
Dengan kondisi musholah mungil Aldi yang tak berpintu, Aldi memandang puas kearah Rin. Setiap gerakan sholatnya tampak tuma'ninah. Berirama dan teratur sekali. Seperti orang yang memang paham betul akan agama.
Hmmm...
Danil menarik napas panjang dan menghembuskan lewat mulut. Benar - benar tidak masuk akal. Seorang wanita yang secara kasat mata kotor tapi ibadahnya fasih sekali.
Dan ketika sholat berakhirpun gadis itu tidak buru - buru meninggalkan tempatnya. Tampak ia duduk dan berzikir dengan jari kanannya. Jujur Danil merasa malu sekali. Bahkan ia sendiri dalam satu hari belum tentu beribadah. Tidak ingin pengintaiannya dipergoki, buru - buru Danil beranjak dan duduk di meja makan.
Danil menunggu Rin sambil memainkan ponselnya. Ketika dia melihat Rin seperti mencarinya. Danil memanggilnya.
"Rin, keruang makan ya! aku tunggu." Suara Danil terdengar setengah menjerit.
Mendengar suara Danil, Rin berbalik dan mencari arah suaranya.
"Sudah sholatnya?" tanya Danil halus.
Rin hanya menggangguk penuh makna. "Sekarang tugasku apa?" Rin paham, saat ini dia sedang bekerja dengan Danil karena Danil telah membayarnya.
"Ih kaku banget sih." Danil menarik kursi disebalhnya. "Ayo duduk."
Rin menggeleng. Walaupun Danil terlihat seperti cowok baik. Tetap saja Rin harus berhati - hati.
Kesal melihat Rin yang seperti ketakutan, Danil berdiri dan menarik tangan Rin. "Aku bilang duduk. Artinya kamu harus duduk." bola mata Danil membesar karena kesal.
"Maaf, aku membuatmu marah." Rin menunduk.
"Sudahlah. Sekarang kamu masakin aku yang enak. Kalo tidak enak aku adukan ketempatmu bekerja bahwa kau mengecewakanku."
Hah
Rin menoleh Danil sambil ngerutkan keningnya. Pria ini menyuruhku masak. Dikiranya aku pembantu.
"Kamu mau dimasakin apa?" tanyanya bingung. Karena buat seorang Danil tentu memesan makanan mahal dan enak bukan sebuah masalah. Tapi dia justru menghabiskan uangnya demi menyuruhku masak. Jangan jangan sengaja ingin mengerjaiku.
"Terserah. Yang penting enak. Bisa kan?"
"Baiklah, aku lihat dulu isi kulkasmu." Rin beranjak dan membuka pintu kulkas.
Kepalanya menjadi gatal setelah dilihatnya kosong. Tidak ada satu jenis bahan makanan pun berada disana kecuali botol air mineral dan minuman soda.
"Kosong." Suara Rin sengaja diperjelas.
"Hahaha, memang. Karena itu aku menyuruhmu masak. Nanti aku kasih uangnya. Kamu turun kebawah cari bahan makanan. Nanti aku kasih duit." Wajah Danil tersenyum penuh kemenangan.
Rin menggigit bibir bawahnya. Orang ini sangat merepotkan. Tapi dia sendiri tidak mungkin bisa menolak. "Baiklah. Mana uangnya?" Rin menadahkan tangan.
Danil mengeluarkan dua lembar uang lima puluh ribu. "Ini." ucapnya.
__ADS_1
"Mau beli apa dengan uang segini? mie atau spageti mau?" tanya Rin.
Danil menggeleng pelan. "Tidak sehat. Nanti aku bisa mati gara - gara usus buntu."
"Lalu mau apa?" Rin semakin jengkel dibuatnya.
"Beli beras satu kilo, telur ayam lima butir, bawang dan sayur organik. Dibawah banyak kok. Aku mau makan nasi, telur dadar dan sayur bening."
Tidak disangka ternyata Danil menyukai makanan rumahan. "Jadi aku harus masak masakan kampung?" Rin sengaja membuat Danil marah.
"Iya masak makanan kampung yang enak. Sama seperti kamu. Kampungan tapi menarik." Danil membalas ucapan Rin.
"Tunggu sebentar." Rin bergegas turun kebawah meninggalkan Danil sendiri.
Dilantai satu apartemen banyak sekali pilihan minimarket berjejer. Rin tinggal memilih satu diantaranya. Yang mengejutkan. Malam hari pun sayur yang dijajakan dietalase masih sangat segar - segar. Rin memilih sayur bayam merah yang akan dia bening. Selesai berbelanja Rin kembali ke tempat Danil.
Danil tersenyum melihat kedatangan Rin. Dirinya sudah tidak sabar memakan pesanannya. "Telurnya yang banyak ya. Yang lebar telur dadarnya."
Rin sama sekali tidak menanggapi Danil. Dia sibuk dengan pekerjaannya. Dirajang sayur bayam yang dipilihnya tadi. Dipotong bawang merah dan bawang putih. Sedang Danil hanya memperhatikan dari ruang makan.
"Cepat sedikit ya, jangan lama - lama." pinta Danil.
Selang dua puluh menit Rin datang dengan sepiring telur dadar dan sayur bayam merah.
"Nasinya di rice kooker." ucapnya dan langsung duduk ditempatnya semula.
"Ya ngak lah. Kan tadi tidak pesan."
"Ish, harusnya insting dong. Punya otak ngak digunain sih." Danil meninmpali asal.
Bener - bener orang ini. Rin berbicara dalam dalam hatinya. Tidak mungkin dia membalas perkataan Danil bisa berabe urusannya. Rin memilih diam.
Danil mengambil piring dan menyendoki nasi kepiring lalu menuju meja makan.
"Makan bareng yuk." Ajak Danil. "Ayolah temani aku."
Rin mengangguk dan ikut mengambil piring.
"Rin maaf nih. Bayaran kamu perhari atau perbulan?"
"Perhari. Selesai bekerja aku selalu dibayar." ucapnya.
"Berapa?" Danil makin penasaran.
"Kamu mulai ngak sopan." Wajah Rin tampak tidak senang.
"Maaf." Ucap Danil santai sambil menyuapi mulutnya. "Aku hanya ingin tahu. Ayolah. Aku janji jaga rahasia." Kedua jarinya membentuk peace.
__ADS_1
Karena tidak ingin mengecewakan pelanggannya Rin bercerita juga.
"Kami semua dibayar sepuluh juta permalam." Rin berhenti sebentar mengunyah makanan dalam mulutnya. "Tapi jika berhalangan hadir. Tidak dibayar sama sekali. Dan semua kami masih perawan."
Danil membuka mulutnya tidak percaya.
APAAA???
Mereka semua masih perawan. "Serius masih perawan?" Danil kembali bertanya karena tidak percaya.
Rin mengangguk. "Kalo sudah tidak perawan biasanya tidak bisa menjadi model. Tapi LC (lady escort) dan bayaran mereka dari management lima juta perharinya jika ada yang boking."
Danil menggelengkan kepalanya. Pantas saja banyak yang terjun ke dunia ini. Perhari mereka bisa dapat jutaan. Sedangkan karyawan kantornya sendiri hanya diupah beberapa juta setiap bulannya. Luar biasa.
"Lalu?" Danil semakin penasaran dengan cerita Rin.
"Dan hampir semua LC ditempatnya itu dulunya adalah model. Biasanya mereka merelakan keperawanannya karena terdesak uang. Untuk melepas perawan, kami dihargai 500juta. Nominal yang sangat besar."
Danil semaking mengerti kenapa bisnis ini tidak pernah sepi peminat malah bertambah. Ditambah konsep yang diusung MP berbeda dengan hiburan malam lainnya. Dari dekorasi, target pasar dan lainnya. Tim management yang sangat berpengalaman.
"Dan kami juga memiliki dokter pribadi perusahaan. Setiap ada yang sakit. Kami akan diobati secara gratis hingga sembuh. Selain itu pergaulan kamipun sangat terjaga. Kerahasiaan identitas kamipun juga disimpan erat sehingga kami tidak malu untuk bertemu dunia luar."
Danil mengangguk paham. Kunci sukses tempat ini adalah memberikan kenyamanan bagi pekerja dan para tamu. Siapa yang bisa menolak.
Danil tersenyum. "Sudah ayo kita habiskan dulu. Nanti dingin tidak enak lagi dimakan."
Rin tersenyum dan melanjutkan suapan makannya. Danil melirik Rin sekilas. Wanita yang berkelas dan mempesona. Wajahnya sungguh cantik. Nasibnya saja kurang beruntung.
"Next aku boking lagi jangan kapok ya."
Rin tersenyum mengiyakan.
"Nanti tidur disini saja ya. Besok pagi aku antar."
Mendengar itu Rin menoleh. Tidak ingin Rin berpikir terlalu jauh Danil menerukan ucapannya. "Sudah malam, nanti ada apa - apa dijalan. Kamu tidur dikamar sebelah. Besok pagi aku bangunin dan aku antar pulang."
Rin mulai memahami maksud baik Danil.
Dan selesai makan Rin membereskan meja makan. Melihat Rin yang Rajin. Danil mengeluarkan uang cash dua juta.
"Ini tips buat kamu." Danil meletakan uang didekat Rin.
Rin menarik tangan Danil dan mendekapnya. "Terimakasih." Airmatanya mulai menetes.
"Sudah tidak apa." Danil menjauhkan tubuh Rin dam mencium pucuk kepalanya. Entah kenapa rasa sayang dihari Danil mulai muncul.
"Aku yang seharusnya berterimakasih karena aku belajar banyak darimu."
__ADS_1