
Rezky POV
Tasya
Tasya
Dan Tasya
Sungguh aku tak ada niatan untuk memeluknya, bahkan jika aku tau itu buka si Rizka aku tak akan berani mendekatinya. Selama hidupku ini aku tak pernah sekali pun mendekati wanita, entah mengapa aku malas bermain-main dengan perasaan. Menurutku lebih asyik langsung menikah tanpa pacaran daripada menghabiskan uang untuk membiayai wanita.
Kata orang polisi muda itu memiliki pesona tersendiri, banyak dari teman-temanku yang memanfaatkan momen itu untuk menggaet banyak wanita dalam satu waktu. Banyak yang menghinaku gay atau penyuka sesama jenis karena selama ini tak terlihat sibuk dengan urusan wanita, aku tak peduli aku memang belum memikirkan itu semua.
Saat itu aku sudah membuat janji dengan ibu untuk menjemputnya setelah mengikuti acara posyandu, karena sudah menjadi rutinitas ku menjemput dan mengantar ibu di segala kegiatannya saat aku libur cuti. Tapi saat itu aku tertidur pulas setelah berolahraga dan mandi, aku pun meletakkan ponselku jauh diatas meja kerjaku sehingga ketika ibu menelepon aku tak mendengar notifnya.
Aku terbangun tepat saat adzan dhuhur dan menepuk dahiku karena terlupa menjemput ibu, tapi setelah itu aku segera keluar kamar dan pergi ke dapur. Karena aku baru bangun tidur, pikiranku belum benar-benar kembali. Aku melihat seorang wanita di depan wastafel sepertinya sedang cuci tangan, dari belakang aku menembak itu Rizka adikku karena bentuk tubuh dan tinggi mereka sama. Siapa lagi kalau bukan dia, dirumah ini semua pegawai ibu sudah berusia tak mungkin mbak Lastri ataupun dewi bekerja menggunakan pakaian rapi, sangking senangnya aku mengendap-endap mendekatinya dan langsung memeluknya ingin mengagetinya. Tapi aku heran karena dia diam saja tak menoleh aku meneriaki namaku seperti biasanya, aku pun positif thinking, ku kira dia akan mengerjaiku balik. Tapi setelah itu wanita yang kukira Rizka itu menyikut perutku dan juga menginjak kakiku dengan sepatu sneaker kokohnya. Aku meringis kesakitan hingga tak dapat berkata apapun, kulepaskan pelukan itu untuk berjongkok memegang perut dan kakiku.
Ibu mendengar jeritanku, dia datang dari arah depan dan menatap aku bingung. Aku pun masih tetap di posisi berjongkok merasakan sakitnya sikutan dahsyat gadis yang kukira Rizka. Setelah ibu memanggil namanya dengan sebutan 'Tasya' aku menoleh, aku mendelik kaget karena gadis yang kupeluk tadi bukan adik bandel ku, dia gadis asing yang tak pernah ku kenali sebelumnya. Aku pun panik hingga rasa sakit di perut dan kakiku seketika hilang, aku malu sekaligus marah pada diriku karena bisa-bisanya berbuat hal seceroboh seperti itu.
Kulihat wajah gadis itu seperti orang ketakutan, ia menangis tanpa suara tapi air matanya terus saja mengalir. Aku pun panik hingga ibu berkali-kali memanggilku tapi aku tetap fokus pada gadis itu, aku bingung bagaimana minta maaf dan menjelaskan bahwa aku salah orang tadinya. Aku mendekatinya dan berusaha meminta maaf, aku menyentuh tangannya yang tanpa bergetar ketakutan tapi segera ia tepis, aku semakin takut.
"REZKY ATMAJA!" aku tersentak kaget, ibu menjerit memanggil namaku karena sedari tadi aku bingung meminta maaf padanya tanpa menghiraukan pertanyaan ibu.
Aku pun yang berusaha menenangkan diri akhirnya menceritakan kronologinya, ibu hanya dapat menepuk dahinya. Kemudian ibu mendekatinya dan menjelaskan jika aku tak ada maksud untuk berbuat jahat padanya, aku hanya salah orang karena tinggi badan mereka hampir sama. Gadis itu terlihat sedikit tenang, ia mau mengikuti ibu dan pergi berdua ke ruang makan.
"Ayo makan!" ajak ibu padaku dengan nada ketus, sepertinya ibu marah ata kelakuanku. Aku pun mengikuti perintahnya dan ikut makan bersama.
Berjejer beberapa menu makan di atas meja. Selama ini aku yang selalu selera dengan semua hidangan di meja itu, seketika hilang napsu makanku, aku tidak tertarik melihatnya. Hingga lama aku tak segera mengambil makanan karena aku masih tak enak hati pada gadis yang duduk disamping ibu.
__ADS_1
Ibu yang merasa sungkan padanya karena kelakuanku, ia terus saja menawari berbagai macam lauk tapi gadis itu bergeming ia bilang akan mengambil sendiri, ibu pun akhirnya menyerah tak ingin memaksanya karena takut gadis itu semakin tak nyaman.
Aku pun tak terlalu berselera dan hanya mengambil makanan dalam porsi sedikit. Aku masing sungkan dan merasa bersalah padanya hingga aku berkali-kali meliriknya ingin melihat ekspresi wajahnya. Aku ingin tau apa dia sudah lebih baik dari pada tadi. Tampaknya ia sudah menikmati makanan itu walaupun hanya porsi sedikit.
Saat aku meliriknya dalam diam, gadis itu pun menatapku balik. Dia terlihat salah tingkah dan lucu sekali.
Etsss.... Kenapa malah lucu? Aku berbuat salah loh.
Setalah makan selesai, aku tak langsung berdiri. Aku tetap duduk bersama yang lainnya. Suasana disana masih tetap hening karena gadis itu terlihat enggan berbicara. Aku menghela napas panjang, ini saatnya aku meminta maaf padanya agar tak dihantui perasaan bersalah
"Tasya maafkan saya. Saya tak tau kalau kamu bukan Rizka adikku" kataku dengan nada tenang. Gadis itu diam, dia menatapku sekilas dan akhirnya ia mengangguk, dia terlihat menerima alasanku.
Aku pun bernapas lega, bersyukur akhirnya ia bisa paham jika aku tak ada maksud buruk padanya, karena memang reaksinya tadi saat awal-awal aku memeluknya sangatlah terlihat ketakutan, sepertinya dia syok.
Setelah itu Tasya pergi ke dapur, ia merapikan piring yang kita gunakan untuk makan, ibu sudah melarangnya untuk mencuci piring tadi dia tetap ingin mencucinya, ibu pun membiarkannya pergi dulu.
Aku diam saja tak menjawab pertanyaannya, akhirnya ibu sebal dan pergi ke dapur menyusul Tasya.
Hatiku bertanya, apakah aku suka?
Hei Rezky sadar, kamu sudah membuat anak orang takut berdekatan denganmu sekarang malah suka, batinku berperang.
Sedetik kemudian senyumku merekah, dia anggun dan cantik sepertinya cocok denganku hahahaha.
"Bu saya mau pamit pulang" aku mendengar sayup-sayup suaranya, dia berpamitan akan kembali ke rumah posko. Apa sebaiknya aku antar saja dia sekalian aku meminta maaf secara serius tidak seperti tadi.
Akhirnya aku melobi ibu, ia setuju dengan rencana ku.
__ADS_1
"Saya bisa kembali sendiri Bu" bantahnya, ibu pun terlihat sedikit memaksa dan aku membumbuinya sedikit. Akhirnya dia menyerah dan menurut untuk ikut dengan ku
Yesssss!!
Selama perjalanan aku berusaha menata kata dan ucapan supaya tidak menyakitinya, aku ingin meminta maaf sekaligus mendekatinya. Sungguh aku orang yang tak tau diri sekali, tapi entahlah hatiku begitu condong untuk melakukan hal itu.
Sesekali kulirik gadis itu yang menghadap ke kaca sampingnya, wajah terlihat cantik dan meneduhkan. Aku dapat menangkap dari raut wajahnya dia gugup, apa dia benar-benar gadis sholihah.
"Mbak Tasya kuliah dimana?" aku memulai obrolan supaya mobil ini tak terasa seperti kuburan.
"saya kuliah di universitas B mas" jawabnya singkat sambil menatapku sekilas.
"jurusan apa mbak Tasya?"
"emmm panggil nama aja mas. Saya tidak lebih tua dari mas Rezky" jawabnya, oh ternyata dia keberatan aku memanggil namanya dengan tambahkan 'mbak'.
"oh oke. Kamu jurusan apa mbak.. Eh Tasya?
"Aku kedokteran mas"
Sepertinya tuhan memang berpihak padaku, setelah kita berbincang panjang aku tau kalau ternyata dia kuliah di universitas B di kota yang sama dengan aku bekerja, bahkan tempatnya kos nya sangat dekat dengan kantorku, sebuah kebetulan yang sangat menguntungkan ku, bukan?
*
*
*
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote yaaa!!