Jual Diri

Jual Diri
bersikap biasa


__ADS_3

Malam tadi Danil tidak bisa tidur nyenyak. Kenangan indah dua tahun silam kembali memenuhi memorinya. Rasa kehilangan itu kembali mengusik.


"Woi. Diminum tuh kopi. Ngelamun aja"


Tepukan Andi dipundak Danil membuyarkan lamunannya.


"Apa sih ngagetin aja."


"Hehe. Lagi mikirin Sisi atau Vina?" Andi bertanya serius. "Untuk Sisi. Gue harap elo bisa bersikap biasa hari ini. Anggap tidak pernah terjadi apa - apa."


Danil menghentak meja. "Gila Lo. Setelah apa yang dia buat. Gue harus baik sama dia?"


Andi mendekat dan menyentuh kedua bahu Danil. "Tenang dong bro. Cooling down. Lu percaya gue kan?"


Seketika Danil mengerti maksud Andi. "Oke. Untuk kali ini aku nurut."


"Nah gitu dong bos."


Cup.


Andi mengecup lembut pipi Danil.


Danil kaget dan menjauhkan tubuhnya. "Ikh. Jijik." Matanya melotot ke arah Andi. Dan menghapus kasar pipinya.


Andi tertawa melihat sahabatnya. Danil adalah sahabat kecilnya. Dulu ayah mereka adalah sahabat. Dan kini anak - anaknya pun ikut bersahabat.


"Tapi Dan.." Andi menghentikan ucapannya. Tatapannya berubah cemas. "Gue khawatir sama lu. Davin pasti punya niat jahat. Dan Vina. Gue ngak yakin dia mati."


Danil juga berpikir sama dengan Andi. Hanya saja dia tidak mau terlalu memikirkan. Untuk saat ini nasib seluruh pekerjanya adalah yang terpenting.


"Gue bisa jaga diri. Tenang saja." Danil berusaha menenangkan. "Tapi soal tadi malam gimana? yakin Sisi masuk kerja hari ini? siapa tahu resign."


"Dia ngak ada alasan untuk resign. Santai aja. Kejadian tadi malam dia pasti lupa." Andi tersenyum bangga. "Lu kaya baru kenal gue aja bos."


* * *


Pagi sekali Danil sudah berada di kantor. Dia sengaja datang pagi sekali untuk menyimpan berkas - berkas yang penting.


Tepat pukul 08.00 satu persatu pegawainya mulai berdatangan. Termasuk Sisi.


Danil menyapa Sisi seperti biasa. Dia baru sadar jika Sisi selalu memasang earphone bluetooth di telinganya. Mencurigakan.


Danil berjalan keruangan Sisi. Menyapa Sisi tidak seperti biasa. "Si. Makan siang bareng ya nanti."


Wajah Sisi memerah. Seperti mimpi. Biasanya Danil selalu menolak jika Sisi ajak. Kali ini malah dia yang berbalik mengajak Sisi.

__ADS_1


"Makan siang bareng? yang benar pak?" Sisi kembali bertanya untuk meyakinkan dirinya.


Danil menggangguk. "Iya. Kamu tidak mau ya?" Pura - pura memasang wajah sedih. Tangannya menggenggam Sisi seperti memohon.


Entah mimpi apa Sisi semalam bisa berdua dengan Danil. Atasan yang sudah lama ditaksirnya.


"Mau pak." Sisi tersenyum sumringah.


"Oke. Sampai jumpa nanti." Danil melambaikan tangan ke Sisi dan berlalu.


Setelah beberapa jam berlalu. Tibalah saat makan siang. Waktu yang dinanti - nanti Sisi. Sebelum pergi Sisi bersiap ke kamar mandi. Disisir rapi rambutnya kebelakang. Rona merah bibir yang memudar ditambah polesan lipstik merah menyala.


Melihat pantulan wajahnya di cermin Sisi merasa puas. Wajah yang sensual dengan tahi lalat yang berada di atas bibir kanannya semakin membuatnya seksi. Ditambah desahan suara saat dia berbicara mampu menaikan hasrat lawan jenisnya.


Dengan anggun Sisi berjalan ke ruangan Danil. Sisi membuka pintu dan tampak Danil sedang menunggunya disana.


Danil berdiri dan tersenyum menyambutnya. Dipandanginya tubuh Sisi dari atas hingga kebawah. Dimatanya wanita itu sama sekali tidak menarik.


"Ayo kita pergi." Danil mendekat dan menggandeng Sisi. Tampak Sisi sangat bahagia diperlakukan baik oleh Danil.


Saat mereka melewati pegawai Danil lainnya. Mereka memandang Sisi tidak suka. Namun mereka tetap menyapa Danil sopan sebagai atasannya.


"Kita mau makan dimana pak?" Sisi bertanya.


"Masuk dulu ke mobil." Danil membuka pintu mobil dan mempersilahkan Sisi.


Saat Sisi ingin mendaratkan bibirnya. Danil menahan dengan jarinya. "Sabar dong jangan buru - buru."


Sisi memanyunkan bibirnya. Gagal deh pikirnya. Tak kehilangan akal Sisi meletakan tangan kanannya diatas paha Danil dan membelainya lembut.


Danil hanya menatap Sisi sambil tersenyum. Sesekali dia mencium pundak tangan Sisi.


"Sebelum makan kita ke apartemen sebentar ya Si." berkata sambil menaikan sebelah alis matanya.


Sisi paham arah tujuan akhirnya. Senyum bibirnya semakin mengembang. "Iya pak." ujarnya malu - malu.


Tiba di apartemen Danil langsung menyuruh Sisi masuk ke kamar. Danil pergi ke dapur sebentar untuk mengambil minum buat mereka berdua.


Danil menghentikan langkahnya ketika pintu terbuka. Sisi duduk di sebelah nakas tepi ranjang dengan posisi yang sangat menggoda. Terlebih pakaian kerjanya sudah terlepas di lantai. Wanita ini benar - benar gila.


Sisi berdiri dari tempatnya. Menghampiri Danil. Diambilnya gelas dikedua tangan Danil. Dia meminum air di dalam gelas dan tangan yang satunya meminumkan ke mulut Danil.


Danil menggenggam tangan Sisi dan mengambil gelasnya. Tangan sebelahnya meraih pinggul Sisi mengajaknya ke atas ranjang.


Diletakan gelas miliknya. Membalikan badannya tepat dibelakang tubuh Sisi. Tangannya mengambil gelas Sisi dan menegukan ke mulut Sisi hingga habis.

__ADS_1


Setelah gelas Sisi diletakan di samping ranjang. Danil membaringkan Sisi. Tampak jelas wajah Sisi memerah dengan napas yang memburu.


"Kau cantik sekali." Danil membelai wajah Sisi dari samping ranjang.


Sisi mengejang menerima perlakuan Danil. Tangannya meremas ujung kerah Danil. Matanya terpejam perlahan.


"Akh Danil." Sisi mengarahkan tangan Danil tepat sensitifnya. Menginginkan Danil memainkan area itu.


Beruntung Sisi keburu terlelap sebelum dia memainkannya. Dilepasnya kasar tangan Sisi.


"Tidak bisa menjaga harga diri." Danil berdiri dan langsung mencuci tangannya.


Andi keluar dari kamar mandi dengan tawa terbahak. "Haha, hebat juga ternyata lu bos."


"Ikh, apaan sih." Danil tidak suka dengan apa yang dilakukannya barusan. "Ini terakhir. Ngak mau lagi gue rendahin diri gue kaya tadi."


"Santai dong bro."


"Sekarang kita Spain dia?" tanya Danil bingung.


"Ya pakaikan baju lah. Emang lu mau make nih cewek?"


"Ngak lah. Bekas lu." Danil mengambil baju Sisi yang tercecer dilantai dan memasangnya.


Andi hanya tersenyum melihat Danil.


"Bantuin woi." Dilemparnya rok Sisi ke muka Andi.


"Akh kurang ajar lu." Danil mengambil rok itu dan ikut membantu Danil. "Sementara dia kita tahan dulu disini."


"Masa diapartemen gue." Danil tampak keberatan.


"Ya ngak mungkin di kantor juga Danil." Andi melotot ke arah Danil. "Kalo kita sewa tempat. Nanti dia kabur gimana?"


"Iya. kenapa ngak ditempat lu aja."


"Lu kan tau gua tinggal di kosan cowok. Sudahlah biar disini aja sama elu."


"Sampai kapan?" Danil memastikan. Dia tidak ingin berlama - lama tinggal dengan Sisi.


"Sampai kita tahu maksud Davin. Dan sekarang ambil tali buat ikat nih cewek."


Danil menuruti ucapan Andi. Jika tidak cepat diikat Sisi pasti kabur saat terbangun nanti. Lalu dia memberi tali pada Andi.


"Dan gue rasa. Orang yang lu bilang tadi malam bisa membantu kita buat jaga Sisi."

__ADS_1


Yah Rin. Dia memang orang yang tepat. Dari pertama bertemu Danil sudah firasat kalau Dia akan jadi penolongnya.


__ADS_2