
Keesokan harinya Aileen bangun lebih awal, ia membuka matanya dengan sempurna dan mendapati wajah sang suami tepat dihadapannya, berada dalam balutan selimut yang sama tanpa busana. Ia tersenyum saat mengingat kembali kejadian kemarin malam.
Aileen memperhatikan dengan jelas wajah tampan suaminya.
"Aku tau aku tampan, apa kau sudah puas memandangiku?" Tanya Elvan membuat Aileen terkejut.
"Aku tidak memandangimu! Siapa yang memandangmu, kau pura - pura tidur ya?" Sangkal Aileen lalu memalingkan wajahnya membelakangi suaminya. Wajahnya memerah seperti tomat, jika suaminya melihat pasti akan membuatnya sangat malu karena sudah ketahuan memandangi Elvan sejak tadi.
Elvan memeluk Aileen dari belakang, menghirup aroma tubuh istrinya dalam - dalam, ia menyandarkan kepalanya di ceruk leher istrinya, membuat Ay jadi merinding kegelian karena ia mencium leher jenjang Aileen.
"Jangan berbohong! Kau bisa memandangiku 24 jam kalau kau mau," Elvan semakin mempererat pelukannya, menindih Aileen dengan sebelah kakinya.
"El kau berat sekali, sudah sana bangun. Aku mau mandi dulu baru kita sarapan ya," Aileen menepis kaki Elvan kemudian beranjak turun dari ranjang.
Namun saat turun dari ranjang dan langsung masuk kedalam kamar mandi, ia merasakan sakit yang luar biasa diselangkangannya, membuatnya jadi sulit berjalan dan sedikit mengangkang.
"Ahh rasanya perih sekali, apa begini rasanya tidak perawan yaa. Kalau begini terus lama-lama aku bisa pincang. Tapi kenapa wanita diluaran sana malah menyukainya bahkan melakukannya dengan pria yang bukan suaminya, dasar aneh."
Elvan yang melihat Aileen kesulitan berjalan lantas ikut meringis, seolah dirinya juga merasakan rasa sakit yang sama.
"Ay sampai susah jalan gitu, apa aku terlalu kuat ya semalam ? Atau karena aku melakukannya berkali-kali, padahal ini yang pertama untuknya."
Seusai mandi Aileen bergantian dengan Elvan, lalu ia menarik sprei yang terdapat bercak merah, menaruhnya dalam keranjang tempat pakaian kotor, lalu menggantinya dengan sprei yang baru.
Ia kemudian duduk didepan meja rias, menyisir rambut panjangnya yang lurus. Pandangannya dari cermin teralihkan oleh pintu kamar mandi yang terbuka, Elvan keluar dengan handuk yang melilit dipinggangnya, memperlihatkan dengan jelas kotak - kotak diperutnya yang begitu menggoda.
Aileen langsung mengalihkan pandangannya kembali ke cermin ketika Elvan mulai berjalan keluar dan menghampirinya.
"Kemarikan biar aku yang menyisir rambutmu," Elvan mengambil alih sisir dari tangan Aileen kemudian menyisir rambut istrinya, sesekali ia mencium rambut panjang istrinya.
Aileen masih diam mematung, tanpa berkata ia menyerahkan sisir yang ia pegang kepada Elvan. Ia begitu malu melihat suaminya hanya memakai handuk dan bertelanjang dada.
"Kenapa rambutmu harum sekali Ay, kau menghabiskan 1 botol shampo setiap kali mandi ya?" Usil Elvan masih terus mencium rambut istrinya.
"Yang benar saja aku menghabiskan 1 botol shampo, kau pikir rambutku seperti ekor kuda? Tidak cukup jika hanya memakai sedikit shampo!" Jawab Aileen begitu kesal, suaminya ini mulai suka menggodanya lagi. Namun didalam hatinya ia sangat merindukan suaminya yang seperti ini.
"Memangnya ekor kuda kalau pakai shampo beneran 1 botol ya Ay ?" Tanya Elvan cekikikan masih menyisir rambut Aileen.
__ADS_1
"Mana kutau, kau pikir aku kusir. Tanya saja sana pak kusir yang sedang bekerja," Ucap Aileen menggurutu.
"Hahaaa kau ini menggemaskan sekali kalau lagi marah-marah. Begitu saja marah, aku sudah selesai menyisir rambutmu. Sekarang gantian keringkan rambutku." Elvan menaruh sisir di depan Aileen, diatas meja rias istrinya itu, ia lalu memberikan handuk kecil yang ada dipunggungnya.
Aileen menerima handuk itu, "Kau tidak bisa mengeringkan rambutmu sendiri apa ? Seperti anak kecil saja minta dikeringkan."
"Aku sudah mengeringkannya tapi tetap saja basah, lihatlah masih ada air yang menetes jatuh kelantai," Jawab Elvan menunjukkan air yang membasahi lantai kamarnya, bekas dari rambutnya yang masih sangat basah.
"Astaga El, kau membuat kamar jadi basah. Benar-benar anak kecil, duduk disini biar aku yang berdiri," Aileen mengganti posisi mereka agar ia lebih mudah mengeringkan rambut suaminya.
"Kenapa kau kasar sekali Ay ? Aku tadi menyisir rambutmu sangat lembut, ayo lakukan hal yang sama," Elvan meringis saat Aileen malah mengacak-acak rambutnya begitu keras.
"Hahaa begitu saja dibilang kasar, kalau kau ke salon dan di creambath akan lebih dari ini," Aileen sedikit memelankan tangannya, mengeringkan rambut suaminya dengan perlahan dan lembut seperti yang suaminya lakukan saat menyisir rambutnya.
"Ay..." Panggil Elvan.
"Hmmm.." Gumam Aileen.
"Aileen..." Panggil Elvan kembali.
"Hahaa jawab yang bener makanya, dipanggil malah jawab hmm hmm. Apa coba artinya hmm ?" Tanya Elvan cekikikan melihat wajah cemberut istrinya dari pantulan cermin di depannya.
"Terserah El, terserah. Rambutmu sudah kering, pakai baju sana," Aileen mengembalikan handuk kecil yang ia pakai mengeringkan rambut Elvan kepada suaminya itu.
"Baiklah, cerewet sekali," Ucap Elvan kemudian berdiri menuju lemari pakaian dan mengganti pakaiannya.
Ia menggunakan hoodie santai dan celana panjang, tidak biasanya ia memakai pakaian serba panjang jika hanya dirumah saja.
Aileen memperhatikan suaminya yang sudah berganti pakaian, "Kau mau kemana?" Tanya Aileen.
"Kau memperhatikanku lagi ya hahaa," Ucap Elvan tanpa menjawab pertanyaan Aileen.
"Astaga kenapa kau jadi kepedean seperti ini El, aku hanya bertanya saja," Jawab Aileen.
"Tinggal jawab saja iya susah sekali," Ucap Elvan kemudian memakai sepatu dan mengajak Aileen untuk sarapan.
"El kau mau kemana ? Tinggal menjawab saja lama sekali, kau mau aku bertanya berapa kali baru kau mau menjawabku ?" Aileen menggerutu mengerucutkan bibirnya, namun bukannya menjawab suaminya itu malah tertawa melihat tingkah istrinya.
__ADS_1
"Kau kenapa menggemaskan sekali kalau sedang marah-marah seperti ini Ay," Ucap Elvam sembari mencubit hidung Aileen sampai memerah.
"Sakit El lepasin ih," Aileen menepis tangan Elvan karena ia merasa hidungnya begitu sakit karena ulah suaminya itu.
"Hahaa aku mau ke rumah sakit, aku mau melihat Vano sebentar," Jawab Elvan dan langsung duduk dimeja makan.
"Kau tidak mengajakku ?" Tanya Aileen ikut duduk disebelah Elvan.
"Tidak! Memangnya kau ada dengar aku mengajakmu?" Ucap Elvan menaikkan kedua alisnya, menunggu jawaban apa yang akan keluar dari bibie istrinya.
Aileen memutar bola matanya dengan malas, "Dasar menyebalkan! Maksudku kau tidak mau mengajakku kesana ?" Tanya Aileen.
"Aku sengaja tidak mengajakmu, nanti kalau menlihatnya dan kau akan jatuh cinta lagi dengannya bagaimana ?" Tanya Elvan dengan penuh selidik.
Aileen menghembuskan napas lalu berkata, "Tidak akan, aku tidak pernah mencintainya. Aku hanya merasa nyaman dengannya, karena selama ini dia yang selalu ada saat aku kesepian, dia juga selalu perhatian dan menyempatkan waktunya untuk menemaiku kemanapun yang aku mau," Terang Aileen.
"Benarkah ? Kalau kau tidak pernah mencintainya kenapa kau tidak mau meninggalkannya setelah kita menikah ?" Tanya Elvan masih menatap Aileen dengan lekat.
"Aku juga barus sadar kalau ternyata aku tidak pernah mencintainya, saat itu aku hanya merasa kasihan jika harus meninggalkannya. Padahal selama ini dia selalu menemaniku, ya walaupun kadang dia sibuk dengan kerjaannya, tapi dia selalu menyempatkan waktunya untukku," Jawab Aileen.
"Cih, aku bahkan bisa memberikan semua waktu yang kupunya untukmu. Hanya karena itu kau menyiksaku," Ucap Elvan dengan kesal kemudian mulai mengambil makanannya sendiri.
"Biar aku saja, kemarikan piringmu," Aileen mengambil alih piring dan sendok yang sudah dipegang Elvan, mengisi piring itu dengan nasi dan berbagai lauk yang sudah disiapkan bi Ester.
Setelah mengisi piring suaminya dan piringnya sendiri, Aileen melanjutkan ucapannya, "Maafkan aku karena telah menyakitimu, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi," Ucap Aileen dengan suara serak dan mata yang berkaca-kaca. Sepertinya sebentar lagi akan ada banjir dimeja makan.
.
.
.
.
Iniloh bang Elvan kalau lagi makan.
__ADS_1