
Akal Danil bergerak. Berlari ke jendela samping ruang tamu dan membuang jauh benda ditangannya. Sejauh jangkauan tangannya.
Bel pintu terus berbunyi dibarengi gedoran pintu yang kuat. Rin keluar menemui. Menatap dengan heran.
"Temanku ada didalam." Danil melangkah masuk.
Sebelum kakinya melangkah. Rin lebih dulu menghalangi dengan tubuhnya.
"Maaf ya mas. Saya tidak mempersilahkan anda masuk." Nada suara Rin merdu sekali.
Davin menatap begis. "Kamu siapa? minggir." berusaha mendorong tubuh Rin.
"Tidak. aku pemilik rumah ini. Aku tidak bisa membiarkan laki - laki masuk ketika suamiku tidak ada."
Lancang sekali dia. Davin mengangkat tangannya dan melayangkan ke arah Rin. Percuma punya kemampuan bela diri jika sebuah tamparan saja tidak bisa ditanganinya.
Ditangkapnya layangan tangan Davin. Matanya memandang Davin. Beradu pandang. "Hanya pria lemah yang menyakiti wanita."
Melihat keberanian dan ucapan gadis dihadapannya. Davin menarik tangannya dari genggaman Rin. Sorot matanya memandang buas.
"Kau tidak takut padaku?"
Rin mematung. Menatapnya sejenak. Wajahnya begitu teduh. Sekilas tampak seperti pria yang sangat ramah dan lembut. Ternyata memang kita tidak boleh menilai orang lain dari penampilannya. Bisa tertipu.
"Tidak. Aku justru takut jika tidak bisa menjaga kehormatan suamiku."
Pakaian Rin menunjukan agama yang dia peluk. Karena Davin juga memeluk agama yang sama. Davin berusaha menghormati perkataan Rin. Tapi sebelumnya dia melirik benda yang ada di pergelangannya. Benar saja tanda itu telah hilang.
"Oke baiklah." Davin pergi tanpa pamit. Mungkin memang Sisi tidak ada disini. Kemudian langkahnya terhenti. "Tapi jika kau terlibat." Davin menghisap batang rokoknya dan melayangkan di udara. "Siap - siap mati." Davin melangkah menjauh.
Deg!
Sepertinya dia tidak main - main. Ada perasaan takut menyelimuti. Tapi kali ini Rin bisa bernapas lega sambil memandangi kepergian Danil. Beruntung pria itu bisa dengan mudah diusirnya. Debaran jantung Rin sangat kencang. Takut ketahuan.
Pintu kembali dikunci. Rin menemui Danil di kolong meja yang ada di dapur.
Tangannya membuat simbol oke. "Sip. aman." ucapnya sambil membuka kain yang menutupi kolong.
"Syukurlah." Danil mengelus dadanya. "Makasih ya Rin." Danil beranjak keluar dari kolong.
"Dia pergi begitu saja tanpa masuk ke dalam rumah?' Danil bertanya tidak percaya. "Tumben." Danil paham dengan Davin. Dulu Vina banyak bercerita tentang kakaknya.
Rin menggeleng. "Tidak juga. Dia juga maksa masuk."
Danil tersadar. "Kamu mirip seseorang Rin."
"Siapa?" tanya Rin ingin tahu.
"Ada deh."
__ADS_1
"Siapa? mirip siapa?" Rin memaksa.
Danil tersenyum menatap Rin. "Hebat juga kamu. Bisa di andalkan."
"Biasa aja alihkan pembicaraan."
"Hehehe." Danil hanya tertawa.
Rin membuka cadarnya dan tersenyum. "Tapi aneh ya. Wajah seperti malaikat itu sikapnya kasar banget." Rin menghempaskan dirinya di sofa.
"Jangan lihat penampilannya. Lihat apa yang dia perbuat." Danil melotot menatap Rin.
"Iya. iya." Rin mengangguk. "Ngomong - ngomong. Temanmu mana?"
"Bentar lagi juga datang. Pakai cadarmu. Jangan ada yang mengenalimu disini." Danil mengingatkan.
Ponsel Danil berdering.
"Buka pintu. Aku didepan."
Danil beranjak "Dia sudah datang. Ingat selain aku tidak ada yang boleh tahu wajahmu."
Entah kenapa Rin selalu menuruti perkataan Danil. Seperti di sihir. Suara Danil bagai candu baginya.
"Rin kenalkan." Danil menggerakkan wajahnya kearah Andi. "Dia Andi. Sahabatku."
Andi menggaruk bawah kupingnya. Tidak menyangka bahwa yang dimaksud adalah wanita didepannya. Sejak kapan Danil punya teman seperti lemper begini. Serba ditutup.
"Jangan salaman. Haram" ucap Danil asal.
Rin yang dari di depan mereka tidak dapat menyembunyikan tawanya dari balik cadar.
"Aku Rin." Mengatupkan kedua tangannya. Cara wanita muslim menyambut jabat tangan.
"Eh Nil. Kalo begini. Apa dia bisa menggoda Davin?" Andi sedikit bingung.
"Yang minta dia goda Davin siapa?"
"Lah emang rencananya gimana?"
"Otak lu kotor Mulu sih. Pantes aja jomblo akut."
Andi melempar bantal kursi ke wajah Danil. "Sialan."
Rin menatap mereka berdua bergantian. Kedua pria ini lucu sekali.
"Hey kalian berdua. Ada aku loh disini."
Serentak mereka menoleh. Kemudian tersenyum tidak enak.
__ADS_1
"Maaf Rin. Hehe." Danil tersenyum.
Andi memotong pembicaraan mereka. "Vina masih hidup."
Danil terbelalak. "Serius kamu?"
Hingga saat ini. Rasa cinta Danil tidak pernah hilang. Vina adalah cinta pertama Danil. Kehilangan Vina membuat Dunianya runtuh. Semangat hidupnya perlahan menghilang. Pernah dia merusak hidupnya dengan narkotika. Belum lagi usahanya mengakhiri hidup yang tidak terhitung. Sosok Andi membantu Danil melewati masa sulit itu dengan setia.
"Iya. Tapi sekarang dia sudah menikah dan memiliki anak." Andi menatap sahabatnya.
"Syukurlah dia bahagia." tampak senyum tulus menghiasi pipi Danil.
Tebakan Andi salah. Sikap Danil menunjukan bahwa sekarang dia sudah move on. Sikap seperti itu memang yang diharapkan Andi "Tidak sedih?"
Danil terkekeh. "Buat apa? Aku malah senang wanita yang aku cintai bahagia. Itu yang aku inginkan."
"Tidak mau tahu siapa suaminya?"
"Mendengar dia hidup dan bahagia itu cukup bagiku."
Tanpa Danil sadari. Disebelahnya Rin memandang kagum. Hati Danil benar - benar tulus. Terlihat sekali sifat penyayang.
"Hey. Ada yang aneh tidak?"
Rin dan Danil saling menatap. Memang ada yang aneh. Tenang sekali. Bergegas mereka berlari ke tempat Sisi.
Benar saja. Sisi sudah terjatuh dengan kondisi badan terikat. Jelas disana dia tidak sadarkan diri.
Rin mendekat dan menyentuh nadi Sisi. Lemah dan tidak teraba. "Kita harus ke rumah sakit." Garis mata Rin menunjukan kecemasannya. Tampak tidak ingin sesuatu terjadi pada Sisi.
Danil dan Andi membopong tubuh Sisi masuk ke dalam mobil. Kondisi Sisi yang lemah membuat mereka melepaskan ikatan. Nadi Sisi semakin lemah. Dengan cekatan Rin memompa jantung Sisi secara manual. Sesekali menghembus mulut Sisi.
Sesampai di Rumah sakit dan mendapat pertolongan, mereka sepakat meninggalkan Sisi sendiri. Tentunya dengan menghubungi keluarga Sisi terlebih dahulu. Lega rasanya.
"Semoga dia baik - baik saja." ucap Andi.
"Rin. malam ini tidur di apartemenku ya."
"Hah, mau ngapain kalian berduaan?" Andi menggoda sahabatnya. "Mau ena ena ya." Andi menimpali sok tahu.
Danil dan Rin saling memandang lalu tertawa. Saat ini Danil sedang berusaha merangkul iman. Tidak perduli kata orang. Selama tidak menjalani larangannya menurut Danil dia tidak salah. Tapi dalam norma di masyarakat mungkin akan dianggap salah.
"Kau ikut juga dong biar rame. Kan seru." Danil menambahkan.
"Nanti ganggu." Andi pura - pura menampilkan wajah tidak enak.
"Alah gaya lu. Mau atau ngak? kalo ngak gue turunin disini. Balik sana sendirian." Kali ini Danil balik menggoda.
"Hahaha. Sensitif amat." Andi mencubit pinggang Danil.
__ADS_1
"Jangan ganggu. Nabrak nanti." Danil memandang Andi sewot . "Tapi Rin. Kau mau membantuku masuk dalam hidup Davin kan?" Tatapannya beralih pada Rin.
Tentu Rin kembali tersihir. Dia mengangguk menuruti. Mungkin Rin tidak menyadari hatinya membuka celah untuk Danil. Kebaikan Danil sukses menarik simpatinya.