Jodohku Di Tempat Kkn

Jodohku Di Tempat Kkn
9


__ADS_3

Flash back on


Sambutan warga desa N sungguh meriah, mahasiswa KKN diajak ke kantor desa untuk bertemu langsung pemimpin mereka yakni pak kades.


Disana sudah berdiri jajaran petinggi desa, pak kades dan para pejabat lainnya.


Beliau menjelaskan seluk beluk desa N dan masalah yang terjadi di desa N supaya mahasiswa KKN tersebut bisa membantu menyelesaikannya.


Iqbal sebagai ketua tim merasa mendapat sebuah amanah besar untuk mewujudkan keinginan pak kades dan juga warga desa supaya desa N bisa menjadi lebih baik.


Setelah acara pengenalan, mereka diajak untuk menikmati beberapa cemilan buatan warga desa N. Sungguh warga desa ini menyambut mereka dengan hangat.


Pak kades yang tengah duduk bersama mahasiswa KKN terus saja menatap gadis berhijab itu, wajahnya sangat teduh dan menyejukan. Mulai dari senyumnya hingga tutur kata Tasya beliau amati.


"mbak Tasya" panggil pak kades. Tasya menoleh dan tersenyum sebagai bentuk jawaban.


" Rumah asli mana?" Entah mengapa pak Qodir merasa tak asing dengan wajah Tasya, tapi beliau juga terpikat dengannya.


"Saya asli kota S pak" jawabnya santun. Pak Qodir hanya menganggukkan kepala. Pak Qodir merasa rencana yang harus ia kerjakan.


Gadis ini sungguh cocok untuk anakku, batin pak kades.


Flash back off


...****************...


Iqbal POV


Hmmm.....


Tasya lagi Tasya lagi


Bisa-bisanya dia bikin pikiranku kacau. Seperti siang ini, katakanlah aku ketua yang cilik. Tapi memang aku memanfaatkan jabatanku untuk memikat gadis berhijab itu.


Dia pendiam dan tidak banyak protes seperti Rere. Cara pembawaannya yang menyenangkan sehingga aku betah menatapnya.


Ahhhhh....


"Gila Lo?" Hardik putra.

__ADS_1


Kann... Lagi-lagi aku tertangkap basah sedang melamun membayangkan gadis ayu itu. Setiap tingkah polahnya tak bisa lepas dari pandanganku. Padahal kita seharian melakukan kegiatan bersama tapi ketika Tasya kembali ke rumah bu Susi rasanya tanganku ingin sekali menanyakan kabarnya. Apakah yang ia lakukan sekarang atau sudah makan kah dia?


Sungguh! Aku Iqbal pria yang senang menggoda wanita sekarang seperti tersihir oleh pesona gadis berhijab itu.


"Apaan sih gangguin aja" sungut ku.


Putra tertawa, ia orang pertama yang paling tau tentang perasaanku pada Tasya. Dia juga orang pertama yang mendukungnya, meskipun semua teman-temanku juga mendukung hubunganku dengan Tasya. Tapi Putra yang paling paham.


Seperti pagi tadi, saat Tasya ingin membeli keperluan memasak. Gadis itu sudah siap mengeluarkan motor di posko, Putra yang melihat itu segera membangunkan ku yang sedang tidur pulas. Meskipun hatiku sedikit dongkol karena dia mengganggu tidurku tapi aku juga berterima kasih. Karena dia aku bisa pergi berduaan dengan Tasya.


Aku segera mendatangi Tasya di depan rumah posko dan menawarinya untuk mengantarkan ke tempat ia berbelanja. Tasya yang awalnya menolak, mungkin ia kasihan padaku yang bangun tidur. Tapi aku ingin mengantarkannya, ingin berduaan dengannya walau hanya pergi ke penjual sayur. Tasya tampak berfikir, kemudian dengan sedikit paksaan Tasya mau ku antar berbelanja.


Ahhhh gilakk...


Ini seperti seorang suami yang sedang mengantar istrinya. Tasya yang masih memakai baju rumahan dan aku yang hanya mengenakan celana training dan baju kaos terlihat serasi seperti pasutri muda.


Upsss!!! Inget bal, umur masih segini udah mikirin nikah aja.


Sepanjang jalan aku menyapa orang yang lewat. Banyak orang yang sudah kami kenal, jadi ketika lewat mereka yang menyapa balik. Sungguh indah kehidupan orang desa, saling bertegur sapa.


Setelah menempuh jarak kira-kira 200 meter, kita sampai ke penjual sayur. Tasya turun dan pergi ke warung yang menjual aneka macam bahan untuk memasak, sedangkan aku tetap di motor menunggunya.


Ehhh.... Tapi Tasya? Dari awal aku mengenalnya Tasya tampak biasa saja. Aku tak pernah mendapat perhatian lebih darinya. Apa mungkin Tasya tak menyukaiku. Tapi dia baik padaku, dia juga mau aku ajak berboncengan setiap kali keluar. Atau dia sebenarnya suka kepadaku tapi malu untuk mengakuinya?


Ahhhh gadis ini memang membuatku pusing. Aku tak tau apa dia benar-benar tak ada perasaan padaku.


Sibuk dengan pikiranku, ternyata Tasya sudah berdiri di depanku. Ia membawa satu kantong plastik penuh bahan mentah. Ada beberapa ikat sayur dan tampaknya ia juga membeli tempe tahu.


"Udah?" tanyaku tak ingin nantinya ada yang kurang. Tasya menganggukkan kepala.


Setalah itu ia naik keatas motor. Aku meminta belanjaan itu dan ku letakkan didepan motor karena kita menggunakan motor matic.


Sebelum benar-benar kembali ke posko, aku mengajak Tasya mampir ke bubur ayam di pinggir jalan. Awalnya ia menolak takut anak-anak menunggu bahan masakan darinya. Tapi bukan Iqbal namanya kalau tidak ada sedikit paksaan. Gadis itu berfikir sejenak seperti keberatan dengan ajakanku.


"Udah aku chat nih di grup kalau kita datang telat"


Tasya mendelikkan matanya, lucu sekali. Ia ingin protes dengan tindakanku, dia bilang aku gak disiplin. Tapi aku tak peduli asal bisa berduaan dengannya lebih lama. Mau tak mau Tasya menyetujuinya karena aku sudah terlanjur mengirim pesan ke grup.


"Sekali ini aja ya. Jangan diulangi lagi Iqbal!" pesannya. Aku menganggukkan kepala menyetujuinya seperti anak sedang dimarahi ibunya.

__ADS_1


Akhirnya kami pergi ke penjual bubur ayam yang ada di pinggir jalan. Aku memesan dua porsi bubur ayam dan dua gelas teh hangat.


Tasya menunggu disalah satu bangku yang disediakan. Setalah memesannya, aku menghampirinya dan duduk dihadapan gadis ayu itu.


"Kamu gak merasa ada yang beda dariku Tasy ?" sungguh aku ingin tau bagaimana responnya ketika melihat aku sering mencari perhatiannya. Masa ia tak paham dengan semua perlakuanku padanya yang beda dari yang lain.


Tasya mendelik, entah ia tak paham atau pura-pura tak paham. Aku hanya diam menunggu responnya.


Dia tampak diam sejenak dan akhirnya menarik napas pelan.


"Aku merasa kalian semua sama. Kamu dan yang lainnya tak ada bedanya bal"


Tasya menundukkan kepala memutar-mutar jadinya diatas meja seperti membuat bentuk abstrak. Gadis itu tak lagi menatapku padahal aku sedang menghadap dia.


"sama? maksudnya?" aku masih tak paham dengan maksud dari ucapannya. Gadis ini sungguh membuat kepalaku ingin pecah.


"Sama bal. kalian sama-sama temanku yang gak mungkin kan aku membedakan kalian kan"


Ahhhh......


"Monggo mas mbak"


Pembicaraan kita terpotong, penjual bubur ayam itu datang dengan nampan yang berisi dua mangkok bubur ayam yang masih mengepul. Tidak lama setalah itu datang dua gelas besar teh hangat.


Air liurku sudah berada diujung, rasanya aku ingin segera menikmati dan melupakan sejenak pembahasan kita tadi.


"Lupa kan yang tadi Tasy. Jangan dipikir terlalu dalam aku hanya bercanda" ujarku sambil tersenyum.


Sepertinya aku harus lebih sabar mendekatinya, dia bukan tipe gadis yang mudah didekati. Aku tak boleh membuat dia merasa tak nyaman ketika berdekatan denganku.


Kamu menikmati semangkok bubur ayam itu. Rasanya nikmat, apalagi makan bersama orang yang aku sukai.


*


*


*


*

__ADS_1


Dukung author yaaaa


__ADS_2