
Malam ini Danil berencana menghabiskan waktu berdua dengan Rin di aparteman. Namun sayang pesan dari Andi yang masuk ke ponselnya membuat rencana itu batal.
"Aku lagi di Sang hotel. Cepat datang kesini."
Firasat Danil mengatakan itu hal yang penting sehingga Rin ditinggal begitu saja oleh Danil.
"Aku pergi dulu. Kamu tenang saja. Aku tetap membookingmu.'
Danil mengambil kunci mobilnya dimeja dan langsung bergegas ke Sang hotel. Pikirannya sudah melalang buana. Sejujurnya dia penasaran dengan kejutan yang akan Andi berikan.
Biiip biiip
"Lantai 2 kamar no A3." Danil tersenyum membaca ponselnya.
Setibanya di hotel Danil langsung menuju kamar. Namun kali ini dia harus menunggu didepan pintu karena Andi belum juga membuka pintu. Sedang apa dia didalam pikirnya.
Danil terus menghubungi Andi. Tetap tidak ada jawaban. Dua puluh menit berlalu. Pintu dibuka. Tampak Andi dengan wajah lelahnya mempersilahkan masuk.
"Lama banget." Seru Danil kesal.
"Biasalah." Andi berjalan menuju kamar.
Sang hotel merupakan hotel bintang empat yang tidak hanya memiliki ruang kamar dan kamar mandi. Namun ada ruang tamunya. Hotel ini dikenal dengan hotel esek - esek. Karena bisa dibayar perjam. Berbeda dengan hotel mahal lainnya yang harus dibooking 24jam.
Karena penasaran Danil mengikuti Andi. Betapa kagetnya dia. Disana ada Sisi terbaring setengah pingsan dengan tubuh tanpa sehelai benangpun. Area sensitifnya tampak bersih tanpa bulu yang menghias. Dadanya pun ranum sekali
"Gila. Diapain nih anak." Danil tidak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya.
"Kamu mau perusahaan selamat tidak? sudah ikutin saja cara aku. Toh dia juga bukan gadis perawan. Yang penting dia tidak hamil kan?"
Sebenarnya Danil kurang setuju dengan perbuatan Andi. "Ya terserah deh."
"Nah gitu dong. Sudah tunggu dulu didepan. Aku main dulu." Tangannya sudah mulai menelusuri paha Sisi. Dan Sisi tampak terhipnotis.
Danil mengerutkan keningnya jijik. "Gila Lo. Ya sudah aku tunggu didepan. Jangan lama." Ditutupnya pintu kamar dan ditinggalkannya mereka berdua.
Dari ruang tamu Danil dapat mendengar suara mereka berdua. Rintihan dan jeritan dari dalam kamar mulai membangkitkan gairah Danil.
Dipijatnya kepalanya pelan. Kali ini dia benar - benar pusing. "Aduh, apa apaan ini." Danil merasakan ada yang menegang disana.
__ADS_1
Diambilnya air es di lemari pendingin. Diguyur kepalanya. Dia ingin pikirannya tidak lagi kotor.
"Danil kesini." suara Andi membuyarkan pikirannya.
Dilihatnya tubuh Andi dan Sisi sedang menyatu. Akh, brengsek nih Andi.
Danil semakin sulit mengendalikan dirinya. "Ada apa?" Dia pura pura tidak peduli dengan yang dilakukan Andi walau sebenarnya dia juga ingin. Tapi tentu bukan dengan Sisi.
"Sorry bro. lu jadi lihat pemandangan ini. Tapi sekarang dia sudah bisa ditanya. Tadi aku sudah kasil pil perangsang." Andi sengaja tidak menggerakan tubuhnya. Dia ingin Sisi memohon dengan memberi seluruh informasi.
Danil menarik napas perlahan melalui hidung dan dikeluarkannya kembali melalui mulut. Jika kepalanya belum dingin tentu dia tidak bisa berpikir jernih.
"Oke Sisi. Apa benar kamu menghiati perusahaan tempatmu kerja."
Sisi sama sekali tidak memperdulikan pertanyaan Danil. Dia lebih tertarik dengan yang Andi lakukan padanya.
Andi tahu Sisi tidak mau menjawab. Tapi obat perangsang itu pasti akan membuatnya membuka semuanya.
Andi berbisik. "Jika kau bercerita. Aku janji akan memuaskan mu." tangannya memainkan telinga Sisi.
Sisi yang sudah dikuasai obat perangsang tidak perduli lagi. Yang penting hasratnya dipenuhi.
Akhirnya Sisi menceritakan semua tanpa dia sadari. Saat Sisi bercerita Andi mulai menggerakkan tubuhnya menepati janjinya pada Sisi tadi. Di samping itu Andi juga menikmati. Sudah hampir satu bulan dia tidak melakukan.
Namun ketika mendengar nama Davin Group. Hasrat yang semula menggebu hilang begitu saja. Dia ingat. Davin tega membunuh Adiknya sendiri karena Danil dan Vina saling mencinta. Semula Danil mengira permusuhan mereka akan berakhir jika mereka menikah. Ternyata salah. Dan hingga kini Danil pun tidak tahu dimana Vina dimakamkan. Peristiwa itu sungguh menghancurkan hidupnya.
"Tinggalin dia. Ikuti aku." Suara Danil terdengar marah.
"Bentar lagi. Tanggung belum keluar."
"Cepat. Ikuti aku sekarang." Danil menatap Andi dengan sorot mata yang berbeda. Andi paham dan meninggalkan Sisi yang masih memohon padanya. Mereka berdua meninggalkan hotel tersebut.
Tidak ada candaan seperti biasa didalam mobil. Netra coklat yang biasanya ramah berubah garang. Rahang yang semula tidak menonjol sekarang memperlihatkan taji.
"Kau tidak apa - apa Danil." Andi sedikit cemas dengan sahabatnya.
"Aku tidak terima. Dia bukan tuhan yang bisa berbuat seenaknya pada Vina. Walaupun statusnya kakak." Tanpa terasa sudut mata Danil meneteskan buliran air. Entah kenapa hatinya pedih sekali.
"Sekarang kita mau kemana?" tanya Andi.
__ADS_1
"Apartemenku bertemu seseorang." Semoga saja dia disana. Kali ini aku akan meminta bantuannya.
Tidak ingin membuang waktu. Danil melajukan mobil hingga batas maksimal. Beruntungnya waktu sudah dini hari. Jadi lalu lalang mobil masih langgeng.
Tidak ada Rin di apartemennya. Danil sudah menjelajahi seluruh ruang. Apa dia sudah pulang karena terlalu lama menunggu.
"Siapa Dan? Cari siapa sih?" Andi menatap sahabatnya bingung.
"Seseorang. Mungkin dia sudah pulang." Danil merebahkan tubuhnya di sofa.
"Ia. Dia siapa?" tanya Andi penasaran.
"Pasti aku kenalkan. Sudah sana. Tadi katanya tanggung?" Danil menyindir dengan wajah yang kembali bersahabat. Sepertinya amarahnya telah lenyap.
"akh. Junior gue sudah mengecil. Malas. Malam ini aku tidur sini ya." Andi berjalan menuju kamar Danil dan menguncinya.
Danil berlari mengejar. "Woi. maksudnya apa nih dikunci? Lu nyuruh atasan lu tidur di sofa? Ngak takut gua pecat lu." Danil menggedor pintu dari luar. "Oi buka. Buka." Suara menjerit.
Lelah tidak ada jawaban Danil memilih berjalan keluar apartemen. Dia ingin mencari angin segar. Pikirannya penat sekali. Seandainya hari itu dia menuruti Vina pasti saat ini mereka sudah hidup bahagia berdua.
Minimarket di lobi apartemen buka 24jam. Danil duduk disana sambil menikmati live musik yang disajikan. Segelas kopi late menemaninya malam ini.
Namun pandangannya terpaku. Seorang wanita berhijab dengan cadar itu seperti dikenalinya. Daripada penasaran. Danil mendekati wanita itu
"Hay. sepertinya kita pernah bertemu."
Gadis itu menoleh. Tatapannya sangat Danil kenali. Tapi cadar itu menghalangi wajahnya.
Mata wanita itu menyipit. Tampak sebuah senyuman dari balik cadarnya. "Oh iya. Danil kan?"
Danil mencoba mengingat suara. Dia terdiam sejenak.
"Hey. Kok diam." Rania menegurnya.
"Oh iya maaf. Rania ya? Pantes kaya kenal."
"Duduk sini." Rania menggeser bangku disebelahnya. "Kamu kenapa kusut sekali? lagi patah hati?"
"Tidak kok." Jawab Danil singkat.
__ADS_1
"Mata tidak bisa bohong loh." Rania menatap teduh bola mata Danil. "Dan obat patah hati adalah jatuh cinta lagi." ucap Rania sambil tersenyum.
"Sok tahu kamu. Ya sudah aku tinggal ya. Kamu hati - hati sendirian" Danil meninggalkan Rania. Sikap sok tahu Rania membuatnya tidak nyaman. Tapi dia sadar apa yang dikatakan Rani ada benarnya.