
Siang itu Irene menjemput si kembar dengan mobil Leon, kebetulan pria itu sedang berkunjung ke restoran sembari melihat perkembangan usaha Irene. Jay pun ikut, sedangkan pengasuhnya tetap tinggal di restoran.
"Hayoo itu siapa Dek?" tanya Irene pada Jay yang duduk di pangkuannya, balita itu pun melonjak-lonjak kegirangan melihat kakaknya.
Mereka masih ada di dalam mobil, karena cuaca siang ini lumayan terik. Melihat anak kembarnya keluar dari sekolah, Irene bergegas keluar dari mobil Leon.
"Sini biar gue gendong aja." Leon mengambil alih Jay.
"Bunda!" teriak si kembar ketika menemukan Irene, mata mereka memicing melihat adik bungsungan berada di gendongan pria asing.
Bahkan mata Dewa melotot dan berkacak pinggang, terlihat menantang Leon. Di tatap mengerikan seperti itu, Leon malah tertawa. Lucu sekali anak kembar Irene ini.
"Salim sini sama Om. Om Leon itu teman Bunda."
Meskipun enggan, si kembar menuruti perintah bundanya. Leon pun sedikit tidak nyaman ketika anak-anak Irene mencium tangannya.
"Ini balik ke restoran lagi?"
"Iya, makan siang di restoran aja yaa?"
Dewa pun mengangguk dengan semangat, anak itu senang bermain di restoran. Karena di samping restoran terdapat sungai kecil yang airnya sangat jernih, biasanya ia akan memancing di sana, meskipun tidak pernah berhasil mendapat ikan.
"Wahh cucu Eyang udah pada pulang." ujar Ira menyambut cucunya, ibu dari Renganis itu keluar dari dapur.
Siang ini restoran ramai karena jam makan siang, belum lagi pesanan nasi box yang harus mereka kirimkan untuk kantor-kantor yang saat ini berlangganan makan siang di restoran Irene.
Meskipun baru saja dibuka restoran Irene sudah ramai, hal ini karena iklan yang dilakukan di media sosial dan suaminya ikut mengiklankan di media sosialnya. Alhasil banyak kenalan Azka yang mengetahui dan langganan di restorannya.
__ADS_1
Selama ini , Ira ikut membantu mengelola restoran. Sedangkan usaha catering yang ada di Jakarta, wanita itu serahkan kepada pegawai kepercayaannya yang sudah bekerja puluhan tahun dengannya. Ia hanya perlu memantau dari jauh.
Setelah mengganti seragam sekolahnya si kembar, Jay, Mbak Nana dan Leon duduk di restoran bagian luar yang memiliki pemandangan sungai. Gemericik aliran sungai begitu menenangkan, tidak salah memang Irene memilih lokasi untuk usahanya.
"Nih makan yang banyak! Leon kamu juga makan yang banyak, sekarang kok malah makin kurus." Ira membawakan makanan untuk cucu-cucunya dan Leon, sedangkan Irene sibuk membantu di dapur.
Wanita itu memilih membawa anak-anaknya ke restoran dari pada meninggalkannya di rumah hanya bersama pengasuhnya. Di sela-sela pekerjaannya, wanita itu sebisa mungkin tetap berkomunikasi dengan anak-anaknya jika sedang tidak repot dan ramai pengunjung.
Anak-anak pun kadang menggunakan ruangannya untuk belajar dan tidur siang. Di ruangan itu disiapkan kasur untuk si kembar dan Jay tidur siang. Sebelum suaminya pulang, Irene berusaha untuk tiba di rumah terlebih dulu dibandingkan Azka.
Ia akan memandikan anak anaknya sekaligus memasak untuk makan malam, atau jika malas memasak akan membawakan makanan dari restoran.
...o0o...
"Mam, jadinya sepakat ya pernikahannya out door. Tapi aku sama Mas Azka masih bingung mau di Hyatt Regency Yogyakarta, Royal Ambarrukmo, atau Grand Ambarrukmo. Kalo Hyatt bagus tapi harganya juga lumayan, agak jauh juga. Kalo out door Royal Ambarrukmo lumayan deket pool-nya. Nah di Grand Ambarrukmo kalo mau itu di rooftop, samping kolam renang juga. Zuppa Soup nya enak yang Grand Ambarrukmo."
"Masak kamu milih tempat nikah cuma gara-gara Zuppa Soup nya enak sih?" Irene pun tertawa, memang wanita itu sangat suka Zuppa Soup.
"Marriott juga nyambung sama Mall Ma." Irene menyebutkan hotel bintang lima lainnya yang ada di Jogja.
"Lha gimana? Kalo Mama manut kamu aja. Kemarin kan Ayah kamu juga bilang terserah mau di mana aja, yang penting kamu seneng."
Beberapa hari yang lalu mereka berdiskusi dengan WO dan sepakat untuk mengadakan resepsi di hotel Yogyakarta. Meskipun Eyang Darmi kurang senang dengan keputusan itu, wanita tua itu masih menginginkan pernikahan adat Jogja. Namun dengan bantuan Ayahnya, Irene dapat melaksanakan pernikahan menggunakan gaun simple dan pesta sedernaha tapi tetap elegan.
"Lah Ayah tumben hari ini engga ke sini Ma?"
"Katanya pusing tadi, paling nanti Mama ke sana sekalian antar makanan sama obat. Habis ngeyel banget, udah tua tapi masih suka perjalanan jauh nyetir sendiri. Padahal dulu biasanya kemana-mana diantar supir."
__ADS_1
"Kan kalo lagi berduaan ngedate sama Mama biar engga ada yang ganggu. Biar romantis gitu loh," goda Irene dengan senyum jailnya.
"Kamu ini yaa," Ira mencubit lengan anaknya, wajah wanita itu merona karena godaan Irene.
"Aduh Maa, sakit tauu!"
"Kamu nanti ikut ke nengok Ayahmu engga?"
"Engga deh, besok aja. Kebetulan nanti ada arisan RT Mam. Nanti Irene tinggal restoran kira-kira jam 3-an engga papa kan Mam?"
"Engga papa. Leon sebenernya nawarin nganterin Mama ke rumah Ayah nanti kalo emang kemaleman."
"Ya udah nginep sana aja kalo kemaleman." Irene tertawa.
"Ngawur kamu itu!"
"Emang Mama engga mau rujuk sama Ayah? Irene kira Ayah sekarang udah berubah, tapi semua keputusan Mama. Irene bahagia kalo Mama bahagia."
Seketika suasana berubah menjadi sedikit sendu, mereka saling bertatapan. Ira mengelus kepala putri satu-satunya itu. Karena Irene lah dirinya menjadi jauh lebih kuat dan bertahan dalam keadaan tersulit di hidupnya.
Saat ini putrinya sudah dewasa dan menikah dengan pria baik yang bertanggung jawab. Ira berharap anaknya dapat hidup bahagia. Wanita itu tidak ingin Irene trauma karena kegagalan pernikahannya.
"Anak Mama udah gede ya sekarang, udah jadi bunda malah." Ira menangkup wajah Irene, matanya memerah menahan tangis.
Ira sudah dua kali kehilangan putranya, putra yang diharapkan keluarga mantan suaminya sebagai penerus. Jika istri atau suami kehilangan pasangan, itu janda atau duda. Jika anak kehilangan orang tuanya itu yatim atau piatu. Namun tidak ada sebutan untuk orang tua yang kehilangan anaknya.
Biasanya anaknya lah yang akan menguburkan orang tuanya, hancur hatinya ketika orang tua harus menguburkan anaknya sendiri. Darah dagingnya yang sudah dikandungnya berbulan-bulan.
__ADS_1
"Makasih ya Ma udah rawat Irene sampai sebesar ini. Maaf kalo Irene sering engga nurut sama Mama. Irene sayang Mama."
...o0o...