
Irene meringkuk di sofa ruang tamu, perutnya nyeri karena hari pertama datang bulan. Sialnya lagi persediaan pembalutnya tinggal satu, dan mau tidak mau ia harus beranjak untuk membelinya.
Wanita itu keluar dari rumahnya menggunakan training dan tanktop yang dilapisi cardigan. Rambutnya ia cepol berantakan karena sejak bangun tidur belum disisir. Irene meringis kesakitan saat mengeluarkan motor neneknya dari dalam garasi.
Dari kejauhan Angga melihat wajah kesakitan tetangganya itu, ia tambah penasarana melihat Irene yang berjongkok memegangi perutnya. Remaja 16 tahun yang baru saja pulang sekolah itu mendekati Irene.
“Mbak engga papa?”
Irene terkejut menemukan Angga yang berdiri menjulang di depannya. Karena masih merasaka nyeri, Irene mendongak untuk melihat remaja itu.
“Engga papa, cuma nyeri haid aja.”
“Mbak mau keluar?” Remaja itu masih bertanya dengan wajah datar.
“Mau ke warung, tapi nyeri banget ini.”
“Mau beli apa?”
Irene merasa malu untuk menjawab, “pembalut.”
“Ya udah biar aku beliin.” Angga segera berjalan menjauh.
“Angga! Ini uangnya. Kalo ada nanti pilih yang ada sayapnya yaa!”
“Ntar aja gampang. Hmmm.” Remaja itu tidak mengambil uang dari Irene, memilih untuk terus berjalan kaki menuju warung terdekat. Karena Indo maupun Alfamart sangat jauh dari tempat tinggal mereka. Yang ada hanya warung kecil atau toko kelontong. Minimarket terdekat berjarak 5 kilometer, itupun tidak lengkap.
Mereka memang tinggal di daerah agak pelosok, untuk sampai di daerah ini harus mendaki gunung melewati lembah. Jalannya pun begitu curam dan banyak yang rusak. Bahkan banyak jalan yang belum ada di google maps.
Angga datang membawa kantong plastik putih yang menerawang sehingga orang-orang pasti mengetaui isi di dalamnya. Irene merasa tidak enak karena merepotkan anak Pak Lurah itu.
“Makasih banget ya Ngga, ini uangnya. Kembaliannya mmbil aja buat jajan.”
“Engga usah. Aku balik dulu.” Angga menyelonong pulang ke rumahnya.
Irene berlari mengejar remaja yang masih menggunakan seragam putih abu-abunya itu. Tentu saja ia tidak membiarkan remaja itu membayar belanjaannya.
“Udah ini ambil.”
Irene memasukkan uang lima puluh ribuan itu ke dalam kantong seragam Angga. Remaja itu melotot kaget dengan perlakuan Irene. Saat akan mengembalikan uang itu, Irene sudah kembali masuk ke rumah dan mengunci pintu rumah itu.
Wanita itu tersenyum ketika membuka kantong plastik belanjaan, di sana tidak hanya ada pembalut yang bersayap tapi juga minuman yang biasa diminum ketika haid dan juga coklat batang kesukaan Irene.
Irene pikir, mungkin saja Angga sudah berpengalaman menghadapi perempuan sehingga remaja itu mengetahui apa yang dibutuhkan perempuan saat berhalangan.
Beruntung sekali gadis yang menjadi pacar Angga.
...o0o...
Malam itu karena sudah lama tidak keluar bersama, Azka mengajak anaknya untuk makan malam di luar. Pria itu merindukan quality time bersama keluarganya, namun semakin hari pria itu semakin sibuk.
“Yah, aku mau ke sekolah naik motor sendiri.
__ADS_1
“Kamu belum tujuh belas tahun, belum punya SIM juga.” Azka menyuapi Jay yang saat ini ditinggal pengasuhnya pulang kampung karena akan menikah.
“Temen-temen aku banyak yang belum punya SIM tapi udah pada naik motor sendiri.”
“Ayah engga bakal izinin. Tunggu setahun lagi, tes buat SIM dulu.”
“Yah bahkan anak SMP aja udah banyak yang naik motor. Aku udah SMA tapi dilarang-larang.” Angga menaikkan suaranya, membuat si kembar menghentikan kegiatan makannya.
Mereka menatap kakak dan ayah mereka dengan wajah takut-takut. Azka menatap Angga tajam, memang anak sulungnya itu saat ini sudah kelas XII karena mengikuti program akselerasi saat SD dan SMP sewaktu masih tinggal di Jakarta.
“Kamu tahu dalam berkendara itu tidak sembarangan, anak di bawah umur itu belum memiliki mental yang matang. Berkendara tanpa mental yang mumpuni, konsentrasi rentan terganggu. Hal ini bukan hanya berbahaya untuk dirinya sendiri tapi juga orang lain. Apalagi jalan disini terjal dan berkelok-kelok, sabar tunggu satu tahun lagi.”
Angga menunduk, remaja itu merasa bersalah karena sudah menaikkan nada bicara saat berbicara dengan ayahnya. Memang apa yang dilakukan Azka sebenarnya untuk kebaikan anak sulungnya itu.
“Kamu harus berusaha tes buat surat izin mengemudi. Ayah engga bakal biarin kamu nyogok. Lebih baik gagal tes berkali-kali dari pada nyogok.”
“Temen-temenku banyak yang nyogok pake orang dalem. Katanya kalo tes susah.”
“Kamu takut? Buat apa nilai raport 9 dan juara angkatan, tapi tes gitu aja takut.”
Angga mendengus karena perkataan ayahnya, tentu dirinya akan membuktikan pada ayahnya kalau dapat lulus tes surat izin mengemudi tanpa menyogok.
...o0o...
Irene memasukkan baju bridesmaid dan juga peralatan make upnya ke dalam koper. Wanita itu diminta untuk menjadi bridesmaid di pernikahan sahabatnya sewaktu kuliah di Jogja.
Pernikahan akan dilaksanakan di hotel Royal Ambarukmo besok sore, karena tidak ingin terburu-buru Irene memutuskan untuk menginap semalam di hotel tersebut agar memiliki banyak waktu untuk bersiap-siap.
“Beneran Eyang.”
“Ya udah kalo gitu Eyang telepon Om kamu dulu.”
Irene melotot, “ngapain pake telepon Om segala?”
Hubungan Irene dengan Omnya memang tidak terlalu baik, wanita itu kurang menyukai anak bungsu neneknya karena gila harta. Pria itu selalu mengungkit masalah warisan, padahal Eyangnya masih sehat saat ini.
Pria itu takut rumah yang ditinggali Eyang saat ini akan jatuh ke tangan Irene. Memang Irene adalah cucu kesayangan Eyangnya, karena sejak kecil wanita itu lebih dekat dengan Eyang dari pada cucu-cucunya yang lain.
“Biar kamu diantar ke stasiun sama Om.”
“Engga usah Eyang, mending Irene naik ojol aja.” Eyang tertawa sembari menepuk paha cucunya.
“mana ada ojol di sini. Adanya ojek biasa. Tapi engga ada yang sampe ke Stasiun Balapan.”
“Ya udah Irene naik bus aja deh.”
Irene ingat di pasar terdapat terminal bus, memang hanya bus kecil dan tidak ber AC. Tapi lebih baik dia naik bus itu dari pada harus meminta tolong pada Omnya.
“Kamu aja bawa koper kayak gini. Emang kamu engga papa naik bus ndak ada AC nya, penuh sama dagangan ibu-ibu pasar, bahkan mungkin bau keringat dan rokok?”
“Engga papa.” Irene masih teguh dengan pendiriannya.
__ADS_1
Eyang menghembuskan napas pasrah, cucu perempuannya ini memang keras kepala. Wanita tua itu sudah angkat tangan membujuk cucu kesayangannya itu. Irene memilih mandi setelah Eyang meninggalkan kamarnya.
Belum juga Irene selesai mandi, pintu kamar mandi sudah digedor-gedor.
“Irene! Cepetan mandinya!” Teriak Eyang dari luar.
“Irene baru aja masuk kamar mandi Eyang."
Jawab wanita itu masih sibuk menyabuni badannya.
Karena Eyangnya masih mengomel, wanita itu mempercepat kegiatan mandinya.
“Buruan ganti baju, engga usah pake dandan segala.”
“Kenapa sih Eyang?” Tanya Irene gemas karena diburu-buru.
“Kamu bareng Pak Lurah aja. Kebetulan beliau juga mau ke Solo.”
“Engga mau ahh, masak ngerepotin Pak Lurah.”
“Pilih Eyang telepon Om mu atau bareng Pak Lurah?”
Irene pun terpaksa menyetujui maunya Eyang dari pada dia dianterin sama Omnya.
...BTW ...
...Yuk kenalan sama para bontotnya bapak lurah....
...Nama : Muhammad Angga atau bisa dipanggil Mas angga....
...Umur nya 16 yoerobun....
...Definisi incaran kakak kelas pass mos ya gak!...
...Sikembar Dewa & kula...
...Umurnya 10 tahun ...
...Seperti kebanyakan anak kembar pada umumnya, kebayakan mereka suka berantem tapi kalau udah pisah pasti bakal kangen....
...Dan ini anak bontotnya pak lurah gimana gemesh gak?. Namanya Muhammad Jay alamsyah....
...Masih balita dia....
...Kiyowo sumpah...😍😍😍...
__ADS_1
Gimana bibitnya pak lurah top markotop kan hehe...