Jodoh Pak Lurah

Jodoh Pak Lurah
bontot azka


__ADS_3

Irene terbangun dari tidur siangnya karena tawa anak-anak, wanita itu ketiduran ketika menonton kartun bocah kembar botak yang sering dilihatnya meskipun sudah dewasa.


"Gara-gara Dewa tuh, kakaknya jadi bangun!" Bocah kembar itu duduk di karpet masih menggunakan seragam merah putih yang tampak berantakan. Dewa menggunakan topi upacaranya terbalik, sedangkan dasi Kula menjadi kalung karena sudah tidak terpasang rapi di kerah kemeja putihnya.


"Eyang mana?" Tanya Irene sembari meregangkan tubuhnya yang terasa kaku karena tertidur di sofa.


"Eyang lagi masak ayam goreng."


"Kok kalian belum ganti baju tapi udah main? Nanti dimarahin Mama gimana?"


Dewa dan Kula menunduk sedih, "Ibu engga akan marah, kan Ibu engga tau."


"Kalian di rumah sama siapa emang?"


"Suster sama Dek Jay, Ayah kerja, Mas Angga masih sekolah."


"Ibu?"


"Ibu tinggal sama Om Gio, sama adek baru."


Kini Irene paham, wanita itu prihatin menatap kedua bocah kembar itu. Apalagi melihat wajah lesu keduanya setelah dirinya menanyakan mengenai ibu mereka.


"Udah makan siang?"


"Belum, kata Eyang nunggu ayamnya mateng."


"Ya udah sana ganti baju dulu, terus balik ke sini. Kita makan siang bareng, Kakak juga mau bikin puding. Kalian mau?"


"Mauu!" mereka menjawab dengan semangat.


"Sana cepet ganti baju, terus bantuin bikin pudingnya." Irene tersenyum ketika kembar identik itu berlari dengan semangat kembali ke rumahnya untuk berganti pakaian.


...o0o...


Keluarga azka sedang asik menikmati makan malamnya, pria itu menyuapi anak bungsunya sembari mendengar cerita dari anak-anaknya hari ini. Meskipun sibuk menjadi Lurah dan mengurus perkebunan, sebisa mungkin azka meluangkan waktu untuk anak-anaknya.


"Yah tadi Dewa sama Kula bantuin Kak Irene bikin puding loh. Puding buatan Dewa enak banget."


"Halah pasti kalian malah ngerecokin Kak Irene, bukan malah bantuin." Ujar Angga.

__ADS_1


"Ihh Kula bantu ngaduk-aduk tauu..."


"Dewa bantu habisin pudingnya!"


Mendengar cerita putra kembarnya azka tertawa, ingatan pria itu kembali kepada wanita yang kemarin pagi sedang menyapu halaman rumah hanya menggunakan daster pendek.


"Pinternya anak ayah. Tapi kata Suster Ana kalian pulang sekolah bukannya ganti baju malah langsung main, papa engga suka kalo kalian engga nurut apa kata Suster."


Bibir Dewa mengerucut mendengar perkataan azka, pasti pengasuhnya itu mengadu pada ayahnya.


"Assalamualaikum"


Angga berjalan ke depan berniat untuk membukakan pintu untuk tamunya. Remaja itu mempersilahkan salah satu pekerja di perkebunan ayahnya itu masuk ke dalam rumahnya dengan membawa berbagai sayuran serta buah hasil perkebunan.


"Maaf ya Pak Lurah, saya nganternya malam-malam. Baru selesai panen cabai soalnya."


"Tidak apa-apa Pakdhe, diantar besok juga tidak masalah." azka memang tadi menghubungi salah satu pekerja di perkebunannya meminta tolong agar membawakan hasil kebunnya karena persediaan sayur dan buahnya habis.


"Takutnya nanti keburu mau dimasak Pak Lurah."


"Cuma buat persediaan di rumah aja Pakdhe. Ohh iya, ini pisangnya kok banyak banget?"


"Nanti biar saya aja yang antar pakdhe." azka berniat untuk mengucapkan terima kasih karena anak-anaknya sering merepotkan keluarga Eyang dan numpang makan di rumah wanita tua itu.


"Kalau begitu saya pamit pulang pak Lurah."


"Nggih Pakdhe, hati-hati. Ini untuk beli bensin ya." azka memberikan satu lembar uang seratus ribuan.


"Engga usah Pak." pekerja itu menolak namun azka memaksa pria itu agar menerima uang pemberiannya.


azka memang terkenal dermawan. Meskipun memiliki perkebunan dimana-mana dan saat ini menjabat sebagai Lurah pria itu tidak pernah sombong dan hidup dengan sederhana.


"Ayah nanti mau ke rumah Eyang?" tanya Kula yang masih sibuk dengan makanannya. azka megangguk, "nanti Dewa sama Kula ikut ya Yah?


Dewa menatap Ayahnya penuh harap, ia ingin bermain di rumah Eyang dan bertemu Renjana. Bocah itu berharap semoga saja Renjana masih menyimpan beberapa cup puding di kulkasnya.


"Kak Irene suka pisang besarnya Ayah! Nanti Ayah bawakan yang besar-besar yaa, biar Kak Irene senang." Perkataan Dewa itu membuat azka tersedak.


Siang tadi Dewa dan Kula melihat sendiri bagaimana Irene begitu menyukai pisang. Bahkan wanita itu dapan memakannya hanya dalam dua gigitan besar.

__ADS_1


"Iya nanti kita tuker pisangnya sama pudding. Kali aja Kak Irene masih punya pudding di kulkas." Kula tersenyum membayangkan puding lezat buatan Irene.


Setelah menghabiskan makan malamnya, azka mengajak Kula dan Dewa mengantarkan pisang pesanan Eyang. Sejak memasuki halaman tetangganya itu, azka dapat mendengar suara music dan gemericik gelang kaki.


azka tertegun menyaksikan wanita yang mengenakan pakaian menari yang memperlihatkan perut serta lekuk tubuhnya dari celah jendela depan rumah Eyang. Ia tidak dapat menyebut itu baju, karena menurut azka yang wanita itu kenakan hanyalah Bra dan rok yang memiliki belahan hingga pahanya.


Pria itu terbius dengan gerakan memutar sang penari yang membuat rambut hitam panjangnya menutupi wajahnya. Ia terkejut ketika musik telah berakhir dan sang penari kembali berdiri tegak, penari itu tersenyum puas meskipun tubuhnya sudah basah oleh keringat. azka tertegun melihat wajah penari itu, Irene pun terkejut ternyata ada yang mengintipnya dari jendela yang ternyata gordennya tidak tertutup rapat.


"Assalamualaikum," teriakan Dewa dan Kula membuat azka tersadar.


Pria itu mengelus dadanya sembari beristighfar, ia bahkan lupa berkedip karena terbius dengan tarian Irene. Mungkin wanita itu sedang berlatih pole dance, tapi setahu azka tarian itu menggunakan tiang. Entah tarian apa yang sebenarnya wanita itu tarikan.


Irene segera mengganti pakaian menarinya dengan baju yang lebih tertutup saat mendengar bocah kembar depan rumahnya mengucap salam. Wanita itu sebenarnya sangat malu jika harus bertemu dengan Pak Lurah yang sepertinya tadi mengintipnya sedang latihan menari Bellydance. Jika saja Eyang tidak pergi membantu hajatan yang sedang dilaksanakan di dekat rumahnya, Irene tidak perlu susah-susah bertemu dengan Pak Lurah.


"Waalaikumusalam, mari silahkan masuk Pak."


"Kok Ayah aja yang dipersilahkan masuk Kak?" Dewa cemberut.


"Tentu aja Dewa dan Kula juga boleh masuk dong, emang engga mau pudding lagi? Kakak masih simpen banyak di kulkas." Bocah kembar itu bersorak senang dan berlari dengan semangat memasuki rumah.


Setelah itu mereka duduk bersama di ruang tamu, azka menatap Irene yang saat ini menggunakan legging dan tanktop yang ditutupi jaket. Wajah wanita itu merona alami sedangkan rambut panjangnya dijepit asal menggunakan jedai.


"Ini pisang titipan Eyang, saya dengar kamu suka pisang."


"Iya tadi kan katanya Kakak suka pisang besarrrr. Pisangnya Ayah besar loh, Kak Irene pasti puas makannya."


"Hmm maksudnya pisang dari perkebunan saya." azka membenarkan kalimat putranya yang begitu ambigu. Memang pisang miliknya juga besar, namun tentu saja tidak akan ia berikan sebarangan pada Irene.


Irene menahan diri agar tidak tertawa mendengar ucapan polos Dewa mengenai pisang ayahnya yang besar. Apalagi melihat wajah kikuk azka.


"Terima kasih Pak, sebenarnya tidak perlu repot-repot Pak Lurah yang mengantar. Besok biar saya ambil saja di perkebunan. Ini berapa Pak harganya?" Irene berencana untuk mengambil dompet yang berada di kamarnya.


"Tidak perlu membayar Dek."


"Iya kak, engga usah bayar. Kita barter aja," dari Irene mengkerut begitu juga azka.


"Barter apa?"


"Pisangnya dibarter sama pudding. Hehehe." Tawar Dewa.

__ADS_1


__ADS_2