
"Itu anak saya yang pertama" Tasya terlonjak kaget, sangking asyiknya dia melihat foto-foto itu ia tak sadar jika Bu Naimah sudah berdiri di sampingnya.
Tasya menoleh ke arah suara itu, dia tersenyum kikuk karena malu tertangkap basah Bu Naimah tengah melihat jejeran pigura foto itu.
"Dia seorang polisi di kota yang sama dengan kampus kamu dia sedang libur seminggu" ucapnya sambil ikut menatap foto orang mengenakan seragam polisi, Tasya hanya bisa menganggukkan kepala.
"kalau yang itu anak ketiga saya, dia sedang pendidikan di pesantren" Tasya menoleh kearah yang ditunjuk Bu Naimah. Ia menatap foto seorang gadis ayu berhijab seperti di taman bermain.
Anak ketiga? Terus anak keduanya mana? Semua foto yang terpajang disana hanya berisi 4 orang, batin Tasya heran. Ia tak berniat menanyakan karena takutnya ada hal yang akan membuat Bu Naimah sedih.
"Anak kedua saya perempuan juga tapi sudah meninggal ketika dia kelas 2 SMP" Tuturnya, seperti tau apa yang ada dipikiran Tasya. Gadis itu hanya diam tak menimpal, ia menatap wajah Bu Naimah tampaknya sedih.
"Dia meninggal karena memiliki riwayat penyakit jantung" lanjutnya, tampak setitik air mata Bu Naimah hendak jatuh. Dengan sigap Tasya segera merangkul pundak ibu itu untuk menenangkan, ia ikut merasakan kesedihannya.
"Dia sangat mirip denganmu nak" pecahlah tangisan Bu Naimah. Beliau merangkul tubuh gadis itu, menangis sesenggukan didalam dekapan Tasya. Tasya membalas pelukan Bu Naimah dan mengusap pundaknya. Tubuh Bu Naimah tampak naik turun mengikuti isakkannya. Gadis itu sungguh tak tega, ia seperti flash back saat mamanya menangis di pemakaman neneknya.
Ahhhh kenapa aku ikut sedih begini, mama aku kangen banget, batinnya.
Beberapa saat suara tangisan Bu Naimah mereda walaupun tubuhnya masih sedikit terguncang sesenggukan. Beliau melepaskan pelukannya dari Tasya tapi tetap memegang tangan Tasya, seperti takut kehilangan.
Gadis itu menggiring Bu Naimah ke arah sofa. Ia mendudukkan Bu Naimah di sampingnya. Didepannya sudah ada dua cangkir teh hangat dan beberapa cemilan. Sepertinya tadi ada yang meletakkan cemilan tersebut saat Tasya dan Bu Naimah sedang berdiri didepan bingkai foto.
__ADS_1
"Minum dulu Bu" Tasya mengambil satu cangkir teh dan diberikan pada Bu Naimah, beliau meminumnya dan tampak lebih tenang.
"Maafkan saya ya nduk Tasya. Memang wajahmu mirip sekali dengan anak saya, apalagi usia kalian sepertinya sama" lagi-lagi air mata itu hendak jatuh, Tasya segera mengambil tisu dan mengusap butir air mata itu.
Tasya ikut sedih, ia bisa merasakan kesedihan Bu Naimah walaupun wanita paruh baya itu bukan siapa-siapanya. Tapi ia merasa punya tanggung jawab untuk mengembalikan senyuman Bu Naimah. Setalah kejadian barusan hatinya terketuk dan merasa Bu Naimah adalah sosok ibunya, bukan ibu secara biologis. Tapi malamnya sekarang sedang di kota S dan Tasya sedang KKN di desa N yang sangat jauh jaraknya untuk menyampaikan rasa rindunya pada sang mama. Maka ia bisa menyalurkan rasa sayang dan kangen itu pada Bu Naimah.
Setelah dirasa lumayan tenang, Bu Naimah berpamit padanya untuk ke dapur membantu pegawainya menyelesaikan memasak. sebelum benar-benar pergi, Tasya menahan tangan Bu Naimah. Wanita paruh baya itu menoleh dan sedikit bingung.
"Boleh saya membantu?" tawarnya, Tasya merasa berkurang perasaan canggungnya. Ia merasa Bu Naimah adalah mamanya di desa.
Bu Naimah tak langsung menjawab, ia tampak berfikir dengan bantuan Tasya. Seandainya Bu Naimah menolaknya maka Tasya tak mengapa, ia bisa paham jika rumah ini ada privasi mikir Bu Naimah yang harus dijaga dari orang baru sepertinya.
"Boleh, ayo!" ajaknya dengan semangat, Tasya pun berdiri dan ikut pergi menuju dapur.
"Bu Ida, mbak Lastri, dan Dewi perkenalan ini nduk Tasya Mahasiswa KKN" ucapnya. Semua orang yang tadinya sibuk dengan pekerjaannya menoleh. Mereka menatap Tasya dengan ramah dan senyuman. Gadis itupun membungkukkan badan sebagai ucapan salam.
Tasya adalah orang yang mudah akrab, ia tak akan kesulitan ketika berdekatan dengan orang baru. Ia tampak nyaman membantu yang lainnya, apalagi ia yang sudah terbiasa memasak di kos jadi terlihat lebih santai ketika memegang alat dapur.
"Kamu suka masak nduk?" tanya Bu Naimah ditengah memasak.
"Saya lebih suka makanan buatan sendiri Bu daripada beli di warung makan" jawabnya apa adanya.
__ADS_1
Ada nilai plus dari bu Naimah, gadis itu juga selalu diperhatikan Bu Naimah. Ia bisa melihat jika Tasya adalah gadis yang mandiri dan sederhana.
20 menit kemudian semua masakan itu telah selesai. Mbak Dewi dan mbak Lastri pamit mengantar makanan ke kebun mangga untuk para pegawai, sedangkan Bu Ida pergi ke jemuran karena mendung mulai turun. Tinggal Tasya dan Bu Naimah disana, mereka berdua masih membenahi beberapa yang belum beres. Tak berselang lama terdengar notif telepon dari ponsel Bu Naimah, beliau pamit untuk mengangkat telepon.
Tasya seorang diri di dapur, ia mengelap meja kemudian mencuci tangannya. Saat tengah mengusap tangannya dengan sabun, ada sebuah tangan kekar merangkulnya. Seketika ia bingung dan panik, ia tak mempunyai ilmu bela diri untuk melumpuhkan musuh. Ia berusaha tenang dan memikirkan hal apa yang bisa ia lakukan untuk membuat orang yang melecehkannya melepas pelukan itu. Pikirannya berputar, ia mengingat aksi pembelaan diri dari perampok di film action, ia pun menyikut orang yang masih memeluknya dengan sekuat tenaga. Tak hanya itu, ia juga menginjak kaki orang itu dengan sepatu sneaker nya yang sangat kokoh.
"Auuuuwwwww " keluh orang itu dan segera melepas pelukannya dari Tasya. Gadis itu segera menoleh dan menatap siapa yang berani memeluk tubuhnya selain papanya.
"Siapa kamu?" tanya Tasya, mungkin ini bisa dibilang konyol karena Tasya seolah pemilik rumah itu sehingga bertanya demikian. Tapi maksud pertanyaan Tasya adalah siapa kamu yang beraninya memeluk aku, begitu.
Pria itu yang masih mengeluh sakit itu segera menoleh melihat siapa orang yang tega menyakitinya, ia terlonjak kaget dengan suara itu. Sepertinya memang ia pantas mendapat sikutan serta injakan di kakinya.
Tasya merasa tak aman, ia panik dan pikirannya sudah tak karuan. Ia merasa Bu Naimah sengaja baik padanya karena akan menculik serta memperkosanya. Air mata yang masih di pelupuk seketika jatuh karena takut, ia merasa menjadi orang yang yang nelangsa sekarang.
"apa ada ?" dari arah ruang tamu datang bu Naimah, ia heran ketika mendengar suara teriakan Rezky.
*
*
*
__ADS_1
jangan lupa like, komen dan vote yaaa supaya author rajin menulis