Jodoh Pak Lurah

Jodoh Pak Lurah
Keluarga


__ADS_3

Azka meninggalkan ruang keluarga, pria itu menaiki tangga menuju rooftop rumahnya yang dijadikan tempat bersantai. Di sana terdapat ayunan yang dihiasi tanaman-tanaman hijau dan bunga.


“Jay mewarnai sama Mas Angga ya, Bunda mau nyusul Ayah dulu.”


Irene pun meminta tolong pada putra sulungnya untuk menjaga si bungsu. Wanita itu segera menyusul suaminya ke rooftop. Wanita itu menemukan suaminya yang sedang duduk di ayunan nenatap gunung Lawu yang tampak gagah.


Azka pura-pura tidak menyadari kedatangan istrinya, bahkan tidak menoleh ketika Irene ikut duduk di ayunan bersamanya.


“Mas Azka kenapa?”


“Engga kenapa-napa.” Irene menahan diri untuk tidak mendengus, suaminya itu saat ini mirip dengan wanita yang sedang PMS saja.


“Kalo engga ada apa-apa kenapa dari tadi diem aja. Lagi ada masalah kah? Sini cerita sama aku.”


Irene menatap mata suaminya, tangannya bergelayut manja pada lengan kekar itu. Karena sedari tadi tidak direspon oleh suaminya, Renganis menyandarkan kepalanya di pundak pria itu.


Matanya tertutup menahan kantuk karena angin sepoi-sepoi yang mengenai wajahnya.


“Kalo mau tidur di kamar sana.”


“Ihh engga mau tidur, masak sore-sore tidur. Makannya Mas ngomong dong biar aku engga ngantuk, cerita apa aja deh Irene dengerin. Sini cerita,”


“Tadi si kembar cerita, katanya mereka dijemput pake mobilnya Leon. Terus mancing di samping restoran.”


“Iya tadi Leon nawarin buat jemput kembar, kebetulan Jay juga lagi rewel engga mau aku tinggal.”


“Mas engga suka.” wajah Azka menampilkan raut tidak sukanya.


“Hah engga suka apa?”


“Ya itu, kamu jemput anak-anak bareng Leon. Pasti kayak gambaran keluarga bahagia, kita aja engga pernah barengan jemput anak-anak. Terus kayaknya anak-anak seneng banget bisa mancing bareng Leon. Dari dulu mereka ngajakin mancing, tapi Mas terlalu sibuk. Jadi belum sempet.”


“Mas cemburu sama Leon?” Irene menahan senyumnya.


“Mas engga cemburu.” Azka menyangkal-nya.


“Ya udah kalo gitu, berarti kalo aku ikutan muncak ke Lawu berdua sama Leon engga masalah dong.”


Azka langsung menatap tajam istrinya, “kamu yang bener aja dong! Emang mau naik gunung cuma berduaan gitu? Terus anak-anak gimana? Mas gimana?”


“Cuma beberapa hari kok, lagian dari dulu Leon suka ngajak naik gunung. Dulu pertama kali naik gunung ke Prau, asik ternyata.”


Wajah Azka memerah menahan cemburu, membayangkan istrinya mendaki bersama pria lain. Meskipun mereka bersahabat, namun mana ada persahabatan pria dan wanita yang sama sekali tidak melibatkan cinta. Mungkin bukan dari kedua pihak, tapi bisa jadi salah satu dari mereka menyimpan perasaan.

__ADS_1


Sedangkan Irene tertawa puas, ketika berhasil memanasi suaminya. Habisnya wanita itu sebal ketika Azka tidak mengaku jika cemburu. Sekalian saja Irene memanas-manasi pria itu.


Padahal mana tega dia meninggalkan anak-anaknya untuk naik gunung. Lusa pun anak-anaknya sudah penerimaan raport. Irene duduk di pangkuan suaminya, wanita itu memperhatikan wajah kesal Azka.


“Kamu beneran mau pergi muncak bareng Leon?”


“Ngaku dulu dong kalo Mas cemburu kannn?”


goda Irene, wanita itu menangkup wajah Azka memaksanya untuk menatap matanya.


“Iya wajar Mas cemburu. Istrinya pergi berduaan naik gunung bareng pria lain.”


“Bercanda Mas, mana tega aku ninggalin kamu sama anak-anak.” Irene mencuri satu kecupan di bibir Azka.


Azka menghela napas lega, ternyata istrinya tidak sungguhan. Pria itu melingkarkan tangannya, memeluk tubuh istrinya yang saat ini tengah duduk nyaman di pangkuannya.


“Kurang lama ciumnya.” Azka memajukan bibirnya, memberi kode Irene untuk menciumnya kembali.


“Ihh engga mau. Dasar mesum.”


“Loh yang cium-cium duluan siapa? Kok Mas yang dibilang mesum.” Irene menyemburkan tawanya.


o0o


Malam itu, keluarga Azka sedang berkumpul di rooftop sembari membakar jagung manis dan sosis. Mulai besok anak-anak sudah mulai libur sekolah, sedangkan Angga juga diterima di salah satu kampus di Yogyakarta.


“Mas Angga beneran mantep di UGM? Engga mau nyoba seleksi mandiri UI? Ibu kamu kayaknya masih ngebet kamu kuliah di sana.” tanya Azka ketika sibuk membalik jagung sedangkan Angga mengipasinya.


Irene sedang duduk di ayunan dengan Jay yang menempel padanya mirip koala. Balita itu menggunakan baju hangat dan beanie yang membuatnya mirip kepompong. Irene tidak ingin anaknya masuk angin karena kedinginan.


“Engga Yah, aku mau belajar hidup mandiri. Lagian Jogja kan deket, jadi kalo kangen adek-adek gampang ntar.”


“Mas Angga mau cari kos kapan jadinya?” tanya Irene, pasalnya remaja itu izin untuk mencari kos.


“Minggu depan aja Bun, aku cari sendiri engga papa kok. Nanti bisa naik kereta ke Jogjanya.”


Irene berdecak, mana tega ia membiarkan remaja itu mencari kos sendirian. Sebelumnya Irene menawarkan untuk tinggal di salah satu rumah Ayahnya yang tidak ditinggali. Namun remaja itu menolak, pasti Angga merasa tidak nyaman, dan Irene pun memakluminya.


“Nanti biar dianter aja. Mas bisa kan? Hari sabtu aja ke sana, nginep sehari.” Irene bertanya pada suaminya.


“Bisa kok. Sekalian liburan keluarga, di dekat UGM banyak apartemen engga bun?”


“Yang didekat parkiran UGM itu ada, deket banget malahan. Bangunan baru kok.”

__ADS_1


“Dari pada ngekos mending sekalian beli apartemen aja.”


“Emang engga kemahalan Yah? Apalagi deket kampus.”


“Engga papa sekalian investasi. Nanti kalo kamu lulus kan bisa di sewain lagi. Peminatnya pasti banyak.”


Azka mengangkat jagung dan sosis yang sudah dibakar dan meletakkannya di piring. Sedangkan si kembar sedang sibuk mengolesi sosil dan jagung dengan bumbu yang sebelumnya sudah Irene siapkan.


Irene yang memiliki ide acara bakar-bakar malam in untuk menyambut liburan sekolah. Kebetulan sore tadi beberapa pekerja perkebunan membawa hasil panen jagung manis dan banyak stock sosis di dapurnya. Sehingga setelah sore tadi ia menyiapkan bahan bahan, sedangkan masalah bakar membakar ia serahkan kepada Angga dan Azka.


“Dewa minta tolong ini kasih ke Bunda sama adek.” Azka mengulurkan hasil bakaran kepada Dewa.


“Siap Ayah.” Dewa berlagak memberi hormat pada Ayahnya.


“Ohh iya Yah, Bun...tadi Ibu telpon katanya liburan ini mau diajak jalan-jalan. Tapi Ibu belum ngasih tau tanggal berapa.”


“Beneran Mas!?” Dewa melompat-lompat kegirangan, anak itu merindukan ibunya.


Semenjak perceraian Azka dan Mayang, memang Angga tinggal bersama Azka. Sedangkan si kembar dan Jay bersama Mayang, tapi setahun yang lalu Mayang mengantarkan si kembar dan Jay ke rumahnya. Wanita itu beralasan akan tinggal di luar negeri, dan hidupnya belum pasti, oleh karena itu ia berpikir lebih baik semua anak-anaknya tinggal bersama Azka.


Azka murka, bukan karena ia tidak mau mengurus ke empat anaknya. Pria itu malah sangat senang dapat bersama anak-anaknya lagi. Namun pria itu marah karena Mayang seolah-olah menelantarkan anak mereka. Bahkan wanita itu jarang menghubungi anak-anaknya setahun belakangan. Mungkin hanya sebulan sekali.


Angga memahami keadaan orang tuanya, oleh karena itu sebenarnya ia tidak terlalu antusias liburan bersama dengan ibunya. Namun si kembar tetap antusias dan selalu mengharapkan dapatkembali bertemu ibunya lagi.


“Ibu tadi bilang baru stay di Jogja. Katanya mau jemput ke sini, tapi kalo minggu depan Ayah mau nganter aku ke Jogja buat cari kos, mungkin bisa sekalian ketemu Ibu. Biar engga usah bolak-balik.”


“Ya udah nanti kamu telpon Ibu lagi ya.”


Irene tertegun menatap wajah Azka yang mengeras. Wanita itu sedikit banyak tahu kisah rumah tangga Azka dahulu dari ibu mertuanya. Irene dapat merasakan kemarahan Azka.


“Udah bakarnya, nanti kalo kebanyakan siapa yang ngabisin.” Irene berjalan menuju suaminya.


Meraka membiarkan anak-anaknya menikmati hasil bakar-bakar malam itu duduk bersama di karpet dekat dengan ayunan. Irene mencuri ciuman di pipi Azka, seketika pria itu sadar dari lamunannya.


Wajah yang sebelumnya tampak tegang, seketika melunak melihat senyum manis Irene. Tangan wanita itu merangkul Azka dan mengelus punggung suaminya.


“Jangan tegang gitu ahh. Nih mukanya cemberut, nanti cepet tua. Muncul banyak keriput.” Azka mendengus mendapat ejekan dari istrinya.


“Coba Bun duduk,”


Irene menurut, wanita itu ikut duduk di karpet. Sedangkan Azka mengambil posisi duduk di belakangnya, wanita itu duduk di antara kedua kakinya. Irene pun menyandarkan punggungnya di dada bidang Azka.


Mereka menikmati kebersamaan malam itu, anak-anak asik bermain ular tangga. Sedangkan Azka dan Irene asik berpelukan sambil menatap banyaknya bintang yang menghiasi langit malam.

__ADS_1


Irene menggigit sosis yang sudah berlumuran bumbu, yang di sodorkan suaminya.


“Enakan ini atau sosis Ayah hmm?” Azka berbisik di telinga Irene, hembusan napas pria itu membuat tubuhnya bergidik. Apalagi tangan Azka yang mengelus lekuk pinggangnya dengan gerakan sensual.


__ADS_2