Jual Diri

Jual Diri
kedatangan Rin


__ADS_3

Seharian Danil mengabiskan waktu di apartemen. Sejak pagi Andi sudah berangkat untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan menggantikan Danil.


Kali ini Danil terpaksa harus menunggui Sisi. Sebenci apa pun dia pada Sisi. Meninggalkan seorang gadis sendirian dengan kondisi tangan terikat tentu akan berbahaya. Dia tidak ingin hal buruk menimpanya karena tentu dirinya akan merasa bersalah.


Sesekali Danil masuk keruangan untuk melihat keadaan Sisi. Namun Sisi belum juga bangun. Semula Danil mengira Sisi mati karena sudah lebih enam jam tidak sadarkan diri. Tapi ternyata Dadanya masih berdebar.


Tingtong..


Tampak ada yang membunyikan bel dari luar. Kira - kira siapa yang datang. Tidak mungkin Andi.


Danil melangkah dan mengintip dari celah pintu. Setelah pintu dibuka Danil langsung menarik tangan Rin. "Cepat masuk."


Rin kaget dan hampir jatuh tersungkur. Beruntung dia bisa memanfaatkan situasi. Digulingkan tubuhnya kedepan seperti gerakan salto agar bisa berdiri seimbang.


Danil yang melihat hanya mampu membelalak mata. Tidak menyangka.


"Bisa bela diri?" Danil bertanya tanpa berkedip. "Gokil. cewek bisa bela diri itu keren." Danil semakin kagum.


"B aja. Yuk katanya mau belajar ngaji. Maaf ya kemaren - kemaren terbengkalai." Rin duduk di sofa tamu.


"Oh tidak masalah. Kita mulai dari baca Iqra dulu ya." Danil berjalan ke dalam kamar mengambil Iqra yang baru dibelinya lusa lalu.


Danil duduk disebelah Rin. Saat Danil mulai membaca basmalah, Rin memotong. "Danil, kamu sudah ambil air wudhu?"


Danil menggeleng. "Kan hanya belajar bukan dibaca sungguhan."


"Kalo perlu. Niat hanya pegang pun tetap berwudhu. Karena ayat Alquran itu suci. Jadi kita harus memperlakukannya dengan baik."


Danil langsung beranjang dari tempatnya. Yah dia paham betul semua yang diucapkan Rin adalah benar.


Saat Danil kembali keposisi duduknya. Danil dapat melihat jelas senyum manis dari wanita dihadapannya. Wajahnya yang tidak dihalangi cadar seperti biasa nampak sangat cantik. Seperti ada sinar terang yang menerpa.


"Hey. kenapa melamun? Karena aku cantik?"


"Ish, bisa kepedean juga ya kamu?"


"Hahaha." Tawa Rin terdengar sangat merdu di telinga Danil. "Ya sudah kita mulai ya."


Danil mengikuti setiap kata yang diucapkan Rin. Dia mulai menghapal seluruh huruf hijaiyah satu persatu. Awalnya sulit sekali. Tapi setelah diulang berkali - kali oleh Rin. Danil sudah mulai bisa.

__ADS_1


Selanjutnya Danil belajar cara membaca huruf Hijaiyah yang disambung. Sebentar saja Danil sudah mulai bisa. Tidak butuh waktu terlalu lama. Namun saat Rin ingin pamit. Terdengar kegaduhan dari dalam.


Danil tersadar dan segera berlari mencari sumber suara. Dia lupa sedang ada Sisi disana. Danil juga lupa untuk meminta bantuan Sisi. Dia terlalu fokus dengan pelajaran yang diperolehnya dari Rin.


Rin mengikuti dari belakang. Bukan bermaksud tidak sopan. Rin hanya memastikan tidak ada apa - apa didalam.


Melihat seorang gadis diikat dengan mata tertutup Rin mundur menjauh. Danil yang melihat Rin dibelakang langsung menutup pintu dan mengajak Rin duduk di ruang tengah.


"Kamu penculik?" Rin jadi berpikir negatif.


"Bukanlah. Emang ada tampang?" Danil mencoba menerangkan. "Justru aku mau minta tolong padamu."


Rin menepis tangan Danil ketika ingin menyentuhnya. Entah kenapa kepercayaan Rin hilang seketika. Kini tangannya mengepalkan tinju tepat di wajah Rin.


"Hey Rin. Tenang. Jangan galak dong. Percaya sama aku." Netra mata Danil seolah sedang berbicara dengan tatapan Rin. Tak lama kepalan itu diturunkan.


"Oke aku percaya. Coba ceritakan." Rin menatap Danil dengan seksama.


"Cewek yang kamu lihat itu namanya Sisi. Dia sekertaris aku di kantor. Dan ternyata dia berkhianat." Danil mencoba menjelaskan seluruhnya pada Rin tanpa kebohongan. Termasuk tentang Davin dan Vina.


"Kamu mau membantuku menjaga Sisi? Kamu boleh pakai cadar agar tidak dikenali. Dan aku juga mau minta tolong kamu untuk hal yang sangat penting." mimiknya sangat serius.


Malam ini Danil kembali memesan Rin. Setelah kedatangan Andi mereka akan mengatur siasat.


"Rin tolong suapin Sisi ya. Kalo dia sampai sakit bisa merepotkan." Danil menyerahkan sepiring mie goreng dan air mineral.


Rin mengerutkan keningnya. Porsi makanan ini sangat sedikit. "Nanti kalo dia masih laper terus kurus. Gampang terkena penyakit gimana?" Rin bertanya dengan polosnya.


"Itu juga sudah cukup. Jangan samain dia dengan kamu yang makannya sebakul."


Rin meletakan piring dan air dilantai. Dengan cepat tangannya mencubit betis Danil yang sedang berjalan di depannya.


"Auw sakit." Danil meringis memegangi betisnya.


"Galak banget jadi cewek. Percuma cantik kalo galak."


"Habis kamu tidak sopan." Rin berkata lembut sehingga membuat Danil menyadari sikapnya yang keterlaluan tadi.


"Oh. Maaf ya Rin kalo kamu tidak suka." Danil menunduk menatap Rin.

__ADS_1


"Sudah lupakan." Rin berjalan meninggalkan Danil menuju Sisi.


"Assalamualaikum. Makan dulu ya Sisi." Rin mencoba bersikap sopan pada Sisi.


Sisi membuang wajahnya. Dia mulai meronta - ronta minta dilepaskan. "Kamu siapa? lepaskan aku." Tubuhnya berusaha melepas ikatan.


"Tenang Sisi aku tidak akan menyakitimu. Malah mau kasih makan biar kamu ada tenaga. Jadi nanti kalo tenagamu sudah terkumpul kamu bisa Kabur dari sini."


Hah!


Danil membuka mulutnya tidak percaya. Seenaknya saja gadis ini berbicara. Sangat sembarangan. Perbuatannya bisa merusak rencana. Danil melihat Rin dengan mata melotot.


Rin tersenyum membalas tatapan Danil. Tangannya digerakkan seolah sedang menyuapi mulutnya sambil sedikit berbisik. Biar dia mau makan. Tenang tidak apa - apa.


Setelah mendengar penjelasan Rin. Danil meninggalkan mereka. Suasa apartemen yang sunyi tanpa riuh tawa anak - anak bermain dan pemandangan pepohon terkadang membuat Danil bosan tinggal disana.


Dia mencoba mencari udara segar. Sebelum pergi Dia pamit pada Rin untuk mencari udara segar.


Saat berada di parkiran. Tidak sengaja dia berpapasan dengan Davin. Beruntung Davin tidak melihatnya. Buru - buru dia berlari. Davin tidak boleh bertemu Sisi.


Danil membunyikan Bel berkali - kali. Wajahnya tampak cemas dan langsung bergegas masuk ketika pintu dibuka.


"Cepat banget. Sudah puas cari anginnya."


Tanpa perlu menjawab Rin, Danil langsung mengunci pintu dan berlari ke tempat Sisi meraba seluruh tubuhnya.


"Cari apa?" Rin Cemak n bingung dibuat Danil.


Danil membuka kancing kemeja Sisi dan melepaskan kaitan bra yang digunakan Sisi.


Rin berlari menghentikan Aksi Danil. "Kamu mau apa?" Rin tidak suka dengan apa yang dilakukan Danil. "Aku hajar berani macam - macam." Sorot matanya menantang.


Danil menatap Rin. "Jangan gila." Danil menepis tangan Rin yang menghalanginya. "Cepat buka seluruh pakaiannya. Davin di bawah. Aku takut ada sesuatu di tubuh Sisi yang bisa dilacak Davin." Tangan Danil terus melepas satu persatu pakaian Sisi.


Rin ke kamar mengambil selimut dan menutupi tubuh Sisi. Sementara Danil mengumpulkan pakaian dan barang - barang Sisi untuk dibuang.


Ketika dia ingin membuka pintu. Dari celah dia melihat seseorang berdiri didepannya.


"Davin." tangan Danil mematung di gagang pintu.

__ADS_1


__ADS_2