Jual Diri

Jual Diri
bertemu vina


__ADS_3

Rin melangkah mengambil benda itu. Sebelah tangannya mengangkat ke atas. "Ini celana dalam. Emang kamu tidak pakai ini?"


Davin mendekat. Kini wajah mereka saling memandang. Gerak canggung Rin sangat terbaca oleh Davin. "Punyamu?" tanyanya tenang.


Rin memaksakan sebuah senyuman. "Tidak. Sepupu. Tadi malam dia bermalam disini. Sekarang sudah pulang." ucapnya berusaha tenang.


"Kamu bohong?"


Rin menggeleng sambil tersenyum. "Aku tidak suka berbohong." ucapnya.


"Kalo bohong. Aku perkosa ya?" ucapnya datar.


Rin mengepalkan tinjunya. "Coba saja? Aku pecahkan dengan satu tinjuan." ancamnya.


Mendengar jawaban. Wajah Davin semakin mendekat. Jelas terlihat seperti mencari kebenaran. Lirik matanya mencari celah. Jujur, Rin sedikit terganggu.


Untuk menutupi kebohongan. Rin mencoba mengakrabkan diri. "Ayo duduk. Kau mau minum apa?" Rin menjauh dan duduk di sofa.


"Yakin sudah sembuh?"


"Bisa lihat sendiri." Rin berdiri dan memutar tubuhnya memperlihatkan dia baik - baik saja.


"Baiklah kalo gitu aku pamit. Aku hanya ingin melihatmu saja. Ternyata kau sudah sembuh." Berdiri dan langsung keluar tanpa permisi.


Ada rasa takut yang menghampiri. Keyakinannya bilang saat ini Davin mengetahui kebohongannya. Jika terbongkar habislah dia. Orang seperti Davin tidak akan suka jika dikelabui. Jangankan Davin. Semua orang tentu tidak akan suka dibohongi. Tapi Rin tidak ada pilihan.

__ADS_1


Sementara di tempat lain. Danil sedang berbincang dengan Vina. Mereka tidak sedang berdua. Di meja lain ada Marco yang menemani.


Pagi tadi, diperjalanan Danil melihat Vina dan Marco sedang menyebrang jalan. Tidak ingin kehilangan jejak. Danil mengejar mereka. Ternyata selama dua tahun ini Vina sudah menikah dengan Marco. Marco adalah supir pribadi Davin. Sudah sejak lama Marco menyukai Vina. Banyak cerita menemani perjalanan mereka. Selama Vina terpuruk karena kondisinya hanya Marco yang memberi kekuatan.


Vina mengalami kecelakaan mobil ketika hendak bertemu dengan Davin. Dalang dibalik peristiwa itu ternyata musuh Davin. Awalnya yang didalam mobil dikira Davin. Karena biasa mobil hitam itu yang selalu dikendarai Davin. Naas tebakan pelaku salah.


Dengan kekuatan penuh. Dari belakang, mobil hitam tadi di tumbur dengan sebuah puso dengan niat membunuh orang didalamnya. Mobil terpental sejauh lima meter menabrak pembatas jalan hingga body mobil depan penyok parah. Sial Vina yang masih di dalam terjepit tidak sadarkan diri. Saat diselamatkan ternyata kaki kanan Vina sudah remuk hancur tidak berbentuk. Darah segar mengalir disana.


Marco adalah orang pertama yang menolongnya. Perasaan malu akan kondisinya menguak dikepalanya. Dia tidak ingin menyusahkan kakaknya terlebih Danil. Cintanya sungguh besar. Tidak ingin menjadi beban, Vina mencoba merajut hidup sendiri. Dalam kesendirian Marco selalu membawa taburan kebahagiaan. Sampai akhirnya mereka menikah.


Selama menikah Vina tinggal bersama Marco disebuah rumah kecil yang letaknya diujung kota. Walau begitu, Tidak sedetikpun Marco membiarkan Vina murung. Ajakan Davin untuk tinggal bersama pun ditolak Vina demi menaati suaminya. Dia menghargai Marco sebagai suami. Apapun yang diberi Marco selalu Vina terima dengan lapang.


Namun setelah mereka bertiga bertemu. Marco sadar cinta Vina hanya untuk Danil. Dari cara Vina memandang dan berbicara Marco semakin yakin. Selama ini hanya tubuh Vina yang Marco miliki. Jelas Vina sangat bahagia bertemu Danil.


Marco setia menemani Vina dan memilih berhenti dari pekerjaanya demi menjaga Vina. Melihat pengorbanan Marco, Danil bahagia walau masih ada ruang di hatinya yang hanya untuk Vina.


"Danil aku masih sangat mencintaimu hingga sekarang." Matanya basah. "Mungkin seumur hidupku." Kini air matanya menetes. "Aku harap kau juga sama." ucapnya lirih.


"Tapi sekarang kamu bukan milikku Vina." Diliriknya Marco yang sedang memandang mereka. "Kamu beruntung menikahi pria sebaik itu." Danil melempar senyum.pada Marco.


Vina menundukkan pandangannya. "Sekuat apapun aku berusaha. Cinta tetap bukan untuknya." ucapnya. "Tapi selalu aku coba untuk mencintainya."


"Seandainya dulu kamu datang padaku. Aku pasti akan menerimamu." kini menatap Vina tajam. "Sayang kau tidak benar - benar mencintaiku Vina. Kau tidak percaya cintaku." ucapnya kembali. "Aku doakan kamu selalu bahagia."


Danil beranjak dari tempat duduknya menemui Marco. Berbicara sebentar setelah memberikan sesuatu. Kali ini dia serius untuk melupakan Vina.

__ADS_1


Dari tempatnya Vina hanya bisa memandang kepergian Danil. Matanya tidak berhenti memandang hingga sosoknya tak terlihat.


Marco dapat melihat. Danil satu - satunya pria yang dicintai Vina. Tanpa di sadari Marco sudah merangkul pundak Vina. "Itu lelaki yang kau cinta?" Suara Marco terdengar lembut.


Vina menyambut sentuhan Marco. Tidak ada yang dia ucapkan kecuali memandang Marco dengan tatapan sendu.


"Ayo kita pulang." Ajak Marco.


"Makasih ya sayang. Kamu terlalu baik padaku. Aku beruntung."


Marco hanya tersenyum. Dia berjanji akan membuat istrinya bersatu dengan orang yang dicintainya. "Sama - sama sayang. Itu tanggung jawabku sebagai suami."


Benar kata Danil. Dia beruntung menikahi Marco. Kebaikan hatinya selalu membuatnya bahagia. Semoga suatu hari Marco akan memenuhi isi kepalanya. Hatinya meyakinkan akan jatuh cinta pada Marco. Kata orang cinta datang dari sentuhan lalu kehati. Mungkin malam ini Vina akan mulai dari situ.


Vina dan Marco tiba dirumah ketika langit sudah mulai gelap. Hembusan angin semilir teraba di kulit. Udara dingin menemani malam ini.


Untuk membersihkan tubuh, Marco selalu membantu Vina. Hari ini kembali terulang. Biasanya rutinitas ini jarang dilakukan. Dan sebagai lelaki yang baik Marco tidak ingin memaksa istrinya.


Selesai menyentuh tubuh Vina dengan handuk basah. Lidah Marco menyusul setelahnya. Menjelajah tiap sisi dan sudut disana. Kali ini sentuhan itu terasa berbeda. Nikmat sekali. Tak terasa area sensitif mereka berdua telah basah. Tidak ada rasa canggung yang diperlihatkan Vina. Tangannya mengikuti alur gerak lidah Marco.


Tangan Vina bermain di bagian bawah perut Marco. Untuk mengimbangi, Marco memainkan bukit berbulu yang nampak ranum. Lama bermain disana. Setelah puas. Mereka memutar tubuh saling mengisap kenikmatan. Banyaknya keringat yang keluar membuat semakin bergairah.


Selanjutnya permainan ini diakhiri dengan persatuan yang penuh napsu. Tiap gerakan maju dan mundurnya membuat mereka seperti tercebur dalam kolam kenikmatan yang tidak ingin dihentikan. Berkali kali mereka saling memuaskan hingga lahar kehidupan yang terasa hangat mencuat kedalam rahim berharap menjadi benih. Calon anak yang akan meneruskan keturunan mereka.


"Terimakasih Vina. Aku cinta padamu."

__ADS_1


Vina merangkul tubuh Marco dari belakang. Memeluk perut rampingnya. Benih cinta sudah tumbuh. Vina sadar itu. Kali ini dia berterimakasih pada Danil. Ucapannya tadi membuatnya sadar. "Aku juga mencintaimu."


Tangan Vina kembali meraba area bawah. Tempat Marco mengeluarkan benih kehidupan. Malam ini mereka menyatu hingga berkali - kali meluapkan cinta yang selama ini terpendam.


__ADS_2