
Siang ini, Tasya berencana untuk rapat persiapan KKN. Mereka sepakat untuk berkumpul di kafe Nakoa.
Setelah melakukan urusannya di kampus, Tasya langsung meluncur ke kafe itu. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang karena jalanan siang ini lumayan padat.
"Selamat siang semua" gadis berhijab itu menyapa sekelompok mahasiswa yang tengah duduk diujung kafe.
"hai Tasya!" sapa mereka bergantian.
Tasya mengambil duduk disebelah Rere, ia sudah lebih dulu mengenal Rere karena mereka pernah satu UKM.
"Sendiri aja Tasya?" tanya Reza basa-basi, dibalas anggukan pelan dan tak ketinggalan senyum manisnya.
Diujung meja mereka ada Iqbal yang diam tapi matanya terus melirik ke arah Tasya.
Iyapp! Iqbal dari awal Tasya datang hanya diam. Entah! Tasya tak begitu memperdulikannya, ia fokus berbincang dengan teman cewek lainnya.
"Tasya kos dimana?" tanya Ica ditengah-tengah perbincangan mereka.
"Aku kos di daerah X. Kamu tau daerah itu?"
"loh itu kan deket sama kosnya si Iqbal, bener kan bal?" sahut Reza
Karena Iqbal tak fokus dengan ucapan Reza, ia sedikit gelagapan.
"Emmm.. Apa za?" ulangnya.
"Kos lo di daerah X kan?"
"oh! Emm.. Iya gue kos disana." Jawabnya sambil mengusap tengkuk kikuk. Iqbal terlihat seperti lelaki bodoh yang tertangkap basah, padahal ia tak pernah terlihat seaneh itu selama ini.
Selama pembahasan tentang KKN, Iqbal sering mencuri pandang pada gadis ayu itu. Ia menatap Tasya yang sedang fokus menyampaikan pendapat, kadang ia mengangkat bibirnya membentuk senyuman dibalik maskernya ketika melihat Tasya tertawa lepas meskipun ia tak tau apa yang Tasya bicarakan.
Setelah acara rapat persiapan KKN selesai, mereka membubarkan pertemuan. Tasya pamit untuk kembali ke kosnya begitu juga yang lainnya.
"Aku balik dulu ya guys" pamit Tasya. Ia sudah bersiap berdiri sambil memasukkan ponselnya kedalam tas.
"Mau bareng sama aku?" tawar Iqbal, siapa tau Tasya mau pulang bersama dirinya.
__ADS_1
"Oh aku bawa mobil kok bal. Next time deh kayaknya " tolak Tasya pelan.
Iqbal mengangguk, ia sedikit menyesal menawari Tasya tumpangan yang akhirnya ditolak cewek itu. Baru kali ini tawarannya ditolak cewek.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Matahari sore ini cukup menyengat, Tasya mengendari mobilnya bersama pengendara yang lain di jalan yang cukup macet.
Disela-sela perjalanan, Tasya memutar musik jiwa yang bersedih milik Ghea. Ia sedang senang mendengarkan musik galau beberapa hari ini.
Sebelum benar-benar kembali ke kos. Tasya pergi dulu ke sebuah rumah makan untuk memesan beberapa lauk makan malamnya. Ia sudah kehabisan stok bahan masakan di kos dan ia juga sedang malas memasak hari ini.
"Bu saya mau ayam goreng, sayur itu dan tempe ya, masing-masing satu porsi " pesan Tasya.
Gadis cantik dengan hijab mocca itu tak pernah pilih-pilih dalam makanan. Ia bisa memakan apapun asal halal. Seperti kali ini, Tasya hanya membeli lauk biasa di sebuah rumah makan sederhana. Ia senang membeli makanan di tempat seperti ini karena selain harganya murah ia juga ingin melariskan pedagang kecil.
"baik neng, silahkan ditunggu"
Cukup menunggu kurang lebih 10 menit, Tasya sudah menerima menu makanan yang ia pesan. Setelah mendapat satu kantong plastik kecil, Tasya keluar dari warung itu menuju mobil untuk melanjutkan perjalananya pulangnya ke kos.
Tiba di kos, ia memarkir mobilnya dan langsung menuju ke kamar untuk membersihkan diri. Ia mandi kemudian melaksanakan sholat magrib karena sudah memasuki waktu sholat.
Tasya menikmati menu makan malam yang ia beli tadi, tak lupa ia menambahkan dengan nasi dari rice cooker yang ada di dapur.
"bismillahirrahmanirrahim"
Tinggg.....
Tasya menoleh, ia melihat ponselnya menyala. Ada sebuah pesan masuk. Disela makannya, ia meraih ponsel itu untuk melihat barang kali ada yang penting.
Nak, gimana kabarnya? (18.20) mamakuh
Senyum gadis itu terpancar, ia senang melihat ada chat dari sang mama. Wanita menumpahkan kasih dan sayang untuknya dari kecil hingga sekarang.
Hubungan Tasya dan mamanya bisa dibilang sangat dekat, bahkan terlihat layaknya sahabat karena Tasya dan mamanya sering main berdua ketika Tasya pulang berlibur.
Tanpa pikir panjang, gadis itu langsung mengalihkan ke panggilan video. Ia tak sabar ingin mendengar melihat wajah sang mama dan menceritakan tentang program KKN yang dilaksanakan beberapa hari mendatang.
__ADS_1
"Assalamualaikum ma" sapa Tasya ketika telepon itu diangkat.
"Walaaikum salam anak mama yang cantik. Gimana kabarnya"
Tasya mencari posisi duduk yang nyaman, ia menghentikan makannya karena saking senangnya.
"Alhamdulillah baik ma. Mama, papa, dan adik-adik gimana kabarnya?"
"semuanya baik nak. kamu sudah makan?"
Tasya langsung menunjukan piring yang masih lengkap dengan lauk pauk.
"oh kakak lagi makan?" sahut papanya yang tiba-tiba muncul di layar ponsel.
Dua orang paruh baya itu terlihat sangat serasi, dari senyumnya terlihat jika mereka saling mencintai. Tak heran jika Tasya tumbuh menjadi gadis yang lemah lembut serta penyayang, latar belakang keluarganya tidak diragukan lagi.
"Lanjutkan makannya sayang!" perintah mamanya. Tasya mengangguk dan menyendokkan nasi lalu ia masuk ke dalam mulut.
"sambil ngobrol bolehkan?" izinnya setelah nasi itu tertelan. Sangat lucu sekali, Tasya terlihat seperti anak kecil dihadapan orang tuanya. Mama dan papanya hanya tersenyum sambil mengangguk kepala.
"Gimana kuliahnya? Oh iya katanya kakak akan KKN ya, kapan itu?"
"Minggu depan ma. Doakan ya semoga lancar"
"iya nak, orang tuamu ini tak mungkin lepas mendoakan anak-anaknya"
Tasya tersenyum, ia sangat bersyukur lahir dari keluarga cemara yang saling mendukung semua usahanya.
Selain keluarga yang harmonis, Tasya juga terlahir dari keluarga yang berkecukupan. Papa Tasya seorang dokter senior di rumah sakit ternama di kotanya. Papanya juga salah satu pemilik rumah sakit itu, tak ayal jika Tasya memilih jurusan kedokteran juga. karena ia ingin mengikuti jejak sang ayah.
Sedangkan sang mama memiliki sebuah butik yang cukup ramai. Sudah jelas bukan jika Tasya terlahir dari keluarga yang berprevillage, tapi yang berfikir jika Tasya adalah anak yang sombong dan berlebihan. Semua salah, ia gadis yang sangat sederhana dan selalu berusaha memenuhi apapun yang ia inginkan dari uang yang ia miliki.
" Papa sepertinya punya teman yang tinggal di daerah tempat kakak KKN." Ucap papanya ditengah-tengah pembicaraan.
Tasya kaget, ia baru tahu jika papanya punya teman di desa yang terletak diujung kota M.
"Oh ya? kapan-kapan mungkin bisa aku datangi rumahnya pa. Siapa tau masih ingat sama papa" jawabnya.
__ADS_1
Setelah perbincangan cukup panjang, Tasya mematikan panggilan video itu. Ia melanjutkan makan yang sempat terpotong karena obrolan yang seru bersama kedua orang tuanya.