
"Mbak Tasya kuliah dimana?" tanya Rezky saat mereka sudah didalam mobil menuju rumah posko.
Tasya tak langsung menjawab, ia mendelikkan mata saat Rezky memanggilnya dengan embel-embel 'mbak'. Rezky yang tak kunjung mendapat jawaban dari gadis ayu itu menoleh, ia kaget saat Tasya menatapnya dengan pandangan yang sangat lucu.
"kenapa?" tanya Rezky bingung.
"jangan panggil saya embak. Saya masih muda" Seketika Rezky menepuk dahinya, ia lupa kalau tadi memanggil Tasya dengan kata 'mbak'.
"oke... Oke maaf banget. Kamu kuliah dimana?" ralatnya, gadis itu lucu juga.
"saya kuliah di universitas B jurusan kedokteran" jawabnya. Rezky ber-oh, pantas saja gadis itu terlihat lihai saat mengobati luka dikakinya tadi.
"semester?"
"saya semester 5" jawabnya, Rezky hanya menganggukkan kepalanya.
Tasya kembali lagi fokus ke arah luar kaca mobil, ia melihat beberapa penjual jajanan disana. Tiba-tiba ia ingin makan jajanan itu, tapi ia malu meminta berhenti pada Rezky.
"mau jajan dulu?" tawar pria tampan itu, Tasya kaget kok bisa dia tau isi hatinya.
"emang boleh?" tanyanya ragu, Tasya tampak seperti anak kecil yang ingin jajan tapi takut dimarahin ibunya. Rezky tertawa melihat ekspresi Tasya, ia kira gadis yang tak sengaja ia peluk tadi adalah wanita garang yang sangat menjaga harga dirinya.
iya! Rezky tau juga Tasya sangat menjaga dirinya dari sentuhan orang yang tidak seharusnya, tapi disisi lain ternyata Tasya adalah gadis kecil yang sangat lucu.
Ahhhh! Pantaslah Rezky menganggap Tasya masih sangat kecil, usia mereka terpaut 9 tahun.
"kenapa ketawa mas?" Aghhh! renyah sekali saat dia mengucapkan kata 'mas'.
"enggak papa. Tasya usia kamu berapa?" pria itu berbalik tanya, ia kepo berapa usia gadis ayu yang terlihat sangat belia itu.
" tahun ini 21 thn, kenapa?"
"Enggak papa, yaudah yuk kita jajan dulu!" Rezky memarkir mobilnya di lapangan yang luas disamping orang jualan jajan.
Karena waktu sudah hampir sore, disana banyak anak muda yang bermain. Ada yang bermain sepak bola di lapangan, ada juga yang bermain layangan. Begitulah suasana di desa masih sangat ramai dengan kegiatan diluar rumah.
"mas Rezky!" teriak salah seorang penjual disana, Rezky mendekat dan bersalaman dengan orang tersebut.
Siapa yang tak mengenal Rezky, anak kepala desa yang sekarang sukses menjadi polisi di kota. Semua orang mengenalnya, apalagi dia yang tampan, ramah, dan tidak sombong. Sungguh Rezky adalah pria idaman gadis satu desa.
"Sama siapa itu?" tanya penjual cireng, baru kali ini mereka melihat Rezky pergi bersama seorang wanita selain keluarganya. Rezky termasuk laki-laki yang menjaga hubungan dengan lain mahrom, dia tak pernah sekali pun berpergian dengan gadis di desa ini meskipun ia sering dijodoh-jodohkan dengan anak juragan terkaya di desa.
"Oh ini saudara jauh saya pak" kilah Rezky, Tasya yang sejak tadi hanya berdiri disampingnya mendelikkan mata mendengar jawaban Rezky.
Setelah berbincang-bincang, Rezky pamit untuk pergi mencari jajanan yang Tasya inginkan.
"kita saudara?" tanya Tasya dengan ekspresi wajah bertanya, Rezky hanya tersenyum.
__ADS_1
"iya, kita saudara dari nabi Adam" jawabnya enteng sambil membungkukkan badan mendekati telinga tasya, sedikit berbisik. Tasya tertawa dengan jawaban itu, sungguh orang ini benar-benar aneh.
Tasya sedang asyik melihat beberapa jualan, rasanya ia ingin membeli semuanya karena jajan ini terlihat begitu nikmat.
"kamu mau yang mana?" tanya Rezky karena Tasya tak kunjung membeli makanan itu.
Tasya berjalan kearah penjual sempol, itu adalah makanan andalan street food . Ia memesan lumayan banyak karena akan ia bawa ke rumah posko.
Setelah menunggu penjualnya menggoreng, ia hendak membayarnya tapi Rezky menahan. Ia mengeluarkan dompetnya dan memberi uang sejumlah harga sempol. Tasya pun menurut, ia pikir akan menggantinya nanti.
"Apa lagi?" tanya Rezky lagi, ia dengan setia menemani Tasya mencari jajan seperti biasanya ia menemani Rizka jajan juga.
"mau itu, tapi aku bayar sendiri. Ga perlu mas Rezky bayarin aku" terangnya, tanpa menunggu jawaban Rezky, Tasya berlari dulu kearah penjual siomay dan batagor.
Gadis itu memesan beberapa porsi yang nantinya akan dimakan bersama. Saat hendak membayar, Rezky kembali menahan Tasya. Tapi gadis itu segera mendelikkan mata, ia tak mau lagi dibayari makannya karena ia memesan lumayan banyak.
Rezky yang mendapat tatapan itu pun mengalah, ia sebenarnya tidak takut ditatap Tasya seperti itu, malahan ia tertawa melihat gadis kecil dan ayu itu mendelikkan mata.
"Oke" jawab Rezky memasukkan kembali dompetnya, kemudian Tasya mengeluarkan uang untuk membayarnya.
Setalah dirasa cukup semua makanannya, Tasya mengajak kembali. Dia berjalan didepan Rezky yang berkali-kali disapa orang disana.
Mereka masuk kedalam mobil dan hendak melanjutkan perjalanannya, Tasya heran kenapa Rezky tidak melewati jalanan yang biasanya ia lewati. Meskipun Tasya belum terlalu hafal dengan jalanan di desa ini, tapi ia tau jalan dari rumah pak kades ke rumah posko.
"Ini bukan jalan ke rumah posko kan?" tanya Tasya, pria itu hanya diam.
Gadis itu mulai takut, ia takut Rezky berbuat tidak benar padanya. Karena baru beberapa jam tadi Rezky melakukan hal yang bisa dikatakan 'melecehkan' meskipun dia bilangnya tak sengaja, tapi Tasya tak bisa langsung percaya dengan ucapan orang yang baru ia kenal dua jam lalu.
"Jawab kita mau kemana mas? Kalau enggak aku teriak nih" kata Tasya panik, Rezky langsung tertawa. Ia tau kalau gadis itu ketakutan tapi sungguh Tasya lucu jika ia mengira akan diculik atau apalah.
"Kita lewat jalan disana karena pemandangannya bagus" jelasnya, Tasya yang awalnya begitu panik sekarang sedikit tenang meskipun tidak benar-benar tenang, ia harus berhati-hati.
"baiklah mas"
Rezky membawa mobilnya menuju jalan yang sedikit rimbun, disana banyak pohon besar yang tampak seperti hutan jika dari jauh. Mereka melewati hutan, namun dibalik hutan itu ada sebuah air terjun yang langsung terlihat dari jalan, sungguh indah.
"Lihat itu!" Rezky memerintahkan Tasya menghadap ke depan, karena gadis itu masih fokus melihat pemandangan dari kaca sebelahnya. Tasya mendongakkan kepala menghadap ke depan, ia menatap takjub pemandangan disana. Mata Tasya terbuka lebar menatap itu, selama tinggal di desa ini hampir 2 Minggu Tasya belum pernah tau ada air terjun yang begitu indah.
"bagus banget" pujinya, Rezky tersenyum melihat mimik wajah Tasya yang tak mengalihkan pandanganya dari pemandangan itu.
" Mau turun, kita duduk disana sambil lihat air terjun?" Tanya Rezky, gadis itu menganggukkan kepala antusias.
Rezky pun segera memarkirkan mobilnya disamping jalan. Ia segera keluar dari sana dan diikuti tasya, gadis itu membawa satu kantong jajan yang ia beli tadi.
"duduk situ yuk!" ajaknya. Tasya menurut, mereka duduk di kursi panjang yang ada disana, kursi itu langsung menghadap air terjun jadi ia bisa menatap keindahan alam itu secara langsung.
Cemilan yang rencananya akan ia nikmati bersama teman-teman di posko akhirnya tidak jadi, ia membuka satu bungku sempol dan menikmati bersama Rezky.
__ADS_1
"Kenapa aku baru tahu tempat ini" gumam tasya, pandanganya terus lurus kedepan.
"Di desa ini masih banyak tempat-tempat yang harus kamu kunjungi sebelum kembali ke kota" tutur Rezky, Tasya memutar badannya menghadap Rezky.
"Masih ada lagi? Dimana lagi?" tanyanya dengan puppy eyes, sungguh ia benar-benar ingin mendatangi tempat indah didesa ini karena Tasya sangat menyukai alam lepas. Rezky menganggukkan kepala mengiyakan pertanyaannya.
"wahhh aku mau bangett! Tapi.."
"tapi apa?"
"siapa yang nganterin kita nanti"
"Aku bisa kok" tawar Rezky, Tasya menatapnya tanpa berucap kata, tapi Rezky faham maksudnya.
"iya nanti aku anterin karena aku cuti sekitar satu minggu" Tasya tersenyum senang.
Setelah mereka bercerita dan menghabiskan satu kantong penuh sempol, mereka kembali ke mobil untuk pulang ke rumah posko.
Saat mereka bercerita, Tasya baru tau jika Rezky adalah seorang polisi di kota M, tempatnya kuliah. Rezky juga menceritakan kantor polisi tempatnya bekerja, ternyata tak jauh dari tempat tinggal Tasya. Jadi pembicaraan mereka mulai akrab dan nyambung karena banyak hal yang sama-sama mereka ketahui.
"Terima kasih ya mas Rezky" ucap Tasya ketika mereka tiba didepan rumah posko, Tasya tak langsung turun saat berbicara dengan Rezky karena didepan sana teman-temannya sedang bersenda gurau.
"iya sama-sama" jawabnya sambil tersenyum, Tasya pun pamit untuk turun, ia melepas seatbelt dan hendak membuka pintu.
"Tasya!" panggil Rezky, gadis itu pun mengurungkan niatnya untuk membuka pintu, ia menghadap Rezky kembali.
"Maaf ya soal tadi, aku sungkan sekaligus salut sama kamu yang menjaga diri begitu baik" kata Rezky, suasana di mobil itu kembali canggung. Tasya menganggukkan kepala mantap, ia terlihat sudah memaafkan Rezky.
"iya, lupakan saja semuanya, saya sudah memaafkan"
Ahhhh hati Rezky lega, ia merasa lebih tenang sekarang.
"oh iya, boleh minta nomer telepon kami?" tanya Rezky lagi, sungguh Tasya yang hendak keluar, lagi-lagi membatalkannya.
Tasya pun menerima ponsel yang disodorkan Rezky, ia menuliskan no telepon miliknya kemudian menyerahkan kembali pada sang empunya.
"Terima kasih Tasya" gadis itu mengangguk dan segera keluar mobil.
Tasya berdiri disamping mobil Rezky dan membiarkan mobil itu berjalan hingga hilang ditelan jalanan.
*
*
*
*
__ADS_1
*