
Akad nikah dilaksanakan secara sederhana dengan waktu secepat-cepatnya, semua itu atas keingininan eyang. Sedangkan resepsi pernikahan akan dilaksanakan jika keadaan Eyang sudah membaik kira-kira satu bulan lagi sembari mempersiapkan pesta resepsi.
Irene duduk di sofa kamarnya, di sebelahnya terdapat ayahnya yang sedari tadi memandanginya. Wanita itu hanya menunduk, memainkan jari-jari tangannya. Suasana begitu canggung, ayahnya mendatanginya setelah menikahkannya dengan Azka.
“Irene,” panggil pria itu lembut, tidak seperti biasanya. Irene mendongak untuk melihat wajah ayahnya. Wanita itu terkejut melihat mata pria dengan wajah keras itu memerah.
“Maafin Ayah karena belum bisa menjadi Ayah yang baik buat kamu. Maaf, Ayah harap kamu bisa bahagia. Tapi ingat, apa pun yang terjadi Ayah sayang kamu.”
Untuk pertama kalinya, Irene mendengar ayahnya mengatakan sayang padanya. Ayahnya yang dingin dan tampak tidak peduli padanya ternyata menyayanginya.
Irene pikir ayahnya tidak menyayanginya, karena wanita itu bukan anak yang diharapkan ayah dan Eyang Darmi. Mereka selalu menginginkan keturunan lelaki. Mungkin itu juga penyebab Irene takut untuk menikah, wanita itu takut jika suami dan mertuanya akan menuntut untuk memiliki keturuan.
Kini air mata Irene sudah jatuh di pipi. Tidak disangka semua kan semelow ini. Wanita itu terisak melihat ayahnya yang juga sudah meneteskan air mata. Untuk pertama kalinya, Irene melihat ayahnya menangis.
Ira terkejut menemuka anak dan mantan suaminya menangis bersama. Wanita itu tentu saja sudah menangis sejak mendandani Irene.
“Ini kenapa malah pada di sini? Mas kamu belum makan sejak pagi, sana makan dulu.” Meskipun telah bercerai, mengetahui mantan suaminya belum makan sejak pagi membuat wanita itu khawatir.
Ia hampir saja mengambilkan makan dan membawakannya untuk suaminya, tapi ia letakkan kembali di meja makan. Ira baru ingat jika mereka sudah bercerai, kenapa dirinya masih sangat peduli dengan mantan suaminya ini.
__ADS_1
“Eyang mana Ma?” Tanya Irene sembari mengusap air matanya.
“Tadi habis akad langsung ke kamar istirahat. Itu anak-anak di luar, tadi mau masuk kamarmu sungkan. Makannya cuma di lura kamar itu.”
“Dewa sama Kula?”
“Iya, sama Jay juga. Mama ajakin masuk engga mau.”
Irene belum berbicara dengan Dewa, Kula, dan Jay. Wanita itu hanya sempat mengobrol dengan Angga, dan meminta izin untuk menikah dengan Azka. Selebihnya Azka sendiri yang menyampaikan pada anak-anaknya jika pria itu akan menikahinya.
Azka bilang mereka setuju dan menyambut baik rencana tersebut.
“Mama kenapa Dar?” Tanya Ira yang ikut khawatir.
“Tadi Riris mau pamitan ke Mama, tapi Mama cuma diem aja. Aku cek engga ada napas dan denyut nadinya!”
Tubuh Ira lemas, wanita itu limbung namun dengan sigap mantan suaminya menangkapnya. Mendekap wanita itu dengan erat.
“Ayo kita bawa Eyang ke rumah sakit!” Teriak Irene lalu berlari menuju lantai satu dimana kamar eyangnya berada.
__ADS_1
Di samping tubuh kaku itu terdapat Om Janu yang berprofesi sebagai dokter. Pria itu menggelengkan kepalanya. Membuat tubuh Irene luruh ke lantai. Tidak mungkin eyangnya pergi, wanita tua itu bahkan tadi begitu semangat menantikan akad nikahnya.
Irene menangis, meraung. Azka memeluk erat wanita itu, sedangkan Ira sudah pingsan di pelukan mantan suaminya.
...o0o...
“Ini kamar tidur kita,” kata Azka sembari membuka pintu kamar utama di rumah itu. Udara sejuk dengan aroma harum yang lembut menyapa kedatangan mereka. Irene duduk di tepi ranjang. Azka mengulurkan tangannya dan membiarkan ujung jarinya menyentuh pipi Irene.
Ketika wanita itu mengangkat wajah, matanya bertemu dengan mata suami yang baru saja dinikahinya beberapa jam yang lalu.
“Saya tahu, kamu masih perlu waktu untuk menyesuaikan diri. Kamu mau mandi dulu atau saya duluan?”
“Mas Azka aja dulu.” Irene menunduk, entahlah ia merasa tidak bersemangat sama sekali. Setiap mengingat mendiang eyangnya, matanya akan berkaca-kaca dan berakhir menangis.
Kepergian eyang yang tiba-tiba membuat wanita itu shock, dan masih berkabung. Rasanya tubuhnya lemas dan malas untuk bergerak bahkan untuk berbicara.
Azka memberikan senyum terbaiknya, namun berat untuk Irene membalas senyuman itu. Diraihnya bahu Irene, dikecupnya dahi itu dengan lembut. Pria itu membawa tubuh ringkih Irene ke dalam pelukannya, dan tangis Irene pun pecah.
Wanita itu menyembunyikan wajahnya ke dada bidang suaminya, membuat kemeja yang dikenakan Azka menjadi basah. Tangan Azka mengelus punggungnya, memberikan rasa nyaman yang sangat dibutuhkannya saat ini. Irene benci kehilangan dan ditinggalkan.
__ADS_1