
Tok... Tok... Tok....
"Tasya ada orang tuh di depan gerbang. Katanya temen kamu"
Matanya masih enggan dibuka, setelah melaksanakan sholat subuh tadi Tasya memilih untuk tidur kembali karena memang hari ini ia tak ada kegiatan di kampus.
Tasya hanya mengangguk ketika pintunya diketuk Rosa, teman satu kosnya. Ia tak mendengar ada notif di ponselnya karena ia meletakkan telepon genggamnya di meja belajar.
Gadis yang masih memakai piyama itu berjalan kearah meja belajar untuk mengecek siapa teman yang sedang menunggunya. Ia merasa tak membuat janji hari ini.
"Iqbal?" gumamnya, ia mengucek matanya masih ragu.
"ada apa dia menghubungiku?" lagi-lagi Tasya masih bingung.
Tak ingin membuat pria freak itu menunggu lama, Tasya segera menuju kamar mandi. Ia membasuh wajah dan berganti pakaian yang dirasa sopan.
Ia melangkah menuju arah pagar. Ada seorang pria yang menggunakan kemeja biru tua berdiri disana, Tasya segera mendekatinya.
" Iqbal" panggilannya, pria itu tengah menatap ponsel.
Mendengar namanya dipanggil, pria yang bisa dikatakan tampan itu menoleh. Ia tersenyum simpul pada Tasya.
Serrr.....
Ada perasaan aneh ketika mendapat sapaan berupa senyuman.
Ahhh apaan sih, batin Tasya.
"Ada apa kamu kemari?"
"Kamu ga baca chat grup kita?" Tasya menggelengkan kepala. Iqbal hanya tersenyum melihat tingkah polosnya.
" Kita harus mencari beberapa keperluan untuk persiapan KKN. Semua tugas udah dibagi, karena tempat tinggal kita deket. Jadinya aku sama kamu dapet tugas nya sama" cercanya.
Ahhh percaya, itu hanya akal-akal Iqbal saja.
"Oh gitu? Aku semalam udah tidur deh," Iqbal mengangguk.
" Yaudah aku siap-siap dulu ya. Kamu tunggu disini atau masuk?" Tasya membuka pintu pagarnya lebih luas mempersilahkan Iqbal masuk.
" Emang boleh?" ia ragu untuk masuk ke rumah kos yang penghuninya hanya perempuan.
" Boleh, kamu tunggu di lobi sini." Tasya berjalan terlebih dahulu dan diikuti Iqbal dibelakang.
Tasya melanjutkan langkahnya menuju kamar sedang Iqbal duduk di kursi yang telah disediakan.
Sekitar 30 menit Tasya turun, ia sudah selesai bersiap. Iqbal mendengar langkah kaki seseorang yang ia yakini itu adalah Tasya. Pandangannya tertuju pada suara langkah kaki itu. Iqbal dibuat melongo, untung saja ia sudah menutup mulut kalau tidak sudah dipastikan air liur itu jatuh secara spontan.
"Ayo kita berangkat" Ajak Tasya, Iqbal sadar dari lamunannya.
"Oh... Ayo!" Jawabnya tergagap.
__ADS_1
Tasya merasa kikuk, ia merasa aneh dengan tatapan Iqbal.
"Cantik Tasy" Puji Iqbal.
Gadis yang mengenakan dress dan kerudung senada itu tersipu malu. Jantungnya juga berdetak sangat kencang ketika mendapat pujian itu dari Iqbal.
Tasya hanya tersenyum menanggapi pujian Iqbal.
" Udah yuk berangkat" Ajaknya mengalihkan rasa malunya. Iqbal mengangguk tanpa menghilangkan senyumnya.
"Udahlah bal jangan senyum gitu terus. Aku malu ahhh" Tasya protes. Sumpah! Ia benar-benar malu ditatap Iqbal.
Iqbal mengalihkan pandangannya. Sudah cukup ia membuat wajah Tasya menjadi merah, sangat menggemaskan.
pria tampan dengan kemera rapi itu membuka pintu samping pengemudi untuk tasya. Ia mempersilahkan gadis itu untuk masuk terlebih dahulu. Tasya menganggukkan kepala sebagai bentuk ucapan terima kasih.
" Apa yang harus kita cari Iqbal. Maaf banget aku ga sempet buka handphone tadi" tanya Tasya ketika mobil tersebut berjalan beberapa meter.
" Si Putra nyuruh kita beli bahan makanan di supermarket. Sebelum kita belanja, sarapan dulu yuk! Kamu belum makan kan?"
Tasya menganggukkan kepala setuju. Pria itu tersenyum melihat anggukan Tasya. Ada peluang mengulur waktu lebih lama untuk berdua dengan pujaan hatinya. Sungguh ia berterima kasih pada Putra.
"Kamu suka makan apa Tasya?"
"Terserah aja bal. Aku ngikut kamu."
"Oke kita makan bubur ayam ya? Kamu mau kan? Tawarnya lagi. Iqbal sungguh takut Tasya tidak cocok dengan makan seperti itu.
Selama menuju tempat makan, mereka sesekali mengobrol. Ternyata Tasya gadis yang menyenangkan. Dia tidak sesombong waktu awal jumpa. Mungkin saja Tasya masih kurang nyaman dengan pria baru, apalagi Iqbal sejak awal selalu mencari perhatiannya.
Sesekali Iqbal melirik gadis disampingnya. Gadis itu terlihat sangat cantik, auranya begitu terpancar. Wajahnya yang putih bersih dengan bulu mata yang lentik, apalagi bola mata Tasya yang berwarna coklat menambah cantik di wajahnya.
Tasya sedikit kikuk, ia tau jika Iqbal selalu menatapnya ketika ia sedang berbicara. Tapi untungnya Tasya bisa mengatur perasaannya, jadi ia tidak begitu terlihat tegang.
" Oh iya ngomong-ngomong kamu ambil jurusan apa Tasy? Aku lupa mau tanya"
" Aku ambil kedokteran bal. Kalo kamu jurusan apa?"
" Aku teknik mesin. Biasa kan anak cowok ambil teknik " jawabannya samping senyum. Tasya hanya mangut-mangut.
Tiba mereka di lampu merah, suasananya cukup tegang ketika mereka berdua kehabisan bahan pembicaraan. Iqbal menghadap ke depan dan Tasya melirik kearah samping. Sungguh suasana sedikit kaku.
" Iqbal "
" Tasya "
Ucap mereka berbarengan. Kenapa jadi seperti ini? Niat hati ingin memecahkan keheningan kok malah bersamaan. Iqbal menggaruk rambutnya yang tak gatal.
" Kamu dulu Tasy? Ada apa? " lanjut Iqbal mempersilahkan.
" Emmm kita habis ini belanja dimana? " Tanya Tasya. Sungguh hilang pertanyaan yang akan ia tanyakan. Tasya malu, otaknya blank.
__ADS_1
Iqbal tersenyum, ia tau jika Tasya tidak akan menanyakan itu karena tadi mereka sudah membahas untuk pergi ke supermarket F.
Senyumnya masih tak hilang, Iqbal merasa lucu melihat Tasya yang terlampau malu. Sedangkan gadis itu menoleh kearah samping supaya Iqbal tidak melihat wajah merahnya.
" Kan kita tadi sudah sepakat pergi ke supermarket F " jelas Iqbal. Tasya mengerutuki dirinya sendiri, ia benar-benar malu.
" Oh iya lupa!" jawabnya diiringi senyum malu
Ahhh Tasya kenapa Lo menggemaskan sekali sih, batin Iqbal.
" Kita makan disana ya!" Iqbal menunjuk sebuah kedai bubur ayam yang ada disamping jalan raya. Bubur ayam yang terkenal dan juga sudah menjadi langganannya. Tasya hanya menganggukkan kepala.
" Pak bubur ayamnya spesial dua sama teh hangat "
"siap mas Iqbal " jawab penjual yang terlihat sangat akrab dengan Iqbal.
Mereka berdua duduk di ujung bangku supaya tidak dilewati pembeli yang lain karena kedai ini termasuk kedai bubur ayam yang terkenal jadi banyak pengunjungnya.
Beberapa saat mereka menunggu, akhirnya pesanan mereka tiba.
"Ceweknya ya mas? " tanya pria paruh baya sekaligus penjualnya itu.
" Doakan pak " Jawab Iqbal sambil berbisik tapi suaranya sengaja dikeraskan supaya Tasya mendengar. Bapak penjual melirik Tasya sambil senyum, gadisnya itu hanya tersenyum kemudian menundukkan kepala.
"Apaan sih bal " ucap Tasya ketika penjual itu kembali bekerja. Iqbal hanya tersenyum melihat respon Tasya.
"Enakkan Tasy? " Iqbal mengalihkan suasana supaya Tasya merasa nyaman.
Gadis itu menganggukkan kepala, terlihat Tasya menikmati menu sarapannya. Ia bukan tipe cewek yang pilih-pilih makanan, jadi makan di kedai biasa pun Tasya enjoy.
" Sorry ya Tasy kalo kamu gak nyaman dengan jawaban aku tadi. Aku bercanda kok . Aku ga mau diejek sama pak Budi. Beliau selalu bilang kalo aku ganteng tapi gak laku" tutur Iqbal. Ia tak mau Tasya merasa tak nyaman dengan jawabannya, padahal semua bohong. Ia memang ada perasaan pada gadis itu dan berharap suatu saat Tasya bisa melengkapi hidupnya.
" Iya gapapa kok bal. Emang kamu ga punya cewek? Aku ga percaya".
Cowok se terkenal Iqbal tak mungkin tidak punya pacar. Dia tampan dan mapan sepertinya. Tidak mungkin ada wanita yang menolak pesonanya. Tasya yang beberapa hari berinteraksi saja sudah merasa aneh karena ia begitu perhatian.
Ahhhh apaan sih perasaan aku ini. Kayak anak abege aja, batin Tasya menolak.
"Beneran Tasy. Pasti kamu menyangka aku cowok fuckboy ya?"
Huh!
Tasya mendelik, kenapa Iqbal bisa membaca pikirannya, Tasya merasa bersalah.
" Gapapa kok kalo beneran gitu. Emang salah ya kalo jadi cowok yang humble?" Iqbal menghela napasnya.
"Eng... Enggak kok bal. Aku gak pernah berfikiran seperti itu"
" Kamu laki-laki yang baik"
Iqbal tersenyum melihat Tasya yang bingung dan merasa bersalah. Ia senang melihat Tasya yang tergupuh-gupuh.
__ADS_1
" Santai aja kok" Jawab Iqbal gemas