaknya, Azka bergegas menghampiri istrinya. Semenjak menikah memang banyak yang dikerjakan istrinya. Wanita itu sedang merintis rumah makan dibantu oleh ibu mertuanya. Belum lagi pagi-pagi sebelum berangkat ke restoran Irene akan memasak dan menyiapkan bekal untuk anak-anaknya.


Meskipun memiliki pengasuh dan ART yang bertugas berish-bersih rumah, kadang Irene pun masih tetap mencuci baju ataupun mencuci piring.


“Loh kirain tidur. Kata Mbak Nana kamu lagi pusing ya?” Azka mengelus kepala istrinya yang saat ini sedang berbaring memeluk guling.


“Iya, tapi engga bisa tidur dari tadi.”


“Bentar, Mas tak mandi dulu.”


Azka mengecup kening istrinya sebelum menuju kamar mandi.


Setelah selesai mandi Azka bergabung dengan istrinya di ranjang kamar mereka. Irene menyingkirkan guling yang sebelumnya ia peluk, wanita itu berganti memeluk suaminya.


Irene melingkarkan tangannya ke pinggang pria itu, menggunakan dada bidang Azka untuk bantal. Wanita itu senang mendengar detak jantung Azka. Ia menarik napas dan menghembuskannya. Melihat istrinya yang sepertinya sedang banyak pikiran, Azka pun bertanya.


“Kenapa, hmmm?”


Azka membelai kepala istrinya, memang beberapa hari ini Irene tampak banyak pikiran. Ketika pria itu bertanya, ia hanya akan menjawab ‘tidak apa-apa’. Pria itu membiarkan, agar Irene bercerita tanpa ia paksa. Namun ternyata hingga saat ini Irene menyimpan masalahnya sendirian.


“Sayang, komunikasi itu menjadi salah satu aspek penting dalam sebuah pernikahan ataupun berumah tangga. Kepercayaan, kasih sayang, dan kejujuran merupakan sebuah pondasi dalam berhubungan suami istri.”


Irene mendongak untuk menatap suaminya, pria itu melanjutkan kalimatnya.


“Dengan menunjukkan rasa kasih sayang atau kepercayaan membuat hubungan semakin kuat. Mas engga bisa baca pikiran kamu karena bukan cenayang, oleh karena itu komunikasi penting biar Mas dapat memahami kamu dan apa yang kamu pengenin.”


“Irene minta maaf yaa, Irene bukannya engga mau terbuka sama Mas.”


“Iya engga papa, sekarang cerita. Apa yang ada di sini?” Azka menunjuk kepala Irene,


“sampe-sampe kamu pusing begini?”


“Jadi gini, Eyang Darmi minta resepsi diselenggarakan di Jogja malah Eyang pengennya di Plataran Heritage Borobudur. Sedangkan untuk bulan depan hari Sabtu dan Minggu udah full. Aku mikirnya kalo di Borobudur kejauhan, kalo acara pagi banget nanti mau engga mau keluarga atau pun tamu undangan terpaksanya banyak yang harus nginep di hotel.”

__ADS_1


Azka masih mendengarkan cerita istrinya, meskipun ia terkejut ternyata yang membuat wanita itu pusing mengenai resepsi pernikahan mereka. Dari pada membagi bebannya dengan Azka, Irene memilih untuk memikirkan semua itu sendirian.


“Bukannya lebih baik di hotel Jogja aja, yang deket. Terus Eyang juga maunya pake upacara adat. Bukannya aku engga mau melestarikan budaya atau gimana ya Mas, tapi pake adat itu ribet. Make up nya pake paes yang item-item itu. Belum lagi bajunya. Pengennya internasional pokoknya sesimple mungkin. Lagian kan kita udah akad. Tapi Eyang engga mau, pengennya di Borobudur terus pake adat Jogja. Bakal habis banyak banget Mas.”


“Irene,” Azka mencoba sabar menghadapi istri mudanya itu.  


“Iyaa?”


“Ini resepsi pernikahan kita, sudah sepatutnya kamu cerita sama Mas kalau ada apa-apa. Jangan semua kamu pikirin sendiri, Mas ini ada buat teman kamu berbagi. Entah itu berbagi suka mau pun duka.”


“Irene kasian sama Mas, dari kemaren kayaknya sibuk ngurus masalah dana penyelewengan yang ada di Kelurahan. Belum lagi ngurusin panen. Irene engga mau nambah beban Mas.” Irene merasa bersalah.


Memang beberapa waktu belakangan Azka sedang disibukkan dengan masalah penyelewengan dana yang dilakukan oleh salah satu staff Kelurahan.


“Mas engga papa. Kan ini gunanya menikah, saling berbagi, bertukar pikiran. Sekarang Mas tanya, kamu maunya resepsi yang kayak gimana?”       


“Mau nya yang sederhana aja, mungkin garden party. Engga mau yang mewah-mewah.”


“Kamu engga mau mewah bukan karena takut Mas engga bisa biayaain kan?”


“Bukan gitu. Sayang aja duitnya kalo dihabisin buat pesta resepsi, sedangkan kita masih punya empat anak. Lagian kita udah sah. Mending uangnya ditabung buat biaya pendidikan mereka kann?” tanya Irene meminta persetujuan.


“Kalo Mas nurut sama kamu, pengen pesta megah. Insyaallah Mas masih sanggup, kalo mau sederhana juga engga papa. Tapi kamu kan anak satu-satunya Mama sama Ayah, emang engga papa nikah cuma sederhana?”


“Ayah di Jogja?”


 “Lagi di sini kata Mama. Engga tau kok sekarang sering banget ada urusan di sini. Malah akhir-akhir ini sering mampir ke restoran. Aneh banget.” Azka mencubit hidung istrinya.


“Aduhh, kok dipites sih hidung aku!”


“Lah kamu ini yang aneh. Orang Ayah pengen nengok anak perempuannya kok malah dibilang aneh!” Azka tertawa, sedangkan Irene masih mengelus hidungnya yang sepertinya memerah.


“Ya bukannya gitu. Kayaknya CLBK deh sama Mama. Ke restoran itu cuma ngerecokin Mama aja. Udah gitu sekarang malah dengan suka rela mengajukan diri jadi supir Mama. Masak Ayah beli rumah di Karangpandan, buat apa cobaa?”


“Emang kamu engga seneng kalo Ayah sana Mama rujuk?”


“Aku seneng kalo Mama juga seneng. Lagian dari dulu banyak yang deketin Mama, tapi selalu ditolak. Padahal ada yang pengusaha batu Azka, kan lumayan ya jadi istrinya, jadi Mama engga perlu capek-capek usaha catering buat menghidupi aku. Tapi Mama malah milih banting tulang merintis usaha dari nol, dari pada ongkang-ongkang sambil kipasan jadi istri pengusaha batu Azka.”


Azka yang gemas dengan istrinya pun memeluk Irene dengan erat sembari menghujani puncak kepala wanita itu dengan ciuman.     


     

__ADS_1


“Ihh Mas, jangan kenceng-kenceng meluknya. Remuk nanti badan aku.”


“Janji ya, kalau ada apa apa cerita sama Mas. Mengenai pernikahan nanti kita bahas sama Mama, Ayah, dan Eyang. Nanti kita sekalian silaturahmi ke rumah baru Ayah. Ehh ayah tinggal sendirian di Karanpandan?”


“Iyaa, makannya tiap hari Mama pasti bawain makanan. Biasanya Ayah tinggal panasin aja kalo mau makan.”


“Mama baik banget ya, meskipun udah pisah tapi masih perhatian sama Ayah.”


Irene menyerngit, mencoba mencerna kalimat suaminya.


“Emang Mas juga berharap diperhatiin juga sama mantan Mas?” tanya Irene.


“Loh kok malah ke sana jadinya. Kan ini ngomongin Mama sama Ayah Sayang.”


“Mas masih ngarep balikan sama mantan?”


“Ya engga lah. Kenapa Mas nikahin kamu kalo mau balikan sama mantan istri Mas.”


Irene melepas pelukannya, memilih untuk membelakangi suaminya itu.


Memang Azka tidak pernah membahas mengenai mantan istrinya. Irene hanya mengetahui jika mereka berpisah karena mantan istri Azka berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.


Namun hingga saat ini mantan istrinya itu belum juga menikah lagi, oleh karena itu Irene sedikit was was. Jangan-jangan Mantan istrinya itu masih berharap pada Azka.


“Masak Mas dipunggungi kayak gini sih.”


Azka memeluk istrinya dari belakang, mencoba membujuk istrinya agar tidak ngambek. Pria itu mencium pundak dan pipi Irene.


“Jangan ngambek, Mas salah apa coba?”


“Engga, Mas engga salah. Aku yang salah, awas ihh. Jangan cium-cium.”  Irene mencoba menolak ciuman suaminya.


“Mas udah engga ada apa apa sama Mayang.


Lagian cinta Mas udah mentok di kamu.”


Irene terkejut, untuk pertama kalinya Azka mengungkapkan cintanya. Wajah Irene memanas, jantungnya berdebar dengan kencang. Irene langsung berbalik menghadap suaminya.


“Mas emang cinta aku?”


“Ya pasti lah. Mas cinta, sayang banget sama kamu. Makasih ya udah mau jadi pendamping hidup Mas, udah nerima duda dengan empat anak. Udah rawat anak-anak, meskipun bukan anak kandung kamu.”

__ADS_1


Azka mengecup dahi Irene, mata wanita itu terpejam saat Azka akan mencium kedua kelopak matanya. Pria itu melanjutkan ciumannya di kedua pipi, ujung hidung, sebagai penutup dikecup lalu disesapnya bibir Irene.


__ADS_2