
Azka keluar dari mobilnya, pria itu hari ini menutuskan membawa mobil karena tadi pagi harus mengantar ketiga anaknya. Sore ini pulang dari Kelurahan Azka juga harus menjemput Angga terlebih dahulu.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Jawab penghuni rumah serentak.
Si kembar dan Jay bergegas berlari untuk menyambut ayah dan kakak mereka. Memang sudah menjadi kebiasaan mereka setiap Azka pulang dari kerja. Mendengar suaminya yang sudah pulang Irene yang sebelumnya mengangkat jemuran pun ikut menyambut suaminya.
“Loh itu pipi ayah kenapa?” Irene bertanya dengan panik.
“Engga papa, nanti aja.” Azka memberi kode pada Irene untuk tidak membahasnya di depan anak-anak.
Meskipun khawatir, Irene pun menurut. Angga yang sejak tadi penasaran melihat pipi ayahnya yang memerah dan lecet pun hanya diam, tidak berani bertanya lebih lanjut.
Irene mengajak suaminya untuk masuk ke dalam kamar mereka sembari membawakan kompres untuk pipi yang tampak sedikit bengkak itu. Azka duduk di sofa kamar masih menggunakan seragamnya, pria itu meringis saat Irene terllau keras menekan pipinya.
“Kok bisa bengkak sama lecet kayak gini?”
“Tadi ditampar.”
“Siapa yang nampar Mas?”
Azka menggaruk pelipisnya, bingung bagaimana menjelaskan pada istrinya mengenai Mira.
“Jadi gini,” Azka menjeda kalimatnya, pria itu menatap istrinya yang menunggu lanjutan kalimatnya.
“Ada perempuan yang dulu sering bawain Mas makanan. Nah kebetulan tadi dia datang ke kantor, Mas dari dulu udah nolak dan bilang ke dia buat engga usah repot-repot begitu. Tapi nyatanya dia masih aja datang ke kantor ngajak makan siang.”
“Mas ngasih harapan kali sama dia?” tebak Irene dengan nada ketusnya, perasaanya menjadi tidak nyaman mendengar ada wanita lain yang perhatian dengan suaminya.
__ADS_1
“Dulu mas makan makanan buatannya kan cuma untuk menghormati dia. Lagian Mas engga pernah bila suka atau sayang sama dia. Dan Mas engga ada maksud buat kasih harapan.”
“Terus?”
“Ya siang tadi Mas bilang kalau udah nikah. Eh dia marah terus nampar Mas.”
“Kasian dia.”
“Loh ini Mas yang ditampar loh.” Ujar Azka tidak terima karena istrinya lebih mengasiani orang yang menamparnya.
“Mas kasih harapan palsu sih buat dia. Harusnya Mas tegas nolak dia dong.”
“Lah itu tadi kurang tegas apa, sampe Mas di tampar gini.”
“Nih kompres sendiri!” Irene menyerahkan kompres itu dengan sedikit kasar, entah kenapa perasaan wanita itu jadi dongkol dan tidak nyaman.
Irene keluar dari kamar mereka, “loh kok malah pergi to? Ini engga mau diobatin?”
o0o
Sebelumnya Irene telah memberitahukan bahwa suaminya sedang tidak ada di rumah. Suasana begitu canggung, sampai Mira mengutarakan maksud wanita itu berkunjung ke rumahnya.
“Saya Mira, mau minta maaf karena tadi siang udah nampar Pak Lurah. Saya sakit hati dan emosi jadi kelepasan. Tolong diterima dan disampaikan pada Pak Lurah permintaan maaf saya.”
Memang malam itu Azka sedang menghadiri rapat rutin RT yang dilaksanakan sebulan sekali. Irene menilai wanita yang mengaku mencintai suaminya itu, dan sepertinya Azka buta karena menyianyiakan wanita secantik Mira.
Irene taksir, wanita itu berusia 30 tahunan. Dari caranya duduk dan berpakaian pun terlihat anggun. Di jari-jari Mira terpasang banyak cincin. Irene meringis, pantas saja pipi suaminya sampai lecet ternyata tergores oleh cincin-cincin itu.
“Ya sudah kalau begitu, saya pamit. Ini oleh oleh dari Bintan, kebetulan tadi siang saya belum sempat memberikannya.”
__ADS_1
Mira pun keluar dari rumah Pak Lurah, Irene mengantarkan kepergian wanita itu sampai teras rumahnya.
Pukul sepuluh Azka pulang dari pertemuan rapat rutin RT. Pria itu segera membersihkan diri sebelum bergabung dengan istrinya yang sedang bermain ponsel di ranjang mereka.
Azka memeluk pinggang istrinya yang sedang duduk setengah bersandar di kepala ranjang. Irene merasa geli ketika Azka menduselkan wajahnya di perutnya, bahkan saat ini pria itu telah menciumi perutnya.
“Tadi Mbak Mira ke sini"
Seketika Azka langsung mengangkat kepalanya, “ngapain?”
“Katanya minta maaf karena tadi siang udah nampar Pak Lurah, dia sakit hati dan emosi jadi kelepasan. Bawain oleh-oleh juga tadi.”
“Oleh-oleh yang dari Bintan?” Azka ingat Mira baru pulang dari Bintan seperti yang wanita itu katakan tadi siang.
“Tau banget kalo Mbak Mira dari Bintan,” sindir Irene..
“Ya kan tadi siang dia bilang.”
“Asik ya ngobrol bareng Mbak Mira, cantik lagi.” Azka mendesah mendengar sindiran istrinya.
“Huhh…Mas minta maaf. Kami engga ada hubungan apa-apa kok. Kamu jangan mikir aneh-aneh gitu ah.”
Azka sudah berganti posisi menjadi duduk, menatap istrinya yang berwajah masam.
“Jadi beneran asik ngobrol sama Mbak Mira yang cantik itu?” tegas Irene, wanita itu seperti tidak mengenali dirinya sendiri. Sejak kapan ia menjadi wanita yang posesif seperti ini.
“Ya Allah, engga Sayang. Asikan juga ngobrol sama kamu, malah bisa sekalian sayang-sayangan.”
Azka memeluk istrinya, menghujani puncak kepala wanita itu dengan ciuman. Mereka bertahan di posisi itu cukup lama. Sedikit-demi sedikit rasa kesal Irene menghilang, dan membiarkan dirinya bersandar di dada Azka.
__ADS_1
“Sekarang malem Jumat loh Yang.” Azka memberi kode.
o0o