
Matanya terperanjat akan kecantikan seorang gadis bercadar yang sedang meliukan tubuhnya di panggung. Tubuh yang tinggi, kulit putih dan lesung pipi dikeduanya. Bagian atas tubuh polosnya sangat indah. Begitu nyata kecantikan seorang wanita. Separuh keindahan surga yang tertinggal dibumi.
Hanya saja, cahaya matanya seperti tempias yang dihindari. Bisa saja semua pria disini yang notabennya kesepian atau hidung belang terpana dengan kemolekan tubuh setengah telanjangnya tapi sorot matanya seolah redup. Seperti menyimpan sebuah kesedihan.
Gadis yang cantik, tapi sayang... Danil tidak meneruskan ucapannya.
Danil Herman adalah salah seorang pengusaha ternama di kotanya. Ia sangat suka mengunjungi seluruh tempat yang ramai akan pengunjung, karena disana dia bisa banyak belajar.
Usia Danil baru 26 tahun. Sangat muda untuk seorang pengusaha ternama. Namun pola pikir dan kemauannya lah yang membuat usaha fashion dan kulinernya menjadi maju pesat.
Dan sudah dua minggu terakhir Danil selalu mendatangi Mirror Place, Hotel bintang lima dengan dunia malamnya yang sangat terkenal. Hanya orang berkelas saja yang mampu menikmati fasilitas MP, dan hanya wanita yang lulus seleksi yang bisa menjadi model, pemandu karaoke disini. Dan identitas mereka sangat dijaga kerahasiaannya. Jadi mereka tidak perlu takut bertemu dunia luar.
Model disini juga harus multitasking, tidak cuma pintar catwalk tapi juga lenggak lenggok mengikuti alunan musik dengan tubuh telanjangnya. Dan terpenting haram hukumnya mengecewakan pelanggan.
Wanita yang sekarang Danil lihat adalah penyebab ia selalu ingin datang kesini. Gadis itu sangat lembut, Danil mengetahuinya saat memboking ya Lima hari lalu. Dia berbeda dengan wanita bayaran lainnya, wawasannya sangat luas dan terlihat sangat berpendidikan.
"Hay Rin." Danil menyapa Rin di bangku mini bar. Malam ini dia telah memboking Rin hingga pagi. Jadi dia bebas melakukan apapun pada Rin nantinya.
"Hay, aku minum dulu ya haus." ujarnya polos dengan cadar yang menempel diwajahnya. Peraturan MP tidak memperbolehkan anaknya membuka cadar kecuali saat berdua dengan tamu. Rin selalu mematuhi itu.
"Oke, aku tunggu." ucapnya di samping Rin.
"Mau kemana kita?" tanya Rin sambil bersender di bahu Danil. Rin sadar Danil sudah membayarnya untuk malam ini, jadi dia harus bersifat menyenangkan.
"Ke apartemenku ya. Aku mau dimasakin sama kamu." tawarnya sambil mengelus rambut Rin.
"Oke. Ayok berangkat."
Belum sempat Rin berdiri, Danil sudah menahan bahunya. "ini blazerku kamu pake biar tidak dilihat orang diluar, malu".
Rin menerimanya dan memakai blazer tersebut. Mereka lalu berjalan beriringan keluar ruangan menuju parkiran.
Selama di dalam mobil tangan Rin terus menghadap keluar jendela menikmati pemandangan yang tersaji. Sejujurnya Rin sangat senang dibooking Danil, karena Danil adalah cowok yang sopan.
Sesampainya di apartemen. Danil meminta Rin membersihkan tubuhnya. Sementara Danil menunggu di meja makan.
Rin keluar dengan balutan handuk yang melilit dadanya. Cadarnya sudah tidak dikenakannya. Meski tersenyum, Danil paham betul. Aura yang dipancarkan Rin begitu menyedihkan.
"Kenapa sih sedih terus?" tanya Danil dari tempat duduknya.
"Ikh, perasaan kamu aja. Jadi mau dimasak sambil bugil atau pake baju?" tanya Rin dengan gaya sensualnya. Gerakannya seolah ingin membuka handuknya.
"Pake baju lah. Masuk angin loh bugil." ucapan Danil membuat Rin menghentikan aksinya.
"Hahaha, oke." Rin memandang gemas. "Tapi aku kan tidak ada baju cuma pake blazer kamu." ucapnya jujur. Kepalanya yang tak terasa gatal digaruknya.
"Iya bentar." Danil bangkit menuju kamarnya.
__ADS_1
"Ini." Diserahkannya boxer dan kaos oblongnya. "Selanjutnya wajib bawa pakaian ganti ya." ucapnya.
Rin mengganti pakaian. Dan kini ia nampak makin menggoda. Setelan itu sangat sexi dikenakan. "Nah kalo ginikan cantik." Danil tersenyum menatap. Rin memberikan jempolnya.
"Mau dimasakin apa Nih?" Rin berjalan melewati Danil menuju dapur. Dibukanya lemari es.
"Nasi goreng telur aja."
"What? bayar aku mahal cuma buat nasi goreng telur? kenapa tidak gudek, rendang atau lainnya?" Rin tahu Danil sangat menyukai masakan Nusantara.
"Ngak mau, maunya nasi goreng. Kok maksa sih?" cemberut Danil.
Rin menatap Danil lama. Pria dihadapannya ini sungguh baik. Hal itu dapat dilihat dari sorot matanya yang berwarna coklat itu. Mata yang spesial karena berbeda dengan miliknya. Dan mirip elang.
"Haha, oke.oke. Tunggu sebentar."
Rin mulai memotong sayur dan menggiling bumbu nasi goreng spesial untuk orang spesial. Dengan lincah tangannya sangat cekatan.
"Sip, jangan lama - lama sudah laper berat." Tangannya memegangi perut yang sudah bersenandung sejak tadi.
Sepuluh menit berlalu, aroma nasi goreng tercium enak. Menghilangkan kesabaran Danil.
"Ikh, mana nasi gorengku? bau - baunya sudah matang." Danil bertanya dari meja makan.
"Bawel banget." Rin keluar dari dapur dengan sepiring nasi di tangannya.
"Asik, Pasti enak banget nih. Suapin ya?" Pinta Danil dengan suara memelas.
"Biarin." Mulutnya dibuka lebar - lebar memberi tanda.
Rin tersenyum dan mulai menyuapi Danil. Laki - laki ini terlalu sempurna. Walau gimanapun Rin menggodanya dia tetap tidak bergedik.
"Enak. enak sekali. Mau dong dimasakin tiap hari." ucapnya sambil berbinar.
"Kalo kamu suami aku pasti aku masakin tiap hari." ucap Rin datar.
"Ya sudah kita nikah aja." tawarnya tulus.
Rin sadar akan dirinya. Dia terlalu kotor untuk pria sebaik ini terlebih saat ini kuliahnya belum selesai.
"Ikh becanda aja. Sudah ayo habiskan. Aaaa... buka mulutnya." Rin kembali menyuapi menunggu Danil membuka mulutnya.
"Wah aku ditolak." ucap Danil dengan mimik sedihnya.
Rin tersenyum melihatnya. Diacaknya rambut Danil, tatapan polosnya membuat detak jantung Rin semakin memburu. Tatapannya sangat istimewa. Matanya bagai seekor elang yang ingin menerkam mangsa.
"Kalo boleh tau kamu sering bawa wanita kesini?" mencoba menyelidiki.
__ADS_1
"Tidak." Danil memandang ragu "Kamu sendiri mau sampai kapan seperti ini?" Danil ingin sekali tahu jawabannya.
Tangannya berhenti menyuap "Entahlah." kepalanya tertunduk lesu.
"Demi uang?" Danil kembali bertanya.
"Bukan. Harga diri." Tidak uang semata yang membuat Rin masuk dunia ini.
"Kalo aku boleh tahu kamu masih kuliah atau sudah bekerja?" Danil kembali bertanya.
"Kepo akh. Sudah jangan korek hidupku. Ini mau dihabiskan tidak makanannya?"
"Iya, ayo suap lagi." Danil membuka mulutnya.
"Makasih ya."
"Buat?" tanya Danil bingung.
Rin tidak ingin jujur. "Buat ini."
Cup
Dikecupnya bibir Danil cepat tanpa persiapan. Danil kaget dan langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Ikh aku jadi malu." candanya.
"Hahaha." Rin tertawa. Semenjak mengenal Danil kekosongan dihatinya seperti diterangi sebuah lilin. "Kamu mau tidur denganku?" tawar Rin menggoda.
"Tidak mau. dosa, tapi kalo didongengin sebelum tidur aku mau." ucapnya polos.
Rin meletakan piring ditangannya, Dia lalu menduduki paha Danil dan memainkan tangannya pada wajah Danil. Ia hanya ingin memberi sedikit tes.
Sejujurnya Danil risih dengan perbuatan Rin. Dia mencoba menghindar. "Sudah Rin turun, kamu berat."
"Bukannya kamu membayarku untuk ini?" Rin menatap bola mata Danil. Tangannya dieratkan di leher Danil.
"Berhenti Rin. Aku tidak suka." Dihempasnya tubuh Rin hingga terjungkal dilantai.
Sadar telah menyakiti Rin, Danil mendekat memastikan wanita itu baik - baik saja. Dan meminta maaf. "Kamu tidak apa? maafkan aku." Danil mengulurkan tangannya membantu Rin berdiri.
Dilihatnya Rin menitikan air mata. "Kamu tersinggung? maaf ya. Bagiku wanita itu harus dihargai, makanya aku tidak suka kamu seperti itu."
Rin mengangkat wajahnya menatap Danil. "Menurutmu aku berharga?"
"Sangat berharga. Karena itu aku tidak mampu menyentuhmu."
Rin tersentuh dengan ucapan Danil. katanya membius. "Aku yang minta maaf." menyadari kesalahannya. Ternyata Instingnya benar. Pria ini baik.
"Sudah lupakan. Masih mau suapin aku?" tanya Danil.
__ADS_1
"Mau." Rin berdiri dan mengambil piring tadi. Menyuapi Danil hingga suapan terakhir.
Seperti biasa, setelah ini Danil pasti akan meminta masukannya bertukar pikiran.