Jodohku Di Tempat Kkn

Jodohku Di Tempat Kkn
11


__ADS_3

Setelah mereka berdoa bersama untuk memulai kegiatan hari ini, tim cewek segera menyiapkan kendaraan mereka untuk pergi ke posyandu karena jarang antara rumah posko dan lokasi tersebut lumayan jauh.


Rere dan Ica sibuk menyiapkan motor dan memanasinya, sedangkan Rebeca dan Tasya sibuk melihat lembaran kertas yang baru saja mereka print semalam untuk bahan sosialisasi di posyandu.


"Guys, motornya udah siap" Ajak Ica. Tasya dan Rebeca segera mengemasi kertas itu dan segera naik keatas motor.


Karena jaraknya tak begitu jauh, mereka hanya membutuhkan sekitar 5 menit untuk sampai posyandu


Ibu-ibu telah menunggu kedatangan mereka ke posyandu. Beliau menyambut mahasiswa KKN dengan sangat baik dan ramah sehingga Tasya dan kawan-kawannya turut bahagia.


"Selamat datang anak-anak KKN" sambut Bu Naimah.


Mereka tidak menyadari jika Bu Naimah andil mengurusi kegiatan posyandu bersama ibu-ibu lainnya. Beliau tampak seperti ibu kepala desa yang baik dan penyayang.


Segera Tasya dan teman-temannya mendekati Bu Naimah dan menyalami beliau. Beliau tampak senang ketika melihat empat gadis ayu itu bersalaman padanya.


Saat Tasya bersalaman, beliau mengusap kepala Tasya, gadis itu sedikit terkejut. Pasalnya ketiga temannya tak ada yang diusap halus kepala mereka.


"Setelah ini, bantu ibu untuk menimbang anak bayi dan ibu hamil ya" pesannya pada semua mahasiswa KKN. Karena Tasya yang bersalaman paling akhir, beliau menahan tangan Tasya tetap dalam genggaman beliau.


"Yuk masuk!" ajaknya masih dengan memegang tangan Tasya. Mau tak mau gadis itu mengikuti disamping bu Naimah.


Didalam ruangan untuk kegiatan posyandu, Bu Naimah mengenalkan mereka sebagai mahasiswa KKN yang akan membantu kegiatan itu dan pada akhir acara akan ada sosialisasi tentang hal serupa.


Telah sesi perkenalan, mereka bergabung dengan ibu-ibu lainnya untuk melayani balita dan ibu hamil. Tasya yang tadinya berdiri disamping bu Naimah diperintahkan untuk membantu beliau mendata orang-orang.


"Kamu tulis disini ya nduk" perintahnya. Hati Tasya berdesir, ia merasa seperti anak kecil yang sedang diperintah ibunya.


Ahhhh jadi kangen mama deh, batin Tasya.


Mendapat perintah seperti itu, Tasya segera melaksanakan. Sesekali Bu Naimah membicarakan beberapa hal pada Tasya, mereka tampak sudah akrab.

__ADS_1


"nduk Tasya kalau di kota kegiatannya apa selain kuliah?" tanya Bu Naimah disela kegiatan mereka.


"Saya kuliah aja Bu. Kadang ikut kegiatan sosial di panti"


Bu Naimah ber-oh ria dan kembali melanjutkan kegiatannya.


Ahhh gadis yang baik dan peduli masyakarat, batin Bu Naimah. Beliau menatap Tasya yang sibuk mengurusi data diri ibu hamil dan balita. Terkadang ia juga ikut menimbang bayi ketika ada seorang ibu datang karena kegiatan posyandu ini cukup padat maka mereka berusaha berkerja dengan cepat.


Sekitar 1,5 jam kegiatan timbang-menimbang sudah selesai. Tasya serta kawan-kawannya hendak melakukan sosialisasi tentang pentingnya pertumbuhan bayi agar terhindar dari stanting. Karena hanya Tasya mahasiswa jurusan kesehatan, maka narasumber di acara ini adalah Tasya.


Hatinya sedikit grogi, ia takut jika tak bisa menyampaikan informasi dengan baik dan benar sehingga ibu-ibu kurang puas dengan acara sosialisasi ini.


Dia merasa harus benar-benar bisa menyampaikan materi dengan bahasa yang mudah dipahami supaya ibu-ibu di posyandu bisa menerima info darinya dengan paham.


Ahhhh beda sekali rasanya dengan presentasi depan dosen, batinnya.


"Ayo nduk Tasya silahkan maju" perintah Bu Naimah. Gadis ini dirangkul pundak untuk berdiri didepan ibu-ibu. Tasya tersenyum dan mengikutinya.


"Sekian dari saya, silahkan ibu kalau ada yang ditanyakan"


Banyak dari ibu-ibu yang bertanya perihal kehamilan dan masalah anaknya, mereka aktif bertanya pada tasya. Meskipun Tasya bukan mahasiswa kebidanan tapi ia sedikit banyaknya memiliki ilmu tentang apa yang ia sampaikan, dia pasti benar-benar belajar.


Sebelum benar-benar berakhir ada seorang ibu yang mengangkat tangannya. Dari pakaiannya beliau seperti tim dari ibu-ibu posyandu. Tasya pun segera mempersilahkan beliau untuk menyampaikan pertanyaannya.


"Dokter Tasya sudah punya calon belum? anak saya perangkat desa"


Pecah semua tawaran ibu-ibu disana, begitupun ketiga teman Tasya. Gadis itu hanya tersenyum, sungguh ia malu karena menjadi bahan tatapan semua orang. Ibu itu pun terlihat menunggu jawaban Tasya, beliau memang serius menanyai Tasya.


"Saya masih fokus kuliah Bu. Masih kurang 4 tahun lagi" Jawabnya, kalian tau artinya? Itu artinya Tasya menolak dengan halus. Ibu berseragam itu hanya menunduk lemas, gagal menjadikan Tasya mantunya.


Setelah acara di posyandu selesai, semua tim ibu posyandu dan mahasiswa KKN membersihkan lokasi itu. Tasya sibuk menyapu dan menata kembali meja-meja yang telah digunakan.

__ADS_1


Semua barang sudah kembali ketempat semula. Waktu sudah menunjukan dzuhur, mereka bersiap untuk kembali ke tempat tinggal masing-masing.


Di tempat itu tertinggal empat gadis cantik itu dan Bu Naimah, tampaknya ibu itu tengah menunggu jemputan.


"ibu nunggu siapa?" tanya Tasya mendekatinya.


"Nunggu anak saya nduk. lama banget ga kesini-kesini" keluhnya, keempat gadis itu saling melirik dengan bahasa isyarat yang artinya mereka tak mungkin meninggalkan Bu Naimah sendiri disana.


Akhirnya mereka itu menunggu bersama Bu Naimah meskipun Bu Naimah memaksakan mereka untuk segera kembali. Mereka tak enak pak ibu nomor satu di desa itu.


10 menit mereka menunggu tak ada batang hidung anak Bu Naimah, akhirnya mereka memutuskan untuk mengantar Bu Naimah. Bukan mereka, Tasya yang mengantar Bu Naimah karena menurut teman-temanya Tasya yang dekat dengan Bu Naimah. Maka Tasya lah yang mengantar ibu tersebut, sedangkan ketiga temannya pulang bersamaan dengan satu motor. Tak masalah mereka pulang ke rumah posko dengan berbonceng tiga, disini jalan kampung jadi dipastikan tidak akan ada yang menilang mereka meskipun cukup beresiko.


"Monggo Bu" Ajak Tasya, Bu Naimah sebenarnya tak enak hati karena membuat ketiga teman Tasya harus pulang dengan satu motor, tapi putranya yang ia tunggu kedatangannya untuk menjemput juga tak kunjung tiba. Maka dengan berat hati bu Naimah naik ke boncengan Tasya.


Jarang antara rumah dan tempat posyandu lumayan jauh. Tempat posyandu lebih dekat dengan posko mahasiswa karena jalannya berlawanan.


"Nduk Tasya sekarangkan sudah siang. Sekalian ya makan siang di rumah ibu"


Tasya ingin menolak, dia tak enak cuma karena mengantar Bu Naimah saja dia mendapat tumpangan makan siang, apalagi ketika temannya pulang ke rumah posko dengan keadaan perut kosong.


"nanti sekalian dibungkusin buat teman-temannya di rumah posko" Sepertinya Bu Naimah punya indera keenam, ia bisa tau apa yang ada dipikiran Tasya, gadis itu tersenyum kikuk.


Sampailah mereka di rumah yang tampak asri itu. Dari gerbang tampak salah satu pegawai dirumah itu sedang membuka pintu besi itu. Tasya menggiring motornya untuk masuk ke rumah Bu Naimah, ia memarkirkan motornya di sebelah motor vespa.


Vespanya bagus, batinTasya.


Mereka memasuki rumah melalui pintu utama, Tasya di persilakan untuk menunggu di ruang tamu karena Bu Naimah akan ganti baju terlebih dahulu.


Tasya yang sedang menunggu merasa bosan, akhirnya ia berkeliling disekitar ruang tamu melihat foto-foto yang sedang dipajang. Ada foto keluarganya, Bu Naimah dan pak Qodir serta kedua anak mereka. Tampak serasi karena beliau memiliki anak laki-laki dan perempuan. Seperti putra beliau seorang polisi karena difotonya menggunakan seragam coklat.


"Itu anak saya yang pertama" Tasya terlonjak kaget, sangking asyiknya dia melihat foto-foto itu ia tak sadar jika Bu Naimah sudah berdiri di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2