
Irene menyapu sisa-sisa make up di wajahnya, menyingkirkannya sampai benar-benar bersih. Wanita itu baru saja pulang dari Solo untuk membeli barang-barang yang dibutuhkannya untuk membuka rumah makan.
Ponselnya mati karena kehabisan baterai, diraihnya charger untuk mengisi daya ponselnya. Eyangnya sepertinya tidak ada di rumah, karena saat wanita itu tiba rumah dalam keadaan gelap gulita. Biasanya sebelum gelap eyang akan menghidupkan lampu-lampu rumah.
“Kak Irene! Kakkkkk!”
Mendengar mendengar teriakan Dewa dan Kula, wanita itu keluar dari kamarnya untuk menghampiri mereka. Di depan pintu rumahnya terdapat Angga dan adik kembarnya.
“Mbak Eyang masuk rumah sakit. Tadi Ayah sama Om Darsa yang nganterin. Mbak disuruh nyusul diantar Om Jati. Bentar lagi Om Jati ke sini.”
Irene masih mencoba mencerna informasi yang baru saja didengarnya. Tiba-tiba saja ia diserang rasa panik dan khawatir. Ia segera menghampiri motor Om Jati yang baru saja tiba di pekarangan rumahnya, dan meminta pria itu untuk mempercepat laju motornya.
Setibanya di rumah sakit, wanita itu kebingungan saat akan menghubungi Om Darsa. Ia lupa untuk membawa ponsel bahkan dompetnya.
“Saya telepon nomor Pak Lurah saja Dek,” ujar Om Jati, pria itu prihatin dengan keadaan Irene.
“Iya, minta tolong ya Om.”
Setelah mengetahui dimana eyangnya dirawat Irene berjalan cepat, bahkan nyaris berlari agar segera sampai ruangan itu. Dan tangis Irene pun pecah ketika melihat keadaan eyangnya yang tidak baik-baik saja.
Eyang terkena serangan jatung ketika Om Darsa sedang berkunjung. Ternyata selama ini eyang memiliki penyakit jantung. Penyakit jantung koroner terjadi ketika pembuluh darah koroner yang memasok darah ke jantung tersumbat. Penyumbatan ini terjadi karena timbunan kolesterol yang membentuk plak di dinding pembuluh darah.
Azka menatap Irene prihatin, wanita itu hanya menggunakan kaos putih tipis. Udara malam ini begitu dingin, wanita itu pasti sangat panik sampai-sampai tidak sempat untuk memakai jaket guna menghalau angin malam yang membuat siapapun menggigil kedinginan.
“Om mau pulang sebentar, kebetulan Riris sama Tante lagi ke luar kota. Tadi cucu Om dititipin di rumah cuma sama pengasuhnya. Besok Om ke sini lagi.”
Irene hanya mengangguk saat Om Darsa menggunakan cucunya alias para keponakannya sebagai alasan pulang. Wanita itu tidal peduli apa yang mau dilakukan adik dari mamanya itu.
Azka menyampirkan jaketnya ke tubuh Irene. Seketika Irene mendongak, baru sadar jika sedari tadi pria itu duduk di sampingnya.
“Mas Azka pulang aja engga papa.”
“Saya temani kamu di sini,” balas pria itu.
“Kasian anak-anak di rumah sendiri.”
“Kan ada pengasuhnya. Lagian tadi saya udah ngabari Angga kalo mau nemenin kamu.”
__ADS_1
Irene merasa tidak enak karena selalu merepotkan tetangganya itu. Pria itu selalu membatunya saat ia atau neneknya membutuhkan bantuan.
o0o
Setelah mendapat kabar jika eyang masuk rumah sakit mama Irene langsung memesan tiket pesawat ke bandara Adisumarmo. Sudah hampir seminggu eyangnya dirawat di rumah sakit, dan hanya mama dan Irene lah yang menemani.
Om Darsa hanya menjenguk satu kali, itupun hanya sebentar. Anak-anak eyang yang lain belum ada yang menjenguk, mereka beralasan sibuk dan belum bisa mengambil cuti.
“Pak Lurah nanti saya numpang pulang yaa. Ini anak sama cucu saya engga mau nganterin pulang soalnya!” Eyang menatap anak dan cucunya sebal.
Wanita tua itu sudah tidak betah bedara di rumah sakit. Padahal dokter sudah mengizinkannya pulang, tapi anaknya ingin ia dirawat satu hari lagi.
“Besok aja Ma.”
“Ckk…kamu itu ndak tau Mama capek to? Mama tu capek cuma makan tidur terus.”
“Kan Eyang lagi sakit.”
“Kan udah sehat saya ya Pak Lurah.” Eyang mencari dukungan pada Azka yang sore ini menjenguknya.
Irene memilih fokus pada tayangan televisi, wanita itu merasa sejak tadi Azka mencuri-curi pandang padanya. Ia menjadi salah tingkah dibuatnya.
“Irene juga masih muda kali Eyang, baru 26 bukan 62. Belum ada yang mau sama Irene kayaknya.” Wanita itu sempat membeku sebelum memberikan jawaban ngawurnya.
“Lha cucu Eyang yang belum menikah itu tinggal kamu, Eyang pengen sebelum meninggal liat kamu nikah. Sukur-sukur umur Eyang masih panjang, jadi sempat gendong cicit dari kamu.”
“Mama itu ngomong apa sih! Iya nanti pokoknya Mama bakal liat Irene nikah. Makannya Mama cepet sehat, jaga kesehatan juga biar bisa gendong cicit.” gerutu Mama Irene yang tidak suka dengan perkataan eyang.
“Saya berniat meminang Irene. Mohon maaf mungkin memang waktunya kurang tepat kalau mengutarakan niat saya ini di sini dan kondisi Eyang juga masih sakit.”
Irene melotot mendengar perkataan Azka. Sedangkan Ira, mama Irene berhenti dari kegiatannya mengupas buah. Mulutnya terbuka akan mengatakan sesuatu, tapi bingung harus berkata apa.
“Pak Lurah serius? Engga bercanda kan? Eyang engga mau ah di prank-prank kayak Dewa biasanya.”
“Saya serius Eyang, saya senang jika Irene bersedia menikah dan menerima kondisi saya. Saya duda dengan empat anak, Eyang pun tahu bagaimana kehidupan saya selama ini.”
Irene menarik tangan Azka, menyeretnya keluar ruang inap. Wanita itu baru melepas tangan Azka ketika menemukan tempat sepi di rumah sakit. Napasnya memburu, Azka meringis menatap wajah Renganis yang tampak emosi.
__ADS_1
Sepertinya ia salah bertindak.
“Bapak bercanda kan?” Mata Azka membesar, terkejut saat Irene kembali memanggilnya Bapak.
“Saya engga bercanda, saya tertarik dengan kamu. Dan saya memang ingin menikahi kamu.”
“Bapak kira nikah itu main-main? Bapak tertarik terus bisa ngajak nikah sembarangan?” tanya Irene dengan nada tinggi.
“Saya engga main-main, selama ini saya melihat bagaimana cara kamu memperlakukan anak-anak. Saya pikir kamu akan menjadi ibu yang tebat buat mereka.”
“Ohh jadi Bapak cuma mau cari Ibu baru buat anak Bapak? Saya engga minat menikah Pak.”
“Bukan, saya juga merasa kamu wanita yang tepat. Saya suka kamu,…” Belum sempat Azka melanjutkan kalimatnya, Irene sudah memotongnya.
“Saya tidak berniat menikah Pak!” ujar Irene tegas.
“Apa karena saya duda? Apa kamu sudah memiliki kekasih atau orang yang kamu cintai? Apa pria yang mengantar kamu kemarin?”
“Saya tidak ingin menikah dengan pria mana pun dan sampai kapan pun.”
Mata Azka membesar, pria itu menatap Irene yang tampak kalut. Wajah wanita itu memerah, mungkin karena menahan kesal dan amarah.
“Tapi kenapa?” tanya Azka penasaran.
“Saya tidak bisa punya keturunan.” Irene menjawab dengan lirih terselip nada getir di dalamnya.
“Lalu?”
“Lalu?” Irene bertanya dengan nada tidak percaya, pria dihadapannya tidak menampilkan wajah terkejut atau kecewa. “Siapa yang mau menikah dengan wanita yang tidak bisa punya keturunan? Lagi pula saya tidak ingin bercerai.”
Azka sekarang sedikit mendapatkan pencerahan, Irene tidak ingin menikah karea takut suaminya tidak menerima keadaanya. Lalu wanita itu tidak ingin ada perceraian, jadi ia memilih sekalian tidak menikah saja.
“Kalau saya mau menikah dengan wanita itu bagaimana?” tantang Azka dengan senyum yang membuat wanita manapun terpikat, kecuali Irene apalagi dengan keadaanya saat ini.
"Jadi Dek Irene mau kan Jadi Bu lurah"
__ADS_1
...Eaaa udah gaspol si Bapak…...
...Gimana nih dek Irene apakah diterima lamaran pak lurah… Nantikan episode berikutnya ya…😊😊...