Jual Diri

Jual Diri
di kantor


__ADS_3

Mobil melaju kencang. Langit yang cerah dan pemandangan hijau di sisi jalan menambah semangat dalam diri Danil. Setidaknya dia lega setelah bertemu Vina tadi. Meski ada secercah kesedihan dan rasa bersalah Namun kehadiran Marco merubah harapan yang semula ditakutkan. Vina pasti bahagia.


Mereka berdua sangat cocok. Mungkin jika Danil yang bersama Vina sekarang dia tidak akan bisa utuh seperti Marco. Tuhan memang maha tau. Yang terbaik buat hambanya yang pasti terjadi. Yang terburuk bagimu, bisa jadi itu yang terbaik. Seperti sekarang. Vina jauh lebih baik dengan pria yang sama sekali tidak Danil sangka.


Dengan sedikit perasaan tenang Danil memarkirkan kendaraannya di parkiran. Saat naik ke lantai atas tepat ruangannya berada. Dia sedikit dikejutkan dengan perdebatan yang terjadi dengan Sisi dan Tia. Ternyata dia sudah sembuh. Dan tampaknya tidak ada yang diingatnya Jadi Danil tidak perlu cemas.


Suasana ricuh disana jadi tontonan banyak orang. Mungkin di anggap hiburan. Karyawan Danil yang lain tidak ada yang berusaha melerai. Untung saja Tia bukan wanita cengeng yang cuma diam dan nangis. Tampak dia membalas setiap ucapan Sisi dengan mimik tenangnya. Tidak ada kesan kocak seperti biasanya. Melihat kedatangan Danil, mereka segera membubarkan diri.


"Apa - apaan kalian." Danil mendekat dan mencegah tangan Sisi yang akan menampar Tia. Lalu menghempasnya. Memandang tidak suka. Memberitahu bahwa dia benci kedatangannya.


"Kenapa dia ada di tempatku." Vina tampak marah sekali.


"Karena sekarang dia sekertaris ku." ucap Danil santai.


Sisi memandang Danil. "Lalu aku?"


"Pecat." Danil balas menatap.


"Tidak bisa seenaknya gitu dong pak." Sisi membela dirinya. Mendekat dan memohon.


"Kamu saja seenaknya tidak masuk kerja seminggu lebih." Danil berusaha tenang tidak terpancing amarahnya. Perbuatan Sisi masih jelas di kepalanya.


"Tapi pak." Sisi mencoba menjelaskan.


"Jangan banyak omong. Sekarang cepat keluar dari sini. Saya malas melihatmu." Danil berlalu melewati Sisi dan meminta Tia kembali bekerja.


Sementara Sisi masih bengong ditempatnya. Wajahnya memerah. Tangannya mengepal erat ujung roknya sambil mengeratkan giginya. Dia berjanji akan membalas Danil. Janji adalah sebuah hutang yang wajib ditunaikan. Danil harus bersiap diri. "Awas kamu Danil. Aku pasti membalas." Sekejap sifat aslinya diperlihatkan.


Danil yang sudah berada dalam ruangannya melihat Sisi dari kaca. Senyumnya mengembang. Ada perasaan puas. Kekecewaan harus dibayar impas. Manusia bukan malaikat yang dengan mudah akan memaafkan. Setidaknya ada waktu yang diperlukan untuk mengobati sakit hati.


Tak lama Danil meminta Tia masuk ke ruangannya membawa berkas laporan keuangan perusahaan.


"Permisi pak. Ini laporan yang bapak minta." Tia berjalan dan meletakan di atas meja.


"Makasih Tia. Kamu boleh keluar." Namun Danil menarik kembali kata - katanya ketika melihat ada tempelan dengan gambar beruang di map itu. "Bentar Tia. Ini apa?"


Tia menggigit bibir bawahnya dalam - dalam. Takut bosnya itu akan marah padanya. "Janji jangan marah ya pak?"

__ADS_1


"Hmmm." Ucap Danil datar.


"Aku sangat suka dengan beruang. Karena lucu dan gemuk." ucapnya polos. "Jadi untuk menambah semangat kerjaku. Seluruh yang ada di ruanganku. Aku tempelkan stiker beruang." ucapnya hati - hati


Pantas saja di dinding ruangannya banyak bingkai dengan gambar beruang dan beberapa boneka beruang di meja kerjanya. Namun jika sampai map perusahaan ditempeli beruang tentu ini sedikit menggangu. Bisa rusak image perusahaan.


Danil memijit pelipisnya. Dia tidak marah cuma naik darah. "Map dan segala yang berhubungan dengan perusahaan jangan ditempel apapun. Paham." Danil menasehati.


"Baik pak. Tapi bapak tidak akan pecat saya kaya cewek Babon tadi kan?" ucapnya takut.


Danil tersenyum. "Apaan tuh Babon?"


"Badan blambon pak."


"Hahaha." Danil tertawa walau sebenarnya tidak mengerti dengan yang dimaksud Tia. Yang penting dia terhibur. "Ya sudah kamu boleh keluar ya Tia."


"Tapi bapak tidak marah kan?" tanyanya lagi.


"Tidak Tia. Saya tidak marah. Sudah puas? Silahkan keluar dulu ya. Saya mau kerja lagi."


"Siap pak. Permisi."


Malam ini Danil akan mengajak Rin dinner di sebuah resto. Meski sederhana. Ini cukup mewakili rasa terimakasihnya. Usaha yang dibangun dengan kerja keras dan doa khusyuk pada sang khalik pasti berdampak kuat.


Hari ini pekerjaannya harus diselesaikan dengan cepat. Jika terlalu lama. Rencananya untuk makan malam dengan Rin pasti gagal.


Ketika sinar matahari mulai berkurang panasnya. Danil pamit dan meminta Tia untuk menyelesaikan sisa pekerjaannya. Sekretarisnya itu sangat bisa di andalkan. Sedikit sifat anehnya bisa menjadi lelucon segar yang mampu menghilangkan kejenuhan Danil.


"Terimakasih ya Tia. Kamu memang the best."


Tia tampak sumringah mendapat pujian dari bosnya itu.


Di apartemen ternyata Rin sudah memasakkan makanan untuk Danil. Layaknya seorang istri. Rin menunggu Danil pulang.


Ting tong


Rin berlari ke arah suara dan membuka pintu. Danil datang bersama seikat bunga di tangannya. Bunga itu diberikan pada Rin.

__ADS_1


"Untukmu."


Wajah Rin merah seperti bunga mawar yang sedang bersemi. Benar, dia seperti mawar. Jika tidak berhati - hati dirinya akan melukaimu.


"Makasih Danil."


"Hey bagaimana kalo kita makan diluar."


Rin menggeleng. "Tapi aku sudah masak. Mubazir." ucapnya.


"Lalu bagaimana kalau kita menikah." Danil menatap Rin serius. "Aku tahu Rania itu kamu. Suara kalian sama persis dan ketika dekat kalian berdua hatiku juga sama debarannya."


Rin hanya diam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia tidak bisa menikah begitu saja dengan pria yang baru dikenalnya. Walau cinta itu ada.


"Tapi kita baru kenal Danil."


"Pacaran dulu gimana?" Danil berdiri dan menyentuh pergelangan Rin. "Aku tidak suka kulit putihmu dilihat banyak pria. Karena kau itu berharga untukku."


Rin teringat seorang gadis yang sangat dicintai Danil. "Vina?"


"Percaya padaku. Saat ini hanya kamu dihati aku. Tidak ada yang lain."


Rin melangkah mundur menjauhkan tubuhnya. "Tapi apa pantas?"


"Apanya? Kamu dan masa lalumu aku tidak perduli." Kini Danil mendekat menyentuh bahunya hangat.


"Kamu harus lebih baik bersamaku. Dan pasti akan lebih baik. Tinggalin dunia kamu. Aku bakal bantu kamu gapai apa yang kamu ingin. Aku akan menjadi penguat. Kita akan bersama - sama menjalankan hidup."


Rin menahan air matanya keluar. Kata - kata Danil mampu merubah tujuan awalnya. Mungkin Tuhan punya jalan lain mempertemukan dirinya dan Danil. Sejujurnya Rin mencintai Danil.


"Kamu yakin memilihku."


"Ia. percaya padaku. Aku kan menjagamu. Aku tidak ingin ada orang lain yang menyentuhmu." Danil menggenggam erat jari Rin. Dia tidak ingin Rin pergi.


Danil tidak mau terlambat lagi. Dia tahu Davin menyukai Rin dari perhatiannya selama lima hari ini. Dia tidak ingin kehilangan wanita yang dicintainya untuk kedua kalinya.


Meski Rin tidak memberi jawaban langsung. Pelukan Rin dalam dadanya cukup mewakili isi hatinya.

__ADS_1


"Aku janji kau tidak akan menyesal Rin."


__ADS_2